
Kayran telah kembali dari dapur dengan membawa dua gelas minuman sesuai permintaan Sandara.
"Ini kak minumannya"
"Terimakasih kayran"
"Apa kakak membawa obatnya???"
"Kakak selalu membawa obatnya kayran"
"Kalau seperti itu, cepat diminum kak obatnya"
"Iya kayran, Kakak ambil dulu obatnya didalam tas"
"Kak Sandara"
"Ada apa kayran???"
"Apa kayran boleh bertanya sesuatu???"
"Pasti saat ini kayran kembali menggali informasi tentang apa yang tejadi beberapa jam yang lalu, ini tidak bisa dibiarkan kamu pikir kak Sandara akan mengatakan semuanya kayran. Tidak semudah yang kamu bayangkan" batin Sandara
"Sepertinya kak Sandra sudah tau apa yang ingin aku tanyakan, jadi bagaimana aku bisa menggali informasinya" batin kayran
"Kayran kenapa kamu hanya diam saja, bukankah tadi kamu ingin menayakan sesuatu"
"Kayran sudah lupa apa yang ingin ditanyakan kak"
"Apa kamu yakin lupa???"
"Iya kak, lebih baik diminum obatnya sebelum hal buruk terjadi kepada kak Sandara lagi kalau tidak meminum obatnya sekarang"
"Kamu benar juga kayran, tapi kak Sandara lupa dimana menyimpan obat itu"
"Apa kak Sandara yakin sudah membawa obatnya???"
"Kak Sandara selalu menyimpannya didalam tas jadi tidak mungkin kak Sandara tidak membawanya kayran"
"Kalau seperti itu biarkan kayran yang membantu kakak mencarinya"
"Ini tasnya, tolong dicari yang benar ya kayran"
"Iya kak"
Disaat kayran sibuk mencari obat yang dimaksud dengan cepat Sandara memasukkan sesuatu kedalam salah satu minuman yang dibawa oleh kayran.
"Apa kayran sudah menemukan obatnya???"
"Sepertinya tidak ada kak"
"Kalau begitu nanti dirumah saja kakak minum obatnya kayran"
"Apa Kakak yakin seperti itu???, bukannya tadi kak Sandara merasa kesakitan???"
"Sekarang sudah tidak terlalu sakit lagi kayran, sepertinya kamu lelah lebih baik minum dulu"
"Tapi minuman ini punya kak Sandara biarkan kayran mengambil minumannya didapur"
"Jangan, minum yang ini saja kak Sandara juga tidak akan mampu menghabiskan minuman sebanyak ini"
"Tapi tadi kak Sandara yang memintanya jadi kayran membawa minumannya sesuai permintaan kak Sandara"
"Iya memang kak Sandara yang memintanya, tapi karena obatnya tidak ditemukan jadi kakak tidak akan mampu menghabiskan minuman ini kecuali tadi kak Sandara minum obat. Jadi saja minuman ini"
"Baiklah kalau begitu kayran minum kak"
"Bagus kayran, sebentar lagi kamu akan tertidur sangat nyenyak setelah meminumnya. Ayo habiskan semua nya kayran, hahahaha" batin Sandara
"Minumannya sudah kayran habiskan kak"
"Sepertinya kamu sangat kehausan sekali ya kayran"
"Iya, cuaca hari ini sangat panas sekali kak. Jadi sering kehausan"
"Benar juga apa yang kamu katakan kayran"
"Tapi kenapa tiba-tiba kepala kayran pusing ya kak"
"Kenapa bisa seperti itu kayran???"
"Kayran juga tidak tau kak, dan sekarang gelap sekali kak. Kayran tidak bisa melihat apa-apa"
Tidak berapa lama kayran sudah tertidur dengan sangat nyenyak karena pengaruh obat yang sudah Sandara masukan kedalam minuman kayran.
"Maafkan kak Sandara, ini harus kak Sandara lakukan karena kamu terlalu ikut campur kayran. Tidurlah dengan nyenyak dan lupakanlah semua yang pernah terjadi kayran ku sayang. Supaya orang-orang tidak curiga lebih baik aku membawa kayran kekamarnya saja"
Dengan sekuat tenaga Sandara membawa kayran masuk kedalam kamarnya.
"Anak ini ternyata berat sekali, kalau begini tadi aku tidak perlu membawanya sampai kesini. Tapi kalau misalkan tiba-tiba dia tertidur di atas sofa pasti tante curiga"
Disisi lainnya, Adrika tetap tidak ingin pulang bersama mamanya sebelum mamanya meminta maaf kepada Rose. Tetapi usaha Adrika sia-sia saja.
"Adrika jangan membantah mama, ayo ikut mama pulang sekarang sebelum mama paksa kamu untuk pulang dari rumah perempuan ini"
"Ma, Adrika akan pulang bersama mama asalkan mama minta maaf dulu kepada Rose"
"Ternyata kamu ingin cara kasar rupanya, Pak Ricko seret Adrika bawa dia masuk kedalam mobil sekarang"
"Siap nyonya"
"Cepat bawa masuk sekarang Pak"
"Ayo tuan Adrika, masuk kedalam mobil sekarang"
"Lepaskan Adrika Pak Ricko, Adrika tidak mau pulang"
"Jangan seperti itu tuan Adrika, menurutlah"
"Lepaskan Adrika sekarang juga!!!!"
"Bagaimana ini nyonya???"
"Lakuin saja sesuatu untuk membuatnya terdiam Pak"
"Baiklah nyonya, akan saya lakukan sesuai perintah"
"Apa yang ingin Pak Ricko lakukan???"
"Maafkan saya tuan, saya terpaksa harus melakukannya"
"Jangan lakukan itu Pak, jangan!!!!!"
"Maafkan saya"
Pak Ricko memukul Adrika dibagian tertentu untuk membuatnya pingsan.
"Nyonya sudah saya lakukan"
"Bagus, masukkan Adrika kedalam mobil sekarang dan untuk Pak Dhaya saya maafkan kesalahan bapak hari ini"
"Tapi saya rela dipecat demi masalah ini nyonya"
"Pak Dhaya jangan bicara seperti itu, ikuti saja apa yang tante Ghania katakan. Rose tidak apa-apa Pak Dhaya"
"Tapi non..."
"Pak Dhaya kalau bapak berhenti berkerja sekarang Rose akan merasa sangat bersalah jadi sebaiknya bapak turuti saja apa yang dikatakan oleh tante Ghania"
"Maafkan bapak ya non, bapak tidak bisa membantu non Rose"
"Bantuan Pak Dhaya sudah cukup jadi Pak Dhaya tidak perlu merasa bersalah seperti itu"
"Masih mau berbasa-basi lagi Pak Dhaya, cepat ambil tas milik Adrika"
"Baik nyonya"
Disaat Pak Dhaya masuk kedalam rumah Rose untuk mengambil tas milik Adrika. Tante Ghania menghampiri Rose.
"Anak pembawa sial dengarkan aku baik-baik mulai sekarang jangan coba lagi muncul dihadapan Adrika. Kalau sampai kamu berani bertemu dengannya kamu akan tau bagaimana akibatnya"
Tante Ghania mendorong Rose hingga terjatuh. Melihat hal itu Pak Dhaya panik dan lansung membantu Rose untuk berdiri.
"Non Rose!!!, nyonya apa yang telah anda lakukan kepada Rose"
"Saya tidak melakukan apa-apa, anak pembawa sial itu jatuh sendiri. Tanyakan langsung kalau kamu tidak percaya"
"Non Rose apa yang dikatakan nyonya itu benar"
"Iya Pak, tadi Rose terpeleset dan terjatuh"
"Kamu dengar sendiri kan Pak Dhaya, sudahlah jangan terlalu pedulikan dia cepat masuk ke mobil"
"Tapi non Rose terluka nyonya"
"Biarkan saja, cepat masuk ke mobil Pak Dhaya"
"Iya Pak, apa yang dikatakan tante Ghania benar sebaiknya Pak Dhaya pulang sekarang"
"Tapi bagaimana dengan non Rose???"
"Rose baik-baik saja Pak, Pak Dhaya pulanglah sekarang"
"Maafkan Pak Dhaya ya non"
"Tidak perlu minta maaf Pak"
Dengan berat hati Pak Dhaya harus meninggalkan Rose sendirian.
"Ingat baik-baik dengan apa yang sudah saya katakan, kalau sampai kamu melanggarnya kamu akan tau bagaimana akibatnya"
"Iya tante"
"Ini uang untuk membiayai luka-luka mu itu"
Tante Ghania menghamburkan banyak uang dihadapan Rose.
"Pasti uang ini sudah cukup untuk membiayai lukamu dan juga hidupmu"
"Tapi saya tidak butuh uang ini tante Ghania"
"Jangan pura-pura munafik seperti itu dan terima saja uang sebanyak ini"
"Tapi saya tidak membutuhkannya tante"
"Apa uang itu masih kurang???, tenang akan saya tambahkan lagi"
Tante Ghania melemparakan beberapa uang lagi dihadapan Rose dan setelah itu mendorong Rose dengan kakinya hingga terjatuh. Setelah cukup puas melukai Rose, tante Ghania pergi begitu saja tanpa merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang telah diperbuatnya kepada Rose anak yang malang itu.