
"Kak, jika aku masih punya perasaan denganmu aku tak mungkin akan menikah dengan pria lain" bantah Dilla dengan melepas tangan Rendi.
"Kau berbohong Dil, matamu berbicara bahwa kau masih punya perasaan denganku"
"Tidak, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku"
"Coba tatap mataku Dil, supaya aku tau bahwa kamu memang tidak berbohong"
Dilla yang tidak berani menatap Rendi dengan alasan takut jatuh cinta lagi kepada pria yang ada di hadapannya.
"Kenapa? Kenapa tak mau menatap mataku Dil? Aku semakin yakin bahwa kau masih memiliki perasaan yang sama denganku"
Saat Dilla menunduk ada yang menepuk pundaknya yaitu Junna.
"Hei Dilla, kita bertemu lagi disini"
"K - Kak Junna" memandangnya dengan terbata-bata, Dilla mencari alasan yang tepat untuk menjauhi Rendi.
"Kak, tadi katanya mau mencarikanku buku di perpustakaan? Sekarang aja gimana? Mumpung aku tidak ada kelas"
"Ha? Oh iya, ayo" ucap Junna yang mulai paham dengan gerak gerik Dilla menyetujui rencananya.
"Kak, terimakasih makanannya, aku mau ke perpustakaan dulu ya"
Pria tersebut masih mengepalkan tangannya dan memandang wanita tersebut keluar dari kantin.
Sementara Dilla yang masih menarik tangan Junna tersadar bahwa ia masih memegang pergelangan tangannya.
"Kak Junna terimakasih banyak dan maaf ya udah narik-narik tangan kakak"
"Tiap hari di tarik gini juga nggak apa-apa Dill"
"Yaudah aku mau ke perpustakaan dulu nyari buku"
"Bolehkah aku ikut denganmu?"
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk menemanimu girl"
"Bukankah kak Junna ke kantin karena lapar?"
"Laparku hilang ketika ada wanita yang menyeretku kesini"
"Ha? Maaf kak aku beneran minta maaf atas kejadian tadi"
"Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat"
"Syarat?" Ucap Dilla mengernyitkan dahinya.
"Hei jangan memandangku seperti itu, sayartnya cukup temani aku makan siang"
"Ta-Tapi.."
"Mau di maafkan atau tidak?"
Ini namanya keluar dari kandang buaya masuk ke kandang singa. Dasar semua cowok memang sama saja.
Dilla yang mendengar ancaman tersebut hanya memutar bola matanya dengan malas. Untung saja kau seniorku, kalau tidak sudah ku tinggalkan kau.
"Baiklah, tapi hanya 1 jam. Tidak lebih. Jam 1 aku ada jam kuliah"
"Oke ayo ikut aku"
Dilla menaiki motor Junna dengan memberi sekat di antara mereka menggunakan tas. Dilla sangat risih dengan seniornya ini, dulu memang dia sangat mengagumkan, namun semakin dekat ternyata ia menjadi pria yang "genit". Junna melajukan motornya dengan sangat pelan.
"Hei kak, apakah motormu bermerk siput? bahkan jika motormu beradu dengan siput, dia yang akan menang"
Junna yang mendengar hal tersebut hanya terkekeh, ia memiliki ide untuk gas motor dengan mendadak. Supaya Dilla dapat berpegangan dengan baik pada dirinya. Namun saat motor tersebut di gas, Dilla memegang topi dari jaket miliknya hingga ia merasa tercekik dan melambatkan motornya.
"Hei kau mau membunuhku?" Ucap Junna dengan mengusap lehernya yang tercekik jaket.
"Maaf kak, tadi refleks. Lagian siapa suruh ngegas. Aku kan belum siap betul"
"Oke aku maafkan, kita sudah sampai girl. Turunlah"
Dilla langsung turun dari motor tersebut dan melepas helm yang dia pakai, namun sangag susah melepas helm tersebut.
"Sini biar aku bantu"
"Kau mau pesan apa?" Tanya Junna dengan menyodorkan menu.
"Tidak, aku sudah makan tadi di kantin"
"Kenapa tidak bilang kalau kau sudah makan?
"Tadi kan nggak nanya" Dilla mulai geram dengan sosok laki-laki yang ada di depannya.
"Baiklah, tak apa. Sekarang tolong pilihkan aku makanan yang kau sukai"
"Tapi aku sudah makan"
"Aku yang akan memakannya, bukan untukmu girl" Jelas Junna.
Dilla langsung memilih makanan yang ada di menu, dia memilih makanan yang porsinya sedikit supaya ia cepat pulang ke kampus.
Tak perlu menunggu waktu yang lama, makanan tersebut datang. Dilla hanya memainkan ponselnya, sementara Junna memakan makanan yang dipilih Dilla dan sesekali melihat Dilla yang serius dengan ponselnya.
Dilla yang sadar ada mata yang melihatnya, ia langsung melihatnya.
"Kenapa kak ada yang aneh?"
"Tidak, hanya kau berbeda" Ucao Junna dengan memandang wajah Dilla.
"Setiap orang memang berbeda kak, bahkan anak kembar pun memiliki perbedaan"
Dilla yang sedang berbicara dengan Junna melihat pria yang ia kenali yaitu Ricko. Entah mengapa hatinya memanas melihat Ricko sedang makan siang dengan perempuan yang cantik, dewasa dan rapi menurutnya.
#FlashBack
Di kantor Ricko waktu menunjukkan pukul 11.30. Ia segera mengajak Andre untuk makan di luar. Ia memilih cafe yang dekat dengan kantor, yaitu cafe Yes Segar.
"Bro gue ngajak Dania makan siang ya" ujar Andre. Karena Ricko tau bahwa Andre sedang pdkt dengan pegawainya yaitu Dania, iapun menyetujuinya.
Merekapun berangkat ke cafe untuk makan siang bersama. Saat makanan tiba, Andre menerima televon dari klien yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya. Andre mengangkat televon tersebut menjauh dari Ricko dan Dania.
"Bentar aku mau angkat televon dulu" Ucap Andre dengan tenang.
Tak ada pembicaraan di antara Ricko dengan Dania, karena memang mereka tidak akrab.
Saat mengedarkan pandangannya ke ruangan tersebut, ternyata ada wanita yang sedang menatapnya dengan benci, dia adalah Dilla. Ricko yang melihat Dilla duduk dengan laki-laki lain langsung mendatanginya.
"Apa kampusmu sudah pindah kesini Dil?" ucap Ricko dengan wajah dingin.
"Maksudnya?" Ucap dilla tak mengerti maksud ucapan Ricko.
"Bukankah kau tadi pamit mau kuliah? Kenapa sekarang kau kencan dengan laki-laki ini?" Ucap Ricko dengan nada tinggi.
Junna yang menyudahi makannya karena melihat ada seorang pria yang mendekati Dilla. Sepertinya pria ini begitu dekat dengan Dilla, Tapi mengapa Dilla tidak menyukai kehadirannya?
"Sorry bung, kau punya hubungan apa dengan Dilla?" Tanya Junna dengan berdiri.
"Tidak ada urusan denganmu" Ucap Ricko dengan emosi dan menarik kasar tangan Dilla.
Tiba-tiba Rendi yang sedari tadi membuntuti Dilla masuk ke cafe tersebut.
"Pak Ricko, tolong jangan kasar dengan wanitamu itu" Rendi yang menyela.
"K.Kak Rendi, kenapa bisa ada disini?"
"Aku memang membuntutimu sejak kau pergi dengan laki-laki ini. Aku berfirasat tidak baik jika kau dengannya" Rendi yang menunjuk Junna.
"Ayo kita pulang" Ricko menarik tangan Dilla.
Tiba-tiba Andre datang karena mendengar keributan yang ada di cafe tersebut.
"Ada apa ini?" ucap Andre.
Ricko, Dilla, Rendi dan Junna menjawab dengan serempak "DIAM!!!"
Andre yang tengah berdiri nyalinya tiba-tiba menciut mendengar sentakan dari mereka.
"Baiklah, sepertinya ada salah paham disini. Mari kita bicarakan baik-baik. Ayo duduk dulu" ucap Andre menenangkan mereka.
Bersambung