LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 1



Pada hari itu merupakan hari pertama Dilla untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Sebenarnya dia bersyukur dapat kuliah di perguruan tinggi karena ia merupakan anak yang cerdas, maka dia mendapat beasiswa selama delapan semester di perguruan tinggi tersebut.


Semalam ia kelelahan menangis sampai matanya saat ini sembab, karena dia berdebat dengan bapaknya, bapaknya tidak menyetujui jika dia kuliah. Ia menganggap jika Dila kuliah, maka Dila tidak dapat bekerja, otomatis dia tidak akan dapat memberinya uang untuk berjudi dan minum-minuman keras.


*BRRUAAKKK


“untuk apa kamu kuliah? Percuma kamu kuliah nggak akan bisa menghasilkan uang buat bapak, lebih baik kamu kerja! hasilkan uang yang banyak! Kapan kamu kaya kalo mentingin kuliah? Apa kamu mau bapak nikahin aja sama pak Subroto?” perintah pak Danang (ayah Dila) dengan nada keras dan menjambak rambut Dila.


“Dila nggak mau pak, tolong beri Dila kesempatan untuk kuliah, Dila janji akan beri uang yang banyak untuk bapak kalo Dilla udah sukses” Dilla memohon dengan mata sembab dan memeluk lututnya sendiri, karena ia takut jika pak Danang akan memukulnya lagu.


“haha iya kalau kamu sukses, kalau tidak?” balas pak Danang dengan mata licik.


Tidak ada jawaban dari Dilla, ia hanya menangis terisak.


“kalau kamu masih kekeh untuk kuliah, kamu bapak nikahkan kamu sekarang juga sama pak Subroto, bapak nggak sudi punya anak yang nggak berguna seperti kamu” ucap pak Danang mengusir Dila.


Kemudian bu Sari (ibu Dila) datang dari pengajian, langsung berlari memeluk Dila untuk menenangkannya.


“urus itu anakmu! Kalau dia ngotot mau kuliah akan ku nikahkan dia sekarang juga, biar dia jadi istri ke 3 tiga juragam beras itu!” ucap keras pak Danang dan diapun keluar dari rumah seperti biasa.


Bu Sari membawa Dila ke kamar dan menenangkannya. Bu Sari serba salah, jika dia membela anaknya, berarti dia tidak berbakti pada suaminya. Namun jika dia membela suaminya, dia pasti akan menyakiti darah daginya sendiri. Kemudian dia berbicara dengan halus kepada Dila.


“nak, sebenarnya bapakmu itu pingin yang terbaik untuk kamu, tapi ibu juga ingin kamu kuliah seperti kawan-kawanmu, apalagi kamu mendapat beasiswa” ucap bu Sari dengan lembut dan mengusap rambut Dila.


“lalu aku harus bagaimana bu? Aku juga pingin kuliah seperti teman-temanku, aku pingin punya pengalaman dan aku juga pingin bisa kerja dengan enak biar nanti bisa bahagiain ibu sama bapak” balas Dila dengan terisak memeluk ibunya.


“nak, ibu merestuimu untuk kuliah, tapi maaf ibu nggak punya uang untuk biaya hidup kamu” bu Sari mengusap punggung Dilla.


“bu, bagaimana kalau aku tinggal di deket kampus saja? Ibu nggak usah khawatir, aku masih punya uang simpanan untuk sewa kos” tawar Dila meyakinkan ibunya supaya ia memberinya izin untuk tinggal di dekat kampus.


“Tapi nak, bagaimana jika ancaman bapakmu terjadi? Ibu nggak mau kamu nikah sama pak Subroto, dia pria yang tidak baik, istrinya saja sudah dua, belum juga wanita simpanan pak Subroto dimana-mana” ucap bu Sari mengkhawatirkan ancaman dari suaminya.


“Baiklah nduk, sekarang kamu bereskan pakaianmu, nanti pukul dua pagi saat bapakmu masih tidur, ibu akan bangunkan kamu. Dan saat itu juga kamu harus kabur dari rumah, mengerti?” bu Sari dengan suara berbisik supaya tidak ada yang mendengarnya, meskipun tadi suaminya sudah keluar dari rumah, tapi dia takut ada yang mendengarnya. Dila pun setuju dengan perkataan ibunya.


Tanpa pikir panjang Dila mengemasi pakaiannya ke dalam tas ranselnya dan beranjak tidur.


Detik berubah jadi menit, menit berubah jadi jam Dila masih belum bisa tidur, karena ia masih memikirkan bagaimana cara untuk bertahan hidup di sana. Sementara ia hanya memiliki uang 200.000.


"mana cukup uangnya buat ngekos? Kalo buat ongkos angkutan umum sih masih bisa, tapi…, ya sudah lah itu dapat dipikirkan besok’" batin Dila. Sementara ia mendengar bapaknya pulang pukul 23.25, seperti biasa bapak main judi dengan teman-temannya. Dila berpura-pura tidur supaya bapaknya tidak curiga. Tak lama setelah itu Dila mendengar bahwa pintunya di buka, “sudah tidur rupanya” bapak bergumam namun masih terdengar oleh Dila. Kemudian pintu tersebut di tutup kembali.


Dila sudah membulatkan tekatnya untuk kuliah meskipun ia akan menanggung konsekuensinya nanti akan merasakan kerasnya hidup disana, toh dia sudah terbiasa merasakan hidup yang amat pahit.


*Pukul 01.45


Tak ada suara apapun selain jam berdetak, namun Dila tetap terjaga supaya dia tidak tidur. Kini jantungnya mulai terdengar sangat cepat bahkan lebih cepat dari pada detik jam. Tak lama setelah itu, ibu datang ke kamar Dila berniat untuk membangunkannya, namun yang ditemukan Dila tidak tidur.


Sebenarnya bu Sari sangat berat hati ditinggal anak semata wayangnya, namun apalah daya dia harus mengejar mimpinya meskipun harus jatuh bangun melewati semua itu. Karena bu Sari tidak memiliki uang untuk Dila, ia memberikan kalung, satu-satunya benda berharga milik bu Sari. Dila keheranan dengan pemberian ibu, karena ia tidak pernah melihat ibunya memakai perhiasan yang melekat pada tubuhnya.


Dilla sudah menolak pemberian ibunya, karena ia tau ibunya pasti akan lebih membutuhkan dari pada dia. Namun Dilla selalu tidak bisa membantah perkataan ibunya.


Kedua wanita berurai air mata yang sedari tadi sudah di tahan.


“sudah-sudah, ayo cepat pergi sebelum bapakmu bangun” ucap bu Sari dengan menuntun tangan Dila supaya bergegas keluar dari rumah.


Saat di depan rumah “bu aku pamit ya, jaga diri ibu baik-baik, kalo ada apa-apa tolong kabari Dila ya bu?” menahan tangis dan tersenyum kepada ibunya.


Dila bergegas mencium tangan ibunya, dengan berat hati ia berlari menjauhi rumahnya.


Meninggalkan ibu, bapak, dan kenangan manis maupun pahit yang tersisa di dalamnya. Dila tersenyum getir menghadapi ini semua ‘apakah dia bisa bertahan di sana? Apakah dia bisa sukses seperti yang dia impikan?’ batin Dila. Banyak pertanyaan yang dilontarkan pada dirinya.