HIAMOE

HIAMOE
STRANGER CONSTELLATION



Aileen dan Kei mengacungkan tangan menandakan keberadaannya di kelas dan disambut ucapan tegas dari pak Bram.


“Temui bapak di ruang konseling.”


“Apakah tadi sudah cukup menyeramkan?,” sambung pak Bram dengan gumaman sebelum berjalan cepat ke ruang konseling.


Kedua mata insan itu kembali saling berpapasan, Aileen melambaikan tangan pada Kei namun siswa itu tidak menghiraukannya sama sekali dan bergegas keluar. Aileen yang menyadari makanan yang ia berikan tertinggal segera mengambilnya dan menyusul Kei. 


“Tunggu, Kei, namamu Kei kan?” tanya Aileen.


Siswa itu menghentikan langkahnya dan menengok gadis yang ada di belakangnya sebelum melanjutkan berjalan tak mengacuhkan Aileen. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Suasana ruang konseling sangat menegangkan, bahkan hanya ketika melihat dari daun pintu. Aileen perlahan membuka tas lelaki di hadapannya dan memasukan kantong kresek berisi makanan yang ia genggam ke dalam tas tersebut tanpa sempat menutupnya kembali. 


“Masuk!,” teriak pak Bram pada kedua anak walinya itu. 


Pak Bram melipatkan kedua tangannya di meja, suasana ruangan begitu sepi, hanya terdapat tiga orang disana dengan suara AC yang mencoba meruntuhkan keheningan. Pria yang tidak tahu harus memulai percakapan dari mana itu, memilih untuk menatap secara bergantian dua muridnya. 


Keadaan begitu hening dan kaku, sampai akhirnya Kei memberanikan diri untuk bertanya.


“Kenapa kami dipanggil pak?”


Aileen merasa lega karena tas Kei tepat berada di sampingnya, ia segera berpura-pura mengikat tali sepatunya dan menutup resleting tas lelaki di sampingnya. Namun kekhawatiran gadis itu tidak berhenti sampai disitu, tiba-tiba kepentingan biologis membuatnya harus menahan buang air kecil.


“Ayolah, kenapa saat-saat seperti ini?” batin Aileen.


“Begini..” ucap pak Adam


“Aduhh, ini sih nggak bisa ditahan lagi,” batin Aileen


“Pak, maaf.” potong Aileen.


“Iya Leen, bapak mengerti, pasti kamu terkejut. Tapi berlari dari tanggung jawab itu hal yang tidak pantas. Apapun kondisinya, kamu harus bisa bertanggung jawab atas semua yang telah kamu lakukan. Bapak benar-benar kecewa,” sambung pak Bram.


Aileen berusaha menahan kencing dengan raut wajah dan gerak-gerik yang terlihat jelas namun pak Bram tidak berhasil menangkap kode dari siswinya tersebut dan melanjutkan pembicaraan.


“PAK!!” Aileen berteriak, beranjak dari duduknya dan segera berlari terbirit-birit mencari toilet. 


Dua orang yang tersisa di ruangan tersebut saling menatap dan merasakan bulu kuduknya mulai terangkat. Tidak disangka, gadis semanis Aileen bisa berteriak sekencang itu. Namun guru itu berusaha menunjukan wibawanya dan berteriak “Tidak apa-apa Aileen, tidak ada yang kecewa padamu.” 


Kei memandang aneh guru di depannya dan menghela napas sambil memalingkan wajahnya ke pintu keluar. 


“Apa masih ada orang normal di sekolah ini?” batin Kei.


Suasana menjadi semakin sepi, Aileen tidak kunjung kembali ke ruang konseling. Guru itu merasa ini saat yang tepat untuk memberikan kebijakan.


“Sepertinya masalahnya sudah selesai ya?” 


Kei membalas pertanyaan guru itu dengan tatapan bingung. “Maaf pak?”


“Maksudnya, biar bapak yang urus. Kamu boleh pulang.”


Siswa itu segera beranjak dari tempat duduknya dan pulang. Disisi lain, Aileen menatap dirinya di cermin toilet guru. Ia terus berpikir bagaimana caranya meminta maaf dan meluruskan semuanya setelah melakukan dua kesalahan besar. 


Gadis itu menghela napas dan beranjak keluar sambil menundukan kepalanya karena menyesal. Namun sial, ia menabrak punggung guru dan menyisakan air yang berpindah dari mukanya ke kemeja rapi guru tersebut. Tidak ingin menambah kesalahan lagi, Aileen segera meminta maaf.


“Maaf, pak.” ucap Aileen.


Guru itu merasakan dingin pada punggungnya, dan segera menyadari setelah melihat rambut Aileen yang masih basah. Ia menghela napas dalam-dalam dan mempersilahkan gadis itu melanjutkan perjalanannya.


Suara ketukan pintu terdengar pada ruangan konseling, namun pak Bram tidak menyadarinya dan terus mondar-mandir di depan meja kerjanya. Aileen pun memutuskan untuk langsung masuk ke dalam ruangan tersebut. Tidak diduga, pak Bram terkejut dan berteriak karena kedatangan siswi yang ia tunggu. Aileen spontan terkejut dan turut berteriak, pak Bram sempat menghentikan teriakannya ketika gadis itu berteriak dan membalasnya dengan berteriak lagi. Kejadian itu begitu sinkron seolah mereka sedang mengisi suara satu sama lain dengan harmonis.


Mendengar suara itu, satpam sekolah segera menghampiri mereka.


“Permisi, apa ada masalah?” ucap satpam.


Tersangka keributan itu berbarengan menggeleng. Melihat itu, satpam segera pergi. Mencoba terlihat berwibawa, pak Bram mencari dinding dan menaikan sikunya ke dinding tersebut, diikuti dengan menyilangkan kakinya seperti gaya khasnya saat sedang di kelas.


“Ekhm, oh ada Aileen, apa kabar?” tanyanya.


“Uh? Mmm, baik pak.” jawab Aileen


Aileen mengangguk dan segera beranjak pulang setelah mendengar ucapan dari pak Bram.


Pak Bram segera duduk di bangku kerjanya dan menghela nafas dalam-dalam setelah mengintip dan memperhatikan Aileen sudah pergi menjauh dari ruangannya. Ia membuka berkas data Aileen dan Kei dan menyadari ada kesamaan diantara keduanya, sama-sama kehilangan orang tuanya sejak kecil. Ia termenung beberapa saat sebelum suara lonceng yang dibunyikan satpam meruntuhkan lamunannya dan membuat pria tersebut berlari terbirit-birit menuju mobilnya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen membuka pintu rumahnya. Seperti biasa rumah yang megah itu sepi, keceriaan hanya tampak pada sekumpulan foto yang terpajang rapi di dinding. Namun hal itu seakan tidak akan kembali dirasakan. Gadis itu segera pergi ke kamarnya dan berbaring di kasur. Foto di samping kasur seakan menyambut kedatangannya. Meskipun senyuman itu masih terukir, air mata tidak bisa tertahankan dan membasahi pipinya.


Hari ini, aku belajar banyak hal mah, pah. Maaf, sekali lagi aku mengecewakan kalian dengan air mataku.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Air yang terjatuh membasahi kepala dan sekujur tubuh Kei seolah membawa semua masalah bersama dengan alirannya. Meskipun seringkali merasakan perih pada pelipisnya, remaja lelaki itu menghiraukannya. Kejadian yang baru saja ia alami di sekolah membuatnya tidak habis pikir. 


Dering ponsel terdengar begitu nyaring membuatnya harus menghentikan kran shower dan segera menggunakan handuk yang berada di sampingnya. Namun dering itu berhenti sesaat setelah ia selesai.


“Syukurlah,” gumam Kei.


Kei melemparkan dirinya di atas ranjang dan menghembuskan napas. Sesaat kemudian, ada yang membunyikan bel pada unit apartemennya yang sanggup membuat lelaki itu jengkel dan berjalan membukakan pintu.


“Permisi, paket atas nama tuan Kendrick?” ucap satpam.


“Maaf, dari siapa ya?” tanya Kei.


“Kurang tau, tidak tertera disini, mungkin bisa cek ponselnya mungkin dari penggemar misterius.” ucap satpam tersebut sambil tersenyum menggoda ke arah Kei dan berjalan menjauh.


Kei menatap aneh dan segera menutup pintu. Ia melemparkan paket tersebut ke sofa. Menerima saran satpam itu, ia merogoh ponsel yang berada di dalam tasnya. Namun ketika ia mengambil tas, suara aneh terdengar membuat Kei penasaran dan was-was membuka tas tersebut. Ia menggunakan helm yang berada di sampingnya dan membuka tas tersebut dengan kehati-hatian. 


Ketika tas tersebut terbuka, ia terkejut mendapati kresek hitam yang tidak ingin ia lihat lagi berada di tasnya. 


“Aish, ini dari anak itu kan?” ucap Kei sambil melepaskan helm yang ia kenakan.


Penasaran dengan isinya, Kei membuka kresek hitam yang sudah kusut itu. Ia tersenyum tipis melihat roti, susu, dan permen bertuliskan sorry >.<, terikat rapi oleh seuntai pita pink. Menyadari itu, ia menampar mukanya yang terluka dan berpekik.


“Ahhh, gadis itu benar-benar membawa masalah.”


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Aileen terbangun dari tidur dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Waktu menunjukan pukul 4, masih terlalu pagi untuk kata terlambat sekolah. Ia mengecek ponselnya dan terkejut saat mendapati 20 telepon tidak terjawab dan satu pesan dari tante Nia yang memintanya segera menghubungi jika sudah membaca pesan tersebut.


“Halo, kenapa?” ucap Aileen pada telepon.


“Leen, udah gila apa? Nggak bisa tidur cuma karena nungguin kabar dari kamu. Kemana aja?” omel tante Nia.


“Oh itu, ketiduran. Kenapa?” 


“Hari ini tante harus pergi ke Swiss. Mungkin dalam waktu yang lama. Tapi tenang, tante udah beli apartemen buat kamu biar kamu ga kesepian disana. Alamatnya sudah dikirim via chat. Listrik di rumah udah dimatiin supaya kamu nggak bandel. Oke? Jaga diri baik-baik.” ucap tante Nia sebelum segera menutup teleponnya.


Aileen yang terkejut akan ucapan tante Nia segera mengecek listrik di rumahnya dan jengkel saat melihat semuanya tidak berfungsi. Kini harapannya adalah memanfaatkan ponsel dengan sisa baterai 55%. Ia segera mandi dan merapikan perlengkapannya, terlebih perlengkapan sekolah. 


Semuanya sudah disiapkan dan dikemas rapi dalam mobilnya. Ia segera mengendarai mobil menuju apartemen yang diberikan oleh tante Nia; sambil menggerutu.


“Aish, mana bisa hidupku tidak penuh dengan tantangan?” gumamnya sambil memacu mobil dengan kecepatan penuh.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Aileen memarkirkan mobilnya dan menaiki lift. Ia terkejut dan terpana melihat dekorasi mewah di apartemen barunya itu. Di tempat resepsionis, ia segera mendapatkan kartu unit apartemennya sekaligus pelayanan yang sangat baik. Sepanjang jalan Aileen dibuat takjub dengan pemandangan kota menjelang fajar yang ditawarkan pada kaca besar apartemen.


“Lantai 4, unit apartemen nomor 152. Silahkan. Jika ada yang perlu dibantu mohon hubungi kami,” ucap pelayan itu ramah sambil membukakan pintu dan mengantarkan barang-barang Aileen.


“Baik, terima kasih,” jawab Aileen yang kembali terhipnotis dengan kemewahan unit apartemennya.


Aileen melihat-lihat unit apartemen itu dan segera mendekorasi ruangan tersebut dengan foto-foto yang dibawa dalam kopernya. Ia menarik nafas lega dan berbaring di sofa sambil bergumam. 


“Selain mewah, ternyata fasilitas apartemen ini lengkap. Ada ruang tamu dan dapur yang bersih juga tapi aku tidak bisa masak sama sekali.”


Gadis itu menghela napas, tidak terasa 30 menit lagi sekolah akan dimulai. Ia segera mengambil tas dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia begitu tergesa-gesa sampai melindas genangan air dan mengguyur siswa yang sedang berjalan kaki. Ketika melihat kaca spion dalam, ia terkejut mendapati siswa tersebut adalah Kei. Gadis itu bergumam sebelum keluar dari mobil dan menghampiri Kei.


“Aish, cowok itu lagi? basah kuyup banget. Ya ampun, dosaku.”