LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
bab 14 (benarkah?)



Dilla telah sampai di cafe pukul 8 malam. Dilla merasa tidak enak dengan Erik, terlebih saat mengetahui bahwa Erik menyimpan perasaan padanya. Apalagi saat ini dia akan menikah dengan kakaknya sendiri, meskipun itu hanya 100 hari.


Dilla bingung harus bagaimana, apakah dia harus mencari kos-kosan baru supaya dapat menjauhi Erik, namun mana balas budi Dilla, Erik sudah membantu terlalu banyak sampai detik ini ia masih mempekerjakan Dilla dan memberinya tempat tinggal di cafe.


Dilla merasa bahwa ia hanya menjadikan hubungan antara adik dan kakak itu semakin renggang. Ricko yang biasanya kesini untuk mencari Erik, saat ini Ricko sangat jarang mencari Erik. Sebenarnya apa yang harus dia lakukan?


Namun kedua orang tersebut memang tidak bertengkar seperti orang yang merebutkan sesuatu, namun saat ini ia melihat jarak di antara keduanya yaitu karena dirinya. Dilla memberanikan diri untuk bertanya kepada Erik saat toko akan tutup.


#Dalam ruangan Erik.


tok tok tok


Erik: "Siapa?"


Dilla: "aku Dilla kak"


Erik: "masuk Dil. Ada apa? kok tumben?"


Dilla: "Boleh tanya-tanya?" Dilla gugup, tersenyum dan menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.


Erik: "boleh, silahkan"


Dilla: "Di luar aja ya kak? biar santai ngomognya"


Dilla mengajak Erik ke luar ruangan. Tepatnya di balkon lantai dua. Itu adalah tempat favorite Dilla, dia sangat senang berada di tempat ini, selain bisa melihat pemandangan, dia juga suka dengan melihat benda langit. Tak lupa Dilla juga sudah membuat cokelat panas kesukaan Erik.


Dilla: "kak minum dulu, barusan udah aku buatin" ucap Dilla dengan manja.


Erik: "kamu ngajak kesini karena cokelat panas ini?" ucap Erik dengan menaikkan alisnya karena heran dengan tingkah Dilla.


Dilla: "kak?"


Erik: "hem. apa Dil?"


Dilla: "Dilla bingung mau bilang darimana"


Erik: "Kalau bingung, aku tungguin sampai kamu mau bertanya"


Dilla: "Kak, apakah Kak Erik sekarang nggak pernah sama kak Ricko?. Bukannya gimana ya kak, Dilla ngerasa sejak Kak Ricko deket sama Dilla, Kak Erik nggak pernah deket sama Kak Ricko kayak dulu. Kayaknya Dilla pencipta jarak di antara kalian.


Erik: "haha jadi itu yang kamu tanyain?"


Dilla: "Dilla sebenarnya nggak kepedean sih di rebutin dua cowok kakak beradik ini, soalnya aku sama kak Ricko kan emang tidak memiliki perasaan yang khusus.


Erik: "lalu?"


Dilla: "ya aku nggak enak aja dengan adanya aku, itu malah membuat jarak di antara kalian"


Erik: "enggak kok Dil, emang sekarang kita berdua lagi sibuk aja. Kak Ricko lagi ngurusin proyek besar dan nyiapin pernikahan kalian. Aku juga gitu, cafe cabang yang ada di luar kota ada masalah sedikit"


Dilla: "oh syukur deh kalo gitu. Hehe"


Erik: "udah? jangan mikir aneh-aneh"


Dilla: "siapa juga yang nggak mikirin aneh-aneh kalo kita jadi pengganggu di keluarganya"


Dilla: "e.. duh gimana ya kak. Oh iya besok aku izin mau pulang ke rumah setelah pulang kuliah, soalnya Kak Ricko mau minta izin ke bapak untuk jadi walinya aku"


Erik: "Nggak apa-apa, hati-hati ya untuk besok. Jaga diri baik-baik"


Dilla: "terimakasih banyak ya kak?"


Erik: "Iya Dil sama-sama, aku mau pulang dulu. Nanti ku kunci cafenya. o iya terimakasih cokelat panasnya"


Dilla: "iya sama-sama kak"


Dilla lega mendengar penuturan Erik ternyata tidak ada apa-apa di antara kakak beradik tersebut.


#Keesokan Harinya. Di kampus.


Meliza: Eh ayo kita ke mall? udah lama nih kita nggak jalan-jalan suntuk banget tau nggak tiap hari tugas terus.


Indira: "ayo!"


Caca: "duh tugas gue masih banyak banget. apalagi besok gue presentasi"


Dilla: "duh sorry ya guys, gue mau pulang ke rumah soalnya kangen sama ibuk"


Indira: "Kok tumben Dil? biasanya pulang ke rumah hari Jumat atau Sabtu? inikan masih hari Selasa, besok mau bolos ya lo?"


Meliza: "apalagi besok jam ke dua kan kita UTS, kalo nggak ada lo nanti gue nyontek ke siapa?"


Dilla: "gue langsung pulang kok, cuma sebentar pulangnya"


Meliza: "oke deh tapi bener ya jangan sampe nggak masuk, soalnya gue nggak paham banget mata kuliahnya pak Dirga"


Dilla: "iya gue janji"


Notifikasi ponsel Dilla berbunyi. Dari siapa lagi kalo bukan dari Ricko.


Ricko: Segera ke parkiran.


Dilla: "udah ya aku pulang dulu?"


Caca: "ayo Dil bareng, lagian kan gue juga mau pulang ngerjain tugas"


Dilla: "e. enggak usah, gue di jemput sama om gue"


Caca: "Sejak kapan punya om disini? kata lo dulu nggak punya saudara di sini?"


Dilla: "iya . em.. Dia baru datang dari luar kota terus mampir ke sini deh. iya gitu" bicara dengan gugup.


"nggak mungkin kam aku mau ngomong calon suami"


Karena mereka curiga dengan Dilla, mereka mengikuti Dilla hingga memasuki suatu mobil yang mewah berwarna hitam.


Skip.


Ricko