I'M Not A Hunter

I'M Not A Hunter
Chapter 3 : Metamorphosis [RE- WRITE]



Ding ... Dong ...


Suara bel sekolah berbunyi yang menandakan setiap murid-murid dapat keluar kelas untuk beristirahat sejenak.


Di kelas Sou saat ini terlihat jika Sou sedang menulis di buku tulisnya dengan tulisan yang acak acakan dengan cepat yang kemudian dengan kasar ia tutup buku tersebut dan langsung berlari keluar kelas.


Sou berlari dengan membawa kotak bekal yang di bawanya dari rumah dan pergi untuk memakan bekal itu di tempat yang agak sepi.


Alasan ia menyendiri tak lain karena ia adalah anak yang terlalu aktif dan teman-teman sebayanya agak kurang suka dengan tingkah laku Sou yang cenderung aneh.


Meski begitu, Sou tetaplah anak yang peka terhadap situasi. Tatapan mata kurang nyaman itu kadang membuat Sou canggung dan malu sendiri dengan tingkah lakunya dan makin membuat dirinya cengeng.


Namun Sou membiarkan hal itu dan menyingkir dengan sendirinya. Perlahan lahan hal ini membuat sebuah kondisi dimana anak ini memiliki kelakuan yang sangat overprotektif di lingkungan sekolahnya.


Tidak menyapa ketika berpapasan akan diartikan sebagai tidak suka terhadap dirinya. Namun ini tak terjadi karena Sou masih memiliki keluarganya, setidaknya ia dapat percaya terhadap keluarganya sendiri.


...----------------...


Gelak tawa jahat terdengar begitu nyaring di dalam sebuah gua besar yang membuat suaranya semakin keras.


'Kuhuhahaha! '


Seorang perempuan berambut kuning panjang itu tertawa sambil duduk di singgasananya dengan mata tertutup, pakaian yang ia kenakan terlihat seperti pakaian keluarga bangsawan eropa zaman kerajaan.


Namun, wanita dengan wajah putih bersih itu terlihat sangat lemah dengan sebuah segel yang mengikat dirinya.


Entah dimana saat ini namun Sou terlihat ada di dalam gua ini bersama dengan wanita aneh itu. Sou dengan penasaran melangkah ke hadapan wanita itu.


Kepalanya tertunduk dengan mata yang terpejam. Sou kemudian bertanya dengan penasaran pada wanita itu, "Kakak cantik kenapa ketawa sendiri? Lalu kenapa kakak tinggal sendirian disini?"


Wanita itu tersenyum tipis kemudian menjawab dengan lemah lembut. "Kamu sangat menarik nak... Tidak hanya dirimu, tapi takdir mu juga sangat-sangat menarik. Nah tuan, apakah kamu sedang mempermainkan diriku atau kamu memang tidak tahu siapa dirimu sebenarnya?"


"apa maksudnya?"


"Eye Of Truth... Apakah kamu berminat melihatnya?" Perempuan aneh itu menawarkan Sou sesuatu yang tak dipahami oleh anak itu.


"Aku tidak mengerti... Lagipula kakak adalah orang asing, ibu bilang tidak boleh ikut orang asing. Tapi..."


"Tapi?"


"Bagaimana caraku keluar dari sini?"


Sou kecil terlihat kebingungan dan sedikit takut karena tersesat. Perempuan itu tertawa pelan dan membuat Sou malu dan mulai berlinang air mata.


"huhuhu... Betapa anehnya... Tubuh anak kecil dengan sifat lugu dan kikuk benar-benar tempat bersembunyi yang sangat bagus untukmu"


Perempuan itu membuka matanya dan menatap mata Sou dengan tatapan tajam. Tubuh anak itu langsung bergetar hebat menatap mata biru menyala itu.


Sebuah gambaran-gambaran berupa pecahan ingatan menumpuk di kepala Sou saat itu juga, gambaran kehancuran dan perang besar yang terjadi. Dan bagaimana ia melangkahkan kaki di atas jutaan mayat dan sungai darah.


Tubuh kecil Sou sudah tak sanggup menerima tekanan dari wanita aneh itu dan kemudian tubuhnya langsung ambruk ke tanah kehilangan kesadaran.


"Bocah yang unik. Meskipun begini, sebenarnya aku berniat menyelamatkan dirimu saja, karena diatas sana kekacauan sedang terjadi."


Tak lama setelahnya kejadian mengerikan terjadi. Monster-Monster muncul dan membuat kekacauan di gedung sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi tempat yang aman rupanya tidak sama sekali.


"Cepat lari! Selamatkan anak-anak!"


"Telfon polisi! Cepat!"


Para guru berusaha untuk menyelamatkan murid-murid nya terlebih dahulu namun jalan keluar gerbang sekolah tak dapat di lalui.


"Sembunyikan anak-anak di gedung kelas 5 yang ada di ujung lorong lantai 3!"


Sesuai dengan kejadian ini, polisi yang menerima laporan langsung bergegas secepat mungkin setelah menghubungi layanan hunter untuk menyelamatkan murid-murid yang terjebak di sekolah itu.


Hal darurat ini menimbulkan pertanyaan bagi semua orang. Bagaimana mungkin zona aman yang sudah di kelilingi oleh batu anti sihir yang tertanam itu tiba-tiba terjadi dungeon break.


Ketika tim hunter yang dikirim oleh layanan hunter sedang bergerak menuju ke sekolah tersebut, secara tiba-tiba seorang dari call center layanan hunter terdengar terkejut dengan laporan detail yang diberikan pelapor.


"Tunggu! Tak ada dungeon katanya?!"


Karyawan yang berada di satu ruangan itu melirik dengan terkejut bahkan seorang hunter yang baru saja ingin pergi menuju Sekolah itu.


Sementara itu di dalam Sekolah Dasar itu seorang guru laki-laki dengan paras yang masih cukup muda mengambil tongkat baseball nya membelakangi monster yang sedang berlari menuju kearahnya.


Lorong barat lantai 3 diserbu oleh banyak monster orc dengan senjata andalan mereka yang tak lain kapak batu dan gada berukuran besar.


..."GROARRGHH!"...


Pria itu langsung mengayunkan tongkat baseball nya dengan sekuat tenaga dan terus menerjang maju menghabisi kumpulan Orc yang menyerbu.


"Apakah tak masalah kalau naskah kerennya kuambil sendirian?"


Delapan tahun yang lalu ketika aku lulus SMA aku hanyalah pengangguran dengan masa depan yang tidak jelas. Masa SMA ku, aku lalui dengan hal-hal bodoh. Bertengkar, memalak, membully sampai akhirnya aku tidak memiliki apapun karena aku tidak pernah mempersiapkan apapun.


Ayah ku adalah orang yang baik, namun ia pergi meninggalkan ibu ku karena tergoda wanita muda di tempat kerjanya. Ibuku sekuat tenaga mencari pekerjaan untuk membiayai sekolahku hingga ia jatuh sakit dan pada akhirnya meninggalkan aku.


Ia meninggalkan diriku tepat pada hari kelulusan. "Setidaknya kalau ibu dikasih waktu lebih lama ibu masih mau melihat hari kelulusan mu nak... Tak perlu nilai bagus tapi paling tidak jangan sampai jadi sampah masyarakat ya... Karena kamu kebanggaan dan alasan mama mampu bertahan melalui semua rasa sakit ini" Itu adalah wasiat terakhir dari mendiang Ibuku.


Namun ketika hari kelulusan di sana aku melihat seluruh dokumentasi sekolahku yang dijadikan sebuah raport penilaian. Nilai kelulusan yang buruk, Nilai sikap yang sampah, absensi yang penuh dengan ketidak hadiran. 'Bu... Aku benar-benar jadi sampah masyarakat...' betapa malunya diriku hari itu, penyesalanku datang di akhir dengan tangisan yang tak dapat ku jelaskan.


Paman membiarkan diriku menenangkan diri dan menyuruhku untuk melangkah kedepan dan mulai mencari pekerjaan yang sejalan dengan bidang ku. Namun tak ada satupun panggilan kerja hingga 3 bulan lebih.


"Lucius, hanya ada satu cara agar kamu bisa menebus dosa-dosa mu dimasa lalu... Jadilah guru di Sekolah dasar di Akasaka."


Sudah kehilangan minat untuk hidup aku hanya mengiyakannya saja. Namun ternyata senyuman anak-anak itu membuatku begitu iri, iri sekali rasanya karena aku sangat ingin kembali ke masa lalu kemudian memperbaiki kesalahan ku.


Namun itu adalah hal yang mustahil. Aku tahu akan hal tersebut, akan tetapi entah bagaimana aku ingin sekali menjaga senyuman anak-anak polos itu, aku ingin mereka mengetahui seluruh hal baik yang ada di Dunia ini agar mereka tidak menjadi sampah masyarakat seperti diriku dulu.


"Astaga! Pak guru Lucius!"


"Bu Yunha jangan keluar! Anak-Anak bisa dalam bahaya!"


Pintu kelas tak dapat dibuka karena tubuh Lucius menghadang pintu kelas. Lucius yang mulai kehabisan tenaga melirik kearah jendela dimana terlihat Bu guru Yunha histeris melihat dirinya.


'Bu guru Yunha... ada masalah apa? mataku sangat berat...'


Lucius berada dalam ambang kematiannya, kilas balik kehidupannya mulai muncul di bayang-bayang ingatannya. Tubuh muda yang terlihat kokoh itu kini terduduk lemah bersender pada pintu ruang kelas 5 sekaligus mengganjalnya dari luar, nafasnya terengah-engah dan mengalami pendarahan hebat di bagian kepala.


"Setidaknya monster itu sudah habis untuk saat ini kan..."


Mayat Orc bergelimpangan di lorong barat lantai 3, mayat monster itu benar-benar dalam keadaan mengenaskan dan mati dengan brutal, kepala mereka semua hancur karena itu satu-satunya cara membunuh monster sebagai seorang manusia non awaken.


Lucius tersenyum tipis dengan mata terpejam dan kepala yang terasa sulit sekali untuk diangkat. 'Apa dengan begini setidaknya aku bisa menemui Ibu tanpa rasa malu?'


Sebuah keajaiban terjadi untuk Lucius. Ia merasakan ada yang menepuk punggungnya yang tak lain adalah Ibunya. "Ibu..." Lucius terkejut melihatnya.


Namun ia tak dapat lagi membendung rasa sedih nya karena memendam rasa bersalah yang amat sangat dalam. "Hiks... Aaaahhhhh.... Huaaaa... Maaf... Maafkan aku..."


Lucius jatuh dalam pelukan hangat itu. "Sudah... Sudah... Kamu benar-benar kebanggaan Ibu..."


^^^Bersambung....^^^