
Aileen menepis lengan Liam yang mengusap pipinya. “Jangan menyentuhku, mesum.” Liam memutar bola mata menerima perlakuan tidak terduga dari gadis itu, namun ia tetap berdiri di tempat untuk melindungi Aileen dari guyuran hujan.
“Dan aku tidak menangis,” sambung Aileen sembari mengusap air matanya kasar. Ia menghindari kontak mata dengan Liam, gadis itu tidak suka jika harus terlihat lemah di hadapan orang lain.
Liam menatap Aileen tanpa berucap sepatah katapun. Gadis di hadapannya jelas terlihat rapuh, dan Liam dapat melihat semua itu dari sorot matanya. "Cih, sudahlah." ucap Aileen sambil memberikan jaket yang menyelimutinya pada Liam dan segera pergi. Namun lelaki itu menahannya, "Kau salah.”
"Aku akui, kau memang bodoh. Bahkan jika dibandingkan dengan adikku yang berusia 6 tahun kau ini lebih bodoh."
Aileen menatap tajam lelaki dihadapannya, layaknya seekor singa jantan yang kelaparan.
"Tapi kau tidak lemah, hanya saja.."
"Apa?"
"Kau ini bodoh," sambungnya.
"Yaaa!!" teriak Aileen sambil memukuli badan lelaki dihadapannya.
Liam menahan tangan Aileen dan menarik tangan gadis itu untuk mengajaknya ke sebuah warung yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berada. Lelaki itu memesankan dua minuman hangat tanpa persetujuan gadis di sampingnya.
"Gunakan jaket ini. Bajumu basah, itu dapat dilihat orang-orang," ucapnya sambil menyelimuti Aileen dengan jaketnya dan memberikan gadis itu minuman hangat. “Dan bisa saja kau masuk angin, lalu merepotkanku.”
Aileen melirik baju yang ia kenakan ternyata memang benar-benar basah. Ia melirik Liam sembari menjitak kepala lelaki di sampingnya dengan kencang. "Terima kasih, mesum." ucapnya pelan diikuti dengan Liam yang mengaduh kesakitan.
"Apa katamu?" tanya Liam sambil mendekatkan telinganya ke wajah Aileen.
Aileen meniup kencang telinga lelaki itu hingga berdengung dan tertawa puas karena itu. Liam memegang kedua telinganya sambil menatap gadis yang tertawa di sampingnya. Ia tidak menyangka dapat melihat tawa gadis itu. Perlahan, lelaki itu mengulum senyum dan segera meminum minuman yang ada di hadapannya.
“Apa yang membuatmu berpikir aku mesum?”
“Aish, sudahlah jangan mengelak. Kau baru saja menunjukkan bahwa dirimu memang mesum.”
Liam hanya mendengus sembari menatap Aileen dengan tatapan jengkel. Sedangkan gadis itu kembali tertawa melihat ekspresi Liam yang menurutnya lucu.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Mentari sudah sepenuhnya tenggelam dan menyisakan langit dengan senyuman bulan dan ribuan bintang. Masing-masing murid sudah masuk ke kamar hotel mereka, menyisakan Kei yang tengah berbincang dengan seorang pria dewasa.
Kei tersenyum sinis, “Setelah bertahun-tahun membiarkan anaknya sendiri. Ia datang jauh-jauh dengan percaya diri," sarkas Kei pada pria disampingnya tanpa menatap wajahnya.
“Kau tumbuh dengan baik,” jawab pria tersebut ragu sambil menatap haru anaknya yang sama sekali tampak tidak senang atas kedatangannya.
“Apa yang ingin kau katakan?”
Pria itu tersenyum, “Kau sudah mendengarnya." Pria itu menepuk bahu Kei dan perlahan berjalan pergi.
Air mata lelaki itu tidak bisa terbendung lagi, kemarahan itu kembali meluap. Ia menatap punggung pria itu, "Terima kasih sudah membuatku seakan tidak memiliki siapa-siapa selama ini." Kei meluapkan amarahnya pada pria tersebut dan membuat pria itu menghentikan langkahnya tanpa melihat Kei.
"Aku memang tidak sempurna, aku tidak bisa melindunginya dengan tangan kecilku saat itu. Tapi aku berusaha, kau boleh membenciku, aku mencoba sekuat tenaga untuk menerima itu. Jalani hidupmu sendiri, jika kau bahagia dengan itu," sambung Kei sambil berjalan cepat melewati pria itu.
“Evin bisa kau mundur sedikit? Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan,” bisik Ara.
“Tidak bisa. Sudah, kau jangan berisik agar kita tidak ketahuan,” balas Evin dengan berbisik juga.
“Apa yang kalian lakukan?” Terdengar suara dari belakang Evin dan Ara.
“Sssttt… jangan berisik. Tidak terdengar jadinya.” Serentak Evin dan Ara membalas dan tersadar itu suara orang lain.
Keduanya saling menatap terkejut dan menoleh ke belakang mendapati Pak Bram ikut menguping percakapan itu di balik tembok.
“Loh, pak Bram, kok belum tidur Pak?” Evin tersenyum lebar dan berusaha mengalihkan pembicaraan
“I-iya pak, kita aja ini udah mau ke kamar karena ngantuk,” timpal Ara berusaha meyakinkan Pak Bram.
“Apa yang sedang mereka bicarakan?" tanya pak Bram sambil mendekatkan telinganya ke tembok.
Evin dan Ara menggeleng, mereka sibuk memfokuskan pendengaran pada percakapan tersebut tanpa menyadari bahwa itu telah berakhir. Kei melewati ketiga orang tersebut dengan kasar tanpa menghiraukannya.
"Woaa, dua anak ini. Menguping pembicaraan orang lain. Benar-benar memalukan." Pak Bram mengencangkan suaranya seakan mencari pembelaan pada dirinya sendiri. "Kalian tidak boleh melakukannya lagi. Sekarang kalian bapak bebaskan, tapi jika kalian mengulanginya, hukuman menanti kalian”
Ara dan Evin mendapatkan berbagai ceramah tidak berarti dari pak Bram. Demi mengobati harga dirinya, pria itu menjewer dan menyuruh dua anak walinya tersebut kembali ke kamar masing-masing setelah melihat ayah Kei keluar dan melihat mereka.
"Maaf pak, ini biar saya tangani," ucapnya tegas pada pria yang melewati sekilas di depannya.
Kedua murid tersebut mengaduh kesakitan selama perjalanan. Evin dan Ara kemudian berpisah menuju kamar mereka masing-masing. Sesampainya di depan pintu kamar, Evin terkejut ketika bertemu dengan Kei. Dengan tatapan yang seakan menyeramkan dari lelaki di sampingnya, Evin membukakan pintu dan mempersilahkan lelaki itu masuk duluan.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Kei Kendrick, siapa sangka, dibalik semua aksi spontan dan keberaniannya. Ia menyimpan luka dan trauma yang cukup mendalam untuk insiden penculikan dan penusukan ibunya.
Tepat di depan kedua matanya, anak lelaki 7 tahun itu menjerit menangisi kepergian ibunya. Sedetik sebelum pisau berlumuran darah itu nyaris mengenai badan mungilnya, dia terisak.
“Ayah…” Kei berusaha memanggil ayahnya dengan suara yang lemah.
Namun pria itu hanya tersimpuh lemas, melihat tubuh wanita yang ia cintai terbujur kaku dan bersimbah darah dengan pisau tertancap di dadanya. Anak lelaki itu dapat melihat Ayahnya menangis tanpa suara dengan tangan bergetar yang mengambang di dekat pisau.
“Ayah?” panggilnya lagi, suara anak kecil itu bergetar. Jemari kecilnya meremat kaus yang ia kenakan. Bukannya pelukan atau kata penenang yang Kei dapatkan, Ayahnya justru menatap Kei dengan tatapan dingin. Tatapan yang berhasil melukai hati seorang anak berusia 7 tahun.
Tidak lama Kei menangis dengan kencang, dengan langkah kecilnya ia mendekati tubuh kaku sang Ibu. Namun belum sempat menyentuh, tubuhnya terdorong ke belakang akibat tepisan Ayahnya.
“Jangan sentuh istriku!” bentak Ayah.
Tidak berangsur lama bala bantuan datang. Ny. Kendrick segera mendapatkan tindakan medis. Gelengan kepala dari salah satu tim medis membuat Ayah terdiam; menatap bagaimana jenazah istrinya dimasukkan ke dalam ambulan.
Kei memanggil Ayah untuk kesekian kali. Ia memberanikan diri untuk mendekati Ayahnya. Namun pria itu membalas menatap anaknya dengan tatapan kosong, air matanya tak terbendung lagi.
Kei hanya bisa menangis ketika sang Ayah pergi menjauh darinya.