LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 26. Perasaan apa



"baiklah jika kamu menganggap seperti itu, 6 minggu lagi aku akan persiapkan surat cerai kita, aku nggak mau memaksakan perasaanmu Dil. Aku keluar dulu"


Deg...


"Mengapa rasanya sesakit ini? apa mungkin memang aku memiliki perasaan dengannya"


Dilla langsung menggelengkan kepalanya yang menyadarkan bahwa dia hanya istri kontrak saja, tidak boleh melibatkan perasaan.


"Enggak. enggak. Aku nggak boleh punya perasaan dengannya. Tapi apa benar ucapannya kemarin? Mengapa tidak ada kebohongan di matanya? Semoga saja itu salah. Sadar Dilla kamu hanya ISTRI KONTRAK." Ucap Dilla dalam hati sedang memantapkan perasaannya.


Di sisi lain, Ricko sedang mencari angin segar supaya dia tidak stres mengingat Dilla yang belum bisa menerimanya. Memang dia hanya berjuang sebentar, ya memang hanya 2 bulan dia mengejar Dilla. Namun, Ricko takut melewatkan kesempatan saat Dilla menjadi istrinya. Karena waktunya kurang 6 Minggu dari sekarang.


Ricko langsung menelevon Andre yaitu sekertaris di perusahaannya.


"Hallo ndre"


"Hallo ada apa bapak menghubungi saya?"


"Nggak usah sok formal lo"


"Haha iya iya gimana gimana?"


"Gue mau tanya tapi lo janji jangan ketawa ya"


"iya, ada apa emang Rick"


"Gimana ya caranya bikin wanita cepet jatuh cinta sama laki-laki?"


"Haha lo nggak salah tanya sama gue? Bro lo itu udah di gilai banyak cewek, masa lo masih tanya yang kayak gituan"


"Lo kan tau, gue nggak pernah pacaran, ya gue bingung aja gimana cara ngeluluhin hatinya biar bisa ada rasa sama gue, soalnya ini ceweknya beda banget bro dari yang lain"


"eh tunggu, tunggu, yang kita bicarain ini istri lo kan? Bukan wanita lain?"


"Ya siapa lagi? Lo kira gue playboy kayak lo, gue cuma setia sama satu orang. Ya sama istri gue lah, meskipun awalnya kita cuma nikah di atas kontrak"


"udah deh gue kasih tau, cewek itu suka kalo lo perjuangin, hal yang romantis dan perhatian yang lebih"


"Kayak apa tu?"


"Yaelah Rick, lo pinter dalam masalah perusahaan, tapi lo **** banget dalam masalah beginian"


"Gue tanya beneran bambang"


"Ya kayak beri dia kejutan makan malam yang romantis, terus lo bisa perhatian dengan hal yang kecil sekalipun kayak nanyain dia udah makan apa belum. Apa ajakin dia nonton, banyak caranya bos"


"em... oke oke gue jalanin ide lo"


"udah gitu aja?"


"Lah gimana lagi?"


"Ya terimakasih kek atau naikin gaji gue gitu?"


"Gaji lo uda banyak, nggak perlu di tambahin"


Ricko langsung mematikan handphonenya. Ricko berpikir apa dia harus menyiapkan makan malam yang romantis dulu? Ricko menggelengkan kepala dengan cepat, dia tepiskan semuanya, "Mana mungkin Dilla mau ku ajak makan malam, aku di maafin aja udah bersyukur".


Keesokan harinya, saat menjelang sore Ricko mengajak Dilla keluar dari hotel, ia mengajak Dilla ke sungai Seine. Ia sudah menyiapkan makan malam romantis di sana.


Hari sudah sore dan hampir menunjukkan langit yang sudah kuning kebiru-biruan. Ricko sangat senang Dilla tidak menolak, namun yang ia bingungkan Dilla saat ini sangat pendiam. Apa mungkin Dilla masih belum memaafkannya saat kejadian itu?. Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya. Iapun memberanikan diri untuk meminta maaf lagi kepada Dilla.


"Dil" dengan perasaan gugup.


"Hem" Dilla hanya membalas dengan sebuah deheman.


"Maafin aku ya kalo aku kemarin berlebihan?" ucap Ricko yang kemudian memegang tangan Dilla.


Dilla yang mendengar penuturan tersebut, jantungnya berdegup sangat kencang. Pasalnya meskipun ia pernah berpacaran, ia tak pernah di pegang tangannya seperti ini.


"Em. iya mas"


"kamu maafin aku?"


Dilla hanya mengangguk pelan. Ricko sangat senang mendengarnya. Namun ada salah satu hal yang masih mengganjal di pikiran Ricko. mengenai perceraian, Ricko tak pernah mau menghadapi perceraian dengan Dilla. Karena ia menikahi Dilla juga karena cinta, meskipun dengan cara yang tidak baik.


"Dil"


"Hem iya kenapa mas?"


"Jangan minta cerai lagi ya sama mas?"


"Maksudnya?"


"Aku tau kamu mengerti maksudku"


"Mas, bukannya kita menikah karena aku memiliki sebuah hutang?"


"Lupakan semuanya Dil, aku tidak pernah menganggap semua itu sebuah hutang"


"Lalu?"


"Aku menganggap itu sebuah jalan bagiku, supaya aku bisa mendampingi kamu Dil, aku nggak mau setelah seratus hari kita menikah kita bercerai" Ujar Ricko dengan sangat sangat serius bahkan saat ini dia sedang gugup.


"Maaf mas, aku tidak bisa"


Ricko yang mendengar hal tersebut sangat sakit hati.


"Apa karena perjanjian itu? atau kamu masih cinta dengan mantan yang meninggalkanmu?" Ucap Ricko dengan berusaha menatap Dilla yang sedang menunduk.


"Maaf mas, aku tidak memiliki perasaan denganmu" ucap Dilla sangat lirih. Dilla sebenarnya memiliki perasaan yang sama dengan Ricko, tapi ia takut hanya di manfaatkan oleh Ricko dalam situasi ini.


"Baik, tapi biarkan aku berusaha untuk mendapatkan hatimu Dil. Aku akan menyerah jika waktu yang telah kita tentukan aku tak berhasil mendapatkan hatimu" Ujar Ricko dengan mantap.


"Memangnya kau yakin mas?" Ujar Dilla dengan mengernyitkan dahinya.


"Apa kau meragukanku Adilla Zahya Putri?" Dengan tatapan menggoda Dilla.


"Aku pastikan kau tak akan mampu membuat perasaanku tumbuh tuan Ricko Bima Dirgantara" ucap Dilla dengan menekan setiap perkataannya.


"haha jangan terlalu yakin nona, kita lihat saja aku pastikan anakmu akan memiliki marga sepertiku yaitu Dirgantara" ucap Ricko menggoda Dilla.


Dilla langsung bertanya-tanya "Maksudnya mas?"


"Kau sungguh benar-benar polos sekali Dill, maksudnya aku akan menanam benihku dalam perutmu dan ku pastikan nama anak itu akan bermarga sama denganku"


Dilla melongo mendengar ucapan pria yang menjadi suami pura-puranya ini.


"Jangan harap. Tak akan ku biarkan kau menyentuhku se-di-kit-pun!"


"Benarkah?" Ricko dengan tersenyum sinis.


"Ya aku yakin, karena memang aku tak menyukaimu. Bagaimana bisa aku memiliki anak dengan orang yang tak ku cintai" Ucap Dilla dengan melanjutkan makannya.


Ricko hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Dilla yang sudah kembali normal (banyak berbicara). Ia lebih suka dengan Dilla yang seperti itu daripada Dilla yang membisu.


Saat perjalanan pulang Ricko menanyakan hal yang basa basi kepada Dilla.


"Bagaimana kau suka?"


"tentu saja"


"Pasti karena ada aku"


"Jangan menghayal" Dilla langsung menatap tajam Ricko dengan tatapan sinis.


"Lalu mengapa kau suka?"


"Aku suka disini sangat damai, mungkin karena aku sedang butuh refreshing jadi aku sedikit tenang berada disini"


"Baiklah, segera istirahat. Besok aku akan mengajakmu untuk jalan-jalan lagi"


"Kemana?"


"Coba tebak kemana?"


"Menara eiffel?" jawab Dilla sangat antusias.


"Hahaa. Jadi kau ingin ke tempat itu?" ujar Ricko dengan menunduk supaya setara dengan tinggi Dilla.


"Tidak, aku hanya menebak saja" ucap Dilla dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kau lucu sekali sayang" ujar Ricko dalam hati.


"Lagi pula aku juga tidak akan mengajakmu kesana" ujar Ricko berlalu meninggalkan Dilla. Ia ingat perkataan sahabatnya. Jika kamu bingung mengajak wanitamu, maka suruh dia untuk menebak. Maka jawaban pertama adalah tempat yang ingin ia datangi.


"Siapa juga yang mau kesana denganmu" jawab Dilla kecewa.


 


sebenarnya Ricko mau mengajak kemana?