
"Peluk lagi boleh?"tanya Jackson manja
Reina hanya mengangguk menyetujui.
Sekali lagi Jackson memeluk Reina dengan erat, seakan-akan ia tidak ikhlas atas kepulangan Reina ke tempat kelahirannya.
"Udah-udah, liat tuh udah turun hujan."ucap Reina
Jackson yang baru menyadarinya langsung menarik tangan Reina menuju kursi dengan tenda di atasnya.
Air hujan turun,rintik demi rintik terdengar begitu nyaring di atas rooftop sana,terkadang suara petir juga terdengar bergemuruh.
"Dingin..."batin Reina
Jackson yang merupakan pria peka,membuka jaket yang ia pakai,lantas memakaikannya di tubuh Reina.
"Eh,nanti kamu kedinginan loh."ucap Reina
"Tenang aja,gak bakal kok."ucap Jackson memeluk tubuh Reina yang terbungkus dengan jaket dengan erat.
Reina menjitak kepala Jackson dengan tangan lembutnya.
"Manja."ledek Reina
"Biarin lah,orang manjanya juga sama pacar."jawab Jackson tidak mau kalah.
Tak terasa sudah cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu,jam di tangan Reina menunjukkan pukul 11 malam waktu setempat,wajahnya kembali gelisah lagi.
"Iya iya,,ayok pulang."ucap Jackson
Ia memperhatikan wajah gelisah Reina sedari tadi.
Jackson menarik tangan Reina,berlari menerobos hujan menuju pintu tangga darurat di seberang sana.
Akhirnya mereka sampai,mencoba memeras sedikit air yang ada di pakainya masing-masing,berjalan menuju bawah hendak menaiki lift menuju lantai dasar.
Ya seperti yang kalian tahu dan bayangkan,begitu besarnya rumah Jackson di sana,dengan cepat ia menuju mobilnya,pergi melaju menerobos air hujan yang mulai kecil.
Selang tak lama kemudian mereka sampai di kediaman Reina.
"Dadah..besok jam 9 jangan lupa."ucap Reina
"Iya...."ucap Jackson
Reina hendak keluar,namun Jackson menarik tubuh Reina mendekat ke arahnya,mulai mencium kening Reina.
"Love you."ucapnya
"Love you too."ucap Reina menahan rasa girang di dalam hatinya.
*****
"Reina cepat,udah gak usah mandi,siap suruh kemarin kamu telat pulang."Cerocos mamah menarik lengan Reina yang masih memakai piyama tidurnya.
"Cuci muka aja ya mah,pliss."bujuk Reina
"Ya udah sana, cepet."titah mamah
Saat mereka kaluar tampak Jackson sudah siap dengan mobilnya,Ujang dan Ray pun ikut mengantarkan kepergian mereka.
Bandara tampak ramai,banyak orang hilir mudik berjalan kesana-kemari.
Reina dan mamah nya berlari,mencoba mencari keberadaan rombongan Dania,dan ya,akhirnya ketemu.
"Maaf telat."ucap Reina
"Iya gapapa, santai."ucap Dania
Mereka berpamitan, Jackson memeluk Reina dengan erat.
"Udah,malu diliatin yang lain."ucap Reina
"Jangan lama-lama ya."ucap Jackson parau
"Ya ampun belum juga berangkat."ucap Reina tertawa.
"Ujang Ray,kalian jangan macam-macam ya."tegas mamah.
"Siap mah."ucap Ray dan Ujang kompak.
*****
Suasana hiruk pikuk kota Jakarta begitu asing bagi Reina dan mamahnya, setelah beberapa tahun mereka meninggalkan kota ini,akhirnya mereka kembali lagi.
Dania dan Azka berpamitan undur diri,karena mereka ingin langsung pulang.
"Hah,rumah lama kita."ucap mamah
Reina hanya melongo, melihat-lihat keadaan sekitar.Namun matanya kembali menangkap sesuatu.
"Tunggu,itu Azka kan?"batin Reina
"Reina ayo masuk nak."ucap mamah membuyarkan lamunan Reina.
Saat ini Reina pindah ke rumah lamanya,rumah dimana ia dan Azka memenuhi masa kecil bersama,tentu saja ia tidak mengingatnya,Azka sendiri pun belum mengetahui kalau Reina kini menjadi tetangganya.
Kepulan debu memenuhi ruangan rumah, barang-barang banyak tertutup kain putih yang mulai kusam.
"Sejak papah meninggal,udah lama."ucap Mamah
"Udah, bantuin mamah beres-beres,ouh iya besok kamu bakal mamah ajak liat cafe kamu yang ada disini."jelas Mamah
"Reina punya cafe disini mah?"tanya Reina
Mamah hanya berdehem kecil.
*****
"Ibu,Azka pulang."ucap Azka
"Ya ampun anak bujang mamah,gimana di Belandanya seru?"tanya ibu kepo
"Ye begitulah."jawab Azka singkat
"Ouu iya nak,kamu anterin kue ini ke tetangga baru kita."ucap papah keluar dari dapur dengan membawa 4 slices kue di atas piring kecil.
Azka menengok ke rumah di seberangnya,ia baru sadar kalau pintu rumah itu kini terbuka kembali.
"Rumah Reina?udah ada yang beli?"tanya Azka kepo.
Papah hanya mengangkat bahunya, menandakan kalau ia tidak tahu.
Azka mengambil piring kecil dari tangan papanya,berjalan menuju rumah yang ada di depan rumahnya.
"Permisi.."ucap Azka sopan
*****
Reina dan mamah sedang sibuk membersihkan rumah,mamah berkutit dengan kran air yang tidak mau menyala, untungnya mamah adalah wanita yang multitalent ia bisa melakukan semuanya,tidak perlu waktu lama kran air itu sudah bisa berfungsi kembali.
Sedangkan Reina masih sibuk dengan pekerjaannya, membersihkan semua barang yang ada di ruang tamu.
"Permisi.."ucap seseorang di luar sana
"Reina siapa itu?coba liat,mamah istirahat dulu."teriak Mamah
"Iya mah,bentar."ucap Reina seraya bangkit dari duduknya
Sudah Reina duga siapa yang akan datang,tentu saja Azka pria yang menyebalkan yang menabraknya di bandara kala itu.
"Eh..."ucap Azka kaget
"Lah kamu pindah kesini?"tanya Azka
"Gak pindah,emang ini rumah aku."ucap Reina
"Ada apa?"tanya Reina
Azka hanya mengangkat piring yang berisi kue itu,lantas menyerahkan kepada Reina.
"Udah sana,lagi repot nih."usir Reina
Azka hanya mendecak,lantas pergi meninggalkan halaman rumah Reina,kembali dengan mulut yang tersungut-sungut.
Deg...
Kepala Reina terasa sakit kembali,ia berlari ke dalam rumahnya,menaruh piring di sembarang tempat,lantas mulai merebahkan dirinya di atas sofa yang masih kotor.
Ruangan putih dengan banyak cermin terlihat lagi,kali ini cermin itu memperlihatkan seorang anak kecil pria yang pergi dari rumah Reina yang ia tempati sekarang dengan langkah tegas, mulutnya tak berhenti mengoceh, mengumpat ke arah Reina kecil.
Reina kecil hanya cuek, terdiam duduk di depan pintu rumahnya itu.
"Auchh.."rintih Reina
Mamah yang mendengar hal itu lantas berlari ke arah Reina.
"Reina,kamu kenapa?"tanya Mamah
Mamah yang panik hanya bisa mengambilkan minum untuk Reina,kini tubuh Reina penuh dengan keringat,lantas Reina terlelap dalam tidurnya.
*****
Reina terbangun di keesokan harinya,ia melihat kalau rumah sekarang sudah rapih,ia merasa bersalah karena tidak membantu Mamah-nya untuk membereskan rumah.
"Rei,sana siap-siap,kita kan mau liat cafe kamu."ucap mamah
"Iya mah."ucap Reina beranjak dari ranjangnya,menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya,namun ditengah jalan ia berhenti.
"Dulu Reina punya temen kecil cowok?"tanya Reina
"Mungkin."jawab mamah Santai.
"Mamah gak tau,soalnya mamah kan ibu tiri kamu."ucap mamah Santai.
Reina hanya mengangguk.
TBC...
jangan lupa votemen
kirim kritik dan saran yaa
salam hangat dari aku.