L.O.V.E

L.O.V.E
Eps. 21 - Lebih hati-hati



Rose hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Adrika. Sebisa mungkin Rose harus berbicara lebih hati-hati lagi supaya Adrika tidak curiga kalau dirinya pernah membawa makanan kerumahnya tetapi orangtuanya menolak makan itu lalu mengusirnya begitu saja.


"Rose, kenapa kamu melamun terus???. Apa ada masalah yang sedang kamu alami???"


"Tidak Adrika, aku tidak melamun kok. Kamu salah lihat barang kali"


"Mungkin, ayo sini kita makan dulu sebelum kerumahmu"


"Tapi"


"Tapi apa lagi, aku tidak akan sakit perut hanya karena makan bakso dipinggiran jalan seperti ini. Jadi kamu tidak perlu khawatir kalau orang tuaku akan marah"


"Apa Adrika mulai curiga dengan apa yang aku katakan tadi. Sebaiknya aku lebih berhati-hati berbicara mulai sekarang supaya Adrika tidak curiga kalau aku pernah kerumahnya"


"Rose, tuh kan melamun lagi kapan kita pesan makanannya kalau kamu dari tadi melamun terus. Kalau ada malasah itu cerita sama aku Rose, jangan dipendam sendirian"


"Aku tidak punya masalah apa-apa Adrika, jadi jangan terlalu khawatir begitu"


"Gimana aku tidak khawatir Rose, beberapa hari ini aku lihat kamu sering saja melamun. Kamu kan sudah janji akan cerita apa pun masalah yang sedang kamu hadapi begitu juga denganku kan. Itu sudah menjadi janji kita berdua kan Rose"


"Iya aku tau itu Adrika, hanya saja kai ini aku tidak punya masalah apa-apa"


"Apa kamu berkata dengan jujur Rose???"


"Tentu, apa kamu tidak percaya lagi dengan sahabatmu ini"


"Iya...iya aku percaya cantik" sambil mencubit pipi Rose"


"Kok dicubit"


"Habis gemesin sih, hahahah"


"Adrika"


"Iya maaf cantik, ayo dipesan sekarang aku sudah sangat lapar"


"Dasar tukang makan"


"Tapi kamu suka kan, hahaha"


Rose tidak menjawab lagi dan langsung pergi memesan makan dan minuman yang akan mereka makan. Sandara tampak tekejut melihat keberadaan Adrika dan Rose yang tidak begitu jauh dari dirinya berada saat ini.


"Apa!?!!, mereka ada disini. Aku harus pergi dengan berhati-hati supaya mereka tidak mengetahui kalau aku sedang berada disekitar mereka"


"Rose bagaimana baksonya???"


"Maksudnya????"


"Aku bertanya bagaimana baksonya, enak atau tidak"


"Ini enak, setelah aku pindah disekitar sini aku sering mampir untuk makan bakso disini dan rasanya sama seperti yang pernah mamaku buatkan untukku"


"Maafkan aku Rose"


"Kenapa kamu harus minta maaf Adrika???"


"Gara-gara aku bertanya seperti itu kamu jadi mengingat orang tuamu. Maafkan aku ya Rose"


"Kamu tidak perlu minta maa Adrika, kalau aku merindukan masakan mamaku aku akan pergi kesini. Jadi jangan merasa bahwa apa yang kamu katakan tadi menyakiti hatiku. Sekarang aku sudah mulai menerima kalau kedua orang tuaku tidak bersama ku saat ini. Tapi...."


"Tapi apa Rose"


"Walaupun mereka tidak bersamaku lagi dan aku tidak bisa melihat mereka lagi tetapi kedua orang tua akan selalu berada didalam dihati ku jadi kenapa aku harus sedih. Tetap saja mereka selalu bersamaku kan Adrika"


"Iya Rose, benar apa yang kamu katakan"


"Kamu menangis ya Adrika"


"Tidak, aku terlalu banyak memasukan cabe kedalam bakso ku jadi kepedasan"


"Ini diminum dulu biar pedasnya cepat hilang"


"Iya Rose"


Rose tau bahwa Adrika peduli denganya. Rose bersyukur punya sahabat seperti Adrika yang bisa menerimanya dengan baik.


"Terimakasih Adrika"


"Terimakasih untuk apa???"


"Selalu bersamaku sampai saat ini"


"Kamu jangan khawatir Rose, sampai kapan pun kita akan selalu bersama seperti ini jadi jangan pernah pergi jauh dariku lagi tanpa memberitahu"


"Iya...iya, ayo dimakan lagi baksonya. Keburu dingin lagi"


"Siap"


Pak Dhaya menghampiri Adrika dan Rose yang sedang menikmati makanan yang telah dipesan.


"Permisi tuan, maaf kalau Pak Dhaya mengganggu. Mobilnya sudah diperbaiki"


"Iya Pak, nanti kita lanjutkan perjalanannya. Bapak duduk disini dulu makan bakso bersama kami"


"Pak Dhaya sudah kenyang tuan"


"Jangan menolak seperti itu Pak Dhaya, ayo duduk dulu kita makan"


"Iya Pak, apa yang dikatakan Adrika ada benarnya. Pak Dhaya duduk disini saja dulu sambil makan bakso, pasti Pak Dhaya lelah kan panas-panaskan tadi"


"Rose pesankan dulu ya Pak"


"Baik non, maaf kalau Pak Dhaya merepotkan non Rose"


"Tidak merepotkan Pak, kalau begitu Rose pesan dulu makanan dan minumannya"


"Iya non"


Rose berlalu pergi meninggalkan Pak Dhaya dan Adrika.


"Tuan Adrika"


"Apa Pak???"


"Non Rose sudah cantik baik hati pula, kenapa tuan tidak pacaran saja dengan non Rose. Maaf kalau apa yang Pak Dhaya katakan membuat tuan Adrika marah"


"Saya tidak akan marah pak, sebenarnya itu yang sangat saya inginkan hanya saja.."


"Memangnya non Rose tidak menyukai tuan???"


"Bukanya tidak suka, hanya belum bisa membuka hatinya saja"


"Apa non Rose menyukai orang lain???"


"Sepertinya begitu Pak"


"Yang sabar tuan, kalau berjodoh tidak akan pergi kemana-mana"


"Iya benar juga Pak"


Keduanya tidak menyadari bahwa Rose sudah berada dihadapan mereka.


"Lagi membicarakan tentang apa???, boleh dong Rose ikut"


"Rose"


"Non Rose, bukan apa-apa non"


"Kenapa Pak Dhaya gugup seperti itu???, apa yang dikatakan Rose membuat Pak Dhaya ketakutan???"


"Tidak non"


"Sejak kapan kamu ada disini Rose"


"Baru saja, habis dari jauh Rose melihat Pak Dhaya sedang serius membicarakan sesuatu. Makanya Rose cepat-cepat kesini"


"Hanya membicarakan soal mobil bukan hal lain kok, iya kan Pak Dhaya"


"Iya tuan, Pak Dhaya dan tuan Adrika cuma membahas soal kerusakan mobil non"


"Hahaha"


"Kenapa kamu tertawa Rose???"


"Ekspresi wajah Pak Dhaya dan kamu itu lucu yang tadi itu Rose hanya bercanda. Untuk apa Rose harus ikut campur tentang urusan mu dan Pak Dhaya. Maaf ya Pak Dhaya yang tadi itu Rose cuma bercanda"


"Iya non, tidak apa-apa. Pak Dhaya mengerti"


"Maaf ya Pak, ini pesanannya. Silahkan dinikmati Pak"


"Terimakasih non"


Rose kembali duduk disamping Adrika, diam-diam Pak Dhaya membisikkan sesuatu ditelinga Adrika. Rose pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Pak Dhaya.


"Tuan kesiji sebentar, ada yang ingin Pak Dhaya bicarakan"


"Mau bicara apa Pak???, kenapa harus bisik-bisik seperti ini kalau Rose tau bagaimana"


"Non Rose tidak akan tau tuan, lihat saja non Rose sedang menikmati makanannya jadi tidak mungkin dia akan mendengar apa yang sedang kita bicarakan. Tuan Adrika tenang saja"


"Sebenarnya apa yang ini Pak Dhaya bicarakan"


Pak Dhaya mulai membisikkan sesuatu ketelinga Adrika.


"Tuan dengar baik-baik ya apa yang akan Pak Dhaya katakan saat ini"


"Iya Pak"


"Kalau tuan perlu bantuan Pak Dhaya untuk menaklukkan hati non Rose, Pak Dhaya siap membantu tuan jadi bicara saja ya tuan"


"Siap Pak"


"Tuan Adrika sangat cocok dengan non Rose, jadi jangan menyerah untuk menaklukkan hatinya tuan"


"Pasti Pak, Adrika akan terus berjuang untuk mendapatkan hatinya Rose"


"Semangat tuan, Pak Dhaya akan selalu mendukung tuan"


"Semangat"


"Adrika kamu kenapa????"


"Tidak apa-apa Rose, lanjutkan saja makannya"


Pak Dhaya hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu majikannya itu. Karena hal itu semua orang melihat kearah Adrika berada, hal itu membuat Adrika malu dengan apa yang telah dilakukan olehnya.