LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 16 (Adaptasi)



Ricko bergumam dalam hati "sial mengapa posisiku jadi terancam". Ricko memiliki ide untuk menjahili Dilla.


Ricko: "oke. Tapi jangan salahin gue, gue kalo ngelindur suka jalan sendiri"


Dilla: "huwek" Dilla menjulurkan lidahnya untuk mengejek Ricko. "gue nggak takut"


Ricko hanya bergumam "awas aja lo". Ricko pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah lengket. 10 menit kemudian Ricko keluar dan menemukan Dilla sudah tertidur dengan pakaian pengantin yang belum diganti.


Ricko membatin "dasar tukang tidur! jorok banget sih. Mengapa aku bisa tergila-gila dengan gadis ini?" Kemudian Ricko menyelimuti Dilla dan mengecup pipi Dilla. Namun Dilla tak terusik sama sekali. Ia Bergegas tidur di sofa yang berada di dekat ranjang.


Seperti biasa Dilla pukul 3 selalu bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, ia menyadari bahwa pakaian pengantin masih melekat di tubuhnya. Dilla segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. 15 menit berlalu, ia lupa membawa baju ganti.


Jika dia membangunkan Ricko untuk mengambilkan pakaian, pasti dia akan menjahilinya. Dilla mengintip keluar untuk memastikan bahwa Ricko masih terlelap. Dan ternyata benar Ricko masih belum terbangun dari tidurnya. Ia keluar dengan melilitkan handuk di badannya dan berjalan mengendap-ngendap untuk membuka lemari dengan maksud mengambil baju ganti. Saat mengambil baju tiba-tiba Ricko berdehem "ehm" tanpa membuka matanya.


Dilla kaget dengan deheman Rikco, namun dia menyadari bahwa Ricko ternyata masih belum bangun. Dilla mengelus dadanya bertanda masih aman. Dilla berlari memasuki kamar mandi untuk menghindari Ricko terbangun.


#POV RICKO


Saat Ricko tertidur tiba-tiba ia mendengar suara air di kamar mandi. Tak lama kemudian Ricko mendengar bahwa Dilla selesai mandi, namun Ricko tak berniat membuka matanya. Ternyata yang dia lihat saat ini Dilla sedang mengintipnya dari kamar mandi "sedang apa dia seperti maling saja".


Ricko masih berpura-pura tidur sampai Dilla keluar dengan melilitkan handuknya. Ricko memiliki niat untuk menjahili Dilla yang sedang menjaga suara di ruangan tersebut supaya tak terdengar Ricko.


Rickopun berdehem dengan sengaja. Dilla kaget dengan deheman yang ia buat. Ricko pun menahan tawanya supaya tidak terlihat Dilla "mengapa wajahnya lucu sekali".


Dilla bergegas memasuki kamar mandi dengan berlari kecil. Ricko yang melihat hal tersebut hanya dapat tersenyum kecil. Tak membutuhkan waktu lama Dilla keluar dan mengambil mukenah yang sudah tersedia di sebelah tempat tidurnya. Ia melakukan shalat Isya dan tahajud seperti biasa. Ricko kagum dengan kebiasaan Dilla yang menurutnya memang patut diberi julukan istri solehah.


Saat subuh selesai berkumandang ku lihat Dilla sedang melaksanakan shalat. Tak lama kemudian Dilla melepas mukenahnya.


Dilla: "Jangan ngeliatin mulu, nanti naksir"


Ricko: "Nggak usah kepedean"


Dilla: "Udah gih sana shalat dulu"


Ricko: "Tadi gue kok nggak di bangunin?"


Dilla: "Tadi?"


Ricko: "Iya tadi jam 3"


Dilla: "Ha? jadi lo tadi udah bangun?"


Ricko: "Iya"


Dilla: "Tapi lo nggak liat apa-apa kan?"


Ricko: "Ya liat lah. Oiya lo lucu kalo kaget tadi?"


Dilla melongo mendengar ucapan Ricko "Ja-Jadi...?"


Ricko: "Kan udah nikah, sah-sah aja lagi? Untung gue nggak nafsu sama lo"


Dilla: "Dasar sok keren lo"


Ricko: "Emang gue keren"


Dilla: "kepedean banget jadi orang"


Ricko melangkahkan kakinya ke kamar mandi, sedangkan Dilla memikirkan perkataan Ricko yang ternyata sudah bangun saat dia beranjak ke kamar mandi, "duh, nggak suci lagi gue. Ini aja masih satu hari. Gimana 100 hari?" gumamnya dalam hati.


Ricko keluar kamar mandi melihat Dilla sedang melamunkan sesuatu, sehingga Ricko memanggil Dilla berkali-kali.


Ricko: "Dil. Dilla. Lo kesambet ya? Dil? Dilla?"


Dilla: "eh iya?"


Ricko: "Ngelamunin apa lo?"


Ricko: "Kenapa sih tu cewek aneh banget?"


Ricko mensegerakan dirinya untuk shalat dan Dilla ke bawah untuk menetralkan jantungnya yang sudah tak karuan. Dilla bermaksud menyiapkan sarapan untuk keluarga baruny. Bi Ina sudah melarang Dilla untuk memasak, namun Dilla kekeh untuk membantu Bi Ina menyiapkan sarapan. Bau masakan itu pun tercium sampai ke kamar mama Ricko dan kamar Erik.


Erik: "Wah enak banget, tumben bi Ina masak pagi-pagi gini. Jadi laper"


Erik turun ke bawah menuju ke dapur. Mama pun juga tergoda untuk ke dapur karena mencium aroma yang enak tak seperti biasanya.


Mama: "Wah mantu kesayangan mama pinter banget masaknya, mama sampe laper banget"


Dilla: "Masih belajar ma, nggak seenak masakan bi Ina"


Mama: "Tapi kalo masaknya dengan cinta pasti lebih enak. Mama nggak sabar sama masakan kamu. Mama bantu ya?"


Dilla: "Mama tunggu di meja makan aja biar Dilla nanti yang nyiapin"


Mama: "Mama tunggu ya?" Tiba-tiba Erik datang di belakang mama.


Erik: "Hem. baunya enak banget ma?"


Mama: "Iya dong, mantu mama. Ricko nggak salah pilih istri" jawab mama meninggalkan dapur.


Erik: "Kamu masak apa Dil?"


Dilla: "Cuma masak ayam kecap resep dari ibu dulu Kak, cobain deh cicipin?" memberikan sendok kepada Erik untuk mencicipi.


Erik: "Enak banget, ternyata kamu juga jago masak?"


Dilla: "ah enggak juga kak, tadi di bantuin sama bi Ina"


Erik: "O iya nanti kamu kuliah?"


Dilla: "Enggak kayaknya kak, kata kak Ricko kita mau pindah ke apartemen biar deket kampus sama kantor kak Ricko"


Erik: "Oh jadi kalian nggak tinggal disini?" Saat Dilla akan menjawab, Ricko datang dan menjawab pertanyaan Erik.


Ricko: "Iya, gue sama Dilla mau tinggal di apartemen biar hidup mandiri"


Erik: "Kapan-kapan gue boleh mampir kan kak?"


Ricko: "Boleh, tapi kalo ada gue ya?"


Erik: "takut banget si kalo istrinya gue rebut. Cobain deh kak masakan Dilla, enak banget".


Ricko mengambil sendok sendiri dan mencicipi masakan Dilla. "gila enak banget. Ternyata pinter masak juga Dilla"


Ricko: "Hem sama enaknya kayak masakan bi Ina"


Erik: "Dih lo nya aja yang nggaj bisa menilai"


Saat masakan tersaji di meja makan, mereka makan dengan lahap begitu pula dengan Ricko. Setelah selesai makan Dilla dan Ricko berpamitan untuk tinggal di apartemen barunya. Mama berpesan untuk lebih sering-sering mengunjunginya.


Sesampainya di apartemen Ricko membuka pintunya tepatnya berada di lantai 8, dia meletakkan koper miliknya dan milik Dilla. Ricko menunjukkan kamar Dilla yang terpisah dengan kamar Ricko. Dilla langsung memasuki kamar tersebut dan merebahkan diri.


#Malam Hari


Setelah membereskan semua pakaian dan membersihkan apartemen tersebut Dilla menonton TV kesukaannya. Ricko melihat dari belakang dan membuka percakapan.


Ricko: "Dil, lo nggak laper apa?"


Dilla: "Laper sih, tapi di kulkas nggak ada apa-apa"


Ricko: "kalo laper ayo ikut makan di luar sekalian cari bahan makanan"


Dilla: "Bentar gue ganti baju dulu"