
Kayran berusaha mengingatnya tetapi tetap saja kayran tidak menemukan jawabannya. Karena putus asa kayran menayakan hal itu kepada mamanya.
"Sayang, kenapa hanya diam saja. Apa kamu melupakan pesan itu???"
"Sepertinya begitu ma, mama kan tau kayran itu orangnya mudah pelupa"
"Oh iya, kamu benar juga. Kenapa mama tidak kepikiran, maafkan mama sayang"
"Mama tidak perlu minta maaf akan hal ini, sebaiknya mama ulangi saja pesan yang mama sampaikan kepada kayran"
"Baiklah, akan mama lakukan tapi kamu harus berjanji selalu mengingat pesan itu"
"Akan kayran usahakan sebisa mungkin ma"
"Kayran"
"Apa ma???"
"Jaga dirimu baik-baik ya, maaf mama harus meninggalkanmu sendirian dirumah"
"Mama tidak perlu merasa bersalah seperti itu, kayran bisa mengajak teman kayran untuk menginap dirumah ini jadi mama tidak perlu khawatir"
"Kalau seperti itu mama lega mendengarkannya, ya sudah mama tutup teleponnya dulu"
"Tunggu dulu ma"
"Ada yang ingin kamu tanyakan lagi sayang???"
"Ternyata pelupa itu diturunkan oleh mama"
"Maksudnya???"
"Kayran itu pelupa dan mama juga seperti itu"
"Oh iya, mama baru ingat tadi kamu meminta maaf untuk mengulang pesan itu"
"Seperti itulah ma"
"Hehehe, ternyata kita berdua orangnya pelupa andai saja papa masih bersama kita pasti papa yang selalu mengingatkan kita berdua kalau sedang pelupa"
"Iya ma, kayran rindu papa"
"Mama juga sayang, andaikan kejadian itu tidak pernah terjadi pasti sekarang kita masih bersama papa"
"Ini semua sudah takdir ma, kita tidak bisa ke mencegahnya"
"Iya sayang, kamu benar juga"
"Jangan bersedih ma, ada kayran bersama mama"
"Mama tidak sedih hanya terharu saja"
"Baiklah"
"Sayang"
"Iya ma???"
"Nanti kalau bertemu kak Rose tolong berikan barang-barang yang sudah mama siapkan didapur"
"Oh, jadi namanya Rose. Nama yang sangat cantik, tapi aku tidak tau bagaimana sifatnya apa sesuai dengan yang dikatakan kak Sean" batin kayran
"Halo kayran, apa kamu masih disana"
"Iya ma, ada apa???"
"Pasti kamu sedang melamun"
"Tidak ma"
"Ya sudah, jangan lupa lagi dengan pesan yang sudah mama sampaikan tadi"
"Siap ma, kayran akan mengingatnya mama tidak perlu khawatir"
"Semoga saja"
Kayran sudah tidak sabar ini bertemu tetangga baru itu.
"Sebaiknya aku periksa dulu barang-barang yang sudah disiapkan mama untuknya"
Kayran mengakhiri panggilan teleponnya dan pergi menuju dapur.
"Dimana mama menyimpannya???, apa mungkin dikotak ini mama menyimpannya. Sebaiknya aku periksa saja"
Kayran mendekati kotak itu dan membukanya.
"Wah, ternyata barang-barangnya banyak juga. Apa dia mampu membawanya????, sebaiknya aku bantu saja. Tapi tunggu dulu kenapa aku harus membantunya membawa semua barang-barang ini, bukannya rencana awal aku harus mengusirnya dari rumah itu. Kayran kenapa kamu ceroboh sekali, ingat rencana awal mu jangan sampai semuanya kacau"
Sesampainya dirumah Sandara membanting pintu kamarnya hal itu membuat semua penghuni rumah terkejut.
"Sandara, akhirnya kamu pulang sayang. Dari mana saja kamu"
"Bukan urusan mama Sandara mau pergi kemana"
"Sandara jangan bicara seperti itu, kamu tidak sopan sekali"
"Oh ya" pergi menuju kamarnya
"Sean, kenapa Sandara bisa seperti itu???. Apa terjadi sesuatu???"
"Mama tidak tau saja bagaimana kelakuan Sandara, Sandara memang suka seperti itu kan ma jadi biarkan saja nanti juga baik lagi"
"Apa semua ini ada hubungan dengan mantan pacar Sandara???"
"Mantan pacar???, apa Sandara sudah putus dari Adrika anaknya tante Ghania???"
"Sepertinya begitu, baru beberapa hari ini sikap Sandara sangat berubah pasti ini ada kaitannya dengan Adrika"
"Mama tidak perlu khawatir akan hal itu biarkan Sean yang mencari tau semua kebenarannya"
"Tapi kamu harus berhati-hati jangan sampai Sandara tau akan hal ini"
"Mama tenang saja, serahkan semua ini kepada Sean"
"Sean maafkan mama"
"Untuk apa mama minta maaf"
"Atas kecerobohan mama waktu itu, mama menyesal sudah mengungkap semua kebenarannya sayang"
"Ma, jangan bicara seperti itu. Sean sudah mengetahui hal itu sejak lama, tapi Sean takut untuk menayakannya. Sean takut mendengar semua kebenarannya bahwa Sean bukan anak kandung dari keluarga ini"
"Apa sekarang kamu ingin mencari keberadaan kelurga aslimu???"
"Sean tidak akan melakukannya ma"
"Mereka sudah membuang Sean dan mereka juga tidak mencari keberadaan Sean jadi apakah mereka merindukan Sean"
"Tapi Sean, biar bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kandungmu sendiri. Seburuk apa pun yang telah mereka lakukan itu adalah keputusan yang sangat sulit untuk mereka juga sayang"
"Ma, Sean tidak ingin membahas masalah ini lagi. Cukup sampai disini saja Sean tidak ingin tau siapa keluarga Sean yang sebenarnya"
"Apa Sean benar-benar membenci orang tuannya???, sebaiknya aku harus mencari tau siapa keluarga dari Sean" batinnya
"Sedang memikirkan sesuatu ma"
"Tidak ada sayang, sebaiknya bersihkan dirimu dulu mama akan menyiapkan makanan untuk mu"
"Siap ma, Sean sayang mama"
"Mama juga sayang sama kamu Sean"
"Drama yang menjijikkan, aku harus menyingkirkan Sean bagaimanapun caranya. Aku tidak ingin melihat anak itu terus berada dirumah ini, lihat saja Sean aku akan mengeluarkan mu dari rumah ini secepatnya"
"Non, sedang apa berdiri disini"
"Bibi, jangan menganggu saya. Sudah sana pergi"
"Baik non"
"Dasar pengganggu"
"Cantik, sedang melihat siapa???"
"Bukan urusanmu"
"Mau kemana cantik???"
"Bukan urusanmu, pergi sana jangan menggangguku"
"Siapa yang mengganggumu, kak Sean hanya in masuk kedalam kamar tapi kamu menghalangi kakak untuk masuk"
"Kenapa kamarku harus bersebelahan dengan orang seperti dia, menyebalkan sekali. Setelah papa kembali aku akan minta papa untuk memindahkan kamarku kelantai atas saja, supaya aku tidak melihat wajahnya setiap pagi" batin Sandra
"Cantik, apa kak Sean boleh masuk sekarang"
Sandara tidak menghiraukan Sean yang sedang berbicara kepadanya dan kembali masuk kedalam kamarnya.
"Sandara pada akhirnya kamu bisa menerima semua ini dan kita kembali bahagia seperti dulu lagi"
"Sean, tunggu sebentar"
"Iya ma, ada apa???"
"Apa malam nanti kamu punya waktu???"
"Memangnya kenapa ma???"
"Malam ini kita harus pergi ke pesta keluarga Ardian"
"Sean boleh mengajak seseorang"
"Kamu mau mengajak siapa???"
"Orang yang sudah menolong Sean waktu itu"
"Apa kamu sudah menemukan orangnya??"
"Sudah ma"
"Kalau seperti itu ajak saja dia untuk bergabung"
"Akan Sean hubungi dulu ma, terimakasih sudah mengizinkannya untuk pergi bersama kita malam ini"
"Mama hanya ingin berterimakasih kepadanya karena sudah menolongmu"
"Bagaimana Sandara???, apakah Sandara ingin pergi juga ma"
"Akan mama tanyakan dulu sayang, oh iya makannya sudah siap. Selesai membersihkan diri segeralah ke ruang makan"
"Baik ma, kalau begitu Sean masuk ke kamar dulu"
Sean tampak senang karena orang tuanya mengizinkannya untuk membawa Rose pergi ke pesta itu.
"Sebaiknya aku telepon Rose sekarang, semoga saja dia mau pergi bersamaku malam ini"
"Sandara, buka pintunya sekarang"
"Mau apa lagi ma, Sandara sedang sibuk sekarang"
"Mama harus bicara sebentar denganmu sayang"
"Bicara apa lagi ma???, Sandara benar-benar sibuk saat ini"
"Sayang buka dulu pintunya"
"Baiklah"
Dengan terpaksa Sandara membuka pintu kamarnya. Entah apa yang ingin dibicarakan padanya saat ini.
"Silahkan masuk ma"
"Iya sayang"
"Apa yang ingin mama bicarakan???"
"Nanti malam mama akan pergi bersama kak Sean ke pesta keluarga Adrian, apa kamu ingin ikut bersama kami berdua"
"Sandara akan pergi asalkan Sean tidak ikut"
"Sayang, Adrian itu teman satu kampus kakakmu jadi tidak mungkin mama meninggalkan kak Sean dirumah. Kak Sean juga mengajak seseorang bersamanya"
"Mengajak seseorang???, siapa dia ma???"
"Kalau tidak salah orang itu pernah menolong kak Sean"
"Tidak salah lagi pasti dia"
"Apa kamu mengenalnya sayang???"
"Sandara tidak mengenalnya ma"
"Apa kamu akan ikut???"
"Baiklah, Sandara juga akan ikut bersama mama tapi ingat satu hal mobilnya harus terpisah"
"Siap"
Sandara akhirnya menerima ajakan orang tuannya untuk pergi ke pesta itu.