HIAMOE

HIAMOE
WHERE YOU WANNA GO?



Barack menyodorkan sehelai kertas bercapkan materai yang setia menunggu pengesahan dari tangan Aileen. 


“Tidak kusangka kau akan tumbuh, padahal aku berharap kau mati, kenapa kau masih hidup? Tidak ada yang menginginkanmu.”


Aileen mengepalkan tangan, badannya bergetar ketakutan. Gadis yang baru saja menyentuh usia remaja itu harus berkali-kali dilanda ketakutan dan kecemasan dalam hidupnya. Menyadari hal itu, Barack tersenyum puas dan mendekati Aileen. 


“Aku yang membunuh kedua orang tuamu.”


Aileen menatap gusar bola mata Barack dan membiarkan emosi mengendalikan dirinya, gadis itu menampar wajah Barack dengan kencang. 


“Bajingan!” teriak Barack sambil membalas tamparan tersebut di pipi mulus Aileen hingga menyisakan tanda merah.


Barack kembali tersenyum licik sambil mengangkat dagu lancip Aileen dengan kasar. “Kau harus membayar untuk semua ini, tanda tangan surat warisan sialan ini atau kau akan mati.”


Aileen tersenyum sinis, “Aku lebih baik mati daripada menyerahkan harta orang tuaku pada orang yang tidak bertanggung jawab dan brengsek sepertimu!”


“Benarkah? Lalu, bagaimana dengan kalung ini?” Barack menarik kalung yang Aileen kenakan, namun Aileen segera menepis tangan pria tersebut.


“Setelah kau mendapatkan semua harta itu, apa kau akan berhenti mengusik hidupku?”


“Mungkin.”


Aileen terkekeh, merasa dirinya tidak berguna lagi. Ia menatap mata Barack dengan tatapan kosong. “Tapi kau benar, untuk apa aku hidup? Kau sudah menghancurkan semua hidupku. Sekarang, kau menginginkan semua harta ini? Ambilah, kuharap kau menjaga dengan baik semua hasil kerja keras kedua orang tuaku, dan berbahagialah, ku harap kau masih bisa merasakan semua itu” 


Barack tersenyum melihat Aileen segera menggerakan tangannya pada kertas penyerahan harta warisan. Namun ia terkejut saat Aileen tidak menandatangani surat tersebut, melainkan merobeknya menjadi helaian-helaian kertas tidak berguna. 


Kata-kata kasar terdengar lantang di telinga Aileen, badan mungilnya ditarik dan dibantingkan ke tembok. Sambil menahan perih pada kakinya, gadis itu mengusap kasar air mata yang tiba-tiba saja mengalir dan terus memohon doa. 


Suara pintu terbelah dua karena tendangan keras dari Kei perlahan menenangkan Aileen, atensi pria berbadan besar itu beralih pada lelaki tampan dengan pistol di tangannya yang siap membidik lelaki tersebut.


Barack mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, sedangkan Aileen memanfaatkan tenaga yang tersisa untuk berlari dan bersembunyi di balik tubuh Kei. Lelaki itu tetap setia membidik Barack sampai lelaki tersebut menurunkan semua senjata api dan benda tajam yang ia simpan.


“Apa kau baik-baik saja?.” ucap Kei tanpa melepas pandangannya dari Barack.


“Aku tidak apa-apa.”


Kerumunan polisi yang mendekat membuat Kei segera menyembunyikan senjata apinya, ia menggendong Aileen dan berlari menjauhi markas tersebut. Langkah Kei semakin melambat, darah dari lengan dengan peluru yang masih menancap semakin deras membuat gadis yang tengah di pangkuannya terkejut. Lelaki itu berusaha untuk tidak tampak lemah, namun ia tidak bisa memungkiri rasa sakit yang dirasakan. 


Perlahan, Kei menurunkan tubuh Aileen dan menatap nanar bola mata cantik gadis itu. “Apa kau terluka?”


Aileen menggeleng kuat, ia menyadari wajah Kei lebih pucat dari biasanya. Rasa takut dan khawatir semakin bertambah seiring dengan menetesnya darah melewati sehelai baju yang dikenakan Kei. Lelaki itu berlutut di hadapan Aileen dan mengamati kaki Aileen yang terbalut perban.


“Bodoh, kenapa kau harus terluka?”


“Bahkan lukamu lebih parah dariku.” Aileen menatap mata Kei. “Berhentilah berbicara,” lanjutnya.


Aileen menopang tubuh Kei agar segera menjauh dari markas tersebut. Tidak jauh dari sana, tangan kekar dua orang lelaki yang dikenali menghentikan langkah mereka dan mengantarkan dua insan tersebut menuju rumah sakit pribadi tante Nia. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


“Golongan darah A rhesus positif,” ucap salah satu suster setelah melakukan pengecekan darah Kei yang segera memerlukan transfusi. 


Tante Nia segera teringat pada keponakannya, Aileen. Gadis itu memiliki golongan darah yang sama dengan Kei. Setelah mengecek ketersediaan suplai darah A rhesus positif, Aileen menyetujui untuk mendonorkan darahnya pada lelaki yang sedang tidak berdaya dengan luka fisik dan psikis itu. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Tante Nia duduk di meja kerjanya dan membuka lembar demi lembar data yang diperlukan untuk menyelidiki Barack. Pria itu telah diadili secara hukum dan menanggung konsekuensi untuk dipenjara karena semua tindakannya yang terbukti melanggar aturan negara. Meskipun demikian, wanita itu mengetahui bagaimana kelicikan Barack. Keluar penjara dalam waktu singkat itu seolah menjadi sebuah hal yang pasti terjadi.


Mata wanita itu terhenti menjelajahi kata demi kata yang tertera pada selembar kertas, setelah melihat nama Liam Malikson. Wanita itu terkejut dan segera menyelidiki latar belakang lelaki berusia 18 tahun tersebut. 


“Ini gila, aku harus menjauhkan Aileen dari lelaki ini.”


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Rumah sederhana dengan tanaman-tanaman yang terawat dengan rapi pada halaman membuat suasana rumah tersebut sejuk dan asri. Tante Nia bersama anak buahnya mengetuk pintu rumah tersebut hingga seorang wanita lain dengan kemeja formal yang biasa digunakan guru untuk mengajar, membukakan pintu tersebut.


“Ada yang bisa dibantu?”


“Apa benar ini rumah Liam Malikson?”


“Iya, saya ibunya.”


“Boleh saya berbicara?”


“Silahkan masuk,” ucap wanita itu dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Ruang tamu yang tampak sederhana dengan televisi yang menayangkan series barbie menemani kekakuan yang terjadi di ruangan tersebut. Teh panas yang telah disediakan seolah menjadi penghangat kebekuan yang terjadi akibat menghadapi interaksi antara dua orang yang tidak saling mengenal sebelumnya.


“Apa kau mengenal Barack Zayan?”


Sontak wanita penghuni rumah itu menghela nafas berat dan memalingkan pandangan ke sembarang arah, seolah tidak tertarik dengan percakapan yang akan terjadi selanjutnya.


“Jangan khawatir, kami berada di pihakmu. Kami akan melunasi semua hutangmu, dan Liam tidak perlu berhubungan lagi dengan Barack. Namun dengan satu syarat, jauhi tempat ini dan sembunyikan keberadaan kalian.”


“Apa maksudmu? Liam berhubungan dengan Barack?.”


“Ya, pria itu mungkin mengancam anakmu. Maka dari itu, pergilah, sembunyikan keberadaan keluarga ini. Satu lagi, jangan biarkan Liam dekat dengan gadis bernama Aileen.”


“Aileen?”


Tante Nia segera pergi setelah menyerahkan cek dengan angka fantastis tertera di dalamnya dan selembar surat kepemilikan rumah di daerah terpencil yang jauh dari tempat mereka berada, namun memiliki fasilitas pendidikan yang mencukupi. Keadaan akhirnya memaksa wanita tersebut menerima tawaran dari tante Nia, tanpa persetujuan Liam. Meskipun ia tau bahwa anak laki-lakinya itu tidak akan pernah menyetujui tawaran semacam itu.


'Seiring berjalannya waktu, anak lelaki itu pasti paham.' batin Ibu Liam.