LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
bab 5 (berdamai)



Di rumah Ricko


Saat Ricko masuk rumah, ternyata ada yang menunggu dia siapa lagi kalau bukan mamanya. Mamanya memang sangat sayang kepada Ricko dari pada Erik. Karena Ricko lebih mudah di atur dari pada Erik.


Saat Ricko diminta untuk mengurus perusahaan, dia langsung menurut kepada mamanya, berbeda halnya dengan Erik. Erik lebih suka bekerja santai, tanpa di kekang oleh siapapun. Menurutnya jika bekerja di perusahaan harus memang ekstra bekerja keras, namun jika dia mendirikan café, ia bisa membantu teman-temannya yang memang tidak memiliki pekerjaan, selain itu bekerja di café sangat-sangatlah santai.


Pukul 22.55


“Ricko dari mana saja kamu? Mama telvon kok nggak di angkat? Mama tadi ngubungin Andre sekertaris kamu, katanya kamu udah pulang dari tadi?” ucap mama kepada Ricko tanpa ada jeda.


“Ma, Ricko memang pulang dari tadi. Tapi Ricko mampir bentar ke café Erik, Cuma ngobrol-ngobrol doang. Ricko di kantor capek banget ma, kerjaan numpuk, terus mama kok belum tidur?” ujar Ricko dengan santai.


“Iya mama nungguin kamu sama adik kamu. Oh iya Rick, kamu kok belum ngenal-ngenalin calon mantu sih? Kamu memangnya mau nikah umur berapa?”


Ricko langsung memutar bola matanya, “ma, mama tenang aja kalo Ricko udah dapet calon matu buat mama, langsung Ricko bawa kesini”.


“Beneran ya Rick. Masa mama di sindir sama temen-temen mama, katanya anak mama nggak laku, padahal ganteng iya, mapan iya, baik ya lumayan sih. Haha” ujar mamanya dengan meledek Ricko.


Ricko dengan refleks langsung menatap mamanya dengan mata malas. “Haha lucu ya ma ya?” ucap Ricko dengan ketawa yang di buat-buat.


“Bercanda sayang, anak mama memang paling baik kok, udah sana tidur mama masih nungguin adik kamu, beberapa hari ini kenapa ya kok Erik selalu pulang malam. Biasanya dia pukul sembilan udah pulang, kamu tadi kok nggak barengan sama Erik?” ucap mama.


“Tadi Ricko pulang dulu, Erik masih bantuin pegawainya bersihin café, mungkin habis ini pulang" balas Ricko.


Saat berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar suara mobil Erik. Tak lama kemudian Erik datang dengan tersenyum dan mengucapkan salam. “Assalamualaikum.. eh ma, kak kok tumben pada ngumpul di sini” ucap Erik sambil mencium tangan mama.


“Iya ini mama nungguin lo, takut lo di godain sama mbak-mbak yang di lampu merah haha” goda Ricko kepada Erick.


“Sialan lo, mana doyan gue sama mbak-mbak itu” ucap Erik sambil merebahkan diri di sofa.


“Mama kangen banget sama kalian berdua, apalagi semenjak papa nggak ada, kita makin jarang kumpul. Mama kesepian banget di rumah, makanya anak mama yang ganteng-ganteng ini bawa cewek dong ke rumah. Biar nanti mama ada temennya, kan bisa masak bareng, ngobrol-ngobrol sama mama” ujar mama dengan wajah sok sedih.


“Maaf ya ma kalau kita sering sibuk di luar? Ricko janji kalau udah dapet calon mantu, hari itu juga bakal aku bawa kesini” ujar Ricko.


“Iya, mama ngerti kok kalo kalian sibuk. Yaudah sekarang kalian cepet mandi, terus tidur. Oke?”


“Oke ma” sahut adik kakak tersebut berbarengan. Kemudian mencium pipi mamanya dan kembali ke kamar masing-masing.


*1 bulan kemudian


Pukul 18.00.


Dilla senang tinggal di café ini, tak terasa ia sudah tinggal di sini sudah satu bulan. Namun ada satu hal yang mengganjal. Ya, ia sangat rindu dengan ibunya. Namun jika ia menemui ibunya di rumah, pasti bapaknya tak akan mengizinkannya untuk kuliah lagi.


Karena besok Minggu café tutup, maka ia ingin cepat-cepat berkunjung ke ibu yang sangat dia rindukan. Ia segera mandi dan berpenampilan seadanya. Ketika ia ingin pamit kepada Erik, ternyata Erik tidak ada di café.


“Kak Din, kak Erik kemana?” tanya Dilla menoleh ke segala arah.


“gue juga kurang tau Dil, mungkin ke cafe cabang?” jawab Dina.


“Yaudah nanti kalo kak Erik kesini tolong pamitin ya? Gue mau pulang ke rumah, soalnya udah sebulan nggak ketemu ibu” jawab Dilla dengan melangkahkan kakinya.


“Oke hati-hati ya Dil? Nanti aku sampein.” Ujar Dina.


“makasih ya Kak Din, bye” ucap Dilla dengan melambaikan tangannya.


Saat ia keluar dari café datanglah motor besar yang tiba-tiba hampir menabrak Dilla, hingga akhirnya ia terjatuh tangannya terluka. Kemudian motor tersebut tiba-tiba berhenti dan mendatanginya.


Sepertinya ia mengenali gerak-gerik dan postur tubuh laki-laki tersebut, namun ia tak dapat melihat wajahnya, pria tersebut menggunakan helm dan kacanya gelap. Ketika ia membukanya, ternyata benar ia laki-laki yang ia kenali. Dia adalah Ricko.


“Oh.. jadi elu, pasti lo sengaja kan nabrak gue?” ucap Dilla dengan emosi.


“Eh. jangan asal nuduh, lo nya aja yang nggak liat-liat, untung gue nggak ngebut tadi” balas Ricko dengan suara tinggi.


“Jadi lo nyalahin gue, makanya mata tu di gunain jangan cuma di pajang doang” ucap Dilla.


Ricko memutarkan bola matanya malas “Yaudah ayo bangun apa enggak?” Ricko mengulurkan tangannya kepada Dilla.


Dilla bangun sendiri dengan tangannya “gue bisa sendiri”.


“Oke, bagus deh. Gue pergi dulu” ucap Ricko membalikkan badan.


Belum sempat melangkah, Dilla terjatuh karena kesakitan bagian kaki kanannya. “duh…”.


“Ayo gue bantu masuk, nggak usah gengsi gitu. Kalo butuh bilang, nggak usah ngelak” ucap Ricko.


“Lo seharusnya yang sadar diri dong, kan lo yang nabrak. Ada tanggung jawabnya dikit kek” omel Dilla.


“Sini gue bopong” tawar Ricko.


Saat Dilla dibopong oleh Ricko untuk masuk ke café, Ricko menunduk karena Dilla ternyata sangat mungil.


“Hahaha” Ricko tertawa saat membopong Dilla.


“Ngapain lu ketawa, seneng ya gue menderita gini?” ujar Dilla dengan tatapan sinis.


"Terus?”


“Ternyata lo kecil banget kayak tuyul”


“Haha lucu ya, terus aja ledek”. tertawa seolah di buat-buat.


“Hehe sorry-sorry. Udah ayo, lo jalannya lelet banget sih”


Tanpa aba-aba atau berkata apapun, Dilla langsung di gendong Ricko ke café lantai dua.



“Om turunin gue.. gue malu di lihatin orang-orang” sambil mukul tangan Ricko.


“Udah diam aja, semakin teriak semakin mempermalukan diri lo sendiri”


Ricko membawa Dilla ke balkon lantai dua dan segera membawa kotak kesehatan.


“Udah tunggu sini aja, gue obatin”


Dilla tak menjawab pernyataan Ricko. Dilla hanya meniup tangan dan kakinya yang terluka. Tak lama kemudian Ricko datang mengobati Dilla. Saat di obati, Dilla meringis kesakitan dan kemudian menangis.



"Dil, kan udah gue obatin, jangan nangis dong. Gue minta maaf banget, tadi beneran gue nggak sengaja nabrak lo.” ujar Ricko dengan penyesalan.


“Nggak apa-apa” dengan terisak. “gue Cuma kangen aja sama ibuk. Tadi sebenernya gue mau pulang ke rumah. Eh nggak taunya malah kejadian kayak gini. Kalo gue pulang dalam keadaan kayak gini, ibuk pasti khawatir banget” lanjut Dilla.


“Yaudah sebagai gantinya, Minggu depan gue anter lo pulang ya?”


“Nggak usah, gue bisa pulang sendiri kok om”.


“Nggak ada penolakan. Eh kok lo manggil gue om terus sih? Apa gue keliatan tua ya?”


Seketika Dilla langsung tertawa mendengar perkataan Ricko.


“Haha gimana ya? Gue kemarin nggak sengaja denger pembicaraan lo sama kak Erik, terus kak Erik bilang lo udah umur 28 tahun ya kan?” Dilla benar-benar tertawa lepas.


“Bener kata Erik, sebenernya Dilla anak yang baik. Apalagi kalo ketawa, pingin gue culik rasanya” dalam hati Ricko.


"Terus, terus, terus?"


“Ya karena gue kan masih umur 18 tahun, sedangkan lo umur 28 tahun. Jauh banget jaraknya, makanya gue panggil lo om”


Ricko menjitak kepala Dilla “dasar, bocah” kemudian Ricko tersenyum.


“Lo nggak keberatan kan gue panggil om?”


“Keberatan banget sih sebenernya”


“Terus? Mau di panggil apa?”


“Kalo di panggil sayang gimana?” jawab Ricko dengan menatap Dilla.


"Idih, ogah banget gue"


"Haha, bercanda. Terserah lo dah mau panggil apa aja boleh"


Dilla menjadi salah tingkah, kemudian menjawab “em, oh iya, aku panggil kak aja sama kayak adek lo oke?”. Ricko hanya mengangguk dan memandang langit.


“Oke mulai sekarang, gue manggil lo kak …? Oh iya nama lo siapa?” Dilla menyadari bahwa dia belum tau nama pria tersebut.


"Lo benerang nggak tau nama gue?"


"Yaiyalah, lo kira lo artis, siapa aja bisa kenal"


"Oke kita mulai perkenalan kita dengan baik-baik ya? Nama gue Ricko” sambil mengulurkan tangannya.


“Baik, nama gue Dilla” Dilla menjawab uluran tangan Ricko.


"Gue udah tau nama lo, lo nggak ngerasa tadi gue nyebut nama lo waktu nangis?”


Dilla melirik kesal “ck . tadi katanya mau mulai perkenalan dengan baik?”


Mereka berdua melihat langit dari balkon. Malam tersebut mulai hening dan damai. Ricko memulai berbicara kepada Dilla.




#kira-kira Ricko mau bilang apa ya? masa mau bilang perasaannya? nggak kecepetan?