
Sean menghubungi Rose untuk mengajaknya pergi ke pesta malam ini.
"Semoga saja Rose mau ikut denganku kepesta itu"
"Apa kayran baik-baik saja???, setelah membereskan ini aku akan segera menemuinya"
Ponsel Rose berdering, Rose mengambil ponsel miliknya yang berada diatas meja.
"Siapa yang menelepon, apa mungkin Adrika. Tapi ini nomor baru aku angkat atau tidak ya, bagaimana kalau orang jahat yang menelepon. Sebaiknya Rose abaikan saja"
"Kok tidak diangkat, apa benar ini nomor ponsel Rose. Sebaiknya aku kirim pesan saja, siapa tau Rose mau mengangkat telepon dariku"
"Permisi den Sean, pakaiannya sudah siap mau bibi simpan dimana ya"
"Letakkan diatas tempat tidur saja bik, nanti Sean pakai. Maaf merepotkan bibi"
"Tidak merepotkan sama sekali den Sean, kalau ada perlu apa-apa panggil saja bik Ipah ya den"
"Iya bik"
"Den Sean"
"Iya bik Ipah"
"Sepertinya den Sean sedang menghubungi seseorang apa mungkin itu pacarnya den Sean ya"
"Tidak bik, hanya teman saja"
"Teman tapi bisa lebih dari teman den"
"Ah bibi, ada-ada saja"
"Apa pacar den Sean mau dibawa kesini den???"
"Bik Ipah, Rose bukan pacarnya Sean tapi temannya Sean bik"
"Namanya Rose yang den, pasti orangnya sangat cantik"
"Tentu saja bik, tanpa polesan saja Rose tampak sangat cantik"
"Tuh kan, benar dugaan bibi pasti non Rose pacarnya den Sean buktinya saja den Sean memuji non Rose"
"Bibi bukan seperti itu"
"Den Sean tidak perlu malu-malu seperti itu kalau den Sean menyukainya bibi sih setuju-setuju saja karena baru kali ini bibi melihat kebahagiaan dari wajah den Sean"
"Bibi, bukan seperti itu"
"Semuanya sudah terlihat jelas kalau den Sean sedang bahagia saat ini, bibi juga akan bahagia dengan apa yang den Sean rasakan saat ini. Semoga saja non Rose bisa membuat hari-hari den Sean lebih berwarna lagi"
"Bik Ipah, bukan seperti itu. Bibi salah paham Sean dan Rose tidak punya hubungan apa-apa bik, percayalah"
"Untuk saat ini belum, tapi kita tidak akan pernah tau bagaimana nantinya. Tapi bibi berharap den Sean selalu bahagia dengan pilihan den Sean"
Sandara tampak kesal karena bik Ipah belum keluar dari kamar Sean.
"Apa saja yang dilakukan bik Ipah selama ini dikamar anak pungut itu"
"Sayang, kenapa belum siap juga???. Sebentar lagi kita akan pergi"
"Sandara tidak pergi ma, Sandara masih banyak kesibukan"
"Jangan seperti itu sayang, ini pesta yang sangat penting jadi kamu harus ikut. Sean juga mengajak seseorang jadi kamu harus pergi karena keluarga tante Ghania juga hadir dalam pentas itu"
"Mengajak seseorang???, apa mungkin itu Rose???. Kalau benar itu Rose aku bisa mempermalukan dia didepan semua orang pasti menyenangkan. Tapi tunggu dulu kenapa aku harus repot-repot melakukannya bukanya tante Ghania juga hadir dipesta itu ini pasti tontonan yang mengasyikkan perlu diabaikan" batin Sandara
"Sandara, apa kamu berubah pikiran dan ikut bersama mama dan kak Sean. Papa sedang sibuk dengan pekerjaannya saat ini karena itu kita harus menggantikan papa untuk menghadiri pesta itu"
"Sandara ikut ma, tapi jangan satu mobil dengan Sean. Sandara tidak mau"
"Sayang, jangan seperti itu. Bersikaplah seperti dulu. Kak Sean sangat menyayangimu walaupun kamu bukan adik kandungnya jadi berbaikanlah dan lupakan masalah ini"
"Tidak akan, sampai kapanpun Sandara membencinya"
"Sayang, untuk kali ini tolong dengarkan apa yang mama katakan ini untuk kebaikan kita"
"Mama, tolong mengerti keputusan Sandara dan jangan memaksa Sandara untuk melakukannya"
"Baiklah, mama tidak akan memaksamu untuk melakukannya tapi untuk kali ini saja tolong bersikap baiklah kepada kakakmu. Mama tidak mau dipesta itu kamu melakukan kesalahan"
"Tenang saja, Sandra bisa berakting dengan sangat baik"
"Cepat bersiap-siap sebentar lagi kita akan pergi ke pesta"
"Bik Ipah cepat kesini kenapa lama sekali, apa yang bibi lakukan dikamarnya"
"Sandara, jangan berteriak seperti itu tidak sopan sayang"
"Sebaiknya mama keluar dari kamar Sandara kalau mama hanya ingin mengatakan hal-hal yang tidak penting. Tolong mama keluar saja"
"Mama mengatakan sesuatu"
"Tidak ada"
"Ya sudah, silahkan keluar dari khamara Sandara"
"Den Sean, sepertinya non Sandara memanggil bik Ipah kalau begitu bibi pergi dulu den"
"Iya bik, maafkan atas sikap Sandara yang tidak sopan ya bik"
"Bibi sudah memakluminya den Sean, kalau begitu bik Ipah kekamar non Sandara dulu"
"Iya bik"
"Kalau perlu sesuatu den Sean bisa memanggil bibi"
"Baik bik"
"Bibi!!!!, tuli ya. Cepat kesini Sandara harus bersiap-siap sekarang"
"Iya non, bibi kesana sekarang"
"Dasar lambat"
"Bibi pergi dulu den Sean, sepertinya non Sandara sudah sangat marah sekarang"
"Maafkan kelakuan adik sayang bik, Sandara tidak seperti itu. Hanya karena ada salah paham sikapnya berubah seperti itu"
"Bibi!!!!!, masih lama"
Bik Ipah segera bergegas pergi kekamar Sandara.
"Bibi lama sekali, Sandara itu harus bersiap-siap sekarang"
"Maaf non, tadi bibi sedang membantu den Sean"
"Membantu apa???, dia itu sudah besar jadi bibi tidak perlu membantunya lagi"
"Tapi non Sandara juga sudah..."
"Sudah apa???, cepat katakan kenapa hanya diam saja"
"Bibi lupa non mau mengatakan apa"
"Lupa???, atau bibi pura-pura lupa"
"Benar-benar lupa non"
"Ya sudah, tidak perlu dibahas cepat pilihkan pakaian yang cocok untuk Sandara kenakan ke pesta itu"
"Nyonya sudah menyiapkan pakaian ini untuk non Sandara"
"Pakaian apa ini???, jelek sekali Sandara tidak suka"
"Ini pakaian yang sangat bagus non dan non Sandara pasti sangat cantik setelah memakannya"
"Apa benar seperti itu???, kalau jelek bagaimana"
"Tidak akan non, non Sandara memakai pakaian apa pun akan terlihat sangat cantik"
"Jangan terlalu banyak basa-basi bik, memuji terlalu berlebihan Sandara tidak suka"
"Tapi bibi mengatakan dengan sangat jujur non, non Sandara itu seleranya kelas atas jadi tidak mungkin salah dalam memilih dan nyonya juga seperti itu seleranya kelas atas jadi tidak mungkin nyonya salah dalam memilih pakaian yang akan dikenakan oleh putri kesayangannya"
"Putri kesayangannya????, apa bibi tidak salah"
"Maksudnya non Sandara???"
"Anak kesayangan mama itu yang anak pungut itu bukannya Sandara bibi"
"Non Sandara pasti salah paham"
"Salah paham bagiamana???, semuanya itu sudah terlihat jelas bik Ipah. Bibi pasti membela anak pungut itu kan jujur saja"
"Tidak seperti itu non Sandara, bik Ipah hanya ingin mengatakan yang sebenarnya dan bibi tidak memihak kepada siapa pun"
"Sudahlah bik, Sandara tidak ingin membahas yang tidak penting. Sebaiknya bibi lakukan saja pekerjaan bibi sekarang jangan ikut campur dalam urusan keluarga Sandara. Bibi disini digaji untuk mengurus rumah ini bukan untuk mengurusi kehidupan orang lain"
"Baik non, maafkan bibi"
"Kalau sudah mengerti cepat siapkan apa saja yang harus Sandara kenakan ke pesta itu. Sandara sudah sangat telat sekarang, pokoknya dipesta itu Sandara harus lebih berkilau diantara tamu-tamu yang hadir"
"Siap non, akan bibi lakukan"
"Bagus"
Sandara sangat yakin bahwa kecantikannya akan membuat semua orang dipesta terpesona melihatnya dan tidak ada satu pun orang yang akan mengabaikan pesonanya termasuk Adrika laki-laki yang sudah membuatnya patah hati dan lebih memilih perempuan biasa seperti Rose untuk menjadi pasangannya. Setelah mencampakkannya begitu saja.