
Terimakasih sudah mau mampir ke ceritaku ya.
Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya. Karena masukan dari kalian itu sangat-sangatlah penting.
Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like dan komentar di setiyap ceritaku, supaya author lebih semangat dalam menulis cerita.
Happy Reading Readers..
Dilla: "Tadi katanya kak Ricko sedang sibuk, bisa jadi telat jemputnya. Makanya aku kesini, daripada di kampus sendirian"
Setelah mereka berbincang lama sekitar 20 menit, Ricko datang dengan senyum yang sudah mengembang pada bibirnya. Tak seperti biasanya Ricko seperti ini. Ricko bahagia bertemu dengan gadisnya yang telah ia rindukan meski hanya berpisah beberapa jam saja.
Dilla: "Eh, mas tumben senyum-senyum?"
Ricko: "Ha? Siapa yang senyum-senyum?" Ricko langsung merubah ekspresinya menjadi datar seperti biasa.
Erik: "Haha cepet banget berubah mood-nya?"
Ricko: "Gue nggak di kasih minum Rik?"
Erik: "Sana pesan saja ke waiters!"
Ricko: "Biasanya juga langsung di ambilin"
Erik: "Sekarang lagi nggak biasa kak, gue lagi capek banget, lagian masih pengen ngobrol-ngobrol sama Dilla. Ya nggak Dill?"
Dilla: "udah-udah gitu aja ribut dasar bocah kalian berdua. Emangnya mas pingin minum apa?"
Ricko: "Apa aja deh, pokok yang dingin"
Dilla: "Mas kan dingin, kenapa minumnya juga dingin? Nanti beku loh?"
Erik: "Haha betul, kasih aja air panas Dil, Biar cair hatinya"
Ricko: "Gue siramin juga lo Rik"
Erik: "Haha selow kak"
Mereka berbincang-bincang sangat akrab, tak terlihat seperti adik dan kakak. Namun terlihat seperti sahabat, begitu pula Dilla. Tak jarang orang yang iri melihat keakraban mereka.
#Pernikahan 4 Minggu.
Seperti biasa Dilla hari Minggu selalu mengunjungi mertuanya bersama dengan Ricko. Dilla bersandiwara menjadi istri Ricko yang baik, perhatian, lembut dan anggun. Berbeda halnya jika saat ia di apartemen maka Dilla akan menjadi perempuan yang meementingkan dirinya sendiri, karena pernikahan mereka hanyalah status.
Karena bahan-bahan dapur di rumah tersebut habis, ia berniat untuk berbelanja dengan Ricko, namun Erik ingin ikut berbelanja. Saat mereka sedang berbelanja, Ricko beranjak ke toilet. Sedangkan Erik dan Dilla sedang memilih bahan-bahan di supermarket tersebut.
Tanpa di sangka-sangka Jesika datang langsung menampar Dilla. Merekapun langsung terkejut melihat Jesika yang datang dengan amarahnya.
Jesika: "Dasar, wanita nggak tau diri. Kemarin kau merebut calon suamiku, sekarang kau selingkuh dengan adiknya. Kenapa kau serakah sekali"
Dilla: "Hei nona, siapa yang merebut calon suamimu? Ricko tak pernah berminat memiliki istri sepertimu" ucao Dilla dengan memegang pipinya yang kesakitan.
Erik: "Kau yang tak tau diri Jes, Dilla itu lebih baik segalanya darimu, tak salah Ricko memilih Dilla daripada dirimu"
Jesika: "Diam. Mana ada orang yang mau mengaku kalau dirinya selingkuh?" ucap Jesika dengan melipat kedua tangan di dadanya.
Ricko datang langsung merengkuh pundak Dilla dan menenggelamkan kepalanya di dadanya. Ricko mengusap punggung Dilla supaya tak menangis, meskipun ia yakin Dilla tak akan menangis dengan hal spele seperri ini.
Ricko: "Apa yang kau lakukan kepada istriku?"
Jesika: "Ri-Ricko? Mengapa ada disini?"
Ricko: "Tak perlu basa-basi"
Jesika: "Aku benci padanya karena dia telah merebutmu dariku. Bahkan dia juga mendekati adikmu!"
Ricko: "Dia tak pernah merebutku, namun akulah yang telah memilihnya jadi pendampingku"
Jesika: "Dasar wanita ******, kau telah mempermalukanku" ucap Jesika berniat untuk menjambak rambut Dilla.
Ricko: "Kau lah yang telah mempermalukan dirimu sendiri, silahkan pergi atau ku panggil security untuk menyeretmu pergi dari sini"
Jesika yang mendapat sikap seperti itu langsung berjalan menjauhi Ricko. "Ingat aku akan mempermalukanmu wanita ******. Tunggu pembalasanku".
Erik: "Sudah kak, kita pulang saja. Mungkin Dilla syok dengan kejadian ini"
Ricko: "Baik, Kita pulang ya?" Ucap Ricko menunggu persetujuan Dilla dan ia hanya mengangguk. Sepanjang jalan Ricko merangkul Dilla sampai masuk mobil. Saat masuk mobil Ricko melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Dilla: "Dasar wanita itu, kalau saja aku tak punya rasa malu mungkin sudah ku tampar balik tadi"
Ricko hanya tertawa mendengar pernyataan Dilla yang kesal dengan Jesika. Dan seperti yang ia kira, Dilla tak akan menangisi hal seperti ini.
Dilla: "Kenapa? seneng aku dipermalukan seperti itu?"
Ricko: "Bukan seperti itu, tadi kau diam saja, ku kira kau takut dengan Jesika. sampai disini kau berniat untuk membalasnya?"
Dilla: "Siapa yang takut? Aku masih berfikir panjang, jika keadaan supermarket itu sepi, mungkin sudah ku cakar wajahnya. Aku hanya tak mau mempermalukan diri sendiri"
Ricko: "Pintar sekali istriku ini"
Deg
Deg
Deg
Wajah Dilla memerah ketika Ricko memujinya. Bagaimana Erik? Tentu saja dia sekarang menjadi obat nyamuk mereka berdua.
Dilla: "Yah kita nggak jadi masak di rumah mama dong"
Ricko: "Jadi, bahan tadi sudah ku beli. Nanti akan di antarkan ke rumah mama"
Dilla: "Syukurlah mas, ku kira kita belanja tadi akan menjadi sia-sia"
Erik hanya diam mendengar dialog suami istri tersebut. Dalam pikiran Erik masih banyak pertanyaan yang bergelut. Apakah mereka benar-benar akan bercerai dalam waktu 100 hari? Apa mereka sudah saling nyaman? Apa mereka memiliki perasaan seperti seorang kekasih?. Bagaimanapun Erik tak boleh cemburu kepada kakaknya, selagi dia masih berstatus menjadi suami Dilla.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan cara like, komentar dan vote cerita ini.