
"Kami kembali, lha kok sepi sih? Pada kemana semua orang?" heran Tzuyu dengan kondisi suasana rumah yang sunyi tidak seperti biasanya.
"Kak Tzuyu sama kak Iseul udah balik? Kok lama banget kak? Kenapa?" tanya Mirra dengan pandangan penasaran sambil melangkahkan kaki menuruni tangga.
"Panjang ceritanya, ini kenapa rumahnya sepi dek? Tumben amat, udah pada damai ya...." ledek Iseul dengan ekspresi menyebalkan.
"Kita bakalan damai kok kak, selama beberapa tahun ke depan. Empat adik kita bakalan di ambil paksa sama mereka" balas Mirra dengan nada pasrah.
Terlihat kedua bola mata Mirra mulai memerah dan berkaca kaca, tapi meskipun seperti itu Mirra masih menampilkan senyumnya yang menawan bagi kebanyakan orang. Perlahan bulir air mata yang terus di tahan Mirra mulai meluncur ke bawah tampa izin dari dirinya. Dengan segera Mirra menghapus semua jejak air matanya dan kembali tersenyum. Kali ini senyuman yang amat sangat menyayat hati.
Tzuyu dan Iseul saling berpandangan dengan tatapan bodoh karena masih belum mengerti ke mana arah topik pembicaraan mereka sekarang ini. Terdengar suara langkah kaki lemah menuruni tangga, itu Mina. Dengan wajah sendu ia menuruni tangga secara perlahan. Setelah mendekat ke arah semua kakaknya berkumpul Mina segera menarik tubuh Mirra dan memeluk nya erat. Mereka menangis dengan air mata yang sangat melimpah tapi tidak mengeluarkan suara.
Tangisan mereka membuat Tzuyu maupun Iseul semakin bingun dengan semua ini. Masalah mereka belum selesai, lalu masalah apa lagi yang akan merenggut keempat adik mereka?
Percayalah sepintar apapun Iseul, ia paling bodoh saat harus menebak masalah apa yang terjadi saat perempuan sedang menagis. Dan sedingin-dinginnya Tzuyu dia bahkan sangat panik saat melihat kedua adiknya menangis saat ini.
"dek, kok malah nangis? Ceritain dulu dong, mana kita tau kalau kalian nangis kek gini? Kan kita bukan dukun" tanya Iseul dengan nada bercanda.
"Kak, ini bukan saatnya bercanda! Bisa nggak sih lu serius?!" amuk Mina kepada Iseul.
"Maaf, tapi kenapa?"
Mirra segera menghapus semua sisa air matanya dan melepaskan pelukan erat Mina. Mirra menarik nafas cukup panjang dan membuangnya dengan berat, ia mulai bercerita tentang semua kejadian yang terjadi saat Iseul dan Tzuyu tidak ada di rumah. Mata Tzuyu membulat sempurna saat Mirra telah menyelesaikan semua ceritanya. Segera Tzuyu berlari ke kamar Lavina dan membuka pintunya dengan perlahan-lahan.
"Lavina? Kau ada di kamar? Aku masuk ya?" izin Tzuyu dengan nada lembut.
Tzuyu menginjakkan kakinya ke dalam kamar dengan nuansa menyenangkan tersebut. Terlihat tubuh Lavina terduduk di atas kasur sembari mendekap kedua kakinya. Lavina tersenyum ke arah Tzuyu, senyum dengan seribu rasa paksaan, senyum kehancuran, senyum yang mampu menyayat hati semua orang. Tzuyu membalas senyuman tersebut dan berjalan mendekat ke ranjang gantung milik Lavina.
"Lavina nggak papa? Mau kak Tzuyu peluk nggak?" tanya Tzuyu dengan lembut sembari mengusap kepala Lavina.
"Mau" jawab Lavina singkat dan segera memeluk Tzuyu erat.
"Maaf ya, tadi pesanannya belum kakak belikan, tapi kakak janji bakalan belikan yang lebih banyak" Tzuyu berusaha untuk membuat tenang Lavina sebisa mungkin.
"Kak, kakak tau nggak apa yang terjadi di rumah ini sekarang?"
"Kakak tau kok, ini semua akan baik-baik saja. Kamu, kakak, Luhan, Sana, Victoria dan semua orang yang ada di rumah ini nggak ada yang bisa pisahkan. Percaya kan sama kakak? Kalau emang kita harus berpisah itu karena takdir, dan bukan rencana dari orang tua kita. Setelah beberapa tahun kalian akan kembali kesini, bermain dengan kita seperti dulu. Tidak akan ada yang berubah. Kalian tetap adik kami, oke? Jangan menangis lagi ya?" terang Tzuyu panjang lebar.
Tzuyu tak menjawab, ia hanya membuang nafasnya dengan berat, ia melepaskan pelukannya dan menatap manik mata Lavina dengan lekat. Tersenyum, senyum yang paling special milik Tzuyu. Senyum yang dapat membuat orang lain ikut tersenyum dan merasa bahagia, senyum yang jarang di tunjukkan oleh Tzuyu.
"Semua akan baik-baik saja, ikut kakak yuk" ajak Tzuyu sambil menggenggam erat tangan Lavina.
"Kemana?" tanya Lavina heran.
"Ke kamar, Victor. Yuk"
Lavina dan Tzuyu berjalan ke arah kamar Victoria dengan langkah hampa tampa harapan. Tiba di depan kamar Victor, Tzuyu segera membuka pintu perlahan, pintu kaca yang sangat kuat nan berat.
"Victor, are you okay?" Tzuyu melepaskan genggaman tangannya kepada Lavina dan berjalan kearah Victor yang tengah berbaring dengan posisi tengkurap.
"Udah Victor nggak usah nangis, besok kakak yang anter, terus beberapa tahun lagi kakak yang akan jemput, oke?"
"Kakak janji sama Victor, ya?"
Victor tak menjawab dan langsung memeluk tubuh Tzuyu dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes.
ππππππππππ
"Kakak janji, ya. Kalau nanti Victor pulang kakak yang harus jemput! Awas aja kalau kak Tzuyu gak ada!" ancam Victor yang kini telah berada di bandara.
Victor, Lavina, Luhan, dan Sana akan segera pergi ke Indonesia beberapa menit lagi, Nindya dan Beomgyu akan mengantarkan mereka hingga sampai ke Indonesia dan akan kembali seminggu lagi.
Mereka telah membuat perjanjian, bahwa tidak ada yang boleh menangis saat keberangkatan adik kecil mereka, mereka hanya boleh tersenyum dan tertawa. Dan itulah yang terjadi saat ini, senyum ketidak relaan.
**Hallo guys jadi saya ingin melanjutkan nopel ini because saya sudah mendapatkan banyak inspirasi! Holla! Karena saya bingung mangkannya saya kurangkan jumlah pemain!
Baca novel terbaruku ya, judulnya
"I Hate You, My Idol"
Cek juga novelku yang lain ya, jangan lupa like dan komen, oke? Thanks**.