LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps. 27



“Mas, berapa lama lagi kita disini?” ucap Dilla.


“Masih 5 hari lagi, Kenapa?” tanya Ricko.


“Oh enggak apa-apa”


“Kamu ingin berlama-lama dengan mas-mu ini?”


“Idih narsis ” ucap Dilla mengedikkan bahunya.


Hanya hal spele seperti itu membuat Ricko gemas melihat Dilla.


Merekapun beranjak tidur, seperti biasa Dilla tidur di ranjang sedangkan Ricko tidur di sofa depan TV. Karena lelah, mereka larut dalam mimpi mereka hingga pagi menjelang. Dilla sudah bangun terlebih dahulu, ia mendekati Ricko supaya bangun dari tidurnya.


“Mas, bagun udah pagi” ujar Dilla namun tak ada sahutan dari Ricko.


“Mas, ini udah pagi loh. Katanya mau ngajak aku jalan?” ujar Dilla mendekati tubuh Ricko dan hendak membangunkannya. Dilla melihat wajah Ricko sudah pucat dan badannya panas.


“Mas, kamu panas banget. Bentar aku ambilin kompres sama obat” Dilla segera mengambil air untuk kompres dan obat penurun panas. Ricko menggigil karena merasa suhunya ruangannya sangat dingin. Sementara suhu badannya berbanding terbalik. Dilla sangat cemas dengan kondisi Ricko langsung memesan bubur pada hotel tersebut supaya diantarkan ke kamarnya.


“Mas, aku panggilin dokter bentar ya?” ujar Dilla yang hendak melangkahkan kakinya untuk mengambil ponsel, namun tangannya di cekal Ricko supaya tidak jauh-jauh darinya. Ricko menggeleng, Dilla pun hanya menurut dan memegang tangan Ricko dengan kedua tangannya. Dilla juga memesan bubur untuk Ricko.


“Dil.. Dilla.. dingin” benar saja, Ricko terlelap dengan mengigau namanya.


Tok tok tok


“Mas bentar mungkin pesananku sudah datang” Dilla melepaskan tangan Ricko dan membukakan pintu.


“Mas makan dulu ya?” Ujar Dilla namun dibalas gelengan oleh Ricko, Ricko langsung memeluk tangan Dilla.


“Mas, kalo kamu nggak makan, kamu kapan sembuhnya? Katanya mas mau ngajak aku jalan kan?” Ujar Dilla membujuk Ricko dan akhirnya ia mau meskipun hanya beberapa suapan yang masuk ke dalam mulut Ricko.


“Sudah, sekarang minum obatnya ya?” Ricko hanya menurut kepada Dilla, tidak membantah perketaan orang yang dicintainya itu.


“Bagus, anak pintar. Sekarang tidur ya biar cepet sehat”.


Setelah minum obat, Dilla hendak membereskan tempat tidur yang ia tempati, namun tangannya di tahan oleh Ricko “Jangan kemana-mana, temenin aku” Ricko menarik tangan Dilla supaya ikut tidur di sebelahnya.


“Mas, sofanya kecil mana mungkin aku bisa nemenin kamu, Aku duduk disini aja ya?”.


Ricko langsung menarik tangannya sehingga Dilla jatuh tepat disebelah Ricko. Ricko memeluknya supaya Dilla tidak terjatuh.


“Temenin aku, aku nggak bisa tidur” ujar Ricko namun dengan mata terpejam dan tanpa ekspresi.


“Mas, jangan gini” ujar Dilla yang merenggangkan pelukan Ricko.


“Kamu mau aku cepet tidur kan? Temenin sebentar sampai aku tertidur” Ujar Ricko yang memeluk Dilla yang saat ini berada tepat pada dada bidangnya. Darahnya berdesir dengan sangat cepat. Begitu pula Ricko.


Dilla hanya mengangguk menunggu Ricko tidur. Saat mendengar nafas yang terarut dari Ricko, Dilla merenggangkan tangan Ricko yang memeluknya. Namun, bukannya malah lepas, Ricko mengeratkan pelukannya.


“Mengapa nyaman sekali berada dipelukannya. Apa benar aku jatuh cinta? Apakah ucapannya waktu itu serius tidak ingin bercerai denganku seperti yang ada diperjanjian?” ujar Dilla dalam hati.


Mungkin ini akan menjadi hobi Ricko yaitu memeluk Dilla saat tidur, ia sangat bahagia Dilla tidak menolak untuk di peluk. Ia rela sakit berhari-hari supaya Dilla tidak memberi jarak lagi pada mereka. Tak lama kemudian, mereka sama-sama tertidur.


Siang telah tiba, Ricko sebenarnya sudah bangun sejak tadi, namun ia menunggu Dilla bangun. Tiba-tiba perut Dilla bunyi dan Dilla terbangun. Ricko tersenyum “Kamu lapar?”.


Dilla yang baru terbangun kaget mendengar suara Ricko yang ternyata sudah bangun dan mendengar suara perutnya.


“Gimana mas? Sudah mendingan?” ujar Dilla langsung melepaskan tangan Ricko yang sedang memeluk Dilla.


“Sudah Dil, mas pesenin makanan ya? Kamu pasti belum makan”


Dilla berpikir, jika Ricko memesankan makanan pasti dia akan bangun untuk mengambil handphone, maka dia akan terlepas dari laki-laki itu. Dilla tersenyum dan mengiyakan perkataan Ricko.


Dan benar saja, Ricko bangun untuk memesan makanan untuk Dilla. Dilla tersenyum kemenangan seperti ayam yang terbebas dari kandangnya.


Setelah memesan makanan, Ricko beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat. Sedangkan Dilla memakan apa yang telah di pesan Ricko dengan menonton televisi yang berada di ruangan itu.


Setelah 15 menit Ricko keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang ada di pinggangnya. Dilla yang melihat hal tersebut langsung tersedak dan Ricko segera mengambilkan air minum untuknya.


“Makanya kalo makan pelan-pelan aja, lagian mas nggak bakal minta kok”


“Lah kok nyalahin Dilla, mas kenapa keluar kamar mandi nggak pake baju? Mata Dilla kan jadi ternoda sekarang!” jawab Dilla dengan mengalihkan pandangan supaya tidak melihat Ricko yang ada di sampingnya.


“Haha, jadi gara-gara itu kamu tersedak?” Ricko jadi gemas mendengar istri mungilnya yang sangat polos tersebut.


“Udah sana pake baju dulu, nggak malu apa ada perempuan disini?” ujar Dilla yang masih mengalihkan pandangan.


“Kamu kan istri aku? Sah-sah aja dong sayang” jawab Ricko yang memegang pundak Dilla.


Sedangkan saat ini jantung Dilla berpacu, ia memang tidak pernah menerima perlakuan seperti itu, ia takut dengan perlakuan Ricko. Karena dalam waktu 6 Minggu lagi, mereka akan bercerai.


“Ih sana, aku megang garpu lho mas. Jangan sampai garpu ini melayang ke kamu” jawab Dilla memegang garpu tersebut sangat erat.


“Iya iya, aku pake baju dulu”


Dilla tersenyum saat Ricko ketakutan dengan ancamannya.


Keesokan harinya, Ricko yang sudah terbangun lebih dulu masuk ke dalam kamar Dilla. Ricko mendekati Dilla dan menatap wajah damai tersebut.


Kau tau? Aku ingin melihatmu setiap pagi seperti ini. Aku pasti bisa mendapatkanmu.


Dilla yang merasakan ada yang menyentuh rambutnya pun terbangun. Dilla langsung terlonjak kaget melihat di hadapannya ada laki-laki yang sangat dia kenal.


"Ngapain mas? Jangan macem-macem ya!"


"Nggak apa-apa macem-macem sama istri sendiri"


"Ih sana pergi"


kring.. kring...


HP Dilla berbunyi. Ada nomor baru yang menghubunginya, Dilla langsung mengangkat televon tersebut. Sedangkan Ricko mengawasi Dilla di pinggir ranjang.


"Hallo"


"....."


"Iya saya sendiri"


"....." Ternyata televon tersebut dari adik sepupunya.


"Oh iya dek, ada apa?"


"....."


"Ibu..." handphone Dilla langsung terjatuh, air matanya pun tak dapat di bendung lagi. Dilla menutup mulutnya dan menangis. Ricko bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengannya? siapa yang menelvon? Ada apa dengan ibunya? Mengapa Dilla sangat terpukul?.


Ricko langsung memeluk Dilla dan menaruhnya di dadanya. Ricko mengusap lembut rambut Dilla, berharap dia bisa tenang. Sedangkan tangan kanannya, Ricko meraih hp Dilla.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Ricko berbicara dengan seseorang yang berada di handphone Dilla.


 


Sebenarnya ada apa dengan Dilla?