HIAMOE

HIAMOE
MEMORIES



Kei berjalan tanpa arah menuju apartemennya. Setelah berhasil masuk ke dalam, ia langsung membaringkan tubuh di atas tempat tidur dan membiarkan seluruh energinya kembali terkumpul. Peristiwa yang baru saja ia alami seakan mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan. Lelaki itu segera menutup kedua matanya hingga terlelap dalam tidur. Batas kegelapan membawanya menuju mimpi buruk yang seringkali hadir dengan serpihan berbeda dan rasa yang sama.


“Tidak!” igau Kei, tubuh lelaki itu bergerak tidak nyaman dalam tidurnya. “Ma..pisau..darah..tidak, TIDAK!!” 


Lelaki itu terbangun dari mimpi buruk. Ia tampak kacau dengan wajah yang basah oleh air mata serta nafas yang tersengal.


Entah apa yang ada di pikiran Kei saat ini, ia turun dari ranjang sembari berusaha berjalan meski tanpa tujuan. Namun selanjutnya tubuh remaja itu ambruk terduduk di lantai. Ia memeluk kedua lututnya untuk mencari kehangatan. Tangis itu pecah, ia berharap kenangan buruk di kepalanya akan hilang dengan mencengkram erat helaian rambutnya.


Selama ini Kei sudah menjalani terapi dengan psikolog, namun ia tetap tidak bisa menghapus peristiwa masa lalunya. Kenangan tersebut seakan hidup, memiliki banyak nyawa dan selalu menghantuinya melalui mimpi. Seakan semesta ingin memberitahu sesuatu melalui peristiwa tersebut dan memaksanya untuk mengingat.


Kehilangan orang yang paling berharga di hidupnya tepat di depan kedua mata, berhasil dibenci bahkan diasingkan oleh sang Ayah, begitulah kehidupan yang Kei jalani saat ini.


“ARGH!!” teriak Kei diikuti dengan suara jatuhnya beberapa barang yang ia lempar. Kei kembali memeluk kedua lututnya sambil terduduk lesu. Ia menenangkan dirinya. Kejadian malam itu terbesit di otaknya. Gadis yang baru ia kenal itu tidak membiarkannya untuk hidup dengan tenang, bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Aileen membuka kedua matanya, kepalanya terasa begitu berat. Perlahan, Ia melepas kompresan yang ada di keningnya. Terlihat seorang wanita dengan kemeja kerja yang masih ia kenakan, tertidur sambil memegang tangan Aileen. Gadis itu perlahan melepaskan tangannya dengan hati-hati dan segera menyelimuti wanita tersebut.


“Apa kepalamu masih sakit?,” tanya tante Nia yang terbangun dari tidurnya.


“Huh? Tidak. Aku kira kau akan membutuhkan waktu yang lebih lama di Swiss.” 


“Ya, aku harus pergi lagi. Sebaiknya kau ikut acara sekolah, atau membiarkanku penuh kekhawatiran. Besok berangkat kan?” ucap tante Nia sambil mengenakan jas dan berjalan pergi.


“Iya.” 


Dia bahkan tidak bertanya apa aku akan ikut atau tidak, batin Aileen sambil menatap kepergian tante Nia dengan pandangan kesal.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Suasana bandara tampak ramai, terlihat murid-murid sedang berbincang, memperbaiki penampilannya, dan berswafoto. Di tengah kerumunan murid yang bahagia akan liburannya, Aileen terdiam. Kematian kedua orang tuanya yang berkaitan erat dengan pesawat membuatnya ketakutan, bahkan perbincangan antara dua gadis yang mengapitnya seakan angin lalu.


Pak Bram dengan instruksi suara lantangnya mampu membuat semua murid berkumpul. Ia memperkenalkan seorang murid baru, Liam Malikson. Seorang lelaki yang mampu membuat murid lain berdecak kagum dengan parasnya ataupun posturnya bahkan saat ia melangkahkan kaki untuk berjalan, keren, tampan, dan memesona, setidaknya itulah kata yang bisa mencerminkan sosok Liam. 


“Selamat pagi murid-muridku, seperti yang kalian ketahui, hari ini kita akan berlibur ke pulau Bali. Tapi sebelum itu, bapak punya kabar gembira lain. Kita kedatangan anggota keluarga baru. Ini dia..” ucap pak Bram sambil menunjukan Liam kepada murid-murid kelasnya.


Liam tersenyum tipis dengan tatapan dingin membidik satu persatu murid yang ada di hadapannya, seakan elang yang sedang mencari mangsa. Atensi lelaki itu seutuhnya tertuju pada Aileen ketika menyadari ia satu-satunya gadis yang tampak seakan tidak peduli dan tidak tertarik akan kedatangannya. Mengandalkan wajah tengilnya, Liam tersenyum sinis sambil menengadahkan pandangannya pada Aileen.


“Ekhm, mungkin bisa dimulai dengan memperkenalkan dirimu,” ucap pak Bram.


Liam memperkenalkan diri dengan nada yang santai namun mampu membuat para siswi terkesan, tidak terkecuali Evin yang mulai mendekat dan berdiri tepat di depan Liam setelah pak Bram menyuruh kerumunan murid itu untuk memasuki pesawat. 


“Woa, kurasa kita akan menjadi teman dekat,” ucap Evin yang tampak tak dihiraukan oleh Liam.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Murid-murid bercengkrama di sekitar kabin pesawat menceritakan hal-hal yang telah ataupun akan dilakukan di Bali. Keceriaan, itulah yang mungkin mereka bayangkan saat ini. Seorang pramugari menyapa mereka dengan hangat, memastikan setiap penumpang mengenakan sabuk dengan baik sebelum take off.  


Pesawat itu terbang pada ketinggian 300 meter dari permukaan laut. Berbeda dengan kebanyakan murid, Aileen berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya, hamparan langit biru dan luas yang tampak dari jendela membuatnya merasa mual. Ia menutup mata dan mencengkram erat kursi yang ia duduki. Pada ketinggian 6000 meter di atas permukaan laut, pesawat itu mengalami goncangan. Hal itu membuat Aileen semakin takut, gadis itu refleks menutup kedua telinganya. 


Auris menyadari ketakutan yang dirasakan gadis yang berada di sampingnya. Merasa khawatir, Auris mengusap punggung Aileen dengan harapan rasa takut perlahan terkuras dari gadis itu. 


“Aileen, tenang. Ada aku disini, semua akan baik-baik saja, percayalah,” ucap Auris berusaha menenangkan Aileen. 


“Aku nggak apa-apa.” Aileen menutup matanya dengan telapak tangan, rasanya ia akan mengeluarkan air mata karena rasa takut, mual dan pusing yang ia rasakan sekarang.


Auris tidak kehabisan akal, ia mengambil earphone yang dihubungkan dengan lagu favorit Aileen dan memasangkannya di telinga kiri sahabatnya itu. Tidak henti tangannya untuk mengusap lengan Aileen agar gadis itu tetap tenang.


Aileen tersenyum tipis menerima perlakuan Auris yang berusaha menenangkannya. Meskipun dirinya masih merasakan ketakutan, ia berusaha tersenyum sembari menatap Auris yang menatapnya khawatir. Gadis itu menghela napas sebelum menggenggam tangan sahabatnya.


“Aku baik-baik saja, jangan tunjukkan wajah seperti itu.” Aileen berucap diiringi tawa canggung. Ia segera melepaskan genggamannya pada tangan Auris, takut jika sahabatnya menyadari tangannya yang begitu dingin dan berkeringat.


“Apa kamu baik-baik saja?”


“Tentu, terima kasih.”


“Lihatlah anak ini sedang merengut ketakutan,” ledek Auris sambil memasang ekspresi ketakutan yang dibuat-buat. Hal tersebut berhasil membuat Aileen jengkel namun tertawa karena ekspresi yang dibuat sahabatnya.


“Kamu jelek sekali!”


“Jahat!”


“Aku bercanda. Aku menyayangimu!”


“Uh.. tampak menyeramkan.” Auris tertawa melihat ekspresi Aileen yang tertekuk karena kesal. Namun selanjutnya Aileen memeluk sahabatnya itu, berpikir bahwa gadis yang duduk di sampingnya merupakan satu-satunya orang yang peduli terhadap dirinya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Hari sudah malam, pesawat itu mendarat dengan sempurna. Murid-murid yang tampak kelelahan kembali bersemangat setelah turun dari pesawat. Dengan wajah bantalnya, mereka melangkahkan kaki membuntuti pak Bram ke sebuah bus yang mengantarkan mereka menuju hotel. 


Liam berjalan di samping Aileen yang tampak masih mengantuk. Tidak mudah bagi seorang Aileen untuk membuka mata, terlebih sebelum fajar menampakan dirinya. Ia memegangi tas Auris yang berjalan di depannya tanpa berniat melepaskan tas itu. 


Auris memasuki bus terlebih dahulu dan duduk di samping Ara, sedangkan Aileen duduk di belakang mereka. Tanpa izin, Liam mengambil tempat duduk tepat di samping Aileen. Merasa kursi sebelahnya ditempati oleh seseorang, Aileen yang tadinya terpejam segera membuka mata dan menatap orang tersebut. Ia menatap sinis lelaki itu karena sekarang ia tidak bisa memiliki jatah dua kursi untuk dirinya sendiri. Tidak terima ditatap seperti itu, Liam menaikkan sebelah alisnya sembari menatap dingin Aileen. Berharap tindakannya dapat mengintimidasi gadis itu.


Bus berangkat dari bandara. Ditengah perjalanan Aileen merasa wajah Liam tidak asing baginya. Aileen memekik begitu ia mengingat pernah bertemu dengan lelaki tersebut di sebuah tempat. “Kau! Kau si mesum!!” teriak Aileen dengan intonasi tinggi, bahkan gadis itu berdiri dari duduknya sambil menunjuk-nunjuk Liam. Mengundang hampir seluruh atensi murid-murid di dalam bus karena keributan tersebut.


“Mes–” Liam segera membungkam mulut Aileen menggunakan tangannya sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya, namun Aileen menggigit tangan Liam dan kembali meneriaki lelaki itu. “MESUM!!!”


“Siapa yang mesum?” ucap salah seorang siswa.


Liam kembali menutup mulut Aileen sebelum mulut gadis tersebut kembali membuatnya harus menahan malu. 


“Kenapa?” tanya Liam dingin pada kerumunan siswa tersebut membuat mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.


“Apa orang itu Liam?”


“Ga mungkin, masa ganteng-ganteng mesum sih.”


Aileen melepaskan kasar tangan Liam dari mulutnya, “Jangan menyentuhku!” ucap Aileen. Kini dipikirannya hanya ada peristiwa dimana ia memergoki Liam yang tengah memegang pakaian dalam wanita.


“Tutup saja mulutmu.”


Aileen melihat jalan dalam keadaan was-was, pikirannya dipenuhi oleh lelaki di sebelahnya. Ia takut Liam akan macam-macam padanya. Begitupun dengan Liam, ia mencari cara untuk mengatakan bahwa gadis di sampingnya salah paham. Setelah mengumpulkan keberanian, Aileen berbisik tepat di telinga Liam. “Apa kau benar-benar mesum?”


Liam menahan amarah sebelum sebuah instruksi bahwa mereka sudah sampai di hotel. Bahkan gadis di sampingnya sudah berdiri dan menyuruhnya menyingkir. Namun tanpa disangka tiba-tiba saja bus yang sudah terparkir bergerak membuat sebagian murid berteriak karena terkejut.


Aileen yang kehilangan keseimbangan membuat Liam harus menangkap tubuh gadis itu. Keduanya terdiam sejenak sebelum suara Ara membuat keduanya tersadar.


“Ya ampun, Aileen!” Ara berteriak girang sambil memeluk lengan Auris yang juga melihat Aileen dan Liam dengan tatapan datar.


Aileen segera mendorong tubuh Liam hingga tersungkur ke lantai bus. “Kau benar-benar mesum! Apa yang kau lakukan pada tubuhku, huh?”


Aileen menutupi tubuh bagian depannya dengan kedua tangan dan berjalan melewati Liam. Liam hanya bisa memandang kepergian Aileen dengan dua gadis lain dalam diam, meski dalam hati ia terus menyumpahi gadis yang brutal dan aneh itu -menurutnya-. Bus telah terparkir rapi di pada sebuah hotel dengan kemewahan dan fasilitas yang lengkap menyapa mereka dengan hangat. Seluruh murid mulai berjalan menempati kamarnya masing-masing. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Lelaki bertubuh mungil menarik kopernya dengan semangat. Dua lelaki dengan tujuan kamar yang sama berjalan di belakangnya. “Bisa kau bayangkan, tiga lelaki tampan bersatu dalam satu ruangan,” ucapnya sambil membukakan pintu kamar.


Kei masuk ke dalam kamar melewati Evin yang masih terdiam di daun pintu. Liam mengekori Kei untuk masuk sambil menarik kopernya yang tidak sengaja melindas kaki Evin.


“Argh, yang benar saja.” Evin menggerutu sembari menutup pintu cukup keras.


Setelah berada di dalam mereka bertiga dibuat terdiam karena hanya tersedia dua buah kasur. Liam melirik Evin dan Kei sekilas lalu segera menyeret kopernya ke samping kasur yang berada di dekat dinding.


“Aku disini.”


“Sendiri,” lanjutnya.


“A...a...a…tidak bisa seperti itu kawan. Kita tidak bisa menentukannya secara sepihak, kurasa ini tidak adil,” sambar Evin yang tidak setuju dengan pernyataan Liam.


“Kurasa ini cukup adil. Kau pernah dengar pepatah yang mengatakan siapa cepat dia dapat kan?” balas Liam.


“Huh? Tidak. Jika kau pria seharusnya kita menentukannya dengan jantan!” Evin semakin menentang sambil mengambil posisi untuk melakukan panco.


Perdebatan kedua lelaki itu terus berlanjut menjadi keributan yang tidak penting. Namun disisi lain, Kei tidak terganggu dengan hal itu karena ia hanya bisa fokus pada rasa kantuknya yang semakin kuat. Kei fokus dengan kasur yang ada di depan matanya, seakan memanggilnya dengan sangat lembut. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menjatuhkan dirinya ke atas kasur dan langsung terlelap.


Liam berteriak dengan keras atas kemenangannya melawan Evin setelah melakukan 2 ronde panco. Liam pun menghampiri kasurnya yang ternyata telah ditempati oleh Kei yang tertidur lelap.


“Sudah berapa lama kita panco?” tanya Liam kepada Evin


“Huh... Aku tidak tahu. Mungkin sekitar 40 menit.” 


“Argh… sial, sepertinya pertengkaran kita tadi sia-sia.” 


Evin pun melihat Kei yang sedang terlelap “Kau pantas mendapatkannya,” ucap Evin meledek Liam.


“Tapi tunggu, itu artinya, kita tidur bersama?” sambungnya.


Liam hanya menatap sinis Evin dengan raut wajah datar. Keduanya pun berusaha untuk membangunkan Kei, namun tidak berhasil. Tidak ada pilihan lagi bagi mereka untuk tidur di kasur yang sama, karena sudah terlalu lelah untuk mencari cara lain.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Mentari pagi menyapa mereka, pak Bram dengan megaphone toa berusaha membangunkan anak walinya. Ia tidak menyerah, suaranya begitu nyaring hingga seluruh murid keluar untuk sarapan. Tersisa satu kamar yang sama sekali tidak menghiraukan suara itu. 


Pak Bram segera mengecek kamar tersebut, ia bersyukur pintunya tidak terkunci. Saat membuka pintu, ia terkejut melihat tiga siswanya tertidur di ranjang yang sama dan saling memeluk satu sama lain. Kei terlebih dulu membuka matanya dan terkejut mendapati kedua teman sekamarnya sedang memeluknya seperti guling. 


“Argh, apa-apaan mereka ini?” ucap Kei sambil menendang kedua temannya itu hingga terjatuh.


“Aduh.” keduanya mengaduh kesakitan. Dalam keadaan setengah sadar, mereka berjalan menuju tempat tidur lain dan kembali melanjutkan tidur mereka. Hal itu membuat Kei tersadar bahwa kedua teman sekamarnya itu memiliki kebiasaan tertidur sambil berjalan.  


Pak Bram diam mematung berusaha mencerna keadaan, Kei yang masih dalam keadaan mengantuk melanjutkan sisa waktunya untuk kembali tertidur. Pria dewasa itu kehilangan kesabaran, ia mengambil air dan menyemprotkannya pada ketiga murid bebalnya itu.


“Hujan,” ucap Liam pelan sambil masih menutup matanya.


“Emm, iya,” balas Evin yang masih terlelap dalam tidurnya.


Kei segera menutupi kepalanya dengan selimut, seakan tidak terusik dengan cipratan air tersebut. Amarah Pak Bram semakin memuncak, ia menjewer telinga Liam dan Kei dan membawanya keluar, dilanjutkan dengan Evin.