LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 20 (Pertanyaan)



*****Terimakasih sudah mau mampir ke ceritaku ya.


Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya. Karena masukan dari kalian itu sangat-sangatlah penting.


Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like dan komentar di setiyap ceritaku, supaya author lebih semangat dalam menulis cerita.


Happy Reading Reader******...


----------


Ego Erik sudah tak dapat dibendung lagi, Ia benar-benar merindukan Dilla. Ia mengambil ponsel miliknya dan mencari nama Dilla dan segera menghubunginya. Namun setelah menghubunginya beberapa kali, dia tak menjawab televon Erik.


Erik: "Apa mungkin masih ada di perjalanan?"


Di sisi lain, Ricko dan Dilla tengah berada di kantor. Tepatnya di ruangan Ricko. Karena daya handpone Dilla memang habis, Ricko meminjamkan handponw nya untuk Dilla menonton film kesukaannya. Sedangkan handpone Dilla sedang di charge di dekat Ricko.


Ricko mengetahui bahwa Erik sedang menghubungi Dilla, Namun ia tak memberi tau Dilla mengenai hal tersebut. Ricko juga curiga mengapa Erik menghubungi Dilla? Ada apa dengan mereka? Setelah membuka pesan Erik handpone Dilla,ternyata tak ada yang spesial dari pesan mereka berdua.


Ricko segera menghempaskan pikirannya jauh-jauh. Dia mengawasi gadisnya yang tersenyum sendiri saat menonton film. Mungkin jika seperti ini seriap hari, Ricko akan semangat bekerja meskipun tanpa hari libur. (Dasar Ricko bucin).


pukul 10.35.


Dilla: "Mas ayo anter ke kampus?"


Ricko hanya mengangguk dan mengambil kunci mobilnya, tak lupa ia memberikan ponsel yang sudah di charge kepada Dilla supaya mudah untuknya menghubungi.


Rendi juga mengantar Caca, memang ada maksud terselubung pada Rendi yaitu untuk bertemu dengan Caca. Rendi melihat Dilla turun dari mobil yang kemarin menjemputnya, tepatnya mobil suaminya.


Caca: "Kak, nanti aku pulang naik taxi aja, kakak pulang aja!"


Rendi: "Gue tunggu disini Ca"


Caca: "Jangan kayak pengangguran deh kak?"


Rendi: "Sekarang musimnya penculikan, kakak nggak mau kamu diculik"


Caca: "Haduh yaudah terserah"


Rendi memang menunggu sampai Caca pulang, karena Dilla dan Caca memang satu kelas.


Pukul 13.30 mata kuliah telah selesai, wajah mereka sangat lega menyelesaikan ujian praktek dari dosen yang menurut mereka sangat killer.


Dilla, Caca, Melliza dan Indira saat ini sedang menuju parkiran. Melliza dan Indirs berada dalam satu mobil, merekpun segera pulang. Sedangkan Dilla bermaksud untuk menunggu suaminya, Ricko. Caca yang akan memasuki mobilnya, merasa kasihan jika meninggalkan sahabatnya sendiri.


Caca: "Dil, gue anter pulang yuk?"


Dilla: "Enggak usah, terimakasih. Tadi gue udah bilang sama mas Ricko buat jemput. Mungkin habis ini nyampe"


Caca: " Apa gue anter ke cafenya kak Erik aja? Nanti biar kak Ricko njemput di cafe?"


Dilla: "Yaudah deh, nanti gue hubungin kak Ricko"


Saat Dilla memasuki mobil Caca, ternyata yang berada di depan bukan supir Caca, melainkan kak Rendi.


Dilla: "Loh kak Rendi?"


Rendi: "Iya, gimana kuliahnya Dil?"


Dilla: "eh. ba baik kak"


Rendi: "Kok suami kamu nggak jemput?"


Rendi: "loh kenapa? nggak apa-apa aku anterin sampe rumah kamu"


Dilla: " Tadi udah bilang sama suamiku buat jemput di cafe"


Rendi: "O Iya, Bukannya kamu dulu pacaran sama si siapa itu waku kamu kelas 2?" tanya Rendi memancing Dilla.


Dilla: "Oh itu sudah nggak ada kabar kak, siapa juga cewek yang mau di gantung selama satu tahun lebih nggak ada kabar. Meskipun dia tak mengucapkan hubungan itu selesai, ya aku anggap aja sikapnya itu menginginkan bahwa hubungannya memang harus kandas"


Rendi yang bingung harus menjawab apa, dia menyuruh Caca untuk membelikan air mineral ke supermarket supaya Rendi dapat berbicara serius dengan Dilla.


Rendi: "Ca tolong beliin air mineral sama snack ya? kakak haus banget"


Caca: "ngerepotin banget sih kak?"


Rendi: "Bentar doang Ca, kakak haus nungguin kamu kuliah lama banget"


Caca: "siapa suruh nungguin? kan adi udah ku suruh pulang"


Beberapa saat kemudian Caca keluar untuk membelikan snack dan air mineral. Sementara itu Rendi dan Dilla berada di dalam mobil berdua.


Rendi: "Dil, sebelumnya maaf, aku nggak ada kabar bukannya untuk menjauhi kamu, aku hanya ingin fokus sama kuliah dan karirku. Namun setelah semua aku gapai, aku mencarimu di rumah kamh. Kata bapak, kamu kabur dari rumah, bapak juga nggak tau posisi kamu ada dimana. Disitu aku bingung banget mau cari dimana. Setelah beberapa bulan ternyata aku menemukanmu yang ternyata teman adikku sendiri. Aku juga nggak nyangka ternyata kamu udah nikah sama laki-laki itu"


Dilla: "Dilla memang kabur dari rumah, karena Dilla nekat ingin kuliah. Kalo Dilla di rumah, mungkin Dilla saat ini sudah dinikahkan sama juragan beras yang beristri dua. Untungnya Dilla kekeh untuk melanjutkan kuliah, tanpa disangka-sangka Dilla bertemu dengan kak Ricko akhirnya kita menikah supaya Dilla nggak di nikahkan sama juragan beras itu.


Lalu untuk hubungan kita, anggep aja sudah selesai. Aku sudah jadi milik orang lain. Seharusnya dulu kakak memberi kabar kepada Dilla, meskipun jarang Dilla juga akan menerima keadaannya kok. Menghilangnya kakak, itu menandakan kalo memang hubungan kita nggak bisa dilanjutin. Dilla juga nggak mau berharap lebih sama harapan yang pernah kakak janjikan"


Rendi: "Kakak mohon, kita ulangi dari awal ya Dil? Kakak masih cinta sama kamu, kakak janji nggak bakal ninggalin kamu kayak dulu. Aku bakal sering-sering hubungin kamu, bakal lebih perhatian ke kamu. Kakak nggak bakal ngelepas kamu begitu saja Dil, bahkan sampai kamu memiliki suami, aku masih terus mengharapkan kamu kembali ke aku Dil"


Dilla: "Maaf kak, hati bukan untuk main-main. Aku juga sudah sangat mencintai suamiku, begitu pula sebaliknya"


Saat Rendi akan menjawab pernyataan Dilla, Caca pun datang membawa pesanan Rendi.


Caca: "Tuh kak, minum deh"


Rendi: "Iya nanti ku minum Ca"


Caca: "Tadi katanya haus, sekarang hausnya hilang. Gimana sih? Dasar"


Rendi dan Dilla hanya terdiam seperti ada yang mereka sembunyikan. Tak seperti tadi Rendi yang menghujani Dilla dengan beribu-ribu pertanyaan. Tak membutuhkan waktu lama, Dilla telah sampai di cafe Erik.


Dilla yang langsung keluar tak lupa mengucapka terimakasih kepada Caca dan Rendi. Dilla bergegas memasuki cafe, tepat berada di depannya ada Dina dan Erik. Dilla langsung menyerbu mereka berdua dengan pelukan. Dilla memeluk Erik kemudian memeluk Dilla, menandakan bahwa Dilla sangat rindu dengan mereka berdua.


Erik yang menerima hal tersebut langsung canggung, karena rindunya sudah terobati. Berbeda dengan Dina yang menunjukkan wajah bahagia dengan kedatangan Dilla.


Dilla: "kak, kak Erik nggak suka aku ada di sini?"


Erik: "Suka kok, suka"


Dilla: "Kok wajahnya nggak bahagia? Ada masalah ya kak?"


Erik: "Enggak, cuma kakak bingung aja, kok sekarang ada disini? apa kak Ricko nggak jemput kamu?" Melontarkan pertanyaan supaya Dilla tidak curiga dengan sikapnya.


Dilla: "Tadi katanya kak Ricko sedang sibuk, bisa jadi telat jemputnya. Makanya aku kesini, daripada di kampus sendirian"


Bersambung


-----


Sudah tiga ribu kata dalam sehari. Ternhata capek juga jempolan ini.