
Sahara berharap kalau separuh hati gantung kunci itu diberikan kepadanya tetapi dugaannya salah setengah jantungan kunci itu diberikan Adrika kepada Rose hal itu membuat sahara kesal.
"Adrika kata penjual gantungan kunci itu kamu harus memberikan setengah hati dari gantungan kunci itu untuk orang yang kamu suka"
"Baiklah, ini satu untuk mu Rose"
"Untukku???, kenapa???"
"Karena setengah hatiku sudah menjadi milikmu"
"Tapi Adrika, aku tidak bisa menerimanya"
"Ayo terima saja sebagai hadiah dariku"
"Tapi ini bukan hari ulang tahun ku Adrika"
"Terima saja sebagai hadiah persahabatan dariku"
"Tapi..."
"Terima saja, kalau kamu tidak mau menerimanya aku kecewa sama kamu Rose"
"Baiklah, sini gantungan kuncinya"
"Gitu dong, ini"
"Kenapa dia yang diberikan gantungan kunci itu bukannya aku"
"Sahara terimakasih oleh-olehnya, aku dan Rose menyukainya. Iya kan Rose"
"Iya"
"Dasar si Adrika tidak peka, seharusnya aku yang diberikan setengah hati dari gantung kunci itu bukannya Rose" batin sahara
"Sahara kamu kenapa???, sahara..sahara..."
"Iya...iya Adrika tadi kamu sedang membicarakan tentang apa"
"Apa dari tadi aku melamun sahara??"
"Hehehe, mungkin"
"Terimakasih gantungan kuncinya, kamu juga suka kan Rose"
"Iya aku suka"
"Sini aku pasangkan ditas mu"
"Jangan repot-repot aku bisa memasangnya sendiri"
"Tidak apa-apa, sekalian saja kan"
"Tapi..."
"Sini tasnya aku pasangkan gantungan kuncinya"
"Ini"
"Apa-apaan ini, Adrika jahat. kenapa harus melakukan hal romantis seperti itu didepan ku" batin sahara
"Sahara...sahara...,ya ampun lihat itu Rose dia melamun lagi"
"Biarkan saja, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu"
"Semenjak dia pergi sikapanya menjadi sangat aneh"
"Jangan bicara seperti itu kalau kamu tidak ada buktinya Adrika"
"Iya...iya...maaf, ini sudah aku pasangkan gantungan kuncinya. Dijaga dengan baik ya jangan sampai hilang, ini kan setengah hati miliki ku"
"Mulai lagi deh, iya..iya"
"Jangan sampai hilang"
"Ok"
"Sebaiknya aku kembali ketempat duduk ku saja, melihat mereka romantis seperti ini lagi membuatku semakin iri" batin sahara
"Sahara"
Tersadar dari lamunannya, karena Willy memanggil namanya.
"Iya Willy"
"Kembali kesini, sebentar lagi guru akan masuk kedalam kelas. Kamu tidak mau kan hari pertama kesekolah dimarahi oleh guru"
"Ok, aku kesana sekarang"
"Terimakasih oleh-olehnya"
"Iya Rose"
"Sering-sering ya"
"Itu maunya kamu Adrika"
"Hahaha, bercanda cantik"
"Aku kesana dulu, Willy sudah memanggilku"
"Ok"
"Pergi dulu"
"Iya"
Sahara menghampiri Willy dan tak berapa lama Pak Darwin masuk kedalam kelas.
"Apa aku bilang, sebentar lagi gurunya masuk kelas"
"Iya, terimakasih atas bantuannya Willy"
"Tentu cantik, apa pun akan aku lakukan untukmu"
"Iya"
Pak Darwin menjelaskan bahwa beberapa hari lagi sekolah akan mengadakan perkemahan. Pada murid wajib untuk mengikuti perkemahan itu.
"Selamat pagi anak-anak"
"Pagi Pak Darwin" jawab murid-murid serempak
"Sahara, kapan kamu kembali???"
"Baru hari ini Pak Darwin"
"Selamat bergabung lagi disekolah ini"
"Iya Pak"
Sahara mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan pergi menghampiri Pak Darwin untuk memberikan barang itu kepada Pak darwin.
"Sahara, ada perlu apa???"
"Saya hanya ingin memberikan ini untuk Pak Darwin"
"Apa ini???"
"Sedikit hadiah untuk Pak Darwin, semoga bapak suka"
"Sahara kamu repot-repot saja, tapi terimakasih bapak terima ini"
"Pak Darwin...Pak Darwin basa basi saja" batin Willy
"Aku setuju Willy"
"Iya ampun, ini masalah gampang Willy. Supaya ceritanya menarik harus seperti ini, jadi jangan banyak bertanya lagi dan lanjutkan saja apa kata hatimu" batin sima
"Aku akan mengatakannya tapi kamu pergi dari isi hatiku sekarang juga" batin Willy
"Iya ampun, begitu saja kamu sudah marah. Dasar pemarah" batin Sima
"Apa kamu bilang aku pemarah, enak saja kamu bicara seperti itu dasar perempuan aneh"
"Dasar pemarah"
"Pergi dari isi hatiku sekarang juga"
"Tanpa kamu suruh aku akan pergi"
"Cepat pergi"
"Iya..iya"
Pak Darwin menyimpan hadiah pemberian sahara kedalam tasnya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan lagi sahara???"
"Tidak ada Pak, saya hanya ingin mengantarkan itu saja"
"Baiklah, kalau begitu kamu bisa kembali ketempat dudukmu sahara"
"Iya Pak"
Sahara kembali ketempat duduknya dan tak lama setelah itu Pak Darwin mulai menjelaskan apa maksud kedatangannya pagi ini.
"Anak-anak sekolah kita akan mengadakan perkemahan tahun ini diharapkan kalian semua bisa hadir untuk masalah biayanya kalian langsung saja bertemu ibu tiara dia yang mengurus semuanya"
"Kemah, pasti mahal aku tidak akan punya uang untuk membayarnya. Untuk saat ini harus menghemat uang tabunganku" keluh Rose
"Rose kamu kenapa??, apa kamu tidak ikut perkemahan itu???"
"Aku belum tau Adrika, akan aku lihat dulu berapa biayanya"
"Kalau masalah itu kamu tidak perlu khawatir Rose aku akan membayarkannya untukmu"
"Jangan, aku tidak mau kamu membantuku terus menerus aku akan lihat uang tabunganku dulu"
"Kita kamu tidak mau, aku sangat kecewa Rose. Terima saja bantuanku ini"
"Tapi..."
"Jangan terlalu banyak berpikir lagi, kamu bisa menggantikan uangnya dengan minuman yang kamu bawa itu"
"Minuman yang mana???"
"Yang kamu bawa hari ini"
"Tapi aku sudah meminumnya Adrika"
"Tidak apa-apa, mana minumannya aku sangat haus sekali"
"Bagaimana kamu bisa meminumnya Pak Darwin sedang ada disini kalau kamu ketahuan bagaimana"
"Berikan saja minuman itu untukku Rose, aku benar-benar sangat haus"
"Tapi..."
"Berikan saja dulu minumannya, aku bisa mengatasinya Rose"
"Baiklah, ini"
Rose memberikan botol minumannya kepada Adrika dengan secara sembunyi-sembunyi Adrika meminumnya.
"Lihatkan Rose semuanya baik-baik saja"
"Iya..iya"
Tanpa disadari oleh Adrika, Pak Darwin mengetahui apa yang sedang Adrika lakukan saat ini.
"Adrika apa yang kamu lakukan dibawah meja seperti itu"
"Aduh gawat ketahuan, aku harus bagaimana sekarang" batin Adrika
Rose menjatuhkan pulpen miliknya supaya Adrika punya alasan kenapa dia berada dibawah meja.
"Adrika bapak tanja sekali lagi apa yang sedang kamu lakukan dibawah meja itu"
Dengan sigap Adrika mengembalikan botol minuman Rose dan setelah itu berpura-pura sedang mencari sesuatu.
"Saya hanya ingin mengambil pulpen ini Pak Darwin"
"Apa kamu berkata jujur Adrika???"
"Jadi bapak tidak percaya apa yang saya katakan, tanyakan saja kebenarannya dari Rose Pak"
"Rose apa yang dikatakan Adrika itu benar adanya"
"Benar Pak, Adrika sedang mengambil pulpen miliknya yang terjatuh dibawa meja"
"Baiklah kalau begitu Rose bapak percaya"
"Syukurlah Pak Darwin tidak curiga" batin Rose
Adrika membisikkan sesuatu ketelinga Rose.
"Terimakasih atas bantuannya Rose"
"Iya"
Pak Darwin mulai melajutkan menjelaskan tentang pelajaran hari ini.
"Baiklah anak-anak buka buku kalian halaman 22, bapak akan menjelaskan sedkiti materi dijalan itu dan setelah bapak menjelaskannya kalian harus mengerjakan soal-soal yang sudah tersedi didalam itu"
"Pak Darwin"
"Iya Adrika"
"Mengerjakan tugasnya berkelompok atau individu Pak"
"Untuk saat ini bapak ingin kalian mengerjakannya secara individu"
"Kenapa tidak berkelompok saja Pak??" Tanya Willy
"Kerjakan saja secara individu Willy,
Siapa yang nilainya tertinggi dikelas akan bapak beri hadiah"
"Hadiah!!?!, apa hadiahnya Pak" tanya Sima dengan penuh semangat
"Kalau soal hadis anak itu benar-benar semangat" batin Willy
"Kerjakan saja dulu, nanti hadiahnya akan bapak berikan kepada kalian yang memiliki nilai tertinggi dikelas"
"Aku jadi penasaran apa hadiahnya Rose"
"Kerjakan dengan sunggu-sungguh pasti nilainya akan bagus juga"
"Iya juga sih, tapi kan kamu tau aku lemah dalam pelajaran ini"
"Dicoba saja dulu, pasti kamu bisa mengerjakannya Adrika"
"Baiklah, karena kamu menyemangatiku aku akan berusaha Rose"
"Gitu dong"
Setelah Pak Darwin menjelaskan beberapa materi pelajaran, Adrika mulai serius mengerjakan soal-soal yang telah diberikan oleh Pak Darwin.