
Sandara terus saja mengikuti mobil Adrika untuk mengetahui sebenarnya mereka akan pergi kemana saat ini.
"Pak terus ikuti mobil itu jangan sampai kita kehilangan jejak"
"Baik non"
"Lihat saja Rose, apa yang akan aku lakukan kali ini akan membuatmu semakin menderita"
Ponsel Sandara berdering, hal itu membuat Sandara tidak fokus untuk memperhatikan mobil Adrika yang berada tidak jauh dari mobilnya berada.
"Siapa lagi yang menganggu ku???"
Sandara melihat siapa orang yang sedang menganggunya.
"Halo"
"Sayang kamu dimana???"
"Masih dijalan ma, memangnya kenapa???"
"Cepat pulang ada yang ingin bertemu denganmu"
"Jalanan lagi macet ma, jadi Sandara tidak tau kapan akan sampai"
"Usahakan sebisa mungkin sayang, tamu kali ini sangat penting"
"Memangnya siapa tamu itu ma, apa orang itu sangat penting sampai-sampai mama meminta Sandara untuk segera pulang"
"Nanti juga kamu akan tau siapa orangnya, berikan ponselmu kepada supir kita"
"Untuk apa ma???"
"Berikan saja ponselnya sekarang dan jangan banyak bertanya "
"Iya ma"
Sandara memberikan ponsel miliknya kepada Pak Wito.
"Ini Pak, mama saya mau bicara sama Pak Wito"
"Baik non"
"Ingat ya Pak, jangan bicara yang macam-macam. Bilang saja kalau jalanannya lagi macet dan sulit untuk pulang"
"Baik non"
"Halo Pak Wito"
"Iya nyonya, ada apa???"
"Pak Wito sekarang ada dimana???"
"Masih dijalan nyonya"
"Apa jalanannya benar-benar macet Pak???"
"Iya nyonya, terjadi kecelakaan makanya jalannya jadi macet"
"Bagus Pak, akting yang sangat luar biasa saya suka"
"Iya non"
"Pak Wito berikan ponselnya kepada Sandara"
"Baik nyonya"
"Ada apa Pak???"
"Nyonya mau berbicara dengan non"
"Halo ma, ada apa???"
"Pulangnya jangan sampai terlambat ya sayang, kasihan tamunya menunggu lama"
"Suruh pulang saja dulu, besok baru kembali lagi ma. Sandara tidak tau kapan akan sampai dirumah"
"Tidak bisa sayang, besok tamunya sudah mau pulang. Jadi sebisa mungkin kamu harus segera pulang"
"Apa sepenting itu tamunya ma???"
"Jangan banyak bertanya lagi, segera pulang saja. Mama tunggu dirumah"
"Sandara baru ingat kalau hari ini ada belajar kelompok dirumah teman jadi pulangnya sepertinya malam ma"
"Batalkan saja sayang"
"Tidak bisa ma, belajar kelompok kali ini sangat penting ada tugas yang harus Sandara kerjakan"
"Mama akan bicara dengan wali kelasmu untuk memberimu izin untuk tidak mengerjakan tugas itu"
"Jangan ma, kali ini Sandara mau menjadi anak yang mandiri. Sandara tau mama adalah salah satu donatur terbesar disekolah jadi biarkan Sandara diperlakukan sama seperti murid lainnya ma, boleh ya ma ini juga untuk perbaikan nilai Sandara yang kurang bagus waktu itu ma"
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan mama tidak bisa menolaknya, ya sudah sampai bertemu malam nanti"
"Iya ma"
"Ya sudah mama tutup dulu teleponnya"
"Iya ma"
Sandara tampak lega karena orang tuanya percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.
"Bagaimana Pak???, apa bapak masih mengikuti mobil itu"
"Tentu non, sepertinya ini mengarah kerumah tante non"
"Maksudnya Pak Wito"
"Orang tuanya tuan kayran"
"Tante Tita"
"Iya non"
"Apa Pak Wito yakin, ini jalan kerumahnya???"
"Yakin non"
"Apa jangan-jangan rumah yang disamping tante Tita Rose yang membelinya. Aku harus mencari tau kebenarannya" batin Sandara
"Non Sandara"
"Apa kita harus mencari tempat yang aman untuk bersembunyi???"
"Tidak perlu Pak, ikuti saja mobil itu"
"Baik non"
"Sebaiknya aku telepon kayran"
Disisi lain kayran tampak serius memperhatikan rumah penguni baru dari kejauhan untuk mengetahui siapa sebenarnya mereka, tanpa menyadari bahwa ponsel miliknya terus saja berdering.
"Ayo kay, angkat teleponnya"
"Kemana orang itu, kenapa belum kembali juga. Apa dia sudah kabur???, tapi tidak mungkin. Ya ampun kayran kenapa kamu jadi memikirkan penghuni baru itu. Ayo sadar kayran"
"Sial, kenapa anak itu tidak mengangkat teleponnya. Sebaiknya aku menelepon nya sekali lagi semoga saja diangkat"
Kayran baru menyadari bahwa ponselnya berdering.
"Halo kak Sandara, Ada apa??"
"Kamu dimana sekarang???"
"Dirumah kak, memang kenapa???"
"Kakak segera kesana sekarang"
"Tapi kak, mama tidak ada..."
Belum sempat kayran memberitahu Sandara sudah mengakhiri panggilannya.
"Ya ampun kak Sandara selalu seperti itu barus saja kayran mau kasih tau kalau mama tidak ada dirumah malah dimatikan teleponnya"
"Yes, kayran ada dirumah jadi aku bisa mengawasi Rose dan Adrika dari sana. Ini memang hari keberuntungan mu Sandara, hahaha" batin Sandara
"Kita sudah hampir sampai non, mau langsung kerumah nyonya Tita"
"Tidak usah Pak, turunkan Sandara disini saja Pak Wito bisa pergi dulu sebentar"
"Saya harus kemana non??, kalau nyonya sampai tau bagaimana???. Pasti Pak Wito akan dipecat non"
"Pak Wito tidak perlu khawatir, ikuti saja apa yang saya perintahkan. Ini untuk Pak Wito"
"Uang ini untuk apa non"
"Ambil saja untuk Pak Wito"
"Tapi non"
"Jangan banyak membantah, ambil saja uangnya dan pergi dulu kemana Pak Wito mau. Kalau urusan saya sudah selesai nanti Pak Wito saya hubungi"
"Ini non"
"Kenapa dikembalikan uangnya Pak Wito???"
"Maaf non bukannya saya lancang menolak uang pemberian non, tapi saya tidak bisa menerimanya non"
"Kenapa??, pasti bapak sedang membutuhkannya jadi terima saja. Bukannya anak bapak sedang sakit dikampung jadi uang ini bisa bapak gunakan untuk membeli obat untuk anak bapak, ayo terima saja. Ini bukan uang tutup mulut Pak jadi bapak tidak perlu khwatir, jadi terima saja uang ini Pak Wito dan jangan berpikiran yang aneh-aneh tentang uang yang saya berikan kepada Pak Wito. Saya memberikannya dengan ikhlas Pak jadi tolong diterima ya"
"Tapi non, Pak Wito jadi tidak enak selalu merepotkan non Sandara"
"Jangan bicara seperti itu Pak, yang selalu merepotkan itu justru Sandara jadi Pak Wito jangan merasa kalau bapak selalu menyusahkan"
"Baiklah non, kalau begitu Pak Wito terima uangnya. Terimakasih ya non Sandara"
"Coba dari tadi, buang-buang waktu saja harus bersikap sebaik ini. Sabar Sandara semuanya perlu perjuangan jadi jalani saja" batin Sandara
"Kalau begitu Pak Wito jemput tuan Sean dulu dikampusnya"
"Iya Pak"
"Permisi non"
"Iya, hati-hati dijalan"
"Baik non, Pak Wito pergi dulu. Kalau urusannya sudah selesai hubungi Pak Wito ya non"
"Siap Pak"
"Kalau begitu Pak Wito pergi dulu"
"Iya Pak, saya juga harus kerumah tante saya"
"Baik non"
Setelah kepergian Pak Wito, Sandara pergi ketoko kue yang tidak begitu jauh dari rumah tantenya berada untuk membeli beberapa kue kesukaan tante Tita dan kayran supaya mereka tidak curiga kalau dirinya datang kerumah mereka hari ini.
"Sebaiknya aku belikan beberapa kue kesukaan tante Tita dan kayran dulu, supaya ada alasan kenapa harus kerumah mereka hari ini. Idemu memang hebat Sandara, pasti kali ini berjalan sesuai apa yang kamu inginkan"
Disini lain mobil yang ditumpangi mengalami sedikit kendala, hal itu membuat mereka harus berhenti sejenak.
"Kenapa Pak???"
"Sepertinya ada sedikit kendala tuan, mesinnya tiba-tiba saja mati"
"Baiklah, kalau begitu diperiksa dulu Pak saya dan Rose akan pergi sebentar"
"Kita mau keman Adrika???"
"Beli bakso, tuh ada tukang bakso perutku sangat lapar. Ayo Rose"
"Itu makanan dipinggiran jalan, bukannya mama mu pernah bilang kalau kamu akan sakit perut kalau memakan makanan dipinggiran jalan"
"Kamu pernah bertemu mamaku Rose"
"Tidak...tidak, lupakan saja apa yang telah aku katakan Adrika"
"Sepertinya Rose menyembunyikan sesuatu dariku. Apa dia pernah ketumahku dan bertemu mama??. Aku harus mencari tau kebenarannya" batin Adrika
"Adrika"
"Iya Rose, kenapa???"
"Sebaiknya kita menunggu didalam mobil saja"
"Ayo"
Adrika menarik tangan Rose dan mengajaknya untuk keluar sejenak sebelum mobilnya selesai diperbaiki.