
Sudah beberapa hari ini Dania menjadi lemas,ia tidak konsentrasi dalam pekerjaannya,biasanya dia selalu bisa berpose natural, seperti menyatu dengan konsep pemotretan yang ia lakukan,namun berbeda kali ini, tatapannya terlihat sangat kosong,bahkan berat badan Dania pun turun drastis.
"Kamu gapapa?"tanya manajer Dania
"Gapapa, tapi kayaknya aku butuh istirahat dulu dari dunia modeling,kamu tahu kan dari 2 tahun yang lalu karir ku melesat naik?dari sana juga tawaran pemotretan hampir selalu ada."jelas Dania mengeluh menyenderkan punggungnya di kursi.
"Iya aku paham,berapa lama waktu yang kamu butuhkan?"tanya manajer
"Entahlah,sekitar 3 atau 4 Minggu sepertinya."ucap Dania memijat keningnya dengan pelan.
"Baiklah,kamu boleh istirahat selama itu,biar aku yang urus masalah perijinan sama agensi."
"Okelah,makasih kak."ucap Dania
Dania pulang ke rumah dengan langkah lunglai,mulai memasuki rumah dengan nada yang kurang semangat, padahal selama ini ia selalu Semangat saat pulang ke rumah.
"Aduh kamu kelihatan letih sekali nak, istirahat dulu,biar ibu buatkan kamu minum."ucap Ibu.
Dania hanya mengangguk lantas mulai tersenyum dengan penuh tulus ke arah ibunya,saat ia akan menaiki tangga, langkahnya terhenti mendengar ayah bergumam.
"Kerja yang bener,jangan manja, gitu aja lebay,kamu gak liat contohnya?liat ibu kamu dulu seorang super Model terkenal,masa anaknya jadi gini."gumam ayah sembari sibuk membaca koran sisa tadi pagi.
Dania menghiraukan ucapan ayahnya,memang sedari dulu ayahnya selalu saja menuntut Dania untuk Perfect,mengatur pola makannya agar tubuh Dania terlihat indah, mengatur segala hal, Dania harus itu Dania harus ini, sehingga Dania merasa hidupnya seperti boneka,hanya boleh diatur dan dimainkan oleh tuannya, meskipun memang tujuan ayah melakukan itu demi kebahagiaan anaknya yang ingin menjadi model sedari kecil,hal itu ayah lakukan sebagai tindakan kasih sayang terhadap anaknya,namun ia tidak menyadari kalau hal itu sangat berlebihan.
"Kamu denger tidak ayah bilang apa tadi?"tanya ayah melipat korannya.
"Iya ayah,maafin Dania."ucap Dania dengan muka lesu
"Sudahlah ayah,kasihan Dania ia baru pulang,jangan menanambah beban pikiran dia."ucap ibu menenteng gelas berisi teh manis madu.
Selama ini hanya ibulah yang selalu membela Dania,ibu selalu siap menjadi tameng untuk Dania,bisa di bilang ibulah pelita dan penyemangat hidup bagi Dania.
Ibu memapah Dania menuju kamarnya, merebahkan anaknya di atas ranjang yang empuk.
"Kalau kamu capek,kamu boleh istirahat."ucap ibu mencium kening Dania.
Semakin hari keadaan Dania semakin buruk,dia semakin lemas, padahal ini baru masuk sepekan saat dia meliburkan segala aktifitasnya,berita mulai muncul, merumorkan kalau Dania terkena sakit yang parah,bahkan terkadang ada berita yang menyebutkan Dania tengah hamil, namun Dania memilih untuk acuh dengan berita itu, ia santai saja,toh bakal ada orang dari pihak agensi yang akan menyelesaikan masalah itu.
Tuut....Dering handphone terdengar.
"Kamu masih sakit?mau aku bawain sesuatu?"tanya azka ditelepon
"Mau,seblak, pengen yang pedes banget."ucap Dania
Begitulah kodratnya wanita, dimanapun dan kapanpun bahkan dalam keadaan apapun,seblak adalah nomor satu.
"Oke, tunggu ya."ucap Azka menutup telepon.
Dania kembali merebahkan tubuhnya,menutup mata sebentar sampai suara ayah mengganggu istirahatnya.
"Udah satu Minggu kamu vacum,gak menyesal?"tanya ayah
"Baru jadi model terkenal di satu negara saja udah manja,kerja keras,inikan yang kamu mau dari kecil?"tanya ayah sekali lagi dengan menaikan nada bicaranya.
"Lihat badan kamu,kurus,diluar sana banyak model pendatang yang sudah mulai bersinar,sedangkan kamu?masih sibuk malas-malasan di rumah."
"Tapi yah.... Dania kan lagi sakit."ucap Dania menundukkan kepalanya
Sedari kecil ia tidak berani menatap mata ayahnya saat ia sedang marah,entahlah dia sangat takut melihat tatapan tajam yang seakan ingin menerkamnya.
"Alah alesan,bilang aja kalau kamu mau malas-malasan,manja sama tunangan kamu si Azka."ucap ayah.
"Ayah udah,sana keluar,anak lagi sakit bukannya bantu ngurus malah nambah perkara."ucap ibu marah.
Dania sudah mengepalkan tangannya,air mata mulai keluar dari matanya,memang sedari kecil ia cengeng,memiliki mental yang lemah.
*****
Too...tok...tok...
Suara pintu kamar diketuk terdengar,di depan sana ayah masuk dengan perlahan.
"Ayah tahu,kamu sakit pasti gara-gara dia kan?"tanya ayah.
Dania yang mendengar pertanyaan ayah merasa kikuk, memang meskipun sifat ayahnya keras ia sangat peka dan sangat menyayangi Dania lebih dari apapun.
Dania mengangguk mengiyakan pertanyaan ayah.
"Apa yang harus ayah lakuin?"tanya ayah
"Tidak ada,ayah cukup diam saja, Dania sudah besar biar Dania yang nyelesain masalah Dania sendiri."ucap Dania dengan tatapan nanar.
"Kamu yakin? lihat kamu aja sekarang sudah ringkuk,sakit,ayah tahu kamu pasti merasa bingung,sakit hati bercampur menjadi satu,tapi ingat apapun yang terjadi jangan sampai mempengaruhi kehidupan kamu, apalagi kesehatan tubuh kamu."ucap ayah memberikan senyuman terbaik kepada Dania.
Memang untuk menenangkan anak wanita diperluas kehadiran sosok ayah yang sangat pengertian.
"Sudah,tidur jangan terlalu larut kamu harus sembuh."ucap ayah berlalu meninggalkan kamar Dania.
Dania mulai menitikkan air matanya, kata-kata penyemangat yang ayah lontarkan berhasil membuat dirinya tergugah sekaligus sedih.
*****
(Sebelumnya)
"Tante, Dania nya ada?gimana kabarnya?"tanya Azka
"Ada,masuk aja gih di kamarnya."suruh ibu
Azka berjalan menuju kamar tunangannya dengan menenteng seblak pesanannya.
"Gimana?udah mendingan? ini aku bawain seblak kesukaan kamu."ucap Azka memberikan senyuman terbaik untuk Dania
"Ya beginilah,makasih babe."ucap Dania tersenyum imut.
Dania langsung melahap seblak yang Azka bawa,hanya memakan waktu singkat sampai seblak itu ludes tidak bersisa.
"Kamu harus sehat ya, pernikahan kita udah aku tentuin."ucap Azka tersenyum malu,saat ini ia mulai berubah,ia mencoba melupakan Reina dan menerima Dania sepenuhnya di dalam hati yang terdalam.
"Kamu serius?kapan?"tanya Dania tidak percaya,matanya seakan hendak keluar dari tempatnya,ia menatap Azka dengan penuh antusias.
"Dua bulan lagi."
Mendengar itu Dania merasa bahagia, seakan ia dibawa terbang ke langit tertinggi, menyaksikan keindahan dunia yang ia dambakan,namun kebahagiaan itu hanya terlintas sebentar dipikirannya,saat ini ada sesuatu hal yang menganggu di angannya.
"Boleh aku tanya?"ucap Dania
Azka hanya mengangguk, memperbaiki rambut Dania yang berantakan.
"Kalau Reina udah ingat semua hal tentang kamu,kamu masih berharap sama dia?"tanya Dania nanar
Azka terhenti,jantungnya seakan berhenti berdetak seketika.
TBC...
jangan lupa votemen 🖤
Kirim kritikan dan saran
Happy reading
dan salam hangat dari aku