
Seminggu kemudian (Hari Sabtu)
Dilla dan Ricko berada di apartemen milik Ricko. Saat ini Dilla sedang berpikir untuk mencari pekerjaan, karena mau tidak mau 6 Minggu lagi dia harus keluar dari kehidupan Ricko bukan? Maka ia akan semakin butuh uang untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari.
Oke besok aku harus cari pekerjaan part time, tapi apa ya? Aku nggak mau kalau setelah bercerai tinggal dengan kak Erik lagi, apalagi ternyata kak Erik diam-diam suka sama aku. Apa kata orang, bercerai dengan kakaknya lalu menikah dengan adiknya? Aish... sungguh memalukan.
Saat Dilla masih berdiskusi dengan batinnya, Ricko memanggil Dilla karena ia masih belum sarapan.
Tok tok tok
"Dil... Dilla, Aku laper, kamu bisa buatin makanan untukku?"
Dikira gue pembantu dia apa? enak aja nyuruh-nyuruh. Kan gue di kontrak untuk jadi istrinya bukan jadi pembantunya.
"Nggak mau, aku masih ngantuk mas" dengan nada malas yang Dilla buat-buat.
"Aku mau keluar cari makan, kamu mau ikut?" balas Ricko.
"Enggak, nanti aja aku makan mie instan kalo laper" alasan Dilla, padahal dia sendiri juga sudah lapar karena ia juga tidak makan semalam.
Ricko hanya mengangguk dan memesan go food untuk mereka berdua. Setelah beberapa menit, makanan tersebut datang. Ricko pun memanggil Dilla untuk segera ikut makan dengannya.
"Hei jangan siksa dirimu, ayo cepat makan. Aku yakin kau tak akan menolak makanan yang sudah ku pesan"
"Nanti saja mas, aku masih belum lapar"
"Mana mungkin?? Oke kalau nggak mau makan aku habiskan semua ya Dil"
ceklek
Dilla langsung membukakan pintu kamarnya.
"Nah gitu dong, jadi istri harus nurut. Gadis pintar" ucap Ricko sambil mengusap kepala Dilla.
"Ih apaan si" merapikan rambutnya sendiri.
Ricko hanya menggelengkan kepalanya melihat Dilla yang masih belum bisa jatuh cinta dengannya.
Apa karena aku kurang baik memperlakukannya? Kenapa dia sangat sulit untuk ditaklukan?
Saat mereka sedang asik menyantap makanan mereka, Dilla membuka pembicaraan.
"Mas, aku mau kerja"
"Kerja? Apa aku kurang ngasih uangnya? Bahkan kamu belum pernah mengambil satu rupiahpun dari kartu yang sudah ku beri"
"Aku memang tidak pernah mengambil uangmu sama sekali di kartu itu, karena aku tidak ada hak untuk mengambilnya"
"Karena apa? Karena kau hanya menjadi istri di atas perjanjian?"
Dilla hanya mengangguk, ia ketakutan karena pertama kali melihat Ricko berbicara tegas di depan matanya.
"Baiklaj, kalau begitu aku buat kau menjadi istriku selama-lamanya"
"Em-Maksudnya?" Dilla yang sangat tak mengerti alur pembicaraan Ricko.
Ricko mendekatkan wajahnya ke Dilla dan kemudian berbisik pada telinganya.
"Kau akan menjadi istriku selamanya"
Dilla yang mendengar hal tersebut langsung berdiri untuk menjauhi Ricko. Namun Ricko mencekal tangannya dan menariknya hingga jatuh ke pangkuan Ricko.
Ricko menatap dalam-dalam mata Dilla, sedangkan Dilla memukul dada Ricko supaya ia menjauh. Namun usahanya tidak berhasil, karena kekuatannya berbeda dengan laki-laki. Ricko merengkuh pinggang Dilla, menciumi dan ******* bibir ranum Dilla secara paksa supaya ia tidak memberontak.
Dilla hanya bisa memukul dan mencengkram dada Ricko, ia berusaha menjauhkan dirinya dengan Ricko namun tak pernah bisa. Kini ia hanya bisa pasrah dan menangis menghadapi kenyataan bahwa ciuman pertamanya di ambil oleh laki-laki yang tidak ia cintai.
Ricko yang menyadari jika Dilla menangis, ia langsung melepasnya dan merasa bersalah.
"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin kau pergi setelah 100 hari" Ricko merenggangkan pelukannya. Tanpa menjawab, Dilla langsung berhamburan ke kamarnya dan mengunci pintu tersebut.
Ricko saat ini sangat-sangat merasa bersalah dengan kejadian tadi. Tiba-tiba ada wanita yang datang membuka pintu apartemen, dia adalah mama Ricko.
"Mama kok kesini?"
"Dasar anak durhaka, sudah berapa lama kamu nggak ke rumah mama? Mentang-mentang udah ada yang ngurus, lupa sama mama"
"Mana menantu mama? Kok nggak kelihatan?"
"Dilla udah tidur barusan" ujar Ricko dengan berbohong.
"Ya sudah, mama hanya mau ngasih tau, pekerjaan kamu sudah mama berikan ke Andre untuk seminggu ke depan"
"Mama mecat aku?"
"Enggak sayang, itu kan perusahaan kamu, mana mungkin mama mecat bosnya. Ini Mama udah beliin tiket ke luar negeri buat kalian bulan madu, Mama pingin di rumah mama rame, jadi buatin mama cucu. Oke?"
"Astaga mama, Ricko sekarang masih banyak kerjaan. Dilla juga masih kuliah, kita nggak bisa ninggalin itu semua"
Saat mereka berdebat ternyata Dilla datang dengan mata yang sudah sembab.
"Mama, mama kesini sama siapa?"
"Sendirian sayang, maaf ya mama ganggu kamu tidur. Mata kamu kok sembab? Bilang sama mama, apa Ricko jahat sama kamu?"
"Nggak apa-apa ma, Dilla hanya kelilipan tadi, mas Ricko juga baik banget sama Dilla"
"Ya sudah, mama kesini cuma mau ngabarin mulai besok kamu jangan kuliah dulu selama seminggu? Mama udah pesenin tiket buat kamu sama Ricko buat bulan madu"
"Ha? bulan madu"
Duh drama apa lagi sih ini? Nggak tau apa gue lagi eneg banget sama Ricko.
"Mama seharusnya nggak perlu repot-repot iya kan mas?" tanya Dilla pura-pura tidak ada apa-apa dengan Ricko.
"Eh, Iya sayang"
"Keputusan mama sudah bulat, tiket dan hotel sudah mama handle. Jadi kalian mau tidak mau harus berangkat besok"
"Baik ma besok kita akan berangkat" Ujar Ricko yang membuat mata Dilla terbelalak.
Skip.
Esoknya mereka berangkat ke Paris, mereka saling diam satu sama lain. Tidak ada yang memulai berbicara hingga akhirnya mereka sampai di hotel. Ricko membawakan koper Dilla, karena ia sangat menghargai dan cinta dengannya.
"Dil, karena disini hanya ada satu kamar, nanti kamu tidur di kamar saja, aku tidur di depan tv"
Dilla hanya mengangguk mengerti tanpa menyanggah apapun. Karena ia sangat malas untuk berbicara padanya. Meskipun Dilla kasihan dengan Ricko yang tidur di sofa depan tv.
"Tidurlah, kamu pasti lelah setelah perjalanan 17 jam"
Lagi-lagi Dilla tak menjawab namun hanya menganggukkan kepalanya.
Sampai kapan dia seperti ini? Aku lebih suka dia yang membantahku daripada mendiamkanku seperti ini.
"Mas"
"Eh iya Dil, ada apa?" Ricko yang kaget dengan kedatangan Dilla.
"Aku lapar"
"Kamu mau keluar apa aku pesankan dari hotel ini?"
"Aku mau makan disini saja"
"Baiklah, Dil aku boleh bicara denganmu?"
"Iya mas" Dilla duduk di ujung sofa yang berjauhan dengan Ricko.
"Aku minta maaf untuk kemarin, aku tau aku salah. Tapi ucapanku kemarin aku tidak main-main, aku ingin kamu jadi istriku selamanya, bukan hanya 100 hari. Apa kamu mau?"
"Em.. Untuk kemarin aku sudah memaafkanmu mas, tapi untuk selamanya denganmu maaf mungkin aku tidak bisa"
"Kenapa Dil? Apa karena kamu cinta dengan yang lain? atau karena kamu belum cinta sama aku?"
"Aku nggak tau mas, yang pasti aku hanya menganggap ini adalah pekerjaanku yaitu sebagai istri perjanjian. Aku tidak boleh melibatkan perasaanku sedikitpun dalam sandiwara ini"
"baiklah jika kamu menganggap seperti itu, 6 minggu lagi aku akan persiapkan surat cerai kita, aku nggak mau memaksakan perasaanmu Dil. Aku keluar dulu"