
Adrika masih sangat kesal atas apa yang pernah dilakukan Asiltha kepada Rose karena gosip murahannya itu.
"Rose kenapa kamu diam saja tadi saat Asiltha ingin mengatakan hal buruk tentang mu"
"Bukannya aku diam Adrika, hanya saja aku tidak ingin memperpanjang masalah ini"
"Tapi orang seperti Asiltha itu harus mendapat balasannya Rose"
"Membalas perbuatan buruknya sama saja kita seperti dia Adrika"
"Maksudmu???"
"Apa pun yang dia lakukan terhadapku selagi aku tidak merasa seperti itu untuk apa aku harus buang-buang waktu untuk ikut campur, kalau aku ikut campur sama saja aku mengiyakan apa yang dikatakan olehnya Adrika"
"Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran ya. Tapi Rose apa yang dia katakan tentang kamu itu sungguh sangat keterlaluan"
"Biarkan saja, nanti juga dia capek sendiri"
"Kamu itu Rose manusia yang terlalu baik menurutku"
"Baik bagaimana maksudnya????"
"Apa pun yang dilakukan orang lain kepadamu walau pun itu sungguh sangat menyakitkan tetapi kamu tetap saja bersikap baik kepada mereka, kalau aku jadi kamu pasti aku tidak akan bisa melakukannya"
"Kenapa kamu tidak bisa Adrika ???"
"Melihat wajahnya saja aku sudah sangat kesal jadi mustahil kalau setiap bertemu aku bisa bersikap baik kepadanya"
"Dasar si pemarah"
"Kok pemarah sih"
"Terus apa dong kalau bukan si pemarah"
"Seharusnya itu si tampan yang baik hati bukanya si pemarah"
"Memangnya kamu tampan???"
"Kamu tidak percaya kalau aku ini memang benar-benar tampan"
"Apa buktinya kalau kamu itu memang tampan???"
"Dari tadi kamu terus saja memandangi wajahku, itu berarti kalau pesonaku itu sangat tampan kan"
"Hahahah"
"Kok tertawa sih, aku kan bicara yang sebenarnya Rose"
"Iya deh, terserah kamu saja"
"Kok gitu, Rose jahat"
"Tuh kan marah lagi, jadi apa yang dikatakan Rose benar kalau Adrika itu pemarah orangnya"
"Terserah, aku tidak peduli"
"Jadi marah nie ceritanya"
"Tidak kok"
"Kalau kamu masih marah, aku pergi sendirian saja ke kelas"
"Jangan dong"
"Kenapa???"
"Aku juga akan ikut bersamamu kita kan satu kelas"
"Jadi kamu tidak marah lagi ceritanya" goda Rose
"Untuk apa aku marah karena hal seperti itu Rose. Akhir-akhir ini kamu terlalu banyak seriusnya dari pada bercanda. Apa terjadi sesuatu kepadamu Rose???"
"Aku baik-baik saja Adrika, hanya saja akhir -akhir ini aku sibuk"
"Sibuk????, Kamu sibuk apa sekarang Rose???. Kalau terjadi sesuatu cerita sama aku"
"Akan aku ceritakan semua, tapi tidak sekarang Adrika
"Kalau begitu sepulang sekolah aku kerumah kamu ya, ada beberapa pelajaran yang tidak aku pahami"
"Jangan kesana"
"Kenapa???"
"Aku sudah tidak tinggal dirumah itu lagi"
"Kenapa???, apa kamu diusir dari rumah itu"
"Apa kamu mulai mempercayai apa yang dikatakan oleh Asiltha???"
"Bukannya begitu, aku hanya terlalu kahwatir saja denganmu Rose. Bagaimana kalau yang dikatakan si tukang gosip itu benar"
"Jadi kamu lebih percaya perkataan Asiltha dibandingkan aku"
"Tentu saja aku lebih percaya denganmu Rose, jadi apa yang sebenarnya terjadi kepadamu saat ini dan kenapa sekarang kamu tidak tinggal dirumah itu lagi"
"Kamu itu sudah seperti reporter saja Adrika, hahahaha"
"Jangan bercanda Rose, aku ingin mendengarkan kebenarannya"
"Iya...iya aku paham maksudmu Adrika tapi aku tidak bisa menjelaskannya sekarang"
"Kenapa tidak bisa Rose???, aku benar-benar sangat penasaran ingin mengetahui kebenarannya"
"Nanti akan aku ceritakan semuanya"
"Kenapa harus nanti Rose??"
"Kalau aku cerita sekarang akan ada orang yang salah menganggapinya Adrika"
"benar juga apa yang kamu katakan Rose, apalagi kalau si ratu tukang gosip tau tentang ini pasti akan ada saja kejadian yang tidak diinginkan"
"Maka dari itu aku tidak bisa menceritakannya sekarang"
"Kalau aku pulang bersamamu, bagaimana dengan sepedaku Adrika"
"Itu soal gampang, aku akan memasukannya kedalam mobilku jadi kamu tidak perlu khawatir lagi"
"Tapi"
"Jangan banyak bicara lagi, pokoknya kamu harus pulang bersamaku. Aku kan tidak tau dimana rumahmu yang sekarang"
"Tapi kan kamu bisa memghubungi nomor ponselku"
"Aku memang punya nomor Ponselmu tetapi kamu kan tidak memiliki nomor ponselku lagi. Kalau aku menelponmu pasti kamu tidak akan mengangkatnya karena itu nomor baru. Aku tau kamu tidak akan mengangkat nomor asing"
"Wah..wah kamu lebih mengenal ku ya Adrika"
"Tentu, karena kamu adalah orang yang sangat berarti untukku"
"Mulai deh dramanya"
"Aku serius Rose, hanya saja kamu belum bisa membuka hatimu untukku"
"Kamu selalu saja begitu, tapi terimakasih sudah peduli kepadaku selama ini. Aku beruntung bisa mengenalmu Adrika" sambil mencubit pipi Adrika"
"Rose!??!, kenapa kau malah mencubit pipiku"
"Apa aku tidak belah melakukannya???"
"Bukannya begitu Rose, hanya saja apa yang kamu lakukan kepadaku sekarang membuatku lebih menyukaimu"
"Adrika...adrika..."
"Tapi walaupun aku belum bisa mendapatkan hatimu, berteman denganmu saja aku sudah cukup bahagia"
"Terimakasih Adrika"
"Kenapa kamu berterima kasih Rose???"
"Karena kejujuran mu itu, tapi maafkan aku belum bisa membalas perasaanmu Adrika, untuk saat ini aku hanya ingin kita seperti ini saja"
"Iya tidak apa-apa Rose, jangan terlalu terbebani dengan perasaanku. Cukup bisa melihatmu setiap hari itu saja sudah membuatkan bahagia"
"Terimakasih teman terbaikku"
"Sama-sama, ayo kita pergi sekarang"
"Ok"
Adrika menekuk tangan kanannya agar Rose bisa menggandengnya. Mau tidak mau Rose mengikuti apa yang diinginkan oleh temannya itu. Tetapi Rose tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu hanya membuatnya semakin menderita karena dari kejauhan Sandara melihat keakraban mereka berdua dan Sandara sangat membenci hal itu.
"ini hanya sedikit kebahagiaan yang kamu miliki Rose, nikmati saja dulu selagi kamu bisa. Karena beberapa hari kemudian kebahagiaan itu akan berubah menjadi sebuah kesedihan untukmu Rose"
"Apa kamu ingin meminta bantuaku???" Tanya Asiltha
"Akan aku memberitahukan mu jika aku perlu bantuan mu Asiltha, tapi untuk saat ini aku bisa mengatasi ini semua. Kamu lihat saja apa yang aku lakukan kepada Rose"
"Baiklah Sandara, kita itu yang kamu inginkan"
"Terimakasih Asiltha, karena informasi yang kamu berikan membuatku tau bagaimana sifat Rose yang sesungguhnya"
"Tidak masalah Sandara, selagi aku bisa membantumu kenapa tidak"
"Kalau kamu mempunyai informasi tentang Rose, cepat beritahukan aku Asiltha"
"Siap, akan aku lakukan apa pun yang kamu inginkan"
"Ini untukmu" mengeluarkan amplop putih dari kantong bajunya"
"Apa ini Sandara??? Tanya Asiltha
"Buka saja dulu, ini hadiah terimakasihku karena informasi yang telah kamu berikan Asiltha"
"Baiklah"
Asiltha tampak terkejut saat membuka isi amplop yang sekarang dipegangnya saat ini.
"Uang????, uang ini untuk apa Sandara????"
"Sebagai tanda terimakasihku atas informasi bagus yang kamu berikan Asiltha"
"Tapi aku tidak membutuhkan uang ini"
"Ambil saja Asiltha, apa uangnya kurang untukmu"
"Bukan begitu Sandara, hanya saja uang ini terlalu banyak untukku"
"Ini hanya jumlah kecil yang aku berikan untukmu, kalau kamu bisa memberikan informasi yang lebih banyak lagi akan aku tambahkan uang yang banyak lagi untukmu"
"Aku merasa tidak enak kalau aku mengambil uang ini Sandara"
"Terima saja, jangan sungkan. Ini hadiah untukmu ambillah Asiltha sebelum orang lain melihatnya akan ada salah paham"
"Baiklah jika kamu memaksa, akan aku terima uang ini"
"Gitu dong, kalau informasi mu lebih bagus dari ini hadiahnya akan lebih berbeda lagi"
"Kalau seperti ini aku tidak sia-sia membantu Sandara, sangat menguntungkan sekali. Hahahaha" berbicara didalam hati
"Asiltha...Asiltha"
"Iya...iya Sandara, ada apa???"
"Kamu tadi melamun ya"
"Tidak"
""Terus kenapa kamu tiba-tiba diam???"
"Aku tidak apa-apa, ayo kita pergi saja dan terimakasih hadiahnya"
"Sama-sama"
Asiltha memdapat keuntungan dari apa yang dilakukannya.