HIAMOE

HIAMOE
EXCESSIVE CONFIDENCE



Kei mengabaikan komentar Aileen. Ia berlutut dengan satu kaki lalu melihat kaki Aileen yang sepertinya terkilir. Lelaki itu memegang salah satu kaki Aileen untuk ia amati, namun detik berikutnya ia gerakan pergelangan kaki tersebut hingga Aileen menjerit bahkan menarik rambut Kei dengan kuat.


“ARGH! APA KAU GILA?!” Kei berusaha melepaskan cengkraman tangan Aileen dari rambutnya. Namun Aileen tidak langsung melepaskan cengkramannya, ia menggerakkan kakinya yang terasa lebih baik. Ia tersenyum sembari melepas cengkraman pada rambut Kei. “Waa.. aku kira kau baru saja mematahkan kakiku.”


Kei mendengus, ia melepaskan dasinya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Aileen sambil menutupi tubuhnya.


 Kei berucap tanpa melepaskan pandangannya dari kaki gadis itu. “Diamlah. Kakimu akan membengkak jika tidak dibalut.”


Aileen mengangguk saja membiarkan lelaki itu membalut pergelangan kakinya menggunakan dasi miliknya. “Kau yakin akan menggunakan itu?”


“Kau punya kain elastis lain?” tanya Kei. Aileen mengedarkan pandangannya, lalu ia menunjukkan tisu yang ia pegang membuat Kei kembali menghela napas entah untuk yang keberapa kalinya.


Aileen tersenyum melihat Kei dengan telaten membalut pergelangan kakinya. Ia dengan sengaja menggerakkan-gerakkan kakinya pelan, menggoda lelaki itu.


“Bukankah kau berbakat menjadi tukang pijat?”


Kei menahan kekesalannya dengan berdiri sambil menatap gadis dihadapannya yang tersenyum tanpa rasa bersalah, “Punya kata lain untuk disampaikan?”


“Ah, iya. Terima kasih.”


“Dan?”


“Dan..?” beo Aileen bingung.


“Lupakan.”


Aileen melihat-lihat buku yang berada di sekitarnya dan terkejut mendapati buku-buku sudah tertata rapi. Ia berusaha memuji Kei. “Wow, selain berbakat menjadi tukang pijat kau juga berbakat menjadi asisten rumah tangga.” ucapnya.


Perkataan itu membuat Kei harus bergelut lagi dengan kekesalannya, untuk kesekian kalinya. Kei menatap mata Aileen untuk beberapa waktu sambil membayangkan untuk melemparkan gadis itu ke Palung Mariana dan tertawa puas untuk itu atau mengirimkannya ke Boomerang Nebula yang memiliki suhu -272 derajat celcius. 


Aileen memetikkan jarinya di depan wajah Kei yang mengekspresikan tatapan penuh dendam. Seketika Kei tersadar, gadis yang ada di depannya itu mengibaskan rambutnya dan bersikap seolah dia telah membuat satu lagi lelaki di dunia ini jatuh hati padanya. 


“Permisi, duh, sebenarnya ini situasi sulit. Aku sadar akan kecantikanku sendiri. Tapi bukankah terlalu berlebihan untuk terus menatapku seperti itu?” ucap Aileen sambil menyilangkan tanganya dan berjalan perlahan melewati Kei.


Kei kembali menahan kekesalan, kini mukanya merah. Tambahan suhu yang tinggi sudah berhasil mengalirkan kalor menuju sebuah sistem. Jika tidak segera beranjak, ia bisa meledak. Maka Kei memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. 


“Arghh!” geram Kei sebelum meninggalkan Aileen.


Gadis itu tersenyum dengan percaya diri merasa bahwa lelaki itu malu didapati sedang terkesima menatap pesonanya. Kemudian ia menghela napas dan melihat sekitarnya yang terlihat sepi dan mengerikan. Hanya sendiri, sontak Aileen membawa tas nya dan berusaha berlari meskipun kakinya terasa sangat sakit. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen mengendarai mobilnya menuju unit apartemen barunya. Sambil menyetir ia terus menggerutu kesal mulai dari perlakuan Kei yang meninggalkannya sendiri dengan kondisi kakinya yang sakit serta tante Nia yang meninggalkannya ke Swiss dan memberikan apartemen tanpa sebuah kata sepakat. Pikiran gadis itu seakan tidak bisa untuk beristirahat bahkan untuk sejenak.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Kei berjalan menelusuri lorong apartemen dengan setengah energi yang tersisa dalam tubuhnya. Saat membuka pintu apartemen, ia mendengar suara aneh seperti orang berjalan namun langkah kakinya tidak normal membuatnya kembali mengingat film horor jepang. Bulu kuduknya merinding, keberadaan lampu yang rusak dan belum kunjung diganti menambah suasana menjadi semakin menyeramkan. 


Lelaki itu bergegas masuk ke apartemennya sambil terus menguping suara mengerikan di balik pintu yang tertutup rapat. Ia menahan napas saat suara itu berhenti tepat di samping apartemennya. Menyadari situasi yang tidak masuk akal, ia tertawa untuk dirinya sendiri dan membuka pintu apartemennya dengan cepat.  


Kini ia dibuat terkejut mendapati punggung seorang gadis dengan jaket dan rok yang ia kenali jelas dari pantulan cermin. Aileen, lelaki itu segera menutup pintu dan tidak habis pikir tentang bagaimana gadis yang baru saja ia kenal sekaligus banyak membuat masalah di hidupnya itu terus menerus hadir dan seakan terikat. 


Keberadaan gadis itu berhasil membuat Kei tidak bisa tertidur. Terlebih saat membayangkan betapa menderitanya ia jika gadis itu mendapatinya sebagai tetangga dekat, tinggal di apartemen yang sama, hanya terhalang satu dinding. Waktu berjalan begitu cepat, ia menutupi wajahnya dengan bantal dan berusaha tidur, namun lagi-lagi ia tidak bisa. 


Ia beranjak dari ranjangnya dan memutuskan untuk datang ke sekolah pagi hari agar tidak berpapasan dengan gadis itu. Dengan baju seragam yang dikeluarkan dan dasi yang tidak terpasang secara sempurna, Kei melewati unit apartemen Aileen sambil berjinjit menjinjing sepatunya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lorong apartemen membuatnya berlari begitu cepat. Seorang satpam dengan sebuah lampu di tangannya kebingungan melihat tingkah laku Kei.


"Apa benar anak itu pergi sekolah sepagi ini?" ucap satpam tersebut sambil membuka dus lampu yang ia genggam.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Kali pertama Kei bisa merasakan udara sekolah dini hari. Suasana lorong yang sepi, angin dingin yang berhembus, tombol lift yang terasa membeku, dan suasana kelas yang jauh dari celotehan murid atau guru. Momen yang sempurna untuk melepas kantuk. Ia melempar tas yang ia bawa di atas mejanya dan menggunakannya sebagai bantal tidur. Akhirnya, lelaki itu tertidur pulas.


Evin memasuki ruangan kelas dengan semangat dan senyum ceria seperti biasanya. Ia sanggup memberikan kesan bahwa tidak ada satupun hal buruk yang berhasil masuk dalam hidupnya. Jika masalah adalah mikroba mengerikan, maka ia adalah orang yang selalu siap dengan antiseptik, desinfektan, dan berbagai macam perlindungan lainnya. 


“Selamat pagi!” ucap Evin sambil menatap ke arah Kei dan berjalan mendekatinya. “Waa, dia benar-benar menghancurkan rekorku menjadi siswa pertama yang masuk kelas. Apa dia bermalam disini?” sambung Evin sambil menyimpan tasnya dan tanpa melepaskan pandang dari Kei.


Melihat Kei tertidur dengan pulas seolah mampu menyihirnya untuk ikut tertidur. Waktu begitu cepat berlalu, kerumunan murid lain memasuki ruangan kelas 30 menit sebelum pelajaran benar-benar dimulai. Keributan itu semakin menjadi, ditambah dengan suara ghibahan dari para siswi.


“Ih, sebel banget deh. Siapa sih tuh anak kelas sebelah. Masa dia menyenggol kita tapi nggak minta maaf.”


“Richelle?”


“Oh si itu, aku rasa kita udah tau deh orangnya.”


“Serius? Iya kan? Nyebelin kan? Emang cantik sih tapi, dih.. malas nggak sih?”


“Bener banget... padahal cantikan juga Aileen.”


“Yaiyalah, huuu.” 


Sorakan siswi-siswi itu semakin menjadi membuat Kei yang merasa tidurnya terganggu menyampaikan komplain. “Sttt, berisik!” ucapnya diikuti dengan ucapan dari Evin, “Betul.” Para siswi yang merasa tidak nyaman itu merespon dengan memojokan Evin, tanpa melibatkan Kei sama sekali.


“Muka kamu nyolot Vin, bisa biasa aja nggak?” ucap siswi tersebut.


Evin terbangun dengan kesal karena merasa ada sesuatu yang tidak adil. Ia melihat siswa yang tertidur pulas di belakangnya sambil berpura-pura menonjok muka siswa tersebut. Ia terkejut menyadari Kei membuka matanya. Ia mencari alibi dengan menunjukan jari-jari lentiknya.


Kei melihat Aileen masuk ke dalam kelas dengan rambut yang dikepang membuatnya lebih manis dari biasanya. “Cantik.”


Mendengar perkataan Kei membuat Evin merinding dan segera mengecek dahi teman sekelasnya itu yang langsung ditepis oleh Kei.


“Aish, kau ini benar-benar memalukan,” ucap Evin.


Celotehan murid itu seketika berhenti saat langkah kaki guru yang mereka kenali bahkan dari jarak jauh terdeteksi. Pak Bram, guru unik dengan berbagai pesonanya siap untuk mengajar pelajaran olahraga. Ia melangkahkan kakinya dengan percaya diri menuju kelas.


“Selamat pagi murid-muridku,” sapanya sambil memperlihatkan otot-otot lengannya.


“Selamat pagi pak!” jawab serempak murid-murid.


Tidak seperti biasanya, kali ini percakapan guru dan murid itu sama sekali tidak berisi lelucon garing. Pak Bram yang bersemangat untuk mengajar olahraga menjelaskan teori permainan basket dengan menyenangkan, namun tidak bagi Evin. Dia seakan merindukan lelucon dari gurunya tersebut. 


Pelajaran teori olahraga sudah berlalu, guru itu memberi waktu bagi murid-muridnya mengganti pakaian untuk praktek. Para siswa tampak bersemangat. Ruang ganti siswa seakan menjadi ajang bagi mereka untuk memamerkan otot-otot yang mereka miliki membuat Evin berusaha menarik nafas agar perutnya terlihat lebih ramping. Ia menghembuskan nafas seketika ketika melihat tubuh atletis dari Kei.


“Waaa, apakah kau tidak pernah makan malam atau semacamnya?” ucap Evin sambil menunduk dan melihat perut buncitnya.


Memahami maksud dari perkataan teman di sebelahnya itu, membuat Kei segera menggunakan baju olahraga miliknya.


“Apa kau terobsesi dengan perutku?” tanya Kei sambil melihat perut buncit Evin dan segera pergi.


Tidak ingin terpojok dengan perlakuan Kei, ia menahan napas dan bergumam dengan perutnya.


“Tidak apa-apa chubby tummy, kau tetap imut dengan karismamu.”


Tindakan Evin yang menamai perutnya berhasil terdengar oleh siswa lain yang ada di ruang ganti. Seketika mereka menatapnya geli dan segera keluar dari ruang ganti. Evin yang tersadar akan tatapan teman-temannya berusaha menjelaskan dan menyusul mereka, namun ia lupa bahwa keadaannya sedang telanjang dada.


Seketika teriakan beberapa siswi terdengar di depan ruang ganti. Evin ikut berteriak dan segera menutup badannya dengan baju olahraga yang berada di bahunya kemudian berlari menuju gor basket.


“Ahh, mataku,” ucap salah seorang siswi sambil tetap menutup matanya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Perpaduan suara dari permainan bola basket dan teriakan murid berhasil membuat suasana gor menjadi ramai. Bahkan sebelum praktek olahraga dimulai. Suara peluit menghentikan permainan mereka, pak Bram dengan kertas dan pulpen di tangannya membagi tim perempuan dan laki-laki masing-masing menjadi 2 kelompok.


Pertandingan 5 x 5 menggunakan lapangan full court dengan ukuran 28 x 15 m beserta dua ring basket itu dimulai dari regu siswa. Waktu dibagi menjadi empat babak dengan durasi 10 menit pada setiap babak sesuai dengan International Basketball Federation (FIBA). 


Pertandingan berlangsung begitu sengit. Kei berhasil membawa regunya ke posisi teratas setelah mencetak beberapa three point meskipun Evin beberapa kali salah memasukan bola ke ring daerah timnya. Akhir pertandingan dimenangkan oleh regu Kei dan Evin dengan selisih poin yang sangat tipis.


Suasana atmosfer berubah seketika saat tim siswi memulai permainan. Teriakan siswi memperebutkan bola membuat pak Bram tak bisa berkata-kata, beberapa siswi bahkan membawa bola itu tanpa melakukan dribble. Peringatan dari guru itu seakan hanya angin lalu, pertandingan berlangsung begitu kacau. 


Aileen memainkan permainan basket sesuai dengan peraturan miliknya. Siswi itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencetak poin. Beberapa kali ia mengarahkan bola ke ring ataupun ke teman satu regu. Namun bola itu seakan memiliki daya magnet untuk mendekati tubuh Kei setelah tangan Aileen melemparnya. Kei dihujani oleh bola basket yang dilemparkan gadis itu meskipun sudah berusaha untuk menjauh. Hal ini membuat Kei geram dan merasa gadis itu sengaja melemparkan bola itu padanya.


Pertandingan diakhiri tanpa ada satupun poin yang tertera pada scoring board.


Kei menarik tangan Aileen usai pertandingan berlangsung. Hal itu membuat murid-murid penasaran mengenai hubungan mereka. Merasa sakit pada pergelangan tangannya, Aileen meminta Kei untuk berhenti. Lelaki itu hanya melonggarkan cengkramannya dan memperlambat langkah sambil tetap menarik tangan Aileen. Gadis yang merasa kesal itu kemudian menggigit tangan Kei.


“Argh. Apa kau sudah gila?” bentak Kei pada gadis yang sekarang ada di depannya.


“Suruh siapa kau menarikku dengan kuat? Ini sakit!” keluh Aileen sembari mengusap pergelangan tangannya.


“Maaf.”


Aileen menatap wajah Kei yang terlihat khawatir. Ide jahil terlintas di pikirannya untuk menggoda lelaki itu.


“Aduh, sakit banget.” Aileen meringis sambil memegangi pergelangan tangannya. Ia melirik Kei yang semakin terlihat khawatir, bahkan lelaki itu memegang pergelangan tangan Aileen untuk ia amati. Kulit pucat gadis itu memang sedikit memerah karena cengkramannya yang cukup kuat di awal.


Aileen bisa melihat wajah Kei yang merasa bersalah dan itu semakin membuat tingkat percaya dirinya bertambah tinggi.


“Apa kau benar-benar menyukaiku?”


Mendengar itu, Kei segera menghempaskan lengan Aileen. Ia menghela napas sebelum menatap tajam gadis dihadapannya. “Dalam mimpimu.”


Melihat Aileen hanya tersenyum tanpa membalas ucapannya membuat Kei merasakan hal aneh dalam dirinya. Ia segera berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Aileen sendiri. Beberapa kali kepalanya ia pukul pelan.


Aileen yang bisa melihat Kei beberapa kali memukul kepalanya tertawa kecil. Rasanya cukup menyenangkan untuk mengerjai lelaki yang selalu bersikap dingin padanya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Seluruh murid telah kembali ke dalam kelas. Ara mendekati Aileen yang sedang merapikan baju olahraganya. Siswi yang sempat dilupakan namanya oleh Aileen itu menusuk-nusuk pelan pipi Aileen menggunakan jari telunjuknya. “Aileen.. Aileen..”


“Kenapa?” tanya Aileen tanpa mengalihkan pandangannya dari baju olahraga.


“Apa yang dilakukan Kei padamu tadi?”


Aileen menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Ara sebelum mengalihkan pandangannya pada Kei yang ternyata sedang memperhatikannya juga. Keduanya saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sudah kuduga, Kei pasti menyukaiku, dasar tidak mau ngaku, batin Aileen percaya diri.


Lihatlah tatapan psikopatnya, kau harus menjauhinya Kei, batin Kei.


Ara yang menyaksikan keduanya hanya bisa bergidik. Perlahan ia melangkah mundur untuk kembali ke tempat duduknya. Berbeda dengan Auris yang duduk disamping Aileen. Ia merasa aneh dengan perubahan sikap sahabatnya yang terlihat seolah dekat dengan Kei. Padahal setelah dikhianati oleh teman-teman SMP, Aileen sangat anti didekati orang baru.