LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 4 (om kulkas)



Di Café


Erik mendatangi asal suara keributan tersebut. “Loh kok basah jasnya? Habis hujan-hujanan kak? Haha”


Erik mendatangi Ricko supaya tidak memarahi Dilla, karena ia tau pasti hal tersebut tidak di sengaja oleh Dilla.


Mendengar perkataan Erik, Ricko berdecak “ck apaan sih lo, ini nih pegawai lo nggak ati-ati, orang kayak gini kok di terima?”.


“Haha udah kak, dia pasti nggak sengaja kok, ayo ke atas dulu. Oh iya ngapain lo kok tumben kesini?” tanya Erik kepada Ricko dengan mengkode Dilla untuk segera pergi ke belakang. Di ikuti Dilla hanya mengangguk.


“Iya nih gue stres banget di kantor, kerjaan numpuk banget sampe gue nggak bisa mikir” jawab Ricko.


“Oh iya yang barusan pegawai baru ya? Kok baru lihat?” lanjut Ricko bertanya kepada Erik.


“Iya kak dia pegawai baru gue. Baru aja 4 harian, gue ketemu dia waktu pagi-pagi ketiduran di depan café, dia gak punya tempat tinggal karena dia cuma punya uang dua ratus ribu, lagian dia juga mahasiswi baru disini, yaudah gue suruh tinggal di café aja, sekalian bantu-bantu café” jawab Erik.


Ricko hanya mengangguk “Jangan-jangan dia cuma modus aja biar dapet tempat tinggal gratis atau pingin deketin lo mungkin?”.


“Haha pikiran lo jangan negative thinking sama orang, dia tuh anak baik, rajin banget meskipun nggak gue suruh bersih-bersih, dia langsung bersihin cafe” jawab Erick.


“Kayaknya ada yang kesemsem sama pegawai itu ya? Terus biasanya juga lo rajin banget ngecek café yang lain, tapi sekarang lo betah banget disini” Ricko dengan tatapan menyelidik. Sedangkan Erik hanya tertawa mendengar kakaknya bertanya seperti itu, karena memang itu benar adanya.


*POV Dilla


Setelah kejadian tersebut Dilla mendengus kesal “Siapa sih dia sombong amat jadi orang?”. Dari samping Dina yang merupakan pegawai lama Erik menjawab “Itu abangnya Erik Dil, namanya kak Ricko”.


Dilla membelalakkan matanya “Hah? Kok bisa? Adiknya berhati malaikat sedangkan kakaknya kayak..” saat ingin melanjutkann bicaranya, di sahuti oleh Dina “hust. nggak boleh ngatain orang, biarin aja. Namanya juga orang kaya, bebas kan mau gimana aja”.


Mendengar hal tersebut, Dilla hanya mengangguh dan menghela nafas panjang.


Dina menyuruh Dilla untuk memberikan Erik dan Ricko minuman, biasanya mereka menyukai cokelat panas, Dina menyuruh bukan tanpa alasan, namun supaya Dilla meminta maaf baik-baik kepada Ricko mengenai masalah yang tidak di sengaja tadi.


"Nih kasih ke mereka ya Dill" ucap Dina dengan menyodorkan cokelat panas kepada Dilla.


"lah enggak, bisa di terkam singa aku kak kalo kesana" ujar Dilla dengan bergidik ngeri.


"Itung-itung ini jalan untuk minta maaf sama dia Dil" bujuk Dina.


"Enggak kak, aku nggak mau. Nanti di caci maki kayak di novel-novel gitu terus di siram sama cokelat panas ini. Aduh gak bisa bayangin aku" Dilla yang kekeh tidak mau mengantarkan cokelat panas ke lantai dua.


"Dil, lo mau kan kak Ricko menghasut kak Erik suruh mecat lo?"


Dilla menggelengkan kepalanya.


"Makanya buruan anter ini, terus bilang maaf sama kak Ricko"


"oke oke gue anter deh kak" Dilla mengambil nampan dan pergi ke lantai dua.


*Café lantai dua


Tidak ada kecanggungan dari kakak beradik itu, mereka sangat rukun. Namun hanya sifat mereka saja yang berbeda.


Erik adalah sosok adik yang akrab dengan siapapun berbeda dengan Ricko yang akan selalu dingin kepada siapapun, kecuali kepada adik dan mamanya.


Setelah berbicara panjang kali lebar, Erik bertanya “Gimana kak, apa lo udah punya calon mantu buat di kenalin ke mama?”.


“Haha itu soal gampang, siapa yang nggak mau sama gue, nanti kalo ada yang cocok langsung gue ajak nikah hari itu juga, pasti dia mau” dengan PD-nya Ricko menjawab adiknya.


“Yakin lo? Inget kak umur lu itu udah 28 tahun, siapa juga yang mau sama pria tua haha” ledek Erik.


Tanpa disadari Dilla tertawa mendengar penuturan Erik, dengan cepat kedua lelaki tersebut menatap Dilla. Dilla langsung terdiam saat dua pasang mata menatapnya.


Namun nihil, pria es tersebut hanya melotot saat di panggil om oleh Dilla “Gue bukan om lo, jangan panggil gue om”.


Mendengar percakapan dua manusia tersebut Erik hanya menahan ketawa “Sudah-sudah, Dilla kamu boleh kembali ke bawah, terimakasih ya cokelat panasnya”.


“Oke siap captain” Dilla memberikan hormat kepada Erik, dan mengejek Ricko “bye om” Dilla berlalu dan tertawa melihat ekspresi Ricko.


“Kak, jangan kasar-kasar sama cewek, nanti nggak laku lo. Nanti kalo lo nggak nikah-nikah, mama juga nggak bakalan ngizinin gue nikah sama…” tiba-tiba perkataan Erik berhenti.


“Sama siapa? Emang lu udah punya calon? Gila, lu mau nyalip gue?” sahut Ricko.


“Ya.. sama calon istri gue lah, haha. Makanya cepetan”


Setelah berbincang-bincang dengan adiknya, pukul 21.53 Ricko bergegas pergi meniggalkan café itu, namun di depan matanya sekarang Dilla sedang mengepel lantai, ia berniat membalas ejekannya dengan menendang air yang berada dalam bak tersebut hingga tumpah.


“Sorry, nggak sengaja. Makanya minggir” ucap Ricko dengan senyum kemenangan.


“Oke nggak apa-apa om, selamat datang kembali” balas Dilla dengan wajah geram dan seolah-olah perkataannya sok lembut.


Dalam hati Dilla “tunggu aja pembalasan gue, dasar om-om tua”.


*PUKUL 22.00 CAFÉ TUTUP.


“Dil, ini kunci café-nya, besok aku kesini seperti biasa, Terus nanti segera tidur, oke?” ucap Riko. Disertai Dilla hanya mengangguk dan tersenyum.


Dilla segera beranjak ke lantai dua dan segera tidur, ia merasa badannya sangat lelah hari ini.


“Capek banget hari ini, untung besok ospeknya malem doang, kalo enggak bisa remuk nih badan”


kiri( Erick)


tengah (Dilla)


kanan (Ricko)



@


Author: hei gimana betah nggak di cerita novel ini?


Dilla ; kalo betah sih betah thor, tapi please buat Ricko ngilang aja ya?


Author: lah kenapa? katanya dia ganteng? kan lumayan bikin mata jadi bening?


Dilla: iya sih, tapi liat kelakuannya udah om om sombong banget lagi.


Author: haha. kalo nggak di bikin gitu ceritanya nggak seru. masak cerita mulus mulus aja, dah kayak lantai masjid.


Dilla: sebenernya kalo gitu namanya jangan Ricko thor, tapi si om kulkas.


Author: awas jangan benci-benci banget, ntar lama lama jatuh cinta lho.. ingat "jangan membenci sesuatu secara berlebihan, siapa tau suatu saat nanti jadi yang kau sukai. jangan menyukai sesuatu secara berlebihan, siapa tau suatu saat nanti menjadi yang kamu benci".


Dilla: oke oke.. aku mau tidur dulu thor, mau ngimpiin pangeran, siapa tau jadi kenyataan..


*hei readers, tolong koreksi ceritaku kalau ada salah2 penulisan atau kurang menarik dalam jalan ceritanya..


silahkan coment, like dan vote ya?


thanks readers..