
Sahara tiba didepan pintu gerbang sekolah, sahara menelepon Pak Opi.
"Halo Pak"
"Iya non, ada apa???"
"Pak Opi dimana???. Sahara sudah dipintu gerbang sekolah nie"
"Baik non, Pak Opi akan segera kesana"
"Sekarang Pak Opi ada dimana???, bukannya tadi bapak bilang kalau sudah menunggu saya didepan pintu gerbang sekolah. Tetapi saya tidak melihat ada mobil disekitar sini Pak"
"Iya non, memang Pak Opi sudah menunggu non sahara didepan pintu gerbang. Tapi tiba-tiba Pak Opi sakit perut non jadi Pak Opi pergi ke toilet dulu"
"Kalau cuma pergi ketoliet kenapa mobilnya tidak diparkir disini Pak"
"Itu dia non, setelah selesai dari toilet perut Pak Opi kelaparan jadi Pak Opi pergi sebentar untuk membeli makanan. Maaf ya non gara-gara Pak Opi non sahara jadi harus menunggu dulu disana, sekali lagi Pak Opi minta maaf non"
"Tidak apa-apa Pak, sahara juga baru sampai kok. Kalau Pak Opi sedang makan, habiskan saja dulu makanannya jangan terburu-buru Pak"
"Tapi non, Pak Opi menjadi merasa bersalah karena pak Opi non sahara harus menunggu dulu disana. Pak Opi janji non akan secepatnya kesana, tunggu ya non"
"Iya Pak Opi tidak apa-apa lanjutkan saja makannya sampai selesai, saya akan mencari tempat dulu untuk menunggu Pak Opi. Pak Opi habiskan saja dulu makanannya jangan terlalu terburu-buru ya Pak dan jangan merasa bersalah"
"Baik non"
"ya sudah Pak, saya tutup teleponnya dulu"
"Baik non, secepatnya saya akan ke sana non"
"Iya Pak"
Sahara mencari tempat yang berteduh untuk menunggu Pak Opi.
"Aku harus mencari tempat yang berteduh dulu sambil menunggu Pak Opi"
Tak berapa lama Rose dan Adrika tiba diparkiran. Rose tampak tekejut saat mengetahui sepeda miliknya rusak parah.
"Sepedaku!!!"
"Sepedamu kenapa Rose"
"Kamu duduk disini dulu, aku akan melihat sepedaku dulu"
"Baiklah"
Rose menghampiri sepeda miliknya yang sudah rusak parah.
"Siapa yang tega melakukan ini semua???"
Karena penasaran Adrika pergi menghampiri Rose yang masih berdiri disamping sepedanya.
"Rose, kenapa dengan sepedamu??"
"Sepedaku rusak Adrika"
"Apa!!!, siapa yang tega melakukannya"
"Aku juga tidak tau"
"Iya sudah, kamu pulang saja bersamaku"
"Tapi..."
"Soal sepedamu nanti akan aku antarkan dibengkel sepeda langganan ku"
"Biayanya akan aku bayar secepatnya"
"Jangan pikirkan soal itu dulu , yang terpenting sekarang sepeda kesayanganmu bisa diperbaiki"
"Iya aku tau, cuma aku tidak enak saja merepotkanmu terus adrika"
"Ternyata apa yang aku katakan itu benar"
"Maksudmu???"
"Aku tadi memintamu untuk pulang bersamaku dan sekarang yang apa ku katakan itu benar. Kamu akan pulang bersamaku, bukannya aku bermaksud mengatakan hal yang menyakitkan kepadamu karena musibah yang menimpamu saat Ini. jangan salah paham ya Rose aku tidak bermaksud berbicara seperti itu"
"Iya, aku tau. Bukannya tadi aku memintamu untuk duduk disana kenapa kamu pergi menghampiriku"
"Itu..."
"Adrika, ayo jawab yang jujur"
"Iya, aku menghampirimu karena aku penasaran"
"Hanya itu"
"Iya"
"Baiklah"
"Memangnya kenapa???"
"Tidak apa-apa, sebaiknya kamu duduk saja. Biarkan aku yang merapikan ini"
"Apa aku tidak boleh membantumu???"
"Kamu sedang sakit sekarang, jadi istirahat saja dulu dan jangan banyak bergerak"
"Baiklah"
Mereka berdua tidak mengetahui kalau Sandara sedang mengawasi dari kejauhan.
"Rasakan itu Rose,ini baru permulaan karena masih banyak lagi yang akan aku lakukan untuk mu. Lihat saja nanti kamu akan sangat menderita, hahaha"
Sandara sangat puas karena rencananya sangat berhasil.
"Rose"
"Tidak jadi"
"Ya sudah, jangan kemana-mana duduk saja disitu sampai supirmu tiba"
"Siap bos"
Rose hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu temannya itu. Melihat hal itu Sandara menjadi lebih kecewa karena usahanya untuk menjauhkan Rose dan Adrika tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Sial..sial, padahal usahaku sudah cukup bagus tapi lihat ini. Mereka semakin dekat saja aku tidak bisa tinggal diam aku harus mengikuti kemana pun mereka berdua pergi"
Seseorang menghampiri Sandara, hal itu membuat Sandara tampak terkejut. Untuk saja suaranya tidak terdengar oleh Rose dan Adrika.
"Hei Sandara sedang apa kamu disini"
"Asiltha bion kaget saja"
"Hehehe, iya maaf. Kamu disini sedang melihat siapa???, apa rencanamu diperpus tadi berjalan lancar???"
"Dari mana kamu tau kalau aku melakukan sesuatu diperpus???, apa kamu memata-mataiku sekarang Asiltha???" Tanya Sandara
"Jangan salah paham dulu Sandara, aku hanya menebak saja. Bukannya kamu pernah mengatakan kepadaku kalau kamu akan balas dendam kepada Rose kan"
"Iya memang aku pernah mengatakannya kepadamu, tapi apa yang aku lakukan diperpus itu kenapa kamu bisa menembaknya begitu saja. Padahal kamu tidak tau apa yang aku lakukan kepada Rose disana"
"Sial, kenapa kamu salah bicara Asiltha. Sekarang bagaimana kamu menjelaskan ini semua kepada Sandara , bisa-bisa Sandara tidak akan percaya lagi semua yang kamu katakan Asiltha. Ayo berpikir Asiltha apa yang harus kamu katakan sekarang" batin Asiltha
"Asiltha kenapa kamu diam saja, katakan sejujurnya dari mana kamu tau apa yang aku lakukan diperpus"
"Sebenarnya waktu itu aku sedang berada diperpus mencari buku, bukannya aku bermaksud mengikutimu hanya saja waktu itu aku sangat membutuhkan buku itu jadi aku pergi keperpus. Terus aku tidak sengaja melihatmu berbicara kepada seseorang, karena penasaran diam-diam aku mengikuti orang itu"
"Setelah itu apa yang kamu lihat Asiltha"
"Dia memasukan sesuatu kedalam botol minuman Rose disaat Rose sedang sibuk mencari buku"
"Hanya itu saja"
"Iya Sandara, hanya itu saja"
"Sekarang kamu tau apa yang harus kamu lakukan Asiltha"
"Tentu Sandara, aku tau apa yang harus aku lakukan kamu tidak perlu khawatir rahasia ini aman bersamaku"
"Ok, aku pegang janjimu itu. Tapi..."
"Tapi apa???"
"Kalau sampai kamu membocorkan rahasia ini kamu tau kan apa akibatnya Asiltha" membisikkan sesuatu ditelinga Asiltha
"Sial, kenapa aku jadi penakut seperti ini. Yang jahat disini justru aku kenapa sekarang aku jadi penakut seperti ini. Ternyata Sandara tidak bisa diremehkan begitu saja kalau dia sudah membenci seseorang kebenciannya melebihi apa pun aku harus tetap berhati-hati mulai sekarang, jangan sampai hal buruk menimpaku kalau aku asal bicara" batin Asiltha
"Apa kamu paham Asiltha???"
"Iya...iya Sandara aku paham maksudmu kamu tidak perlu khawatir rahasiamu aman padaku"
"Bagus, aku pegang janjimu itu Asiltha jangan sampai kamu mengecewakan ku"
"Tenang saja Sandara, percayakan semuanya padaku"
"Baiklah"
"Kalau begitu aku pergi dulu Sandara"
"Mau pergi kemana kamu???"
"Jemputan ku sudah menunggu didepan aku harus pergi sekarang, maaf aku tidak bisa berlama-lama disini"
"Tidak apa-apa, sebentar lagi aku juga akan pulang"
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu Sandara"
"Iya"
"Sampai berjumpa besok pagi"
"Ok"
Asiltha pergi meninggalkan Sandara seorang diri.
"Selamat...selamat akhirnya aku bisa pergi juga, untung Vinci menghubungi ku kalau tidak ntah apa yang aku lakukan untuk bisa pergi sana. Terimakasih Vinci akhirnya aku bisa pergi"
"Terimakasih untuk apa kak???"
"Vinci bikin kaget saja, sejak kapan kamu berada disini"
"Sejak tadi kak, habis kak Asiltha dipanggil-panggil tidak ada responya jadi Vinci kagetin saja"
"Dasar Vinci nakal" mencubit pipi Vinci
"Sakit kak, kok Vinci dicubit sih. Salah Vinci apa"
"Vinci tidak salah apa-apa, hahahaha"
"Kak Asiltha"
"Ayo pulang, pasti mama khawatir dirumah"
"Iya kak"
"Ayo cepat"
"Iya kak, sabar dong"
"Hehehehe"
Siang ini Asiltha pulang bersama adik kesayangannya itu.