
Rose kembali kerumah kayran setelah menyimpan barang-barang yang dibawanya dari rumah kayran.
"Sebaiknya Rose kembali kerumah ibu Tita, perasan Rose saat ini tidak nyaman pasti terjadi sesuatu kepada kayran."
Sebelum Rose pergi, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan hal itu membuat Rose harus kembali kedalam rumah untuk mengambilnya.
"Disaat seperti ini siapa lagi orang yang menghubungiku."
Rose mengambil ponsel miliknya dan mulai menekan tombol berwarna hijau.
"Nomor baru, tapi siapa???. Sebaiknya Rose cari tau saja."
Dengan penuh keyakinan Rose mulai berbicara dengan orang asing itu.
"Hallo, ini siapa???"
"Akhirnya Rose mengangkat teleponnya." Batin Sean
"Hallo, ini siapa, kenapa hanya diam saja. Pasti kamu orang jahat."
"Rose, ini kak Sean. Apa kak Sean menganggumu Rose???"
"Oh, jadi ini nomor telepon kak Sean. Maaf ya Rose menuduh kakak yang tidak-tidak."
"Tidak apa-apa Rose, ini juga salah kak Sean tidak mengirim pesan terlebih dulu. Oh iya Rose apa malam ini kamu ada waktu???"
"Memang kenapa kak???"
"Itu..."
"Ada yang ingin kakak sampaikan???, katakan saja jangan malu-malu kak."
"Pergilah kepesta bersamaku malam ini" dengan nada bicara yang begitu cepat.
"Kak Sean, bicaranya pelan-pelan saja. Kalau seperti itu Rose sangat sulit untuk memahami apa yang kak Sean katakan."
"Maaf Rose, kak Sean hanya gugup saja."
"Kenapa harus gugup kak Sean, santai saja."
"Baiklah, akan kak Sean lakukan."
"Oh iya kak, bicaranya kita tunda sebentar."
"Kenapa????, apa saat ini Rose sedang sibuk."
"Tidak sibuk kak, Rose hanya ingin mengunci pintu rumah saja."
"Memangnya Rose mau kemana???."
"Kerumah ibu Tita."
"Untuk apa kamu kerumah tante Tita."
"Sepertinya saat ini anak ibu Tita kurang sehat jadi Rose ingin mengetahui apa saat ini dia baik-baik saja."
"Kalau terjadi sesuatu cepat hubungi kak Sean."
"Iya kak, kalau begitu kita sambung nanti saja ya. Tidak apa-apa kan, atau kak Sean ingin mengatakannya sekarang."
"Sepertinya kak Sean lupa mau mengatakan apa, kita lupakan saja."
"Kenapa harus begitu???"
"Tidak apa-apa, sepertinya kamu sedang sibuk sekarang kak Sean tidak akan menganggu."
"Kak Sean jangan bicara seperti itu, Rose sama sekali tidak sibuk hanya ingin pergi kerumah ibu Tita saja."
"Kalau terjadi sesuatu dengan kayran cepat hubungi kak Sean."
"Siap kak, Rose tutup dulu teleponnya."
"Iya Rose"
"Den Sean, sedang menelepon pacarnya ya."
"Bibi, bikin kaget saja. Sejak kapan bibi berada disini."
"Baru saja, apa terjadi sesuatu den Sean. Sepertinya raut wajah den Sean tidak begitu senang, apa pacar den Sean tidak bisa pergi bersama den Sean malam ini."
"Bibi, dia teman Sean bukannya pacar Sean."
"Tapi teman lama-lama bisa jadi pacar kan den, hehehehe. Bibi jadi penasaran ingin melihat langsung seperti apa pacar den Sean."
"Bibi?!!"
"Maksudnya bibi temannya den Sean."
"Oh iya bik, apa mama dan Sandara sudah siap."
"Sudah den, Nyonya dan non Sandara sudah menunggu deh Sean. Bibi disini disuruh nyonya untuk menjemput den Sean."
"Sean akan segera kesana bik, Sean pergi dulu bik. Pintu dan jendela jangan lupa dikunci, kalau ada gerak-gerik mencurigakan segera hubungi Sean ya bik."
"Bibi..bisa saja, Sean masih mau fokus selesaikan kuliah dulu bik. Kalau soal jodoh sudah diatur sama Allah."
"Iya den tapi berusaha tidak ada salahnya kan, semoga hari den Sean menyenangkan. Jangan cemberut begitu dong den. Den Sean itu tampan kalau sedang senyum jadi senyum dong den."
Sean menuruti permintaan asisten rumah tangganya itu. Sean pun tersenyum dihadapan asisten rumah tangganya.
"Ya ampun senyumnya den Sean manis sekali bibi jadi terpesona melihatnya, hehehe."
"Bibi, selalu saja bisa membuat suasana hati Sean menjadi lebih baik. Terimakasih ya bik." Sean memeluk asisten rumah tangganya itu.
"Sean!!!!, kenapa lama sekali. Cepat turun sekarang, kamu itu lambat sekali. Jangan membuatku menunggu." Teriak Sandara
"Sandara, jaga sikapmu itu jangan berteriak seperti itu. Mungkin saja kakakmu sedang mengambil kunci mobilnya, tadi mama memintanya untuk mengambil kunci mobilnya."
"Bela saja terus anak pungut mama itu, kalau jadi nya seperti ini Sandara tidak akan pergi kepesta itu."
"Tolong bersikap baiklah kepada kakakmu itu Sandara, kak Sean sangat menyayangimu."
"Mau sayang atau tidak Sandara bukan urusan Sandara ma, mama selalu saja memperlakukan Sandara berbeda. Sandara benci mama."
"Sandara, bukan seperti itu. Mama sayang kalian berdua. Jangan salah paham seperti ini, Sandara kamu mau pergi kemana. Kakakmu akan segera kesini, Sandara!!!!!!."
Sandara pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun kearah mamanya.
"Anak itu kenapa jadi seperti ini, kapan Sandara bisa berubah."
"Mama, ada apa???. Sean mendengar mama berteriak memanggil nama Sandara dan sekarang kemana perginya Sandara ma????."
"Kita bahasnya nanti saja kalau sudah didalam mobil, oh iya apa kamu sudah membawa kunci mobilnya???."
"Ini ma, malam ini izinkan Sean untuk menyetir."
"Apa kamu yakin Sean???, bukannya kamu masih..."
"Mama tidak perlu khawatir sekarang karena saat ini Sean sedang berusaha untuk melawan rasa ketakutan itu. Ini juga sudah kedua kalinya Sean menyetir ma, jadi mama tidak perlu khawatir."
"Kalau seperti itu, mama lega mendengarkannya."
"Kita pergi sekarang mama."
"Sebelum pergi kita jemput temanmu dulu, pasti dia sedang menunggu kita."
"Sepertinya hari ini dia tidak bisa ikut ma, sedang ada urusan."
"Ya sayang sekali, padahal mama ingin sekali bertemu dengannya."
"Mama jangan merasa kecewa seperti itu, lain kali Sean akan mengajaknya kerumah kita."
"Sungguh!?!!"
"Iya ma, atau mama mau langsung kerumahnya. Rose sangat pandai sekali membuat kue, pasti mama sangat menyukainya kalau nanti mama bertemu Rose. Rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumah tante Tita."
"Apa rumahnya disamping rumah tante Tita???."
"Benar sekali, kenapa mama bisa menembaknya secepat itu. Apa mama pernah bertemu Rose sebelumnya???."
"Sama sekali mama belum pernah bertemu dengannya, hanya saja saya ini tante Tita pernah menghubungi mama dan mengatakan bahwa rumah tua itu sudah menjadi milik orang lain. Jadi mama pikir pasti temanmu pemilik rumah itu."
"Ma, ada satu hal lagi yang harus Sean katakan pada mama."
"Sean ingin mengatakan apa pada mama???."
"Ini tentang Rose ma."
"Rose temanmu itu, memangnya dia kenapa???."
"Siapapun nanti yang mengatakan hal buruk tentang Rose mama jangan percaya."
"Apa seseorang membencinya????."
"Sean belum tau pasti siapa orangnya ma, yang jelas mama jangan mudah percaya dengan omongan siapapun yang mengatakan hal buruk tentang Rose sebelum mama mengenalnya lebih jauh."
"Baiklah Sean, mama akan selalu mengingat apa yang kamu katakan. Mama jadi tidak sabar ingin mengenal anak yang bernama Rose itu. Kapan-kapan kalau ada waktu kita berdua pergi kesana ya Sean."
"Iya ma, Sean juga akan selalu kesana setelah pulang kuliah."
"Apa yang ingin kamu lakukan disana Sean ???, bukannya Rose tinggal sendirian dirumah itu. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak Sean."
"Mamaku sayang, Sean tidak kerumah Rose tapi kerumah kayran."
"Apa kamu mengatakan yang sejujurnya Sean???."
"Sekarang mama tidak percaya Sean."
"Bukannya tidak percaya sayang, mama hanya memastikannya saja kalau kamu benar-benar pergi kerumah kayran bukannya kerumah Rose."
"Kalau mama belum yakin juga, mana bisa menghubungi tante Tita untuk memastikan semuanya."
"Baiklah, mama akan menghubungi tante Tita sekarang juga."
Setelah menghubungi tante Tita dan memastikan semuanya keduanya pergi kepesta itu hanya berdua saja karena Sandara sudah terlebih dulu pergi meninggalkan keduannya.