LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
bab 11



Ricko menggandeng tangan Dilla. Namun Dilla hanya kagum dengan apa yang dia lihat sekarang, karena saat ia datang semua orang menunduk dan melemparkan senyumnya. Sesaat kemudian mereka memasuki lift.


Dilla: “wah orang-orang disini ramah banget ya? Masa gue baru dateng aja sampai nunduk hormat gitu”


Ricko hanya tersenyum mendengar hal tersebut, sedangkan semua karyawan heran dan penasaran dengan datangnya Ricko membawa seorang gadis, terlebih gadis tersebut masih seperti usia pelajar SMA. Ricko melangkahkan kaki ke ruangannya.


Dilla: “kok nggak ada orangnya?”


Ricko: “ayo duduk dulu”


Dilla kaget dengan penuturan Ricko “jadi lo pemilik perusahaan ini?”


Ricko: “iya. Sudah nggak perlu basa-basi. Gue sudah mempersiapkan perjanjian, tolong dibaca dulu”


Dilla: “perjanjian apa?”


Ricko: “perjanjian kita nikah. Silahkan di baca”


----------dalam surat perjanjian-----------



Pihak 1 menikahi pihak 2 dalam waktu 100 hari secara sah.


Pihak 2 akan menjalankan kewajibannya sebagai istri.


Pihak 1 akan menafkahi pihak 2 sebagaimana selayaknya istri.


Selama pihak 2 menjadi istri, pihak 2 boleh menggunakan fasilitas yang dimiliki pihak 1


Pihak 2 tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan pria lain.


Jika pernikahan sudah mencapai 100 hari, maka hutang pihak 2 dianggap lunas dan akan diberikan uang sebanyak 250.000.000 sebagai imbalan.


Jika pernikahan belum mencapai 100 hari, maka pihak yang memutuskan akan ganti rugi sebesar 250.000.000


Tidak boleh ada kekerasan atau penganiayaan antara kedua belah pihak.



Pihak 1 : Ricko Bima Dirgantara


Pihak 2 : Adilla Zahya Putri


Setelah membaca perjanjian tersebut Dilla mengajukan protes “ini sih mberatin gue banget!”


Ricko: “memberatkan di bagian mana? Justru itu menguntungkan buat lo”


Dilla: “ bagian 1, 4 dan 6”


Ricko: “coba baca”


Dilla: “enak aja lu nyuruh-nyuruh, lo nggak bisa baca apa?”


Ricko: “baca” ucap tegas.


Dilla memutar bola matanya kesal dengan sikap Ricko yang seenaknya.


Dilla: "oke gue baca, Pihak 1 menikahi pihak 2 dalam waktu 100 hari secara sah. gue keberatan, karena gue nggak mau jadi janda di usia muda"


Ricko: "kalo gitu nikah selamanya? mau?"


Dilla: "idih bisa mati muda gue kalo nikah sama lo"


Ricko: "yaudah kalo nggak mau, tetap di perjanjian awal"


Dilla: "sabar Dilla, sabar. udah yang ke 4 Pihak 2 tidak diperbolehkan menjalin hubungan dengan pria lain. nanti kalo tiba-tiba gue jatuh cinta sama cowok gimana? terus kok cuma pihak 2 yang nggak boleh berhubungan? jadi pihak 1 boleh berhubungan dengan siapapun?"


Ricko: "ya benar. terus lo nggak boleh berhubungan sama pria lain, apa kata orang kalo istri dari Ricko Bima Dirgantara selingkuh dengan pria lain? itu pasti mempermalukan gue"


Dilla: "ya seharusnya disini pihak 1 juga nggak boleh. nanti kalo pihak 1 selingkuh atau main sama perempuan lain bukannya itu memperburuk nama lo sendiri"


Ricko: "oke lo bener. tulis di situ, nanti biar di revisi sama asisten gue"


Dilla: "oke. nomer 6 Jika pernikahan belum mencapai 100 hari, maka pihak yang memutuskan akan ganti rugi sebesar 250.000.000. nanti kalo memang gue nggak kuat banget ngadepin sikap lo gimana? secara siapa sih yang nggak kesel sama lo yang seenaknya sendiri?"


Ricko: "ya lo tahan ada sampai waktunya habis. mudah bukan?"


Dilla: "mudah apaan. Tunggu aja gue yang bakal bikin lo nggak tahan sama gue"


Ricko: "oke siapa takut".


Setelah mereka deal dengan isi perjanjian tersebut, merekapun menandatangani surat perjanjian tersebut.


Ricko pun menghubungi sekertarisnya Andre "An tolong pesankan aku makanan seperti biasa 2"


Dari luar ruangan Andre menjawab "baik pak akan saya pesankan". beberapa menit kemudian,


"Kak gue mau pulang, ada kerjaan di cafe" ujar Dilla.


"nggak mau, gue nggak enak sama kak Erik, dia yang sering bantu gue, masa gue nggak mbantu dia sama sekali" ucap Dilla kemudian berjalan menuju pintu keluar, saat ia memegang pintu keluar disaat itu pula Ricko menarik tangan Dilla dan di dorongnya wanita tersebut di dinding. Ricko pun mengunci Dilla dengan kedua tangannya.


Dilla sangat kaget dengan perbuatan Ricko "mau ngapain? jangan macem-macem ya? atau gue teriak?"


Dilla mematung di tatap Ricko sangat dekat,


Ricko "gue nggak mau macem-macem, cuma semacem doang" Ricko pun mendekatkan wajahnya kepada Dilla dan Dilla hanya diam dan menutuo mata takut di apa-apakan Ricko. Ricko mendekatkan wajahnya ke bagian telinga dan berbisik "jadilah wanita yang penurut kepada calon suamimu".


datanglah sekertaris Ricko (Andre)


*ceklek*


"ups sorry, kalau mau gituan, kunci pintunya bro" ucap Andre meledek Ricko.


Dilla mendorong tubuh Ricko dan Ricko hanya tertawa puas melihat Dilla salah tingkah. kini wajahnya memerah seperti kepiting rebus.


Ricko: "hahaha lo kira gue mau ngapain lo?"


Dilla: "dasar sinting bikin gue malu aja"


Ricko: "lo ngarep kayak gitu sama gue"


Dilla: "haha pede banget lo, kayak lo keren aja"


Ricko: "haha udahlah ayo temenin gue makan, gue laper belum makan siang"


Dilla: "gue nggak laper" tiba-tiba perut Dilla bunyi karena ia belum makan siang. "Dasar perut nggak bisa di ajak kompromi banget sih" batin Dilla


Ricko: "Nggak usah gengsi, kebanyakan gengsi nggak bakal kenyang" Ricko tersenyum karena dirinya mendengar perut Dilla sudah berdemo. Dan melanjutkan makannya.


Dilla: "yaudah kalo lo maksa" Dilla mengambil makanan dan mendudukkan dirinya di kursi sofa.


Ricko: "siapa suruh duduk di situ? duduk sini!" ujar Ricko dengan melambaikan tangan untuk duduk di kursi tepat di depannya.


Dilla: "ih. Dasar, lo ngarep banget ya makan sama gue. oke gue turutin"


Ricko hanya menggeleng dan tersenyum dengan sikap Dilla yang menurutnya sangat menggemaskan.


Ricko dulu memang pernah dekat dengan beberapa perempuan, namun ia tak begitu tertarik dengan wanita-wanita tersebut. Dan saat ia dekat dengan Dilla menurutnya ia wanita yang berbeda, biasanya para wanita akan senang jika di dekati Ricko, beda halnya dengan Dilla yang selalu menjauh dan selalu ada pertengkaran diantara mereka. Ricko semakin tertarik dan tertantang untuk mendapatkan Dilla.


Dilla: "Ngapain lo senyum-senyum? Demen ya sama gue"


Ricko: "Nggak usah PD, gue ngeliatin lo makan tadinya nggak mau, eh sekarang lahap banget kaya orang kelaparan"


Dilla: "hust. Kata ibu makan nggak boleh ngomong nanti di bantu jin makannya"


Ricko: "Haha lo percaya begituan?"


Dilla hanya mengangguk dan berkata "hust..."


setelah selesai makan, Dilla dan Ricko turun melewati lift dan segera pulang.


Ricko: "Dil, besok kuliah pukul berapa?"


Dilla: "pukul 8 sampai 11 kak , kenapa?"


Ricko: "Besok gue jemput"


Dilla: "kan cafe kak Erik deket sama kampus, gue biasanya juga jalan kaki"


Ricko: "jadilah wanita penurut pada calon suami"


Dilla: "Iya, calon suami pura-pura" menekan setiap kata.


Ricko: "Bagus" dengan mengangguk dan tersenyum. "Turun, udah sampe cafe"


Sesampainya di cafe, Dilla langsung turun dan menutup pintu mobil. Erik yang telah menunggu Dilla di cafe terkejut saat Dilla ternyata keluar dengan Ricko.


Erik: "Dill, dari mana? kok tumben pulang sore?"


Dilla: "iya kak, tadi keluar bentar sama kak Ricko ada urusan"


Erik: "cie ada yang baru jadian kayaknya" Erik menutupi perasaannya.


Dilla langsung mengelak "enggak nggak jangan sampe, amit amit"


Erik: "lah kenapa? kan kak Ricko ganteng Dill?"


Dilla: "percuma ganteng doang mah, tapi nyebelinnya tingkat dewa"


Erik lega dengan penuturan Dilla, karena sepertinya Dilla tidak menyukai Ricko sama sekali.


Erik: "yaudah gih mandi, ganti baju bantu nunggu cafe ya?"


Dilla: "siap captain"