
Sandara sangat kesal saat Sean menelponnya.
"Anak ini memang tidak tau diri sudah berapa kali aku katakan untuk tidak perlu menghubungiku lagi tetapi dia tidak mendengarkan apa yang aku katakan dan terus saja meneleponku. Benar-benar anak yang menyebalkan, gara-gara anak itu aku selalu dimarahi oleh mama dan papa. Lihat saja nanti Sean pada akhirnya kamu juga akan keluar dari rumahku, sebaiknya aku abaikan saja telepon darinya"
Mematikan ponselnya, supaya kakaknya tidak terus menerus menghubunginya.
"Adrika dan Rose kenapa belum datang juga, aku harus berapa lama lagi harus menunggu disini" keluh Sandara
Tak berapa lama orang yang ditunggu-tunggu telah tiba dirumahnya.
"Itu pasti suara mobil milik Adrika, akhirnya mereka datang juga. Ini saatnya aku memulai rencananya, kali ini pasti berhasil Adrika dan Rose tidak akan bertemu selamanya"
Kayran juga mendengar suara mobil dan mencoba melihat siapakah orang yang datang.
"Suara mobil???, bukannya penghuni baru tidak punya mobil. Apa mungkin itu pacarnya???, sebaiknya aku pastikan saja sekarang"
Kayran membuka sedikit jendela kamarnya untuk mengetahui siapakah orang yang datang bersama penghuni baru.
"Kita sudah sampai Rose???"
"Iya Adrika, itu rumahku"
"Ternyata rumahnya bagus juga"
"Kamu itu pintar sekali memuji ya Adrika"
"Rose, aku berkata yang sejujur-jujurnya"
"Iya, aku percaya Adrika. Apa mau masuk sekarang???"
"Tentu saja aku harus masuk, untuk apa aku kesini kalau tidak ingin masuk kerumahmu Rose. Kamu ini ada-ada saja" sambil mencubit pipi Rose
"Adrika jangan seperti ini"
"Memangnya kenapa???"
"Kalau ada yang salah paham bagaimana???"
"Maksud mu Pak Dhaya begitu"
"Pasti kamu paham kan apa yang aku maksud Adrika"
"Iya cantik, Pak Dhaya juga mengerti. Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, iya kan Pak Dhaya"
"Iya tuan, lanjutkan saja. Pak Dhaya pura-pura tidak tau"
"Tuh dengar sendiri kan Pak Dhaya saja tidak mempermasalahkannya Rose"
"Tapi Adrika"
"Jangan ada tapi-tapi lagi, ayo kita masuk sekarang aku ingin melihat rumah barumu"
"Kamu tunggu disini dulu"
"Memangnya kamu mau kemana???"
"Aku ingin mengeluarkan sepeda milikku dulu"
"Biarkan Pak Dhaya saja yang membawanya non Rose"
"Jangan Pak, biarkan Rose saja yang mengeluarkan sepedanya dan membawanya keluar"
"Tidak apa-apa non Rose, sebaiknya non dan tuan Adrika masuk saja dulu"
"Tapi Pak"
"Rose turuti saja apa yang Pak Dhaya katakan dan jangan membantah lagi"
"Baiklah, kalau Pak Dhaya sudah selesai melakukan pekerjaannya. Pak Dhaya langsung masuk saja kedalam rumah nanti Rose buatkan minuman untuk Pak Dhaya"
"Kenapa hanya Pak Dhaya saja yang kamu tawarkan minuman, aku kan juga mau Rose"
"Kamu kan tidak melakukan apa-apa Adrika, jadi kamu tidak kelelahan. Jadi kamu tidak butuh air untuk minum kan"
"Rose!?!!, jangan pilih kasih dong. Aku kan juga mau"
"Memangnya Adrika mau apa???"
"Meminum minuman yang kamu buatkan"
"Hahahaha"
"Kenapa tertawa Rose???"
"Aku hanya bercanda Adrika, aku tidak mungkin mengabaikan kamu begitu saja"
"Jadi aku juga dapat minuman walaupun tidak melakukan apa-apa"
"Iya Adrika, kamu sekarang sedang sakit jadi aku akan merawat mu"
"Kalau begitu aku ingin sakit terus-terusan saja" batin Adrika
"Adrika..Adrika...kenapa melamun seperti itu kamu tidak ingin masuk kedalam rumahku"
"Iya Rose ada apa???"
"Apa yang sedang kamu lamunan kan Adrika???"
"Melamun????, apa maksudmu Rose???. Aku benar-benar tidak mengerti"
"Ya sudah, sebaiknya kita masuk saja sekarang karena diluar sedang panas dan kamu kan sakit kalau diluar telalu lama sakitmu akan semakin bertambah parah"
"Iya cantik"
"Jadi penghuni baru itu perempuan, tapi dia lumayan cantik juga. Tunggu dulu apa yang kamu katakan kayran kenapa kamu mengatakan hal seperti itu. Jangan bilang kalau kamu menyukai penghuni baru itu, tidak tidak ingin tidak boleh terjadi" kayran kembali menutup jendela kamarnya
"Akhirnya, aku bisa melancarkan rencanakan. Ayo Sandara kamu pasti bisa melakukannya"
Sandara mulai melancarkan rencana jahatnya, dia menelepon orang tua Adrika dengan nomor baru supaya orang tua Adrika tidak curiga kalau itu adalah dirinya.
"Kita mulai sekarang, semoga tante Ghania ada dirumah. Orang itu sangat sibuk sekali belakangan ini jadi membawa ponsel saja pasti jarang sekali. Tapi dicoba saja dulu mungkin bisa"
Sandara kembali mengaktifkan kembali ponsel miliknya. Sandara melihat ke layar ponsel miliknya dan tampak kesal karena Sean mengirimkan begitu banyak pesan singkat padanya. Sandara mengabaikannya begitu saja tanpa membukanya terlebih dahulu.
"Anak ini memang menyebalkan, sudah aku matikan ponselku tapi tetap saja dia menggangguku dengan mengirimkan begitu banyak pesan-pesan singkat yang tidak berguna. Menyebalkan sekali, aku abaikan saja"
Ditempat lain Adrika dan Pak Dhaya disuguhkan air minum dan beberapa makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Silahkan Pak Dhaya diminum dulu, maaf hanya ini saja yang Rose suguhkan"
"Tidak apa-apa non, ini juga sudah enak-enak semua. Apa ini semua buatan non Rose???"
"Iya Pak, Rose hanya baru belajar membuatnya. Semoga Pak Dhaya suka"
"Rose, kenapa aku diabaikan begitu saja???. Aku juga mau seperti Pak Dhaya dilayani dengan baik. Kam kan tadi bilang akan merawat ku karena aku sedang sakit sekarang"
"Iya,iya ini minumnya. Mau kue yang mana??!, nanti Rose ambilkan"
"Aku mau yang itu"
"Yang ini"
"Iya yang itu"
"Ini"
"Aku maunya disuapin sama kamu Rose, tanganku sedang sakit jadi tidak bisa memegang kuenya"
"Ini tidak berat Adrika, pasti tanganmu mampu memegangnya. Jangan manja seperti itu apa kamu tidak malu dilihat Pak Dhaya"
"Kenapa harus malu kita tidak melakukan hal aneh disini"
"Kamu itu ya pandai sekali mencari alasan, ini kuenya mau atau tidak"
"Disuapi dulu baru aku mau makan"
"Tanganku juga sedang sakit Adrika"
"Rose!?!!"
"Iya,iya. Ini kuenya, ayo buka mulutnya"
Apa pun keinginan Adrika dituruti oleh Rose, karena saat ini Adrika sedang sakit jadi dia harus merawatnya dengan baik.
"Sekarang Pak Dhaya tau kenapa tuan Adrika akhir-akhir ini lebih banyak terlihat tersenyum ternyata ini penyebabnya. Semoga saja mereka berdua bisa selalu bersama" bagi Pak Dhaya
"Pak Dhaya, kenapa Pak Dhaya melamun???. Apa Pak Dhaya ingin pulang sekarang???"
"Iya tuan, ada apa???"
"Pak Dhaya sedang melamun kan apa???"
"Tidak ada apa-apa tuan, hanya saja kue buatan non Rose ini sangat enak sekali. Apa Pak Dhaya boleh membawanya pulang???"
"Pak Dhaya malu-malu in saja"
"Boleh kok pak, tunggu sebentar Rose ambilkan tempatnya dulu"
"Terimakasih non"
"Adrika aku tinggal dulu ya"
"Ok, tapi jangan lama-lama ya"
"Iya, aku hanya ingin mengambil tempat kuenya saja"
Rose kedapur mengambil tempat untuk menyimpan kue yang akan Pak Dhaya bawa pulang nanti. Sandara memulai aksinya.
"Ayo tante Ghania angkat teleponnya sekarang, ayo diangkat"
Sandara tampak sedikit kesal karena panggilan teleponnya diabaikan begitu saja. Sandara kembali mencoba menelpon tante Ghania dan akhirnya berhasil. Tante Ghania menjawabnya.
"Halo, ini siapa???"
"Saya teman satu sekolahnya anak tante"
"Oh begitu, ada perlu apa ya???"
"Apa anak tante sudah pulang kerumah???"
"Belum memangnya kenapa???"
"Anak tante sekarang ada disini dengan seorang perempuan"
"Jangan asal bicara ya kamu, anak saya masih dalam perjalan pulang karena jalanan sedang macet"
"Itu hanya akal-akalnya saja tante, kalau tante tidak percaya datang saja ke alamat yang saya kirimkan lewat pesan singkat"
"Baiklah, kalau benar apa yang kamu katakan. Tante akan kesana sekarang, terimakasih infonya"
"Sama-sama tante, kalau begitu saya tutup teleponnya dulu"
"Iya"
Sandara mengakhiri panggilan teleponnya. Tante Ghania sangat kesal atas apa yang dilakukan anak kesayangannya itu.