
Niat Garani untuk membuat Clarin dan Lauran bersimpati gagal total, jadi untuk saat ini Garani mencari ide supaya keduanya kasihan melihatnya dan mengajaknya untuk pergi berbelanja, karena barang-barang keperluannya sudah habis.
"Ayo Garani cari cerita yang lebih sedih lagi supaya mereka berdua bisa mengajakmu pergi berbelanja" batin Garani
"Laura"
"Apa Clarin???"
"Lihat itu Garani melamun lagi"
"Biarkan saja, nanti juga sadar juga. Kita tunggu saja"
"Ok"
Untuk beberapa saat ketika terdiam tanpa ada satu suara pun terdengar dari mulut mereka hal itu membuat Willy tidak bisa mengetahui apa yang akan mereka bicarakan lagi.
"Kenapa jadi bisu semua, mana lagi cerita serunya. Ayo cepat-cepat bicara lagi jangan membuatku penasaran" keluh Willy
Ditempat lain Rose tampak serius belajar diperpustakaan bersama Adrika yang selalu berada didekatnya.
"Rose"
"Iya, kenapa???. Masih ada pelajaran yang menurutmu sulit Adrika
"Tidak ada"
"Terus kenapa kamu memanggilku"
"Aku baru tau kalau kamu itu..."
"Itu apa???"
"Sangat cantik dan karena itu aku menyukaimu"
"Kamu ada-ada saja, ayo lanjutkan belajarnya"
"Tapi apa yang aku katakan itu jujur Rose"
"Iya...iya tapi untuk sekarang kita bahas tentang pelajaran saja"
"Baiklah"
"Ayo buka bukunya"
"Iya"
Rose tau kalau Adrika sangat kecewa atas apa yang dikatakan nya. Rose tidak ingin Adrika terlalu menyukainya karena apa yang dilakukan Adrika hanya sia-sia saja.
"Maaf Adrika aku melakukan ini supaya kamu berhenti menyukaiku dan mencari perempuan yang mencintaimu dengan tulus" batin Rose
"Rose"
"Iya"
"Kalau yang ini bagaimana cara mengerjakannya???"
"Soal nomor berapa???"
"Ini coba lihat saja"
Rose melihat buku yang diberikan Adrika kepadanya, betapa terkejut Rose saat tau apa yang sebenarnya soal yang dimaksud oleh Adrika.
"Adrika apa ini???"
"Soal yang sulit"
"Tapi ini bukan tentang pelajaran Adrika"
"Tapi itu soal juga kan Rose, jadi jelaskan kepadaku bagaimana cara mengerjakannya"
"Kalau ini aku tidak bisa Adrika, maaf"
"Iya sudah, aku cari soal yang lain saja yang kamu bisa"
"Ok"
Rose menyadari bahwa Adrika benar-benar tulus mencintainya tetapi Rose tidak bisa membalas perasaan itu karena hati Rose telah diisi oleh laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
"Maafkan aku Adrika, kamu akan menemukan perempuan yang pantas menjadi pasangan mu tetapi itu bukan aku. Selalu bahagia Adrika" batin Rose
Adrika melihat kalau Rose tersenyum kearahnya, hal itu membuat jantungnya berdetak sangat cepat saat melihat senyum manis Rose.
"Senyum itu, kenapa jantung ku berdetak sangat cepat" batin Adrika
"Adrika kamu baik-baik saja, apa kamu sakit??? Rose menyentuh kening Adrika untuk memastikannya
"Aku baik-baik saja" menepis tangan Rose
"Apa kamu yakin baik-baik saja???"
"Iya aku baik-baik saja, kalau begitu aku pergi dulu Rose"
"Secepat itu, memangnya kamu mau kemana???"
"Aku lupa kalau harus bertemu seseorang, jadi aku harus pergi sekarang"
"Iya sudah, pergi saja siapa tau itu penting"
"Maaf harus meninggalkan mu sendirian disini"
"Aku tidak apa-apa, kalau itu urusan yang sangat penting lebih baik segera pergi"
"Maafkan aku Rose, aku harus berbohong kepadamu"batin Adrika
"Kenapa masih mematung seperti ini, katanya mau bertemu seseorang"
"Iya, ini aku juga mau pergi Rose"
"Semoga berhasil"
"Berhasil apa???"
"Bukannya kamu mau bertemu seseorang"
"Iya, terus"
"Semoga cepat bertemu dengannya"
Dengan berat hati Adrika harus meninggalkan Rose dan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
"Anak itu bertingkah sangat aneh, apa dia menyembunyikan sesuatu????. Rose apa yang kamu pikirkan mungkin saja Adrika saat ini benar-benar sibuk jadi berpikiran negatif seperti itu, sebaikanya aku melanjutkan mengejakan soal-soal yang belum terisi"
Sandara dari kejauhan terus saja mengawasi Rose yang sedang sibuk belajar.
"Akhirnya Adrika pergi juga, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan untukku"
"Tentu, kamu tidak perlu khawatir aku yakin rencana ini pasti berhasil"
"Iya sudah cepat lakukan sana sebelum Adrika kembali ke sini lagi"
"Siap, aku akan melakukannya sekarang"
"Ayo cepat-cepat sebelum ada orang lain yang tau, Rose sedang pergi mencari buku jadi ini kesempatan kamu untuk memasukkan obat itu kedalam minumannya"
"Ok...ok"
"Aku sudah membayarnya ya jadi kerjamu harus bagusa juga, aku tidak mau sampai rencana ini gagal"
"Kamu tidak perlu khawatir Sandara, aku pasti berhasil melakukannya"
"Kita lihat saja apa benar kamu akan berhasil melakukannya"
"Perhatikan saja apa yang akan aku lalukan"
"Setelah ini kamu harus melupakan kejadian semuanya dan berpura-pura tidak mengenal ku"
"Siap. Tapi kalau kamu minta bantuanku lagi hubungi saja aku"
"Pasti, sudah sana cepat sebelum Adrika kembali"
"Siap bos"
Orang suruhan Sandara mulai melakukan aksinya, dia diminta oleh Sandara untuk memasukan obat kedalam minuman yang dibawa oleh Rose.
"Rasakan ini Rose, itu balasan untuk orang yang telah merebut Adrika dariku"
Sandara tersenyum cukup puas dengan hasil kerja orang suruhannya itu.
"Lihat kan apa yang aku katakan Sandara"
"Ternyata tidak sia-sia aku membayar mu mahal ternyata kerjamu bagus juga"
"Kali begitu aku pergi, kalau perlu apa-apa hubungi saja aku"
"Ok"
"Kalau begitu aku pergi dulu, ada urusan lain yang harus aku selesaikan"
"Ok"
Orang suruhan Sandara pergi meninggalkan dirinya ditempat itu.
"Kita lihat saja nanti Rose, apa yang akan terjadi setelah kamu meminum minuman itu" tersenyum licik
Setelah mencari beberapa buku yang diperlukan Rose kembali ketempat duduknya. Tidak berapa lama ponsel milik Rose berdering.
"Ibu Kika, kenapa dia meneleponku???. Sebaikanya aku angkat saja siapa tau itu penting"
Rose mencari tempat yang sepi untuk mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo buk Kika"
"Halo Rose, sekarang kamu dimana???"
"Saya masih disekolah, memangnya ada perlu apa buk Kika???"
"Tadi ibu mau mengatarkan sarapan untukmu tapi sepertinya kamu sudah pergi kesekolah"
"Tidak perlu repot-repot buk Kika Rose sudah sarapan tadi"
"Oh iya, apa kamu sudah membeli perlengkapan dapur???"
"Belum buk, mungkin sepulang sekolah nanti Rose akan membelinya"
"Sebaikanya kamu jangan membelinya Rose"
"Memangnya kenapa buk???"
"Ibu ada beberapa perlengkapan dapur yang tidak ibu gunakan lagi nanti sepulang sekolah kamu bisa mengambilnya dirumah"
"Tapi buk, Rose..."
"Jangan merasa sungkan begitu Rose, ibu hanya ingin membantumu saja dari pada barang-barangnya itu tidak ibu gunakan jadi lebih baik kamu menggunakannya saja"
"Berapa harganya buk, nanti sepulang sekolah Rose akan membayarnya"
"Jangan bicarakan soal harga Rose, ibu hanya ingin memberikannya untukmu. Jadi nanti sepulang sekolah kamu bisa mengambilnya"
"Baik buk, mati sepulang sekolah Rose akan mengambilnya. Terimakasih atas bantuannya buk belum lama Rose tinggal dirumah itu Rose sudah merepotkan ibu saja"
"Jangan bicara seperti itu Rose, apa yang ibu lalukan itu hanya ingin membantumu saja"
"Terimakasih sekali lagi atas bantuan yang diberikan"
"Iya sama-sama, kalau perlu sesuatu hubungi ibu saja siapa tau ibu bisa membantumu"
"Tentu buk"
"Iya sudah ibu tutup dulu teleponnya maaf ya kalau ibu mengganggumu jam segini Rose pasti kamu sedang sibuk disekolah"
"Tidak sibuk buk"
"Nanti sepulang sekolah jangan lupa diambil barang-barangnya"
"Iya buk"
"Ibu tunggu dirumah"
"Baik buk"
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Rose kembali fokus mengerjakan tugas- tugasnya yang tadi sempat tertunda