
Di Sekolah Zunzo tempat di mana terjadi sebuah kekacauan yang disebabkan oleh serangan monster, akhirnya saat ini para hunter sudah tiba dengan serangan yang solid meski sangat terlambat.
Seorang hunter rank B Valen menggunakan sihir deteksi untuk mencari korban yang selamat. "Sense!"
"Lantai 3 sebelah barat! Namun ada gerombolan monster yang sedang menuju kearah sana, ayo cepat!"
Hunter yang lainnya kemudian melesat menuju lantai 3 sambil menghabisi monster-monster yang masih memenuhi lantai 2.
Ketika para Hunter telah sampai di lantai 3 mereka sangat terkejut karena di sepanjang lorong dipenuhi oleh mayat-mayat monster orc yang mati dengan sangat brutal dengan keadaan kepala hancur.
"A... Apa ini..."
Valen kemudian berlari dengan cepat sendirian menuju ke ujung lorong di mana ia melihat korban yang selamat. Namun secara mengejutkan seseorang menghalangi pintu masuknya dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.
Valen kemudian berteriak kearah dan meminta tim medis untuk segera kemari. "Kak! TOLONG PANGGILKAN MEDIS, ADA KORBAN SEKARAT!"
Team hunter yang bersama Valen kemudian memindahkan tubuh Lucius dengan hati-hati. "Dia masih bernafas... Pindahkan dengan hati-hati, kalian amankan korban selamat." perintah Vedalken yang merupakan pemimpin operasi penyelematan ini.
"Kapten Vedalken say mengonfirmasikan jika korban yang ada di dalam tak ada yang terluka parah, namun sayangnya anak-anak mengalami trauma yang cukup hebat."
Vedalken menghela nafas panjang, kemudian berkata, "Ya..." Ia merasa sedikit bersalah dengan keterlambatannya dalam operasi penyelamatan ini.
Vedalken menatap healer yang mencoba untuk menyelamatkan nyawa Lucius terlihat sekali di wajah healer itu usaha agar bisa menyelamatkan pasiennya.
Sementara itu di sebuah gua yang sangat besar di mana Sou berada saat ini. Secara mengejutkan Sou berdiri dan menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan tajam dan sangat tenang.
Sou mengangkat telunjuknya mengarah ke tempat duduk wanita aneh itu berada. "Matilah."
...DUAR!...
Wanita aneh itu tak melakukan apapun namun sangat aneh karena ia tak terluka sedikitpun setelah ledakan kuat tadi.
Sou berjalan perlahan menuju singgasana wanita itu duduk. "Kau membuat jiwa terakhir ku keluar ... Tak kusangka makhluk bodoh seperti dirimu tak kenal tempat!"
Wanita itu tertawa keras. "AHAHAHAHAHA!"
"Aku sudah sempat mengira kalau ada yang aneh dengan anak ini, rupanya aku benar ... Kau menyamar di tubuh seorang anak kecil? Itu adalah temp—"
Belum sempat wanita itu selesai berbicara dengan nada dingin dan aura membunuh yang tinggi Sou memotong perkataan wanita itu. "Tutup mulutmu rapat-rapat supaya aku punya alasan agar tak menggorok lehermu saat ini juga!"
"Sungguh aura membunuh yang sangat luar biasa..." gumam wanita itu dengan bulu kuduk yang terangkat saking ngeri nya aura membunuh yang di pancarkan dari Sou.
"Aku tidak ingat pernah memperbolehkan dirimu muncul di hadapan ku lagi bukan, Jendral Iblis Olsa Sossea..."
Mendengar hal itu sontak membuat mata Olsa melebar kemudian tertawa terbahak-bahak. "KUHUHAHAHAHA!"
"Sepertinya aku salah mengusik seseorang. Jadi apakah kau adalah Melheim sang Great Sage? Satu-satunya Manusia yang tidak terikat dengan Tabu Dunia."
Sou memalingkan perhatiannya seolah tidak acuh dengan Olsa meskipun mereka sedang berbicara. "Melheim? Great Sage? Sepertinya kau lupa dengan orang yang membuat 17 Jendral Iblis di segel oleh 5 Kaisar Surgawi."
Olsa terkejut setengah mati karena saat ini makhluk di hadapannya itu mengingatkannya dengan ingatan yang sangat buruk bagi dirinya.
Pedang besar berwarna merah mengkilat dengan pemilik berwajah putih dan senyuman psikopat serta rambut putih dan mata berwarna merah. Orang yang mengacaukan keseimbangan dengan melakukan penghancuran penciptaan milik Kaisar Surgawi.
..."Pangeran Ke 4 Kekaisaran Agung Leonid. THE FALLEN ANTARES!"...
Dengan mata terbelalak tak percaya dan bibir yang gemetaran Olsa pun berbicara dengan terbata-bata.
"B-Bagaimana mungkin anda masih bisa hidup?! Aku bersumpah dengan mata kepalaku sendiri! Kami menyaksikan pengeksekusian dirimu saat itu."
Antares mulai tertawa kemudian menjelaskan nya dengan tenang. Alasan Antares menjelaskan hal ini karena Antares sudah tak mau hidup dengan dikelilingi musuh dan mayat yang bergelimpangan, ia sudah lelah dengan semua itu.
"Olsa... Lupakan saja tentang masa lalu kita yang pernah bermusuhan, aku tidak berminat lagi untuk mengungkitnya. Lagipula seperti yang sudah ku jelaskan tadi kausalitas ku telah dimusnahkan oleh Kaisar Surgawi artinya keberadaan ku ini menyalahi aturan dunia. Dan cepat atau lambat aku akan segera menghilang."
Antares kemudian melirik kearah jari tangannya yang mulai sulit digerakkan. "Nah waktu ku sudah habis, aku akan pergi. Dan tolong kembalikan tubuh anak ini ke Bumi kembali."
^^^Bersambung....^^^