LOST

LOST
Bunga



"Ibu...."lirih Dania


"Iya ada apa sayang?"tanya


"Apa yang bakal ibu lakuin kalau tunangan ibu suka sama cewek lain,maksudnya cewek itu dari masa lalunya, tapi si cowok terus inget ke cewek itu,apa aku bisa disebut perebut?apa aku salah?"tangis Dania


"Masalah Azka?"ibu yang peka langsung menangkap maksud dari perkataan anaknya.


Dania tidak menjawab,ia juga tida membenarkan akan pertanyaan ibunya.


"Kamu bukan perebut nak,hanya saja takdir yang merebut kebahagian mereka,sesuatu hal akan terjadi kedepannya,hidup,masalah, percintaan dan tahta harta,hanya yang maha kuasa yang tahu."jelas ibu


"Sudah jangan nangis,kalau memang Azka jodoh kamu,ia pasti bisa lupain Reina sahabat kamu itu."lanjut ibu.


"Tapi Bu, Dania sayang Azka."lirih Dania


"Jadi?kamu mau ngorbanin salah satunya?antara perasaan dan persahabatan?"tanya ibu.


Dania terdiam,ia mencerna kata-kata yang ibunya lontarkan,benar dia tidak bisa menjadi egois,kalau memang Azka jodohnya pasti Azka akan menjadi miliknya,ia sendiri tidak bisa mengorbankan persahabatannya dengan Reina yang sudah terjalin lama,meskipun Reina saat ini sedang hilang ingatan.


"Makasih Bu."ucap Dania memeluk ibunya.


"Sialan tuh cewek."batin ayah.


Sedari tadi ayah mendengar ah tidak, menguping pembicaraan Dania dan ibunya,sejak dulu memang ia membenci Reina,entahlah kenapa.


Telepon berdering.


"Cari pembunuh bayaran."


*****


tring....tring...


telepon berdering


Reina yang tertidur terbangun saat mendengar nada dering dari ponselnya,ia mengucek mata lantas meraba-raba nakas di sampingnya,mencari keberadaan handphone nya yang berisik itu.


"Siapa sih malam-malam nelepon."gerutu Reina


Namun setelah nama yang tertera di telepon itu Reina menarik kata-katanya kembali,seketika ia menjadi senang,ya siapa lagi kalau bukan Jackson.


"Apa?"tanya Reina


"Kirim alamat kamu."ucap Jackson di telepon


"Buat apa?"tanya Reina sekali lagi.


"Udah cepetan kirim, jangan banyak tanya."


Reina pasrah,ia menulis kan pesan kepada Jackson.


"Udah."


"Ok, see you muach..."ucap Jakson


"Udah gitu doang?"tanya Reina


"Iya,tunggu aja nanti ada kejutan."ucap Jackson.


Telepon selesai, Reina kembali mencoba untuk tertidur,namun nihil, tunangannya itu berhasil membuat Reina penasaran,bahkan rasa penasaran itu mengalahkan rasa kantuknya.


Keesokan paginya Reina terbangun,ah tidak dia tidak terbangun,kantung matanya terlihat, rambutnya acak-acakan.


"Ah, Jackson nyebelin,jadi gak bisa tidur kan."Gerutu Reina


"Nak bangun,gak mau buka cafe gitu?cari uang,ingat yang kaya itu tunangan kamu,kamu miskin."teriak mamah.


Mendengar kata terakhir yang mamah lontarkan membuat Reina sedikit sebal.


"Reina udah bangun mah,ini mau mandi."teriak Reina


"Mamah berangkat dulu, sarapan masak aja sendiri,mamah gak sempat masak,soalnya kebablasan nonton drama Korea."teriak Mamah.


"Iya, hati-hati."teriak Reina.


Setalah mamahnya pergi, Reina menyambar bathrobes nya,mulai melaksanakan ritual rutin di pagi hari,mandi.


Setelah usai mandi ia memasak untuk sarapan, Reina mulai memotong bawang namun saat tengah memotong bawang,suara bel rumah mengagetkannya.


Ting...tong...


"Permisi, paket."


"Sebentar."ucap Reina


Sebentar,ia merasa aneh, padahal ia tidak memesan paket,apa itu paket untuk mamah?saat berjalan menuju pintu pikiran Reina dipenuhi pertanyaan tentang paket itu.


"Mbak Reina ya?"tanya kurir itu.


"Ini, ada titipan dari seseorang."ucap kurir itu menyerahkan rangkaian bunga yang sangat besar.


"Ouh iya, terimakasih."ucap Reina dengan penuh rasa heran.


Reina menyimpan rangkaian bunga itu di meja makan,ia memikirkan dari siapa bunga itu.


"Apa jangan-jangan di dalamnya ada bom?"overthinking Reina


Saat dirinya tengah meneliti isi bunga itu,ia menemukan sepucuk surat.


"Hubungi aku,Mrs Basilius."isi pesan tersebut.


Reina langsung melakukan panggilan Vidio dengan Jackson.


Namun anehnya Jackson tidak mengangkat panggilan itu,ah lebih tepatnya nomornya tidak bisa dihubungi,entah kemana perginya pria itu.


Reina melupakan sebentar bunga itu,ada urusan yang lebih penting, perutnya,sedari tadi cacing di perutnya sudah demo.


*****


^^^Setelah selesai dengan urusan perutnya ia kembali duduk di atas meja makannya, menuliskan pesan di nomor Jackson.^^^


"Makasih bunganya."


Lantas ia beranjak pergi menuju cafenya,seperti biasa setalah sampai di cafe ia langsung membereskan dan membersihkan sedikit barang-barang cafe,setalah dirasa cukup ia pun duduk di kursi barista,menunggu pelanggan yang datang.


Ting...


suara bel di pintu berbunyi, menandakan ada orang yang memasuki cafe.


Ternyata itu Dania,ia datang sendiri ke cafe Reina,wajahnya terlihat sedikit berbeda,ia tidak seceria biasanya.


"H...halo.."ucap Reina Canggung entahlah ia masih merasa kikuk saat bersama Dania.


"Sini duduk."ucap Dania


Reina menurut,ia berjalan ke arah meja Dania,lantas mulai mendudukan dirinya,posisi duduknya tidak benar,ia sering menggeser-geser kan pantatnya,sekali lagi ia merasa kikuk.


"Santai aja."ucap Dania mencoba tersenyum


Semalam ia bertekad,kalau memang ingatan Reina belum kembali,ia akan menceritakan semua kebenaran kepada Reina,mau apapun itu resikonya,akan lebih baik kalau Reina sudah mengetahui dari awal.


"Kamu masih lupa masa lalu kita?"tanya Dania


Reina hanya mengangguk kikuk,keringat sudah mulai turun dari dahinya.


"Ya ampun,gak boleh tegang gitu dong,santai aja."ucap Dania tertawa.


Dania merogoh sesuatu dari sakunya,ia mengeluarkan jepit rambut berwarna biru pastel.


"Kamu masih nyimpen jepit rambut yang warna ungu pastel kan?"tanya Dania.


Reina melamun,ah ia ingat,saat di Belanda ia sering memakai jepit rambut itu saat di rumah,entahlah ia sangat menyukai benda itu.


"Ini jepit persahabatan kita dulu,aku yang beliin."ucap Dania tersenyum


Mendengar kata itu Reina hanya bisa diam,dia masih belum percaya kalau Dania adalah sahabatnya,bagaimana bisa seorang seperti dia yang hanya bekerja sebagai owner cafe bisa memiliki sahabat super model seperti Dania.


"Kayaknya kamu salah orang deh."ucap Reina


"Hah?"


"Kamu kan model masa mau sahabatan sama aku."ucap Reina


"Ya ampun Reina,jangan bilang lu mikirnya kita sahabatan baru baru ini,kita sahabatan udah dari Zaman SMA,sebelum gua jadi model."jelas Dania


"Jadi,kita sahabatan udah lumayan lama?"tanya Reina tidak percaya.


Dania hanya mengangguk, memperbaiki posisi duduknya.


"Terus anak kecil cowok yang di mimpi aku siapa?"tanya Reina


Dania terdiam sejenak,ia memikirkan, apakah ia harus mengatakan semuanya sekarang ini? meskipun memang benar tujuan Dania awalnya ingin memberitahukan semua hal kepada Reina,namun hey kenapa ia sekarang mendadak ragu.


"Itu,anu....itu. ...Azka.."lirih Dania.


TBC...


jangan lupa votemen


kirim kritik dan saran ya


happy reading dan salam hangat dari aku.


❤️❤️❤️