L.O.V.E

L.O.V.E
Eps. 19 - Idaman



Pak Dhaya pergi untuk membantu Rose membawakan sepedanya tetapi Rose menolak niat baik Pak Dhaya. Rose tidak ingin merepotkan orang lain selagi dia bisa melakukannya seorang diri.


"Pak Dhaya kenapa kesini???"


"Bapak mau membantu non Rose, sini biar bapak saja yang membawanya"


"Jangan Pak, Rose bisa membawanya sendiri"


"Tapi ini berat non, biarkan Pak Dhaya membantu non membawanya"


"Bukannya saya menolak niat baik Pak Dhaya tapi saya bisa melakukannya sendiri Pak. Pak Dhaya tidak perlu khawatir"


"Kalau itu yang non inginkan Pak Dhaya tidak bisa membantahnya, tapi kalau non merasa berat membawanya kasih tau Pak Dhaya. Biar Pak Dhaya yang bawakan sepedanya"


"Iya Pak"


"Oh iya non, Pak Dhaya boleh tanya sesuatu???"


"Pak Dhaya mau tanya apa???"


"Non Rose teman dekatnya tuan Adrika ya"


"Iya Pak, memangnya kenapa???"


"Tidak apa-apa non, hanya memastikannya saja"


"Memastikan apa Pak???"


"Bukan apa-apa non"


"Pal Dhaya, Adrika sedang apa didalam mobil"


"Tadi tuan Adrika sedang tidur non, jadi bapak tinggal saja dulu dan kesini untuk membantu non Rose"


"Oh begitu"


"Non Rose, kenapa sepedanya rusak parah seperti ini???. Apa non Rose jatuh dari sepeda???"


"Hanya orang iseng yang melakukan hal seperti ini"


"Maksud non, sepedanya dirusak oleh seseorang begitu"


"Iya Pak"


"Jahat sekali orang itu, Pak Dhaya doakan semoga dia mendapatkan hukumannya non"


Rose habis bisa tersenyum mendengarkan perkataan Pak Dhaya.


"Sini non biarkan Pak Dhaya memasukkannya kedalam bagasi mobil"


"Iya Pak"


Rose menyerahkan sepedanya kepada Pak Dhaya dan setelah itu Rose masuk kedalam mobil Adrika. Rose tampak terkejut saat mengetahui Adrika sudah terbangun dan tersenyum kearahnya.


"Adrika, aku kira kamu sedang tidur. Ternyata kamu sudah bangun. Apakah suara berisik ku membangunkan mu???"


"Tidak"


"Syukurlah, bagaimana keadaanmu sekarang???. Apa perutmu masih terasa sakit???. Mau aku olesi obat lagi"


"Tidak perlu, aku hanya ingin bersandar dipundakmu sebentar lagi apakah aku boleh melakukannya"


"Lakukan saja jika itu yang kamu inginkan"


"Terimakasih Rose"


Pak Dhaya masuk kedalam mobil. Dari arah luar Sandara terus mengikuti mereka.


"Tuan Adrika, sekarang kita mau kemana???. Apa langsung pulang saja???"


"Tidak Pak, kita antarkan Rose pulang dulu kerumahnya sekalian mampir kerumah barunya"


"Rumah baru???"


"Iya Pak Dhaya rumah baru Rose, sekarang Rose tidak tinggal disana lagi jadi Pak Dhaya tanyakan saja alamat baru rumahnya kepada Rose"


"Baik tuan"


"Kamu yakin mau mampir dulu kerumahku, kenapa tidak lain kali saja??. Aku takut kondisi semakin memburuk kalau tidak segera diperiksakan ke dokter"


"Rose jangan terlalu khawatir bergitu, sekarang aku baik-baik saja. Lihat ini aku sudah tidak sakit lagi jadi izinkan aku berkunjung kerumahmu ya. Boleh ya Rose"


"Tapi kalau terjadi sesuatu cepat pulang"


"Siap, ayo Pak Dhaya kita pergi sekarang"


"Baik tuan, non Rose alamat rumahnya dimana???"


"Jalan abadi kompleks abu raya nomor 127 Pak"


"Itu perumahan yang cukup bagus non"


"Hanya keberuntungannya saja Pak saya membeli rumah yang cukup murah disana"


"Apa Pak Dhaya tau dimana tempatnya??"


"Tau tuan, nyonya sering kesana untuk bertemu teman arisan nya"


"Baguslah Pak Dhaya tau, jadi adrika tidak perlu mengingatkan dimana rumah barunya Rose karena Pak Dhaya sudah tau dimana lokasinya"


"Dasar pelupa"


"Kamu kan tau aku pelupa orangnya, tapi kalau wajahmu aku tidak akan melupakannya sampai kapan pun"


"Terserah kamu saja"


"Tuan kita pergi sekarang"


"Iya Pak, kita pergi sekarang"


Mobil mulai melaju meninggalkan sekolah dari arah belakang Sandara terus mengikuti kemana pun mereka pergi.


"Pak Wito, ikuti mobil itu kemana pun mereka pergi jangan sampai lolos"


"Baik non"


"Rose, urusan kita belum selesai. Aku pasti akan membuatmu semakin menderita dan kamu tidak akan bisa bersama Adrika seperti bisanya lagi" batin Sandara


Didalam mobil Adrika terus saja bersandar dipundak Rose. Hal itu membuat Pak Dhaya mulai menganggu majikannya itu.


"Tuan, sampai kapan tuan ingin bersandar dipundaknya non Rose"


"Memang kenapa Pak???"


"Apa tuan tidak kasihan melihat non Rose kesakitan???"


"Rose, apa yang dikatakan Pak Dhaya benar. Kalau kamu kesakitan karena aku bersandar dipundakmu"


"Bukan kesakitan tapi kesemutan, kepalamu ternyata berat juga ya"


"Rose!?!!, aku serius jangan bercanda dong. Tidak lucu tau"


"Hahahah, kamu itu ya Adrika suka ngambek mulu ntar cepat tua lo"


"Rose!?!!,aku serius apa tanganmu sakit???. Ayo jawab aku Rose"


"Kan tadi sudah aku kasih tau, tanganku hanya kesemutan saja Adrika"


"Jangan bohong ya"


"Tidak, aku berkata yang sejujurnya Adrika"


"Awas kalau kamu berbohong ya"


"Kamu ini ya orangnya tidak percayaan sih. Memangnya aku sering ya bohong sama kamu???"


"Setahu ku tidak pernah"


"Jadi kamu masih tidak percaya apa yang aku katakan itu jujur"


"Iya..iya aku percaya, kalau sudah berdebat denganmu pasti aku kalah"


"Hahaha, itu kamu tau" sambil mencubit pipi Adrika"


"Rose!?!!, kok dicubit sih"


"Habis gemesin sih"


"Kalau gemesin kenapa kita tidak pacaran saja, setiap hari kamu bisa mencubit pipiku dan aku tidak akan berkomentar apa pun"


Mendengarkan hal itu Rose terdiam dan tidak berbicara lagi.


"Kenapa diam Rose???, tadi itu aku cuma bercanda cantik. Aku tau kamu belum bisa Rose dan aku mengerti keputusan mu itu jadi jangan dipikirkan apa yang tadi aku katakan"


Rose tidak bisa menjawab dan hanya bisa tersenyum.


"Maafkan aku Adrika, aku tau kamu itu laki-laki yang baik jadi suatu saat kamu akan mendapatkan yang teebaik juga. Maaf aku hanya bisa menganggapmu sebatas teman saja" batin Rose


Pak Dhaya mengetahui kalau ada mobil lain yang mengikutinya dari belakang.


"Tuan Adrika"


"Iya Pak Dhaya, ada apa???"


"Sepertinya ada yang mengikuti kita dari belakang tuan"


"Apa Pak Dhaya yakin ada mobil lain yang mengikuti kita dari belakang??"


"Yakin tuan, mobil itu tidak pernah jauh dari mobil kita"


"Mungkin itu hanya perasaan Pak Dhaya saja"


"Tidak non, Pak Dhaya yakin kalau mobil itu terus mengikuti kita"


"Untuk memastikannya kita berhenti saja dulu Pak dan lihat apakah mobil itu akan berhenti juga"


"Ide yang bagus tuan, Pak Dhaya akan mencari tempat untuk kita berhenti dulu"


"Kali sampai apa yang dikatakan Pak Dhaya benar bagaimana???"


"Kamu jangan takut Rose, aku akan selalu ada bersamamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir, selagi ada aku semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir" sambil memegang tangan Rose


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa"


Pak Dhaya menemukan tempat yang cocok untuk mereka berhenti, melihat hal itu Sandara mulai panik. Karena usahanya sedkiti ketahuan.


"Non sepertinya mobil itu berhenti, apa yang harus saya lakukan non???"


"Sial, kenapa mereka harus berhenti segala. Apa aku ketahuan mengikuti mereka" batin sandara"


"Apa yang harus saya lakukan non???"


"Jalankan saja mobilnya setelah itu cari tempat yang aman untuk bersembunyi dan setelah itu ikuti mobilnya lagi"


"Baik non"


Ternyata rencana Sandara berhasil dan Adrika percaya kalau mobil yang berada di belakang mereka tidak mengikuti tetapi hanya lewat saja.