
17 Maret 1988.
Kegelapan secara mendadak menyelimuti Dunia yang dalam keadaan tenang, ketakutan menyebar dengan cepat disaat yang bersamaan. Teriakan dan erangan kesakitan mulai tidak terdengar dengan datangnya ledakan dan bangunan-bangunan tinggi yang dengan cepat runtuh.
Dalam waktu 4 jam saja sekitar 2.000.000.000 Manusia yang ada telah meninggal akibat serangan monster yang keluar dari sebuah gate. Namun di tengah kegelapan itu sebuah cahaya yang begitu terang melesat dengan sangat cepat menembus gumpalan awan gelap tersebut.
[ITEM OF SALVATION]
Sebuah Item maha kuat yang diturunkan oleh surga untuk membantu umat manusia menghadapi para monster, saat itu ada 5 Item yang datang ke setiap benua dan memilih sang penggunanya secara langsung.
Kelima pahlawan yang dipilih dari setiap benua itu mulai mengangkat dan menjawab panggilan Item Of Salvation untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.
...----------------...
20 Tahun setelahnya.
Seorang pria berumur 37 tahun dengan rambut hitam mengenakan sebuah tuxedo duduk diatas sebuah kursi dengan ekspresi terkejut dan menahan amarah dengan menggenggam koran di tangannya.
"hunter, hunter, hunter, hunter terus! Bahkan rakyat mulai tidak mempercayai pemerintahnya sendiri."
Rumah besar dengan suasana rumah yang dibentuk dari hiasan furniture di dalamnya memiliki kesan yang antik dengan suasana bangsawan.
Dari luar ruangan kerja pria itu terdengar ketukan pintu dari luar. tak lama kemudian terdengar suara lembut terdengar. "Sayang... Makan lah terlebih dahulu, sebentar lagi kamu mau berangkat bekerja kan?" ucap wanita tersebut yang merupakan istri dari pria itu.
Wanita berambut panjang sampai pundak, serta mengenakan kemeja serta jas yang tergantung di lengan kanannya terlihat sudah bersiap. Ia adalah Chela yang merupakan istri dari Razen.
"Iya... Aku datang."
Razen beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangannya. "Dimana Sou?"
"Ia sedang bersiap sayang, kamu langsung ke meja makan saja biar aku yang panggilkan anak itu."
"Baiklah."
Chela beranjak ke kamar anaknya yang berada di pojok kiri di lantai dua. Ketukan pintu terdengar dari luar. 'tok! tok! tok!'
Dari dalam kamarnya Sou terlihat sedang kesulitan mengenakan dasi sekolah miliknya di hadapan sebuah cermin, tubuh pendek dan wajah lugu dan putih polos itu hampir menangis karena masih belum selesai mengenakan dasi sekolahnya.
"Mama! huuu...."
"Kenapa nak?"
Sou berjalan perlahan menghampiri Chela dengan mata berkaca-kaca dan dasi sekolah yang melilit leher dan tangan kirinya.
"Ah... Ya ampun, kemari lah sayang. Kenapa kamu bisa terlilit dasi sekolahmu sini biar mama ban— Tunggu. Ini bukan dasi sekolahmu, ini dasi punya ayah, kenapa kamu pakai?"
"Uuu... Mama, susah gerak..."
Chela menggelengkan kepalanya pelan dan meraih tangan kanan Sou dan menuntunnya turun ke ruang makan dengan dasi yang masih terlilit di lehernya. "Mam... Tersangkut ininya..."
"Iya nanti mama bantu lepas sambil sarapan, nanti kamu telat ke sekolah."
Di ruang makan Razen terkejut melihat anaknya terlilit dasi kerja miliknya, namun ia terlihat tidak marah dan hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Astaga Sou... Kamu terlilit lagi?"
Sou yang baru berumur 7 Tahun terlihat sangat manja dan cengeng karena terlahir dari keluarga kelas atas dan dimanja oleh kedua orang tuanya.
Sou duduk di atas kursinya dan makan dengan disuapi oleh Chela yang duduk di sampingnya. "Kamu tak makan sayang?"
"Aku sudah makan tadi, jadi bisa menyuapi Sou dan langsung berangkat. Kamu jangan lupa antar Sou ya, mobilku tidak searah ke sekolahnya."
"Iya, nanti aku yang mengantar anak ini. Dan juga Chela, hati-hati dengan penerbangan mu untuk bertemu klien itu."
"Tenang saja, aku mengingatnya dengan baik."
"Baiklah."
^^^Bersambung....^^^