LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
bab 7 (meminta restu)



Aku usahain buat beberapa episode ya? supaya cepet tertuangkan yang ada di dalam pikiran.


 


Ricko mendengar tangisan Dilla dari dalam.


"Besok kamu nggak usah kuliah lagi, bapak mau nikahkan kamu sama pak Subroto!"


"Pak, Dilla nggak mau jadi istri ke tiganya pak Subroto, Dilla nggak cinta sama dia”


“Terus kamu mau nanggung semua hutang bapak? Bapak nggak punya duit, sudah ada kesepakatan kalau bapak nggak bisa bayar hutang, kamu akan bapak nikahkan sama pak Subroto!"


“Jadi bapak ngejual aku?”


Terdengar dari luar tamparan yang keras, ya benar Dilla di tampar oleh pak Danang sampai di ujung bibirnya mengeluarkan darah. Kemudian ibunya hanya bisa menangis dan memeluk Dilla.


“Pak sudah, sudah hentikan. Ini anakmu pak, jangan siksa dia seperti ini”


“Bu, Dilla nggak mau nikah sama pak Subroto, Dilla nggak suka bu, pak Subroto bukan orang yang baik” ujar Dilla memeluk ibunya deengan erat.


Kemudian tamparan tersebut melayang lagi ke pipi Dilla. Dilla menangis terisak melihat bapaknya seperti ini.


“Kamu bukan bapakku!!! bu katakan kalo dia bukan bapakku bu… benar kan bu dia bukan bapakku? Bu jawab? Nggak mungkin kan seorang bapak mau mukulin anaknya? Nggak mungkin seorang bapak menjual anaknya”


Ibu Sari hanya menggelengkan kepala dan menangis menatap anaknya.


Dari luar Ricko mendengar percakapan tersebut, ia tak tega melihat Dilla di pukuli oleh bapaknya. Ricko bergegas masuk dan memeluk Dilla.


“Om, saya yang akan membayar semua hutang om dan kedatangan saya kesini untuk meminta anak om, jadi saya mohon jangan nikahkan dia dengan pilihan om”


“Haha kamu punya nyali juga ternyata deketin anak saya, emang kamu bisa melunasi hutang-hutangku? Nggak bisa kan? Haha kalo nggak bisa, nggak ada pilihan lain” ujar pak Danang dengan menarik tangan Dilla.


“Saya bisa melunasi semua hutang om hari ini juga”. Dilla langsung menatap Ricko.


“Baik, kalau kamu bisa melunasi hutangku, akan ku restui kamu dengan Dilla”


“Berapa hutang om?”


“60 juta”


“Bapak! Kenapa bapak minjem uang banyak sekali ke pak Subroto, bapak kan tau kita nggak punya uang sebanyak itu”


Ricko mengambil uang di mobilnya sejumlah seratus juta.


“Ini om seratus juta, sengaja saya lebihkan untuk keperluan ibu juga” menyodorkan uang yang di dalam amplop kepada pak Danang.


“Nak, tidak perlu. Itu uang yang sangat banyak, kita nggak bisa bayar uang itu dengan cepat”


“Bu, tidak apa-apa, Dilla itu calon istri saya, jadi saya berhak mencukupi apa yang dia butuhkan. Dan saya kesini bermaksud untuk meminta restu ibu dengan om, dan sesuai dengan janjinya, jika saya mampu membayar hutangnya, kita akan di restui”


“Kamu anak baik nak, tolong jaga Dilla baik-baik ya”


“Pasti bu, bagaimana om?”


“Oke selama ada uang, apapun lancar”


Pak Danang kemudian keluar dari rumah membawa uang tersebut. Setelah pak Danang keluar, Ricko dan bu Sari mendudukan Dilla ke kursi. Bu Sari beranjak dari tempat duduknya, dan membuat minum ke dapur.


“Kak, seharusnya …” saat berbicara di potong oleh Ricko.


“Hustt.. udah nggak usah dipikirin. Itu kewajibanku, masa ada orang yang butuh nggak gue bantu. Bentar tunggu dulu ya?”


Ricko ke dapur untuk menyusul bu Sari dan meminta air hangat padanya. Setelah ia mendapatkannya, ia segera mengompres pipi dan bibir Dilla yang memar.


“Aku bisa sendiri kak”


Ricko: “Dil, nurut aja” tanpa membantah, Dilla di kompres Ricko dengan air hangat.



“Auu sakit kak pelan-pelan”


“Jangan cengeng, mana Dilla yang gue kenal? Yang nggak gampang ngeluh? yang tangguh?” ucap Ricko dengan menoel pipi Dilla.


“Iya kak. Kak makasih banyak?"


“Makasih buat?”


“Semuanya”


“lo kira gue ngasih gratis? Ya enggak lah. Lo harus kerja buat gue”


“Kerja? Seharusnya gue udah duga itu dari awaal”


Tiba-tiba dari dapur bu sari masuk menyediakan minuman kepada Dilla dan Ricko. Pada akhirnya Ricko tidur di rumah Dilla, tepatnya di kamar Dilla, sedangkan Dilla tidur dengan ibunya. Pak Danang masih belum pulang seharian.


Dilla “Bu bapak kok belum pulang?”


“Nak, akhir-akhir ini bapakmu memang sering tidak pulang, terkadang pulang pagi-pagi dengan keadaan mabuk”


“Bu kenapa sih Dilla punya bapak seperti dia”


“Dil, nggak boleh gitu bagaimanapun dia itu bapakmu. Udah segera istirahat ya nak?”


Sementara di kamar sebelah, Ricko memikirkan Dilla yang begitu kuat menghadapi ini semua dan ia juga ingat bahwa empat hari lagi ia akan di jodohkan dengan anak tante Furi, yaitu Jesika. Ricko merencanakan sesuatu supaya ia tak di jodohkan dengan Jesika. Seketika Ricko senyum-senyum sendiri.


#pukul 04.00


Dilla membangunkan Ricko dengan mengetuk pintunya.


“Kak Ricko bangun, waktunya shalat subuh. Mau ke masjid apa enggak?”


“kak.. kak Ricko” lanjut Dilla mengetuk pintu kamar yang ditempati Ricko.


“ia Dil, tunggu bentar” Ricko segera mengucek matanya dan membuka pintunya, terdapat Dilla sudah menggunakan mukenah"Calon bidadariku. Solehah sekali”, gumam Ricko.


“Kak ayo cepat, nanti kita ketinggalan”


“Iya Dil, tunggu bentar aku mau wudhu dulu”


Setelah shalat berjamaah di masjid, mandi dan sarapan, mereka berdua berniat untuk pulang. Sebelum pulang, Dilla memeluk ibunya dan berpamitan.


“Bu jaga kesehatan ya, jangan mikirin Dilla terus, Dilla pasti bakal baik-baik aja disana. Ya kan kak?”


“Iya, ibu tenang aja, Ricko akan menjaga Dilla 24 jam”


“bener ya nak Ricko, jaga Dilla terus? Nanti kalo dia bandel jewer aja kupingnya”


“Haha siap bu, dengan senang hati”


Dilla hanya mendengus kesal mendengar ibunya dengan Ricko.


----kemudian mereka pulang. Setengah jam telah berlalu mereka memutuskan untuk berhenti di mini market membeli minuman dan duduk di depannya----


“Dil, lo inget kan kalo lo harus kerja buat gue?”


“Iya tenang aja ingetan gue masih jernih. Kerja apa emangnya?”


“Nggak berat sih sebenrnya, Cuma butuh kesabaran aja”


“Nggak usah bertele-tele deh kak”


“Lo harus pura-pura jadi pacar gue di depan mama”


Dilla melotot “gila lo ya? Itu mah sama aja kayak membohongi mama lo kak!


“Gue bingung Dill, dua hari lagi gue nggak bawa perempuan ke rumah, mama bakal nikahin gue sama Jesika. Anaknya ganjen banget, manja lagi”


“Bukannya enak ya punya istri manja? Dari pada punya istri cuek?”


"Yaudah kalo nggak mau nggak apa-apa” Dilla merasa lega


“Kalo gitu balikin duit gue seratus juta yang di bawa bapak lo” lanjut Ricko.


Dilla “idih ngancem? Mana ada gue uang segitu kak?”


“coba pikirin lagi gue kasih waktu dua hari, kalo lo nggak mau lo harus balikin duit gue. Dan kalo lo mau, malamnya gue ajak lo makan malam ke rumah gue. Bukankah itu adil nona?” ujar Ricko


“Ih… nyebelin!!! Itu sama aja gue keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya tau nggak”


“Pikirin dulu. Ingat dua hari!”


*setelah sampai depan café, Dilla segera turun dengan wajah kesal.


"Dil..!” panggil Ricko kepada Dilla.


"Apa?”menjawab tanpa tersenyum.


“Ingat ya dua hari” dengan tertawa.


#gimana menurut kalian? apakah Dilla akan menjawab iya? atau bahkan sebaliknya?