LOST

LOST
terungkap



"Jackson,ini Jelly pegawai baru di cafe,ah tidak,mungkin calon adik ipar aku."ucap Reina tertawa renyah.


Melihat itu Jackson tersentak,jantungnya seakan berhenti berdetak sekejap,ia menatap manik mata Jelly dengan nanar,kalau memang itu adalah Jelly adik kesayangannya,sungguh ia sangat rindu akan adiknya itu.


"Ih,kak Reina apaan,kan kata aku juga marga Basilius bukan cuman aku sama kak Jackson doang."jelas Jelly


Reina tampak menghiraukan omongan jelly,lantas mulai menyuruh mereka berdua untuk masuk.


Di dalam mobil Reina tengah sibuk dengan stir nya,sedangkan Jackson duduk di sampingnya,merasa kelelahan atas perjalanan yang cukup memakan waktu, apalagi dari semenjak berangkat ia begitu antusias tidak sabar ingin melihat Reina.Sedangkan jelly duduk di belakang dengan lamunannya, memikirkan perkataan Reina di bandara tadi.


"Jadi Jelly,nama kakak kamu dulu siapa?"tanya Reina


"Jackson."ucap Jelly


"Tuh kan bener."kekeh Reina


"Ada kesamaan di antara kamu sama kakak kamu?"tanya Jelly


Jelly hanya terdiam,sedangkan Jackson kelihatan sedang meneguk ludahnya Canggung.


"Mari kita lihat setelah sampai rumah."batin Reina


"Kamu kenapa? ketawa sendiri?kesambet jin Belanda yang baru landing?"tanya Jackson


Pertanyaan receh Jackson itu membuat Reina dan Jelly terkekeh candu.


"Kak Jackson mirip kakakku,suka bercanda."ucap Jelly tertawa menepuk pelan kursi yang Jackson senderi.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Jelly,mengajak Jackson turun, Jackson nampak kebingungan melihat sekeliling celingak-celinguk,merasa aneh dengan suasana disini.


"Ini rumah kamu?"tanya Jackson berbisik di telinga Reina.


"Bukan,ini rumah Jelly."Reina ikutan berbisik.


"Ibu, Jelly pulang."ucap Jelly


"Bu jelly ke dapur dulu ya,ada tamu."ucap jelly mencium pipi kanan sang ibu.


Ibu hanya mengangguk,merasa penasaran akan tamu yang datang,ibu memutuskan untuk melihat ke arah pintu.


"Jackson?"tanya ibu tidak percaya


"Ibu...."lirih Jackson


Jackson teramat rindu kepada ibunya,namun ia malu, entahlah ia merasa tak pantas jika dia hadir di kehidupan adik dan ibunya,sejak perceraian orang tuanya dikarenakan ayahnya selingkuh dengan wanita lain Jackson menjadi sedikit masam kepada ayahnya,namun hak asuh anak Jackson jatuh ke ayahnya,apa boleh buat terpaksa ia harus ikut pulang ke Belanda bersama ayahnya.


Jamilah berlari pelan menghampiri anak lelaki satu-satunya itu,memeluknya dengan hangat,air mata Jackson tumpah kala itu.


Prank...


Nampan yang berisikan gelas terjatuh, suaranya cukup nyaring, membuat adegan dramatis itu usai,mereka melihat ke arah suara kegaduhan itu.


"Ibu,kak Jackson ini kakak aku?"tanya Jelly berlinang air mata.


Ibu hanya mengangguk mengiyakan,menyuruh Jelly untuk menghampiri kakaknya,kakak yang sangat teramat ia rindukan.


"Kakak...."tangis Jelly di pelukan Jackson


Reina yang melihat kejadian itu pun tak luput dari rasa haru, matanya mulai menitikkan air mata,ibu Jamilah menggandeng tangan Reina lembut.


"Makasih nak,makasih sudah memberi kebahagiaan bagi keluarga kecil ibu."bisik ibu Jamilah.


Reina hanya tersenyum memegangi punggung tangan calon ibu mertuanya itu.


*****


"Maafkan ibu nak, sungguh ibu tidak tau kalau kamu punya riwayat penyakit."ucap ibu menahan tangis.


Saat ini Jackson sedang menceritakan awal pertemuan Reina dan dirinya di rumah sakit.


"Aku nginep disini ya."ucap Jackson meminta izin kepada Reina.


"Hey,kenapa minta izin,itu hak kamu."ucap Reina merasa tak enak.


"Bahasanya jangan nginep ya nak,kamu pulang,ini rumah kamu,bukan penginapan."canda ibu.


Jelly sedari tadi sibuk bermanja bersama kakaknya, tertidur di atas paha sang kakak yang amat ia rindukan.


"Kak Reina makasih ya,udah jadian ah tidak,udah tunangan sama kak Jackson."ucap Jelly terbangun dari tidurnya.


Jackson yang mendengar hal itu menjitak pelan kepala adiknya, Jelly mengaduh kesakitan, sedangkan Reina dan ibu tertawa renyah melihat tingkah kakak adik itu.


"Sudah-sudah,kalian udah besar masih saja berantem."ucap ibu melerai.


"Aku sayang kak Reina."teriak Jelly.


"Kakak enggak?"tanya Jackson


"Nggak,kan yang sayang sama kakak kak Reina."gombal Jelly.


Sekali lagi Jackson menjitak kepala adiknya, begitulah akhir hari itu, hari dimana keluarga kecil yang saling merindu bertemu,Meraka menghabiskan malam dengan candaan dan obrolan,melepaskan dan mencurahkan semua isi hati dan pikiran.


*****


"Kakak,di Belanda enak gak sih?"tanya Jelly penasaran.


"Masih enak disini,walau sederhana, tapi ada kamu,adik kakak yang paling nyebelin,makasih adik pungut."ucap Jackson tersenyum kecil.


Jelly memukul bahu kakaknya dengan cukup keras.


"Enak aja,yang anak pungut tuh kakak tau."ucap Jelly sebal.


"Ayah gimana?sehat?"tanya Jelly


"Ya biasa,ayah bugar,cuman jadi duda lagi."ucap Jackson tertawa


Memang sejak perceraian ayah dan ibunya,ayah Jackson sempat menikah beberapa kali,namun setiap pernikahan itu selalu gagal dan berujung di meja hijau.


"Kasian ayah,duda lagi,tapi ayah duren sawit sih."ucap jelly tertawa


"Ibu juga janda kok,jodohin mereka yu."lanjut jelly


Jackson hanya menggeleng melihat tingkah adiknya yang sangat absurd.


"By the way,kenapa kakak bisa tunangan sama kak Reina?"tanya Jelly penasaran.


"Nikahnya kapan?"tanya jelly sekali lagi


"Udah jodohnya,nikah kayaknya 1 tahunan lagi,entahlah semoga di percepat aja."ucap Jackson


"Ya iyalah dipercepat,kalau kelamaan di gantung nanti terbang,atau enggak di ambil orang."ucap jelly usil


"Adik durhaka lu."ucap Jackson kembali menjitak pucuk kepala Jelly.


Dari ambang pintu, Jamilah melihat kedua anaknya dengan nanar,tatapan nya yang sendu bercampur haru membuat ia merasakan sakit hati namun bahagia bersamaan, bahagia melihat Jelly yang bisa ceria seperti dulu,namun sedih saat mengingat kalau ia tak akan bisa selalu berada di samping Jelly,kanker yang di deritanya sudah mengganas,menjalar melumpuhkan tubuhnya.


"Baik-baik terus ya anak ibu."ucap Jamilah tersenyum.


*****


"Iya selesai."


Dania hanya mengangguk lantas turun dari podium Pemotretan,tubuhnya begitu lemas tidak bersemangat.


"Model Dania,kenapa lemas begitu?nanti kita shot ulang,jangan malas-malasan diluar sana udah banyak model pendatang baru yang lebih berbakat dari kamu,ngerti?"ucap direktur marah.


"Maaf.."lirih Dania.


Dania menjadi kurang fokus dalam kerjaannya, sepertinya pikiran itu terus berputar di otaknya,membuat ia tidak konsentrasi.


Sesi pemotretan selanjutnya dilakukan, Dania duduk di kursi dengan memakai gaun putih yang panjang serta di sulam dengan cantik, tangannya memegang bucket bunga kecil,kali ini dia menjadi Model salah satu perusahaan designer di kotanya.


"Tolong posenya yang natural ya."


Dania mulai berpose,dengan pose natural ia mencoba untuk menutupi pikirannya,namun bukannya berhasil ia malah gagal lagi,dia berpose sedikit kikuk,wajahnya pun tampak seperti orang yang tengah terbebani.


"Cut...Dania yang bener kalau kerja.."teriak direktur.


Dania hanya mengangguk,menurunkan kepalanya mengisyaratkan kalau dia minta maaf atas kelakuannya.


TBC...


jangan lupa votemen


Happy reading dan salam hangat dari aku..