LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 22 (Memiliki perasaan?)



Sesampainya di rumah, Erik langsung merebahkan dirinya. Terlalu sakit untuk terus melihat gadis yang ia sukai dekat dengan saudaranya sendiri.


Erik memang masih menyimpan perasaannya kepada Dilla secara rapi tanpa berkurang sedikitpun. Bahkan perasaan tersebut kian bertambah sejak ia sulit untuk bertemu dengan gadis itu.


Apakah cinta sesakit ini?


Erik memejamkan matanya berharap sakit dalam dadanya akan menghilang, meski tidak menghilang ia berharap sakit hatinya akan berkurang. Karena ia tau yang dia cemburui adalah kakaknya sendiri.


Di sisi lain, Ricko dan Dilla tengah memasak hasil belanjanya di dapur. Hari ini hari pertamanya memasak, oleh sebab itu bi Ina terkejut melihat kejadian langka tersebut.


Meski tugas Ricko hanya mengaduk-aduk masakan yang di racik Dilla. Namun hal itu dapat membuat mamanya tak menyangka bahwa Ricko mau mengerjakan tugas dapur. Siapa lagi jika bukan pengaruh Dilla, wanita tersebut memang memiliki tempat yang spesial di hati Ricko.


Wanita yang membuat anaknya tersenyum setelah sekian lama. Wanita yang sederhana, polos dan tentu saja cantik. Siapa yang tidak tergila-gila dengan wanita seperti itu? Bahkan lelaki yang keras kepala seperti putra pertamanya pun di luluhkan dalam waktu sekejap.


Setelah makanan tersebut siap, mereka menyantap bersama mama dan Erik. Tak ada yang bersuara, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.


Mereka sangat menikmati hidangan yang tersaji. Hingga mama membuka pembicaraan.


Mama:"Masakan kamu enak sekali sayang"


Dilla: Terimakasih ma, itu juga di bantu mas Ricko"


Ricko yang merasa senang karena hasil masakannya sangatlah enak.


Mama: "Ricko kan hanya mengaduk sayang, lagipula mana mungkin Ricko bisa memasak? Masuk dapur aja yang dipegang hanya kulkas untuk mengambil minuman"


Dilla: "Jadi mas Ricko nggak pernah masak ma?"


Mama: "tidak pernah sama sekali, Mama seneng kamu bisa merubah Ricko menjadi sedikit lunak"


Erik: "Haha kak Ricko sekarang jadi bucinnya Dilla ma, jadi apa yang diperintahkan Dilla, pasti nurut"


Mereka semua tertawa kecuali Ricko yang hanya memasang wajah datarnya. Tanpa ekspresi.


🌹🌹🌹


keesokan harinya


Rendi mencari cara supaya bisa menemui Dilla. Sementara Dilla selalu di antar jemput oleh Ricko. Mengapa lelaki itu sangat posesif kepada istri barunya. Rendi masih belum dapat merelakan Dilla menikah dengan pria lain.


Rendi menyuruh bawahannya untuk mencari tau mengenai kegiatan Dilla. Selang beberapa menit, Rendi mendapatkan informasi yang telah di kirim ke email. Ia senang karena tepat pada hari itu Dilla memiliki dua mata kuliah, pertama pukul 8 pagi dan kedua pukul 1 siang. Itu tandanya sekitar pukul 10 dia masih di kampus dan belum di jemput Ricko.


Mengapa ia tak bertanya langsung kepada adiknya yaitu Caca? Yang pasti Rendi tak ingin adiknya curiga terhadap hubungan yang ia miliki dengan Dilla.


Rendi mengintruksikan kepada sekertarisnya untuk menunda semua jadwal hari ini.


Rendi: "Bim, Tunda semua jadwalku hari ini"


Bima: "Tapi jadwal anda hari ini sangat padat pak?"


Rendi: "Aku ada acara yang tidak dapat di tunda"


Tanpa mendengar jawaban dari sekertarisnya, Rendi lansung menekan lift khusus bos dan turun ke lantai 1 untuk menuju ke kampus Dilla.


Ya tak perlu bersusah payah untuk menemukan Dilla. Dari sekian wanita, hanya Dilla yang mencolok di pandangannya. Di saat semua wanita berlomba-lomba menggunakan pakaian yang feminim dan anggun, dia hanya menggunakan hem yang kebesaran dengan menguncir rambutnya. Wanita tersebut memang tak pernah berubah di matanya. Simple dan menarik.


🌹🌹🌹


Ricko mengantar Dilla hingga gerbang kampus, karena Dilla yang meminta supaya tidak ada yang curiga jika dia sudah menikah. Mungkin jika hanya sekali atau dua kali di antar mereka percaya bahwa Dilla di antar saudaranya. Namun jika setiap hari? Apakah teman-temannya percaya?


Ricko: "Beneran dianter sampe sini?"


Dilla: "Bener, udah aku turun dulu"


Ricko: "Hati-hati, nanti pulang jam berapa?"


Dilla: "Kira-kira pukul 3 sore mas, tapi kalo memang prakteknya selesai"


Ricko: "Nanti hubungi aku jika prakteknya hampir selesai"


Dilla: "Oke captain"


🌹🌹🌹


Dilla: "Sorry-Sorry aku nggak sengaja kak, aku buru-buru masuk kelas"


Juna: "Oke, aku juga minta maaf. Eh kamu Dilla yang kelompok 11 bukan?"


Dilla: "Eh kak. I-iya"


"Apa dia selalu mengenal semua mahasiswa yang di ospek? hebat sekali ingatannya"


Dilla: "Em. Kakak ketua BEM itu kan?"


Junna: "Iya panggil saja Junna" Junna mengulurkan tangannya dan Dilla hanya memandang Junna karena terkesima dengan apa yang ada dihadapannya "Gimana cewek-cewek nggak rebutan. Udah ganteng, baik, ramah. Wanita mana yang beruntung ngedapetin hatinya kak Junna" batin Dilla.


Junna menyadarkan Dilla dengan melambai-lambaikan tangannya di hadapannya.


"Dill. Dilla"


"eh iya kak, maaf aku buru-buru aku ada ujian prakteknya pak Dirga" langsung berlari ke kelasnya tanpa menjabat tangan Junna yang memperkenalkan dirinya.


Junna: "Oke salam kenal Dil, sampai jumpa lagi"


Junna senang dapat kembali bertemu dengan wanita itu. Wanita yang mampu mengalihkan dunianya saat ospek. Wanita lugu, polos dan manis saat tersenyum.


Junna berniat mencari informasi gadis tersebut, bahkan ia tak pernah mencari informasi wanita manapun. Karena biasanya wanita-wanita itulah yang akan mendekati Junna, namun berbeda halnya dengan Dilla.


🌹🌹🌹


Di sebrang gedung ada laki-laki yang menatap Junna dengan Dilla saat bertabrakan tadi. Pria tersebut masih setia menunggu Dilla keluar dari kelasnya.


Sungguh ini adalah pengalaman pertamanya untuk menunggu. Terlebih menunggu wanita. Ternyata benar, menunggu itu memang tak enak. Lalu apa yang dapat ia bayar saat kekasihnya menunggu hingga 1 tahun lebih yang tak ada kabar sama sekali?.


3 jam kemudian isi kelas tersebut berhamburan untuk keluar, mahasiswa tersebut keluar. Begitupun Dilla, namun ia masih berbincang-bincang demgan dosen yang ada di sebelahnya, entah menuju kemana. Rendipun mengikuti Dilla. Semua orang menatap Rendi dengan curiga, pasalnya pria itu menggunakan topi hitam, kacamata hitam dan jaket yang warna hitam pula. Seperti mata-mata.


Rendi yang melihat hal tersebut hanya acuh, karena ia kesini untuk mendekati Dilla, jadi ia tak peduli dengan pandangan orang sekitar.


10 menit kemudian Dilla keluar dari ruangan dosen tersebut. Rendi yang menunggunya langsung menyeret tangan Dilla untuk memasuki sebuah kantin yang berada di ujung kampus.


"Hei kau siapa? Beraninya menarikku, atau aku teriakin kamu penculik"


Rendi langsung menoleh ke arah Dilla dengan tatapan tajam.


"Tolong, aku hanya ingin bicara denganmu"


"K-kak Rendi? Sebenarnya apa maumu?" ujar Dilla dengan terbata.


"Aku hanya ingin berbicara serius denganmu Dil, tolong mengertilah untuk sekali saja"


Mereka memasuki kantin, semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. Tanpa ba bi bu Rendi memesankan makanan untuk Dilla. Rendi sangat ingat makanan yang di sukai Dilla yaitu nasi goreng ebi, salad buah dan strawberry milkshake.


"Makanlah, setelah makan ada yang ingin aku bicarakan"


"Aku nggak nafsu makan kak"


"Seleramu masih sama kan? Aku tau kau tak akan menolak makanan kesukaanmu ini Dill. Jika kau tak makan, aku akan menunggumu sampai kau mau memakannya"


Benar sekali, hanya hitungan menit Dilla menghabiskan makanannya. Dilla memang tak akan pernah menolak dengan makanan kesukaannya.


"Sudah habis, sekarang kak Rendi ingin bicara apa?"


"Dil, apa kamu masih punya perasaan untuk ku? Meski hanya sedikit pasti ada kan Dil?"


"Jadi hanya itu yang ingin kak Rendi bicarakan? Kalau begitu aku pulang dulu"


"Dil, please jawab. Aku hanya ingin tau, apakah kamu masih mempunyai perasaan denganku?"


----'-


BERSAMBUNG