
3 days later
"Mamah pindah kerja ke Indonesia?"tanya Reina
Mamah hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Reina itu.Ujang masih termangu,hatinya cukup senang karena dia dan Ray akan bertemu,namun kenyataannya tidak, Ujang harus melanjutkan kuliahnya disini selama 4 tahun lagi.
Hanya Reina lah yang ikut mamah ke Indonesia, awalnya Reina tidak mau,namun karena takut Mamah tidak ada yang menjaga akhirnya Reina pasrah mengikuti keingin mamah nya itu.
Keberangkatan mereka tinggal 3 hari lagi,mamah menyuruh Reina untuk membawa barang apa saja yang di butuhkan.
"Babe,3 hari lagi aku pulang ke Indonesia."ucap Reina di telepon
"Kok dadakan?"tanya Jackson
"Mamah ada kerjaan di Indonesia,2 tahun."ucap Reina
Tidak terdengar apa-apa dari telepon Jackson, sepertinya ia mematikan sambungan sepihak.
Reina hanya berdecak kesal saat tahu kalau Jackson mematikan teleponnya secara sepihak.
"Kayak bocah aja."sebal Reina
Dengan perasaan sebal Reina mulai membereskan barang bawaannya,ia hanya mengambil beberapa pasang pakaian,entahlah menurut dia buat apa terlalu banyak membawa pakaian kalau nanti juga ia bakal pulang kembali ke sini.
Tangannya lincah memasukan pakaian,tentu saja tidak rapih,karena saat ini perasaan hatinya sangat badmood sekali.
H-2 sebelum keberangkatan
"Mam, Reina mau jalan-jalan dulu."ucap nya
"Kemana?"tanya mamah
"Sama Jackson kok, tenang aja."
"Hi."ucap Reina dingin
Jackson tidak menimpalinya,ia menyuruh Reina untuk segera memasuki mobil,tanpa banyak bicara Reina masuk ke mobil,namun bukannya duduk di pinggir Jackson, Reina malah duduk di jok belakang.
"Aku bukan sopir pribadi kamu ya."ucap Jackson
"Pindah sini."ucap Jakson
Reina hanya terdiam seribu bahasa,ia memilih untuk sibuk dengan telepon genggamnya.
"Reina."tegas Jackson.
"Babe."
Reina masih terdiam, tenggelam dengan sibuk bermain telepon genggamnya.
Jackson yang sudah menyerah lantas menancap gas mobil sekaligus,hal itu membuat Reina terpental ke depan dan jidatnya mengenai punggung jok depan.
"Ih,bisa setir yang bener gak sih."ucap Reina
"Makanya sini pindah."
Reina memilih untuk mengalah,ia mulai keluar dari mobil lantas masuk lagi dengan posisi duduk di pinggir Jackson,menutup pintu dengan keras serta memasang sabuk pengaman,tak lupa ia juga menggunakan earphone,ia tidak mau mendengar ocehan dari pacarnya itu.
Mobil melaju di jalanan,jalanan tampak ramai,namun tidak sampai terjadi kemacetan,dengan leluasa Jackson mengendarai mobilnya menuju suatu tempat.
Setelah perjalanan sekitar 45 menit,mereka sampai di pinggir danau, Jackson memarkirkan mobilnya,lalu ia keluar hendak membukakan pintu namaun Reina mencegahnya.
"Aku bisa sendiri."ucapnya ketus
Reina mematung,menatap danau di depannya ia jadi teringat kejadian 1 tahun lalu,dimana Jackson menembaknya dahulu.
Susana danau terasa sangat damai,desir angin yang tidak terlalu kencang membuat udara di sana terasa sejuk, pohon-pohon tinggi yang terpangkas rapih membuat indah pemandangan di sana,dan jangan lupakan angsa-angsa yang tengah berenang di air semakin menambah kecantikan tempat itu,ya anak-anak muda di sekitar sana menyebut tempat itu sebagai swan lake(danau angsa)."
"Kenapa kita kesini?"tanya Reina penasaran
Jackson menghiraukan pertanyaan Reina,ia menarik tangan Reina untuk mengikuti dirinya,dengan santainya Jackson mulai memilih tempat duduk lantas mulai menyuruh Reina untuk duduk.
"Ingat tempat ini?"tanya Jackson
"Tentu saja aku ingat,ditempat ini dulu kamu di kejar segerombolan angsa kan?"tanya Reina menahan tawa
"Bukan yang itu,yang lain."ucap Jackson
Reina hanya mengangguk
"Gak kerasa ya,kita udah 1 tahun bersama,gak banyak perubahan dari diri kamu,tetap sama kayak kamu yang dulu, cantik."ucap Jackson
"Kamu juga sama,gak banyak berubah."balas Reina
Jackson hanya terdiam.
Kini mereka berdua saling terdiam, mencoba merilekskan diri mereka masing-masing dengan memandangi pemandangan yang begitu indah,dengan sesekali mereka menutup mata untuk merasakan sejuknya angin.
Cukup lama mereka saling diam,sampai Jackson menarik tangan Reina untuk memasuki mobil lagi.
"Ish,mau kemana lagi sih?"tanya Reina
"Udah ikut aja."ucap Jackson
Jujur saat ini Reina merasa senang atas perlakuan pacarnya,ia yakin tempat selanjutnya tidak kalah memorable bagi mereka berdua, pacarnya ini selalu bisa mencairkan suasana serta merubah mood Reina.
"Rumah sakit?"tanya Reina
"Iya,ayo masuk."ucap Jackson menarik tangan Reina.
"Ngapain sih kesini?"
"Udah ikut aja."ucap Jackson
Mereka berdua mulai memasuki area rumah sakit,pintu otomatis terbuka saat langkah mereka dekat dari pintu.
Mereka berlari menuju lift,namun sesampainya di lift ternyata lift begitu penuh, Jackson menarik tangan Reina sekali lagi,ia berlari menuju tangga darurat di samping sana.
"Pelan-pelan,aku gak kuat."ucap Reina
"Lemah."ledek Jackson
"Heh,kita udah naik 5 lantai ya."ucap Reina ngos-ngosan.
"Dulu kamu yang kuat padahal."ucap Jackson
"itu dulu, sekarang nggak."
Tanpa banyak bicara Jackson menggendong Reina dengan gaya bridal.
"Jack lepasin, Jackson."teriak Reina
Jackson sekali lagi menghiraukan Reina
"Tinggal 6 lantai lagi."batin Jackson
Akhirnya setelah mereka berkutit dengan anak tangga mereka sampai juga di lantai 11.
Nafas Jackson tersenggal, Reina nampak masih bugar sampai saat ini.Reina mulai berjalan meninggalkan Jackson ia berdiri di depan pintu nomor 11-5.
Matanya nampak menahan Isak tangis,ia berusaha agar tidak menangis, mengingat memori masa lalu,saat dirinya masih di rawat disini,tepat di depannya adalah kamar Jackson saat dulu.
"Jackson."teriak Reina
Jackson menghampiri Reina dengan muka panik,lantas menutup mulut Reina menggunakan tangannya.
"Jangan berisik,ada yang sakit."ucap Jackson pelan
Reina hanya menatap kesal,hey semua juga tahu kalau di rumah sakit pasti terdapat orang yang sakit,entah apa yang ada di pikiran pacarnya ini.
Reina menunjuk ujung koridor,disana terdapat dua kursi kecil dengan pot bunga di depannya.
"Ya di tempat ini kita pertama kali bertemu."ucap Jakson.
Jackson menarik tangan Reina,ia mendudukan Reina persis saat mereka bertemu dulu,ia juga ikut duduk di kursi samping Reina.
1 years ago
Seorang perempuan dengan memakai pakaian pasien terduduk di ujung koridor rumah sakit,dengan perban yang masih menempel di kepalanya ia memandang jalanan dari kaca di depannya.
BRUG....
Seorang pria terjatuh dari jangkanya,ia mengaduh kesakitan saat kaki yang lengkap dengan perbannya menyentuh lantai.
"Gaat het wel goed?(apakah kamu baik-baik saja?"ucap gadis tersebut menghampiri pria yang terjatuh tadi.
TBC...
jangan lupa votemen
salam hangat dari aku..