
#Ricko mengantar Dilla ke rumahnya. Tidak ada hambatan sama sekali, bapaknya pun setuju menikahkan Dilla dengan Ricko. Karena bapak Dilla memang berharap Dilla menikah dengan orang yang kaya, supaya ia bisa meminta uangnya jika butuh.
Malam hari Ricko kembali pulang ke rumah dan seperti biasa mama sudah setia menunggu anak-anaknya di sofa depan. Jika mama sudah menunggu itu artinya ada yang akan ia bicarakan. Rasanya lelah sekali hari ini, namun ada perasaan yang entah seperti membuat hatinya geli saat mengingat Dilla. Ricko memegang dadanya dan tersenyum-senyum sendiri saat memasuki rumahnya. Akan tetapi ingatan itu di buyarkan oleh panggilan mamanya.
Mama: "Cie anak mama ada yang bahagia banget ni ya?"
Ricko: "Ah mama, enggak biasa aja ma"
Mama: "Cerita dong sama mama?"
Ricko: "enggak ada apa-apa ma hehe"
Mama: "Dilla ya?"
Ricko hanya tersenyum mendengar tebakan mamanya tepat dengan sasaran. Mamanya hanya menggelengkan kepala karena mengetahui bahwa Ricko sudah benar-benar mencintai gadisnya. Mama mengetahui betul bagaimana rasanya jatuh cinta. Apalagi Ricko yang memang tidak pernah mengenalkan seorang wanita kepada mamanya.
Ricko: "Ma, dulu mama sama papa pacarannya gimana?"
Mama: "Mama nggak pernah pacaran dulu. Papamu dulu musuh bebuyutan mama, sampai akhirnya kita kuliah satu kampus tapi dengan jurusan yang berbeda. Nggak lama setelah itu, mungkin waktu semester 2, mama langsung diminta. Kakek nenek kamu nerima yaudah seminggu kemudian nikah deh"
Ricko: "terus kok bisa cinta sama papa? katanya musuh bebuyutan?"
Mama: "Iya sebenernya dulu itu udah sama-sama suka. karena kita berdua malu, jadi papa tuh sering ngejailin mama supaya bisa tetep deket sama mama "
Ricko: "hahaha"
Mama: "terus terus kamu tadi kenapa kol senyum-senyum?" tanya mama sangat antusias.
Ricko: "kemarin Ricko sudah pre wed sama Dilla ma, di tempatnya Adam"
Mama: "O iya ini kan sudah H-7 kalian menikah? Kamu sudah bicara sama orang tuanya belum?"
Ricko: "Sudah lah ma, kalo belum ngapain Ricko nyetujuin permintaan mama"
Mama: "Bagus deh, gentle banget sih anak mama, berani untuk nemuin calon mertua sendiri"
Tak lama kemudian, Erik datang juga dengan tersenyum-senyum sendiri. Karena ia mengetahui bahwa Dilla dan Ricko hanya pura-pura menikah, jadi ada sedikit celah untuk masuk ke hati Dilla.
Mama: "ini anak mama juga lagi jatuh cinta ya? kok senyum-senyum sendiri?"
Erik: "Eh enggak ma, tadi cuma ada kejadian lucu di jalan"
Mama: "Erik, kalo kamu juga udah punya calon, bawa kesini ya? siapapun calonnya pasti mama ngerestuin. Anak mama kan udah pada gede, udah tau mana yang baik dan nggak. Jadi mama percaya dengan pilihan kalian"
Ricko dan Erik berhambur memeluk mama dan berkata "terimakasih banyak ma". Tak lama kemudian mereka masuk ke kamar mereka masing masing dan terlelap dengan mimpinya.
*Seminggu kemudian (pernikahan Ricko dan Dilla)
Ricko yang hatinya sudah tak karuan karena akan menikahi wanita yang dia cintai dalam diam, sedangkan Dilla terpancar sedikit keedihan yang menyelimuti. Ibunya sangat mengetahui bahwa Dilla menyimpan perasaan sedih itu. Kemudian ia beranjak ke dekat Dilla.
Ibu: "Wah anak ibu cantik sekali. Tapi sayangnya ada yang di tutupi? sebenarnya ada apa nak? boleh ibu tau?"
Dilla: "Enggak apa-apa bu, Dilla bahagia sekali, tapi maaf Dilla belum bisa menyenangkan ibu" Dengan mata berkaca-kaca.
Ibu: "nak, bahagia itu bukan tentang sukses atau tidak. Dan saat ini ibu sangat bahagia melihat anak gadis ibu bersanding dengan pria yang baik"
Dilla mengembangkan senyumnya "Mungkin kalau dia menikah dengan orang yang dia cinta, ia akan sangat bahagia sampai lupa bagaimana caranya bersedih". Dilla menduduki kursi di depan penghulu yang sudah disiapkan untuknya. Ricko yang melihat Dilla hanya mengagumi wajah Dilla, biasanya Dilla tidak pernah berdandan, sekalinya berdandan mengapa secantik ini. Dilla hanya menunduk, sedangkan Ricko menatapnya dengan tersenyum.
Andre: "Bro, jangan dilihatin belum sah, nanti kalo udah sah liatin sepuasnya di kamar"
Ricko: " Apaan sih lo ndre?"
Beberapa saat kemudian Ricko berjabat tangan dengan penghulu dan ia mengucapkan kata sakral. Sungguh lega dan bahagia yang ia rasakan, saat ia melihat Dilla sepertinya ia juga bahagia. Apakah Dilla memang hanya pura-pura bahagia?
Setelah akad, Ricko mencium kening Dilla sembari berdoa "semoga pernikahan kami sakinah, mawadah warohmah. Di ridhoi Allah dan aku akan membuatmu bahagia dan mencintaiku"
Pernikahan mereka memanglah sederhana sesuai dengan permintaan Dilla, hanya ada 60 orang yang di undang. Dengan maksud jika mereka bercerai teman-temannya tidak ada yang mengetahui bahwa dia sudah berstatus janda.
Semua mata tertuju kepada kedua mempelai yang terlihat sangat serasi, mereka menunjukkan senyuman terbaik mereka. Tanpa di sadari ada hati yang telah menahan amarah sedang memperhatikan mereka yaitu Erik. Namun dengan besar hati ia menerima keputusan Dilla dan Ricko untuk menikah hanya dalam waktu 100 hari. Setelah itu, perlombaan untuk mendapatkan cinta Dilla di mulai.
Setelah pernikahan selesai, semua tamu undangan pulang, begitu pula orang tua Dilla juga pulang ke rumahnya. Mama menemui Dilla di kamarnya.
Dilla: "mama?"
Mama: "sayang, mama nitip Ricko ya? mama yakin kamu bisa buat dia lebih baik?"
Dilla: " Mengapa mama begitu yakin?"
Mama: "Karena kamu anak yang baik sayang, Ricko nggak pernah sebahagia itu, apalagi akhir-akhir ini dia sering sekali senyum-senyum. Siapa lagi kalo bukan karena kamu? itu sebabnya mama seneng banget waktu Ricko bawa kamu kesini"
Dilla hanya tersenyum "Dilla juga seneng banget nikah sama kak Ricko ma, dan punya mertua sebaik mama. Kalo benar ini mimpi, aku berharap nggak bangun dari mimpiku ma".
*Ceklek
Ricko pun datang namun ia sudah mendengar percakapan dari kedua wanita tersebut dari luar. Karena memang dirinya menguping dari tadi. haha
Dilla: "eh ngapain kamu kesini?"
Mama: "kan kalian udah nikah, ini jadi kamar kalian berdua?"
Dilla hanya bergumam "Aduh tidakkk. gue nggak mau sekamar sama cowok nyebeli kayak dia"
Mama: "Yaudah mama keluar dulu ya, jangan lupa buatin mama cucu yang cantik sama ganteng ya?"
Ricko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "hehe i - iya ma".
Mamanya meninggalkan mereka berdua. Mereka seperti orang kikuk yang salah tingkah.
Ricko: "Turun lo dari ranjang gue"
Dilla: "enak aja, yang masuk ke kamar ini kan gue dulu"
Ricko: "Lo pikir ini kamar siapa? kamar gue lah"
Dilla: "kalo emang nggak pingin kebongkar rahasia ini, lo tidur di sofa. Jangan sampai melangkah ke ranjang"
*Kira-kira gimana Ricko sekarang?