
Setelah cukup lama Yeong memandangi wajah mereka, ada suara pintu di ketuk dan sedikit demi sedikit mulai terbuka. Karna suara ketukan tersebut ke delapan lelaki tampan tersebut pun terbangun dan telah menangkap basah Yeong yang sedang melihat mereka semua. Terdapat seorang perawat yang masuk ke ruangan tersebut. Membawa obat serta beberapa lembar kertas. Perawat tersebut mendekat ke arah Yeong dan menaruh kertas tersebut di atas meja.
Perawat : permisi maaf mengganggu kalian semua, saya di sini untuk menyampaikan bahwa noona Yeong dapat pulang dari rumah sakit besok pagi.
Ucap perawat tersebut sopan, sambil menulis sesuatu di atas kertas yang ia bawa. Perawat itu kemudian melanjutkan kata katanya.
Perawat : semua tagihan dan pembayaran sudah di lunasi atas nama bapak Daniel. Noona dapat tada tangan di sini dan saya akan membawa berkas nya.
Perawat tersebut berkata sambil menyodorkan bolpoint ke arah Yeong. Beruntung tangan yang di sini infus sebelah kiri. Yeong menerima surat tersebut kemudian menandatangani surat tersebut. Selesai menandatangani surat tersebut perawat mengucap kan terima kasih dan langsung keluar pergi. Sedangkan ke delapan manusia tersebut masih mengumpul kan roh nya yang entah berlari lari kemana. Yeong memecah keheningan yang terjadi di antara mereka semua karna rasa mengantuk yang masih menyelimuti pemuda tersebut.
Yeong : emmm, Daniel! Terima kasih telah membayar tagihan rumah sakitku, aku akan membayar nya setelah keluar dari rumah sakit
Ucapan Yeong sambil memandang ke arah Daniel. Merasa namanya terpanggil Daniel pun menatap balik Yeong dengan tatapan masih sedikit terpejam.
Daniel : ne, kau tak perlu membayar nya! Ingat yang aku katakan? aku akan selalu ada untuk mu Yun-Yeong, kita sudah cukup lama bersahabat.
Yeong : ne, arraseo!
Hening~, suasana tersebut terjadi lagi. Tapi tak lama Jungkook mendatangi Yeong dan duduk di kursi yang terletak dekat dengan ranjang samping kanan Yeong. Jungkook mulai menatap Yeong pekat, tatapi Yeong tak berani menatap balik Jungkook. Yeong takut diri nya akan menangis melihat sosok Jungkook yang pernah membuat hati nya tergores, bahkan sampai saat ini Yeong belum melupakan hal itu. Dengan gerakan lembut Jungkook membelai tangan lembut Yeong, tak ada tolakan dari Yeong, karna jujur diri nya sangat merindukan belaian lembut Jungkook.
Semua orang hanya menatap mereka berdua tampa berbicara. Jungkook menatap Yeong dan mengumpul kan semua hal yang ingin di sampaikan nya kepada Yeong.
Yeong hanya mendengar semua ucapan Jungkook tampa menoleh ke arah nya. Yeong mengangguk kan kepala nya pelan sebagai tanda bahwa ia mengizinkan Jungkook untuk menjelaskan semua yang telah terjadi. Mungkin semua orang membutuhkan kesempatan kedua, iya bukan?
Jungkook menjelaskan panjang lebar semua yang terjadi kepada Yeong sambil menatap manik mata Yeong yang tampak sendu. Jungkook Jungkook pun mengucapkan sebuah kata untuk mengahiri ceritanya.
Jungkook : Yeong, aku salah, aku pantas untuk mendapatkan semua ini, tapi aku mohon.... Berikan aku kesempatan kedua.....
Tampa dapat di bendung air mata mengalir membasahi pipi Yeong dan begitu saja meluncur mengenai kepala Jungkook. Yeong mulai menatap manik mata Jungkook yang juga berkaca kaca. Mungkin jika kaca tersebut di sentuh semua air yang ada di dalam nya akan tumpah. Dengan berani Yeong memegang pipi Jungkook dan membuat kedua manik mata nya dan Jungkook tumpang tindih.
Yeong : aku akan membuka lembaran baru dan membuat kesempatan kedua untuk mu....
Ucap Yeong dengan senyuman indah nya yang menghiasi wajah nya tersebut. Sontak dengan kata kata tersebut kaca Jungkook tidak bisa bertahan lama lagi dan BOM! Air mata Jungkook mengalir terjun bebas. Jungkook memeluk erat tubuh mungil Yeong.
Jungkook : kau adalah berlian yang tak akan aku berikan kepada siap pun, Kamsahamnida!
Yeong membalas pelukan Jungkook, dan mereka pun meneteskan air mata kegembiraan bersama. Semua orang tersenyum bahagia melihat kedua orang yang sangat mereka sayangi telah kembali akur.