
"Ingat ya dua hari" ujar Ricko dengan tertawa.
Dilla hanya berlalu tidak menjawab perkataan Ricko. Untung Dilla masih punya kesabaran untuk menghadapinya.
"Sabar Dil… sabar.. oke ini demi orang tua lo, dia udah selametin lo dari orang yang beristri dua itu. Oke? Senyum Dilla, Cuma jadi pacar bohongan kok” Dilla berkata pada dirinya di depan cermin.
Dua hari kemudian, Ricko datang ke café Dilla siang hari. Namun saat Dilla melihat kedatangan Ricko, dia berlari dan berlari ke kamar mandi. Namun saat hampir sampai di kamar mandi, tangannya di cekal oleh Ricko.
“Dil, mau kabur kemana?” ujar Ricko.
“Eh. siapa yang mau kabur, gue cuma mau ke kamar mandi” Dilla menjawab dengan melotot.
"Alasan aja lo, gimana? Udah lo pikirin belum?”
"Nah itu dia, gue belum nemu jawabannya” ujar Dilla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
l
7"Oh oke berarti lo mau bayar utang lo kan?”
"Ck. Yaudah gue mau. Tapi dengan syarat” Dilla0 memutar bola matanya menandakan malas berdebat. 0
Ricko: “kita bicara di atas aja”
Dilla hanya membuntuti Ricko dari belakang.
Ricko: “pertama, habis ini lo ikut gue, gue make over semua dari rambut sampe kaki.
Kedua, lo harus mau gue ajak ketemu sama mama kalo mama pingin ketemu sama lo. Oiya kata lo tadi dngan syarat? Syarat apa?”
Dilla: “eh gue nggak mau, terus kalo gue lagi kuliah apa kudu ikut ke rumah mama lo?”
Ricko: “kecuali jika kau kuliah, selain itu tidak ada alasan”
Dilla: “oke, syarat gue: pertama, lo nggak boleh pegang-pegang atau macem-macem sama gue. Kedua, nanti kalo mama lo nggak suka sama gue, hentikan drama pacar pura-puranya. Oke deal?”
Ricko: “Cuma itu aja? Haha itu mah gampang banget. Bentar gue mau nelvon mama, biar Jesika nggak jadi ke rumah” Dilla hanya menganggukkan kepalanya. Dengan cepat Ricko mengambil ponsel dan menghubungi mamanya.
Ricko: “ma, nanti Ricko bawa seseorang ke rumah, tolong batalkan pertemuan dengan Jesika ya ma?”
Mama: “beneran? Baik, mama akan masak masakan yang spesial buat calon mantu mama”
Ricko: “yaudah Ricko tutup dulu ya ma, sampai ketemu nanti jam 7. Assalamualaikum”
Mama: “iya waalaikum salam”
Ricko: “ayo ikut gue”
Ricko mengajak Dilla ke mall dan mengubah penampilan Dilla yang biasanya menggunakan pakaian seperti laki-laki menjadi sangat feminim. Ricko sangat takjub dengan penampilan Dilla yang sederhana namun elegan.
---sesampainya di rumah Ricko---
Dilla: “kak nanti jangan malam-malam ya pulangnya? Dilla ngerasa sedikit pusing”
Ricko: “iya nggak akan lama kok”
Tiba-tiba mamanya Ricko menyambut Ricko dan Dilla dari luar.
Mama: “aduh calon mantu mama cantik banget sih, namanya siapa cantik?”
Dilla: “nama saya Dilla tante” ucap Dilla dengan mencium tangan mamanya Ricko.
Mama: “ayo cepet masuk dulu, tante tadii masak masakan kesukaan Ricko banyak banget”
Dilla: “iya tante, wah jadi ngerepotin”
Mama: “enggak kok, mama juga seneng masak-masak, kamu juga seneng masak?”
Dilla: “seneng tante, tapi mungkin nggak sejago tante. Biasanya Dilla di rumah bantu ibu buat masak”
Mama: “Ricko, kamu kok pinter banget cari calon menantu buat mama? Besok kalau kamu free kita bisa masak ya nak?”
Dilla: “i—iya tante”
Dilla: “hehe iya ma” memanggi dengan ragu
Mama: “nggak apa-apa, memang awalnya canggung, nanti lama-lama juga terbiasa”
---Ricko, Dilla dan mama sedang makan---
Mama: “Rick, baggaimana kalo kamu nikahnya di percepat?”
Mendengar hal tersebut Ricko dan Dilla tersedak berbarengan.
Ricko: “uhuk..huk.. (mengambil minum) mama apaan sih, kan kita masih baru menjalin hubungan ma, masih mencoba ngerti satu sama lain”
Mama: “mama yakin, Dilla bisa sabar ngadepin kamu sayang, dan mama lihat Dilla anak yang baik”
Ricko: “tapi apa nggak terlalu cepat ma?”
Mama: “cepat atau lambat toh kalian juga akan nikah. Terus mama juga pingin cepet-cepet nggendong cucu. nggak apa-apa kan Dill?”
Dilla: “em.. gimana ya ma? nanti Dilla bicarakan sama kak Ricko dulu ma.”
Mama: “huh.. kalian ini so swett banget sih, ngambil keputusan bareng. Mama jadi makin yakin sama kalian berdua”
-setelah selesai makan, mereka bertiga berbincang-bincang hingga pukul 9 malam. Tidak lama kemudian, Dilla merasakan pusing kembali.
Dilla menginjak kaki Ricko untuk mengkode bahwa kepalanya semakin pusing.
Ricko: “ih apaan sih?” bisik-bisik kepada Dilla.
Dilla hanya membalas dengan melotot kepada Ricko.
“ma, udah malem, Ricko mau nganter Dilla pulang. Ayo sayang kita pulang?” ucap Ricko dengan menggandeng Dilla. Dilla mencengkram tangan Ricko dengan kuat.
Kemudian Dilla berpamitan kepada bu Mita (mamanya Erik dan Ricko). Saat akan memasuki mobil, kepala Dilla terasa sangat berat, “kak” ujar Dilla dengan memegang kepalanya, hingga semua pemandangannya menghitam. Dilla pingsan tak sadarkan diri.
Ricko yang berada di belakang Dilla menangkap tubuh perempuan mungil tersebut.
“Dil. Bangun, Dil, Dilla” ujar Ricko dengan wajah yang khawatir. Tanpa berkata-kata lagi Ricko menggendong Dilla ke dalam rumah. Bu Mita yang tadinya akan kembali ke kamar, melihat Ricko menggendong Dilla, juga ikut khawatir.
Mama: “Rick, Dilla kenapa?”
Ricko: “Dilla pingsan ma di depan. Ma tolong bilangin bi Ina suruh membawa air hangat buat kompres Dilla, badannya panas banget”
Mama: “bi…bi Ina tolong bawakan air anget ke kamar Ricko bi”
Bi Ina: “baik nyonya”
-Ricko segera menghubungi dokter Andre untuk segera ke rumahnya. Beberapa menit kemudian, bi Ina membawa air hangat untuk mengompres Dilla yang suhu badannya sangat tinggi. Dengan telaten Ricko mengompres Dila. Ricko beranjak meninggalkan Dilla di kamarnya, Dilla mengigau “hiks… pak jangan pukul Dilla pak, Dilla mohon, Dilla nggak mau nikah sama pak Subroto. Hiks…hiks” dengan suara khas mengigau tak jelas.
Ricko segera menenangkannya dengan mengusap rambut Dilla supaya cepat tertidur. Seketika Dilla diam dan menghembuskan nafasnya dengan halus, bertanda bahwa ia sudah terlelap.
20 menit kemudian dokter Andre datang memeriksa Dilla, “Dia nggak apa-apa, dia hanya kekurangan darah dan banyak pikiran saja. Agar darahnya bisa kembali normal, sedikit-sedikit berikan kopi atau teh supaya darahnya kembali stabil dan usahakan dia tidak memikirkan hal yang berat-berat”.
“baik, terimakasih dok” Ricko.
-Di tempat lain, Erik merasa cemas dengan keberadaan Dilla yang tidak ada sejak siang. Ia bertanya kepada Dina. “Din, Dilla dari tadi kok belum pulang? Apa ada kuliah atau tugas kelompok sama temennya?”
“maaf kak, tadi Dilla kan pergi sama pak Ricko, tapi nggak tau kemana” ujar Dina.
“oh yaudah makasih Din?”
“iya kak sama-sama” ujar Dina dengan sopan.
Erik menghubungi Ricko untuk menanyakan Dilla, namun setelah 20 kali panggilan baru di jawab oleh Ricko.
“bang lu bawa Dilla kemana? Ini udah jam 10 lebih lho, nggak baik bawa anak orang malem-malem apalagi dia tu cewek” Erik dengan khawatir.
#Kira-kira Ricko mau jawab jujur atau bohong sama Erik?