
"Kenapa teh?"tanya Ujang dan Ray.
"Ini supnya susah di buka."keluh Reina
Pluk...
Akhirnya dengan susah payah Reina dapat membuka tutup sup itu, walaupun dengan sedikit kekacauan yang terjadi,ya bajunya terkana cipratan kuah dari sup.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Ujang,memang jarak dari bandara ke rumah Ujang tidak cukup jauh,hanya perlu memakan waktu 12 menit saja.
"Wah,rumahnya gede."Ray melongo di depan ambang pintu rumah.
"Udah ayo masuk."ajak Ujang.
"Selamat datang nyonya Ujang."ucap Ujang menjahili Ray.
"Ih Ujang apaan sih."ucap Ray tersipu malu.
"Ekhem.."Reina berdehem
"Kalau mau bucin,jangan depan teteh dong."ucap Reina terkekeh.
Ujang dan Ray hanya tertawa renyah.
Saat Ujang sibuk memasukkan barang milik Ray, Reina mengajak Ray untuk berkeliling di rumahnya, bahkan Reina menunjukkan kamar yang akan Ray tempati yang tepat berada di depan kamar Ujang.
Cukup lama mereka berkeliling,wajah Ray tidak henti-hentinya terkagum melihat keindahan yang berada di dalam rumah pacarnya itu.
"Kamu istirahat ya,teteh mau ke kamar dulu."ucap Reina
Reina pergi menuju kamarnya,ia menutup pintu dengan rapat,lantas mulai meminum obat yang harus ia konsumsi rutin,tepat setelah obat itu tercerna, ia merasa pusing lantas mulai tertidur di sembarang tempat.
Trang..
Suara pecahan kaca terdengar,saat ini Reina berada di tengah cermin-cermin yang kosong,ia tidak tahu mengapa banyak cermin yang mulai pecah satu persatu,di antara ratusan cermin yang mengitarinya hanya satu cermin yang masih terlihat utuh, menampilkan kejadian tadi di bandara saat ia bertubrukan dengan pria asing tadi.
Splash...
Reina terbangun dalam keadaan basah oleh keringat, matanya basah,ia tidak tahu, apakah itu keringat atau air mata,ia juga tidak tahu,kenapa ia mengalami mimpi seperti ini,ada apa dengan pria itu?siapa dia sebenarnya?banyak sekali pertanyaan yang berkecambuk di dalam pikirannya.
Reina menggelengkan kepala,mencoba untuk tidak mengingat mimpinya,lantas ia mulai pergi ke kemar mandi, membersihkan dirinya dari banjir keringat yang baru ia alami.
Ruang makan keluarga terasa hangat atas kehadiran Ray,saat ini di meja makan tertata makanan yang sangat banyak dan terlihat enak,mulai dari makanan khas Belanda, bahkan makanan tradisional Indonesia pun ada.Di meja makan Reina, Ujang,dan Ray tengah sibuk makan malam bersama sambil berbincang.
"Mau lama kan disini?"tanya Reina membuka percakapan.
"2 Minggu aja teh, Ray juga kan harus masuk kuliah, kebetulan sekarang di Indonesia lagi libur."Ucapnya
"Besok mau ikut?ke cafe teteh?"tanya Reina
"Nggak,kita mau jalan-jalan berdua."celetuk Ujang sewot.
"Teteh tanya Ray ya,bukan Lo."sewot Reina
Ray hanya tertawa melihat tingkah adik kakak itu.
Setelah mereka selesai makan,mereka memutuskan untuk menonton film bersama,dengan di selingi bermain game truth or dare.
Botol wine pajangan mamah Ujang ia gunakan sebagai alat untuk bermain TOD.
"Ayo mulai."ucap Reina semangat.
Ujang memutar botol wine itu,cukup lama botol itu berputar hingga puncak kepalanya berhenti ke arah Ray.
"Truth or dare."teriak Ujang.
"Sama gua aja lah,truth or dare?"tanya Reina
"truth."jawab Ray
"Kangen Ujang gak?"tanya Reina
"Pertanyaan apaan dah itu teh."protes Ujang.
Kini muka Ujang dan Ray bersemu merah, Ray senyum-senyum sendiri mendengar kalimat itu.
"Jadi?kangen gak?"desak Reina
"Kangen.."lirih Ray
"Apa?gak denger nih."goda Reina
"Kangen.."ucap Ray kencang sambil menutup matanya.
Ujang hanya melongo wajahnya kini bertambah bersemu merah.
Botol di putar kembali,kali ini puncuk kepala botol itu mengarah kepada Ujang.
"Truth or dare."tanya Reina
"Cium Ray."titah Reina
Mata Ray terbuka mendengar tantangan itu,tidak bisa dipungkiri di dalam hatinya ia merasa senang,namun ia berusaha menahan agar kesenangan itu tidak terlihat dari luar, berbeda dengan Ujang,ia nampak Canggung mendengar perintah itu,ia malu melakukannya di depan sang kakak,namun bila sang kakak tidak ada,bisa dibicarakan lah.
"Udah cepet lakuin."ucap Reina
"Ya udah teteh tutup mata."lanjutnya
Reina menutup matanya dengan kedua tangan namun tidak terlalu rapat.
cupp..
Ujang mencium pipi Ray dengan halus,ia hendak mencium bibir Ray namun Reina menghentikan aksi itu.
"Udah jangan berlebihan."teriak Reina
Ting tong...bel rumah berbunyi
Reina beranjak pergi untuk membukakan pintu,tepat saat ia membuka pintu,di depannya kini berdiri pria tampan,siapa lagi kalau bukan Jackson pacarnya.
Reina langsung menarik tangan Jackson, memaksanya untuk masuk berkumpul bersama pasangan bocah yang ada di rumahnya.
"Hai."ucap Jackson
" Jackson."ucap Jackson.
"Hi,Ray."ucap Ray
Saat Reina menuju dapur untuk mengambil makanan, Ray berbisik kepada Ujang,ia menanyakan siapa sih cowok yang tadi itu.
"Itu siapa?"tanya Ray
"Jackson, pacar barunya teteh."jawab Ujang
Ray hanya ber-ouh kecil
"Mau aku bantu?"tanya Jackson
"Ya udah sini."
Sementara itu di lain tempat
"Azka,Lo sekamar sama Dania ya,tenang ranjangnya di pisah kok."
"ok."
Pintu kamar hotel terbuka,mata Azka disuguhkan dengan keindahan interior kamar hotel nya,dengan 2 buah ranjang besar yang bersampingan,sofa kecil, televisi minimalis dan panorama kota yang tersuguhkan terlihat dari jendela.
"Waw.."ucap Azka terkagum
Matanya tidak berkedip,namun Dania menghentikan lamunan Azka.
"Udah,ayo masuk."ucap Dania
"Eh,iyaa.."
Dania merebahkan badannya di atas ranjang, sedangkan Azka memilih diam di atas sofa kecil di depan televisi.
"Besok Pemotretan dimana?"tanya Azka membuka percakapan
"Gak tau,tapi dalam seminggu ini rencananya di empat tempat."ucap Dania
"Empat hari pemotretan,sisanya refreshing."lanjutnya
Azka hanya ber-ouh kecil
"Aku mandi dulu ya."ucap Dania
Dania beranjak ke kamar mandi, meninggalkan Azka sendiri yang tengah sibuk melihat-lihat kamarnya.
30 menit kemudian Dania keluar dari kamar mandi,lengkap dengan jubah mandinya.Azka hanya melihat lantas memalingkan pandangannya dari Dania.
Dania berjalan mendekati Dania sembari mengusap rambutnya menggunakan handuk kecil.
"Sampai kapan tunangan kita diundur?"tanya Dania sembari duduk di samping Azka.
Azka yang mendengar pertanyaan itu merasa kaget,lantas terdiam sejenak.
"Secepatnya."ucap Azka
Dania hanya berdehem kecil,lantas mulai menyandarkan kepalanya di bahu bidang Azka.Perlakuan Dania itu membuat Azka menjadi tidak karuan,jujur saja dia sangat mencintai Dania,namun di dalam hatinya juga ia merasakan ada suatu perasaan yang mengganjal,perasaan itu lah yang membuatnya terkadang tidak enak saat berada di dekat Dania.Mungkin dia bisa disebut pria bajingan jika memang dia masih menaruh rasa terhadap Reina, sahabat kecilnya.
TBC..
Jangan lupa votemen
Salam hangat dari aku