
Dilla berjalan kaki sampai di pertigaan yang cukup jauh dari rumahnya, ia sudah berjalan 40 menit, ia mendapatkan bus ke arah perguruan tinggi X.
Pada saat pukul empat pagi, dia telah sampai pada tempat yang ia inginkan. Ia bingung mencari tempat tinggal, maka ia tidur di depan café dekat kampus. Dilla tertidur sampai pukul 7 pagi. Ketika pemilik café (Erik) datang, dia masih belum bangun dari tidurnya.
Erik mengamati wajah Dilla dengan teliti dan ia kagum dengan wajah polos Dilla saat tidur "Wajahnya polos sekali saat tidur, menggemaskan. Siapa dia? Kenapa dia tak pernah melihat wanita ini sebelumnya? Apa dia mahasiswi baru di sini? Kalau iya, kasihan sekali mungkin dia masih belum memiliki tempat tinggal".
"Eits .. tunggu, matanya sembab, seperti orang yang habis nangis" batin Erik.
Tak lama kemudian wanita tersebut terbangun, ia mengerjapkan mata coklatnya dan kaget melihat terdapat seorang laki-laki yang tengah memandanginya.
Dengan cekatan ia langsung terbangun dan bertanya kepada lelaki asing tersebut "Kamu siapa? saya nggak bawa barang berharga jadi mohon menjauhlah dari saya" ucap Dilla gugup mengira orang tersebut menginginkan uangnya.
"Saya pemilik cafe ini" balas Erik dengan santai.
“Maaf kak, saya tidur di depan café anda, lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi” kata Dilla dengan menyatukan tangannya di depan wajahnya.
Erik masih mengamatinya dengan wajah tersenyum “Benar-benar gadis yang masih polos dan lugu” Erik hanya membatin tanpa menjawab perminta maafan Dilla.
“Kak, saya permisi dulu, sekali lagi saya minta maaf” ucap Dila mengulangi perminta maafannya. Dilla heran dengan sikap Erik yang hanya diam dan tersenyum kepadanya tanpa berkata apapun.
Saat Dilla beranjak pergi, laki-laki tersebut menjawab “Tunggu nona, apakah kamu mahasiswa baru disini? Sebab wajahmu masih asing menurutku” tanya Erik.
Dilla hanya mengangguk. Kemudian Erik bertanya lebih jauh, “Lalu dimana tempat tinggalmu? Kenapa kamu tidur di depan cafeku?”.
Dilla menjawab pertanyaan Erik “Untuk sekarang saya masih belum memiliki tempat tinggal, saya sedang mencari kos-kosan di sekitar kampus”.
“Nona bolehkan kita berbicara sebentar? Kalau kau menyetujui silahkan duduk disini” Erik mempersilahkan Dilla untuk duduk.
“Maaf kak, aku harus buru-buru karena pukul 8 aku ada ospek” Dilla menolak halus dan berlari meninggalkan Erik.
“Nona, kalau kau butuh apa-apa silahkan datang kemari!” Ucap Erik sedikit berteriak.
“Baik kak, terimakasih” balas Dilla dengan berteriak karena jaraknya sudah jauh dengan Erik.
Erik tak dapat melupakan wajah gadis tersebut, “benar-benar gadis yang mempesona” gumam Erik dengan tersenyum-senyum sendiri.
Saat berlari menjauhi Erik, dia bertanya dalam hati “Nagaimana aku mandi? Ganti baju? Tempat tinggal saja dia tidak punya! Sungguh mengenaskan! Aku mandi di mushola saja lah”. Setelah Dilla siap, dia berangkat ke kampus untuk mengikuti ospek.
*POV Dilla
Setelah melewati ospek sejak pagi sampai sore, dia pulang tapi tak tau pulang ke mana, saat ia akan mencari kos-kosan, Dilla melewati café yang tadi dia tempati untuk tidur.
Tanpa sengaja dia melihat bapaknya dengan anak buah pak Subroto di ujung jalan. Kemudian ia berlari ke dalam café tersebut dengan alasan supaya tidak bertemu dengan bapak dan anak buah pak Subroto.
Dia tersentak saat ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
“Hei, nona, sedang apa? Kok wajahmu sangat khawatir?” Erik memulai pembicaraan.
“Oh- em- anu- tadi nggak sengaja pulang ospek gerah banget jadi aku ngadem dulu disini” balas Dilla dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Nona, kalau boleh tau siapa namamu? Dan apa kamu sudah menemukan kos-kosan yang nyaman?” tanya Erik penasaran dengan gadis yang baru ia temui beberapa jam yang lalu.
“Namaku Dilla, tadi aku masih belum sempat nyari kos-kosan jadi ini mau cari-cari dulu” jawab Dilla apa adanya. Dilla merasa laki-laki ini adalah orang yang baik, maka dia menjawabnya dengan jujur.
“O iya kenalkan namaku Erik, kalau kamu mau, aku bisa bantu carikan kos-kosan di sekitar kampus yang nyaman untuk kamu” Erik menawarkan bantuan kepada Dilla, karena dia merasa bahwa Dilla adalah mahasiswa yang masih belum mengenal daerah sini.
“Jadi kamu mau kos-kosan yang seperti apa? Yang satu kamar satu orang? Dua orang atau empat orang? Disini ada beberapa jenis, ada juga yang kamar mandi dalam itu akan lebih mahal” tambah Erik.
Belum sempat pertanyaan yang ia lontarkan pada dirinya selesai, ternyata perutnya bunyi, bertanda perut tersebut butuh asupan. “aduh malu-maluin aja sih!” batin Dilla dengan tangan memegang perut.
Erik yang mendengar perut Dilla hanya tersenyum dan menawarkan makanan kepada Dilla “Kamu belum makan? Sejak kapan? Kalau gitu kamu mau makan apa Dil?” Erik menghujani Dilla dengan pertanyaan.
“Oh tidak aku tidak lapar, memang perutku sering bunyi kalau sudah sore hehe” jawab Dilla karena dia tau di Café yang besar seperti itu pasti makanannya mahal.
“Dil, hari ini ada makanan gratis dari pukul 5 sampai pukul 6, jadi kamu bebas mau pilih apa saja” Erik pada Dilla, karena dari gerak-gerik Dilla, sepertinya ia tak memiliki uang lebih untuk itu ia
berbohong.
“Yang bener kak?” jawab Dilla dengan mata yang semangat, dengan sikapnya seperti ini membuat Erik senang menatapnya.
“Iya Dil, kamu mau makan apa? Biar aku yang nyiapin” tanya Erik dengan semangat.
“Apa aja deh kak, yang penting bikin kenyang” balas Dilla dengan tersenyum.
Tanpa kata ba bi bu, Erik langsung membuatkan nasi goreng spesial dengan jus jeruk.
10 menit berlalu. Erik membawa makanan dan minuman di tangannya.
“Terimakasih kak” balas Dilla dengan tersenyum.
Erik hanya mengangguk dan mengawasi gadis polos itu makan dengan lahap.
“Gimana enak?” tanya Erik.
“Hem “ jawab Dilla menganggukkan kepala dan memberikan dua jempol untuk Erik.
“Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal dan bekerja di café ini” pernyataan Erik, hal tersebut membuat Dilla terkejut.
“Kak, aku kan baru mengenalmu tadi pagi? Bagaimana kamu bisa memberikan kepercayaan padaku?” Dilla heran dengan pernyataan Erik.
“Aku bisa membedakan mana orang yang baik dan buruk, menurutku kamu gadis yang sangat baik. Bukankah begitu Dilla?”
“Kalau tiba-tiba aku ******* yang bawa bom bagaimana? Apa kau tidak khawatir cafemu hancur?”
"Yang benar saja ******* jujur sepertimu, ******* itu pasti akan menyembunyikan identitasnya" Ujar Erik dengan memandang Dilla.
“Boleh ceritakan bagaimana kamu bisa tidur di depan café-ku tadi?” lanjut Erik.
Dilla menceritakan semuanya mengenai dia kabur, hanya memiliki uang dua ratus ribu rupiah dan mengatakan bahwa barusan mengetahui bapaknya di sekitar sini.
Pukul 22.00 (waktunya café tutup).
“Dil, nanti kalau mau tidur, tidurlah di kamar letaknya ada di atas. Dan ini pegang kuncinya, nanti kunci pintunya.”
“Iya kak siap. Terimakasih banyak ya kak atas bantuannya.” Dilla menunduk untuk menghormati Erik.
Café tersebut memang terdapat dua lantai, lantai pertama untuk pengunjung, sedangkan lantai kedua terdapat dua kamar dan balkon yang memang di desain tanpa adanya kursi supaya lebih santai)
*Author
udah 1085 kata nih. bersambung dulu ya..