LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 3 (tak sengaja)



Malam hari


Setelah membersihkan café dan kamarnya ia segera beranjak tidur. Supaya saat fajar tiba dia bisa menyiapkan perlengkapan café dan bersiap untuk ospek hari ke-2. Namun pada pukul tiga dini hari ia terbangun karena merasakan rindu ibunya, ia belum mengabarkan apa-apa kepada ibunya sejak dia menginjakkan kaki di kampus ini. Dilla memegang ponselnya dan berniat menghubungi ibu, namun di urungkan karena takut mengganggu ibunya yang masih tidur.


Kemudian ia melaksanakan kebiasaannya yaitu shalat malam dan menunggu adzan subuh tiba.


Pagi hari


Pukul 07.00 Erik ke café untuk mengecek bahan makanan dan minuman yang habis. Namun dia dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa, biasanya dia harus menunggu pegawainya untuk membersihkan, saat ini ia melihat semuanya bersih, bahkan lantai, jendela dan meja bersih. Erik dikejutkan oleh sosok mungil dan indah yang masih berkutik dengan piring. Erik takjub melihat Dilla, bukan hanya cantik dan baik, tapi dia juga rajin.


Erik menyapa Dilla “Selamat pagi nona cantik?”.


Dilla terkejut dengan suara itu, kemudian membalikkan badan ke asal suara, “Eh kak, gimana udah bersih semua kan?” Dilla menaikkan alisnya meminta jawaban dari Erik.


Erik menjawab "Bersih banget, ini kamu semua yang mbersihin?”


"Iya dong kak, memangnya ada orang selain aku disini? Atau jin yang membantu pekerjaanku dalam waktu semalam kayak di dongeng-dongeng?" jawab Dilla dengan melipatkan kedua tangannya.


"Haha, mungkin aja kamu berteman dengan mereka. Gimana tidurnya nyenyak nggak?"


"Nyenyak banget kak, apalagi tempatnya nyaman jadi bangun tidur udah fresh deh"


"Syukurlah kalo gitu, hari ini masih ospek kan?"


"Iya kak, masih 2 hari ospeknya"


"Oh iya kamu udah sarapan belum?" Dilla hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Erik mengusap pucuk kepala Dilla “Oke aku buatin sarapan yang paling enak, tunggu di meja ya nona cantik?”.


Dilla hanya tertegun bagaimana ada orang sebaik dia di muka bumi ini, spesies langka mungkin dari seratus ribu orang, hanya satu yang seperti ini.


"Biar aku aja kak yang buatin, kakak duduk aja, kan kakak ownernya masa nyiapin makanan"


"Haha biasa aja Dil, kakak juga biasanya masak buat pelanggan kalo rame. Yaudah kita buat bareng aja oke?"


Dilla hanya mengangguk. Setelah selesai sarapan, Dilla mencuci piring tersebut dan berangkat ke kampus untuk melaksanakan ospek.


pukul 15.00


Dilla sangat senang hari ini dia memiliki banyak teman baru, salah satunya Melliza, Indira dan Caca.


Meskipun hanya hitungan jam, mereka sudah seperti teman yang akrab dan pulang bersama. Dilla tak menyadari ada sepasang mata yang tersenyum memandanginya dari balkon café. Ya benar, dia adalah Erik. Dia yang diam-diam menyimpan perasaan pada Dilla.


Sesampainya di café Dilla menyapa semua pegawai dan untungnya mereka senang dengan adanya Dilla.


Dilla segera ke lantai atas ke kamarnya. Saat akan membuka pintu kamar, dia melihat Erik ada di balkon sendirian. Dilla mendatangi Erik “kak kok ada disini?” tanya Dilla.


Erik berpura-pura tidak mengetahui kalau Dilla sudah pulang "Eh kamu sudah pulang? iya lagi santai aja makanya kesini"


"Yaudah aku mau bersih-bersih dulu terus bantu di cafe"


"Kalau capek istirahat dulu Dil, jangan maksain, nanti bisa-bisa sakit."


"Enggak capek kok kak, malahan aku seneng tadi dapat temen baru, ternyata mahasiswa disini baik-baik ya kak? Yaudah aku mandi dulu"


Erik hanya mengangguk dan tersenyum kepada Dilla. Dilla anak yang kuat, menutupi masalah-masalahnya dengan ceria. Erik semakin kagum dengannya.


Di Cafe


Pukul 21.45 café sudah hampir tutup, semua pegawai membersihkan piring-piring kotor, Erik bermaksud mengajak Dilla ke pasar besok pagi.


Biasanya untuk daging, mie dan buah di dapatkan langsung dari penjual yang langsung ke café. Sedangkan untuk sayur-sayuran harus membeli ke pasar.


Biasanya yang bertugas untuk membeli sayur adalah Dina dan Arini, namun karena bosnya saat ini sedang berbaik hati, ia ingin membeli sayur-sayuran sendiri di pasar.


Dina dan Arini merasa ada yang aneh dengan bosnya, biasanya ia tak pernah menawarkan diri untuk membeli sayur.


"Dil, besok pagi ikut aku ya?"


"Pagi? Kemana kak?"


"Ke pasar beli sayuran"


"Ya kira-kira pukul 5 pagi lah, kamu biasanya udah bangun belum jam 5?"


"Haha, ya udah dong kak, ayam berkokok mah kalah sama aku"


Erik menjewer hidung Dilla “oke, aku besok kesini pagi-pagi ya?”. Dilla hanya mengacungkan dua jempolnya.


Pagi hari


Cahaya mulai beredar dari pandangan, itu berarti pagi sudah mulai menyapa dengan langit yang berwarna biru kekuningan. Tampak dari jauh, Dilla sedang memejamkan mata dan mendongkakkan kepala ke atas untuk menghirup udara segar yang ada dari balkon café. Erik yang melihatnya ingin menjahili Dilla, dengan cara mengagetkan dari belakang.


DUARRR


Melihat wajah lucu Dilla saat terkejut, Erik terpingkal-pingkal.


Kemudian Dilla tak ingin kalah, ia berpura-pura dadanya sakit dan pingsan.


Erik pun terkejut, segera membangunkan Dilla dengan wajah panik dan keringat dingin, Erik menggendong Dila ke dalam “Dil, Dilla bangun dil, aku Cuma bercanda tadi, Dill” ucap Erik dan melangkahkan kakinya mengambil minyak kayu putih.


Karena Dilla tak bisa menahan tawa, akhirnya dia tertawa mendengar suara Erik yang khawatir “hahaha 1-1 haha” ucap Dilla dengan meledek tingkah Erik. Erikpun langsung memberhentikan langkahnya.


"Dasar jail" balas Erik dengan menjitak kepala Dilla.


“Aw. yang penting 1-1 kan kak? Haha yaudah ayo ke pasar keburu siang?” ajak Dilla.


“oke ayo, udah seneng kamu?” balas Erik tersenyum kepada Dilla.


"Seneng banget kak, coba aja Dilla rekam tadi"


Erik yang gemas dengan perilaku Dilla hanya mengusap kepala Dilla dan mengacak-acak rambutnya.


*POV Dilla


Setelah membeli sayuran di pasar, Dilla bergegas berangkat ke kampus untuk menjalani ospek hari ke tiga.


Ospek hari ini sangat melelahkan, karena di mulai pukul 07.30 sampai pukul 19.00. Dia merasa tidak enak hati dengan Erik, sebab ia bekerja jika ada waktu luang. Kemudian saat ospek selesai, Dilla beranjak pulang mempercepat langkah kakinya supaya segera sampai di café untuk membantu Erik.


Saat Dilla menyiapkan minuman kepada pelanggan, tak sengaja ia terinjak tali sepatunya dan menjatukan gelas tersebut kepada laki-laki yang baru masuk.


Dilla merasa ragu untuk melihat siapa laki-laki yang terkena tumpahan minuman tersebut?


Sepertinya dia bukan laki-laki biasa, melihat cara berpakaiannya menggunakan kemeja warna putih dan dibalut jas warna navy. Dilla hanya tertunduk menyadari bahwa ini kesalahan besar.


“Maaf pak, saya tidak sengaja, biar saya bersihkan jas anda pak” ucap gugup Dilla dengan meraih jas milik pria tersebut.


Namun pria itu hanya menghempaskan tangan Dilla. Dilla hanya bisa menunduk dan berkali-kali meminta maaf pada pria tersebut “Sombong amat sih nih om-om, percuma ganteng doang tapi sombong” batin Dilla.


*POV Ricko (pria yang terkena tumpahan minuman)


Saat pikiran kalang kabut tak jelas karena banyaknya pekerjaan di kantor, dia pasti selalu menghampiri café adiknya yaitu Erik.


Untung saja pada malam hari itu kondisi jalanan tidak macet, sehingga cukup menempuh 20 menit untuk sampai di café Erik.


Sesampainya di café, ia segera memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk. Namun, terdapat kejadian yang tak mengenakkan, saat ia memasuki café, ia terkena tumpahan kopi dari wanita mungil di depannya.


Ricko sangat geram sekali. Ricko ke café untuk menghilangkan beban pikirnya bukan malah memperparah. Tak lama, gadis tersebut menyentuh jasnya berniat untuk membersihkannya, ia langsung menepis tangan gadis itu.


#Author


sudah 1000 kata lebih guys..


aku kasih visualnya ya readers..


ini foto kakak (Ricko) sebelah kiri dan adik (Erik) sebelah kanan



gimana akur nggak tuh kakak dan adek.


terus ini visual Ricko dan Dilla.