HIAMOE

HIAMOE
ANOTHER HARMONY



"Baiklah, baiklah. Aku tutup dulu teleponnya."


Seorang gadis dengan pakaian yang cukup nyentrik melangkah dengan cepat menuju sebuah bangunan sederhana di ujung jalan. Salah satu tangannya mengapit sebuah benda persegi cukup besar yang dibalut oleh kertas coklat sementara tangan satunya sibuk dengan ponsel yang berdering.


Di sudut lain seorang laki-laki berdiri sambil menggelengkan kepala melihat Aileen yang tampak kerepotan dengan barang bawaannya. Saat gadis itu mendekat, ia berinisiatif untuk membawakannya.


"Evin. Kamu harus tau ini," ucap Aileen saat keduanya masuk ke dalam studio lukis mereka.


"Ada hal bagus apa sampai-sampai seorang Aileen seceria ini?"


Aileen mengulum senyum sembari menunjukkan sesuatu dari ponselnya. Sebuah bukti transfer yang masuk ke dalam rekeningnya dengan jumlah nominal cukup besar. Evin membulatkan matanya dengan tangan yang terangkat untuk menunjuk ponsel milik Aileen tidak percaya. Ia hampir berteriak jika sebuah panggilan masuk menginterupsi, menutupi hampir seluruh layar ponsel.


Melihat reaksi Evin, Aileen segera menatap ponselnya. Sedikit tersenyum melihat nama siapa yang tertera di sana.


"Hai," sapa Aileen lebih dulu.


"Ada sesuatu?"


"Sesuatu?" beo Aileen. Gadis itu memberi kode pada Evin untuk menerima telepon di luar sementara laki-laki itu sibuk membuka barang yang ia bawa tadi.


"Terlalu jelas kalau kamu lagi seneng." Suara berat di seberang sana menjawab, sepertinya laki-laki yang berbicara dengannya sedang bekerja. Samar-samar Aileen mendengar  bunyi yang ditimbulkan oleh pergerakan jari diatas keyboard komputer.


"Aku rasa sebentar lagi Evin dan aku akan pergi dari studio terpencil ini." Aileen duduk disebuah kursi sembari menatap sekitar. Sebenarnya tidak terpencil seperti yang ia katakan, hanya saja tempat ini tidak cocok untuk membangun usaha seperti yang diinginkan dirinya dengan Evin.


"Apa kau baru saja menjual salah satu ginjalmu?"


"Bagaimana jika iya?" tanya Aileen iseng, ingin mengetahui respon dari lawan bicaranya.


"Tak apa. Kau masih punya satu." Aileen memutar bola matanya, respon yang sudah ia bisa duga. Ia menyesali harapan untuk mendapat respon manis dari laki-laki itu.


Keduanya tenggelam dalam obrolan hingga Evin datang dan merebut ponsel Aileen. "Permisi tuan Liam. Sepertinya aku harus membawa Aileen untuk segera bekerja."


Aileen berdiri, terkekeh melihat Evin yang sudah mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Liam. Tangannya menengadah meminta kembali ponsel miliknya. Namun laki-laki yang tidak terlalu tinggi darinya itu malah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Akan ku berikan jika kau sudah menyelesaikan lukisan pesanan kita."


Studio lukis sederhana di samping kota milik mereka sebenarnya hanya sebuah bangunan kecil yang sudah lama tidak terpakai. Sejak kelulusan Aileen selalu bermimpi untuk memiliki galeri lukisannya sendiri dan membuat sebuah pameran. Menjadi seorang pelukis merupakan cita-citanya sekarang dan ia akan berjuang untuk mencapainya.


Cita-citanya menjadi seorang pelukis sedikit mendapat pertentangan dari tante Nia. Wanita itu menginginkan Aileen untuk segera memegang perusahaan peninggalan orang tuanya dibanding menjadi seorang pelukis yang perlu gadis itu rintis dari awal. Dan hal inilah yang membuat Aileen bertekad mewujudkan mimpinya sendiri.


Aileen memulai usahanya dengan menjual beberapa hasil lukisannya secara online, setidaknya itu berhasil membuat dirinya mendapatkan studio kecil milik tantenya Evin. Itu pun ia membayarnya bersama Evin yang memiliki tujuan sama dengannya. Jika Aileen ingin menjadi seorang pelukis sukses dengan pameran lukisan di galeri besar nantinya, Evin ingin membuat sebuah kelas atau sekolah melukis. Tentu mereka perlu satu per satu menaiki anak tangga untuk mencapai mimpi tersebut.


Hingga akhirnya, disinilah mereka berada, studio lukis yang cukup besar buah dari usaha yang memang tidak pernah mudah. Pameran seni yang mereka adakan pun mengundang atensi puluhan pelukis terkenal dan ribuan pengunjung.


Memang tidak pernah ada usaha yang sia-sia. Sebelum ribuan pengunjung mau datang untuk melihat satu karya lukisan, ada ribuan lukisan juga yang menemani di balik perjalanan panjangnya. Ada ribuan kuas yang berhasil dipatahkan karena berbagai sebab.


"Selamat-selamat-selamat!!" ucap Ara yang tampak sumringah melihat kesuksesan yang telah diraih sahabatnya. 


"Makasih!"


Seketika Ara merengut karena menyadari bahwa ia adalah satu-satunya yang belum meraih kesuksesan itu. Sontak ia menceritakan kesedihannya, namun ia kembali menemukan semangat saat sang sahabat merangkulnya dengan erat dan mengatakan bahwa hal baik akan terjadi suatu saat nanti jika 'putus asa' dilenyapkan dari perjalanan itu. Tidak apa jika berprogres lambat, setidaknya progres itu masih tetap ada. Tidak apa-apa berteduh saat sorot mentari dan hujan badai terlalu kencang, tapi jangan putuskan untuk singgah di pemberhentian itu.


Waktupun terus berjalan, semua kerabat dekat tampak semakin sibuk dengan urusannya masing-masing. Ara kembali termenung di depan tumpukan kertas berisi desain-desain fashion inovasi yang terus ia kembangkan. Meskipun mulutnya tidak berhenti protes akan kesulitan yang dihadapi, tangan gadis itu terus bergerak. 


Fashion show berisi baju-baju rancangan gadis itu akhirnya menjadi saksi bisu keringat yang tetap bercucuran di malam hari, saat semesta membiarkan kebanyakan orang untuk tertidur. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Di tengah kesuksesan sekalipun, Aileen perlu menghadapi berbagai ujian. Salah satunya, tas berharganya yang berisi progres proyek besar yang harus selesai dalam waktu dekat, diambil paksa oleh seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Sontak gadis itu berteriak 'maling', namun ia berjalan di tempat yang sepi. 


Teriakannya semakin tidak berarti memaksanya berlari ke si pencuri untuk merebut kembali tas tersebut. Mereka pada akhirnya berhenti di suatu tempat.


"Kumohon, kembalikan tas itu. Kau boleh mengambil uangnya."


"Sesuatu yang ada di tanganku saat ini, seluruhnya adalah milikku!" teriak pria asing tersebut sebelum badannya tersungkur karena tendangan seorang gadis yang Aileen kenal, Richelle.


Pria itu pun tampak tidak berdaya saat Richelle memborgol kedua tangannya. Ternyata, gadis itu saat ini telah menjadi polisi wanita. 


Cara yang unik ditunjukan Tuhan untuk mempertemukan manusia dan membekaskan kesan yang sulit terlupakan. Itu yang terjadi pada Aileen dan Richelle, bahkan hingga saat ini.


"Apa kabar?" tanya Aileen.


"Seperti yang terlihat."


"Ternyata ini alasan di balik membolos jam pelajaran demi memukul samsak di rooftop sekolah?"


"Mungkin."


Senyum tulus terukir di wajah kedua gadis tersebut seolah mencerminkan gambaran hati mereka. Cerita belum usai, masih akan ada kejutan-kejutan yang menunggu di depan sana. Tapi ada satu titik terang yang menjadi fokusnya saat ini hingga meruntuhkan riuh masalah yang berdatangan.