HIAMOE

HIAMOE
BLACK SIGN



Kei sampai pada tempat peristirahatan terakhir ayahnya, perasaan sedih dan marah melekat dalam diri lelaki itu. Ia seakan tidak bisa lagi untuk melangkahkan kakinya di dunia, semua kebahagiaan dan harapan seakan telah hilang, tergantikan dengan pedihnya kehilangan. Seorang wanita yang ia kenal berdiri di sampingnya menyerahkan selembar surat peninggalan sang ayah.


‘Kei Kendrick, terima kasih sudah tumbuh dengan baik. Papah dengar kau banyak mencetak prestasi, terima kasih, dan Maaf, papah tidak bisa menemanimu dan menyatakan rasa bangga dan bahagia seperti orang tua yang lain di sekitarmu. Permainan basketmu bertambah hebat, papah bersyukur pernah menyaksikannya lagi. Tetaplah tumbuh menjadi tanaman yang kuat dan memberi makna serta kesejukan bagi setiap orang. Papah berharap, kau tidak membenci setiap kenangan yang telah terukir di masa lalu.’


Tetesan air mata tidak tertahankan oleh lelaki itu, wanita disampingnya menguatkan Kei. “Dia menderita tumor otak jauh hari sebelum kepergian mendiang ibumu. Ia selalu bercerita bahwa terapi akan membuatnya tampak mengkhawatirkan di dekatmu, dan dia tidak ingin kau melihatnya sebagai pria lemah. Ia hanya ingin kau mengenangnya sebagai pria hebat layaknya superhero yang selalu kau katakan tiap kali bermain dengannya saat kecil. Kuharap, kau mengerti dan tidak membencinya,” 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


Liam menundukan kepalanya berjalan di sekitar lorong apartemen Aileen. Bukan untuk menyerahkan gadis itu pada Barack, tapi melindunginya sebelum bahaya datang. Dua orang pria bertubuh kekar menyadari keberadaan Liam dan menghampirinya.


“Apa yang kalian lakukan disini? Ini tugasku.”


“Tidak lagi.”


“Apa maksudmu?”


“Bos sudah menyuruh kami untuk menggantikan posisimu, pergilah.”


Liam menghela napas sebelum mengangkat tangannya ke udara, mengisyaratkan bahwa dirinya mengiyakan sembari mempersilakan kedua pria tersebut berjalan menuju apartemen Aileen. “Silahkan,” ucapnya dengan senyum tipis. 


Begitu kedua pria tersebut berjalan membelakanginya, ia segera mengirimkan sinyal hitam pada Kei dan mengirimkan pelacakan lokasi dari ponselnya. Lelaki itu mengetahui bahwa Kei ada di pihak Aileen bersama dengan mafia lain yang tidak kalah besar dari om Barack. Ia hanya berharap Kei segera mengecek ponselnya dan menyelamatkan Aileen.


Liam melangkah mundur, bersembunyi di balik tembok. Namun matanya tidak terlepas dari gerak-gerik para bawahan Barack yang tengah menekan bel apartemen Aileen. Bahkan salah satu dari mereka mengetuk pintunya dengan keras. 


Kumohon, jangan buka pintunya, batin Liam. Namun harapannya sirna, gadis polos itu membuka pintu dalam keadaan kaki yang terbalut kain kasa. Tampak jelas ekspresi bingung dari raut wajah Aileen.


“Dasar bodoh,” desis Liam melihat bagaimana Aileen hanya berdiri terdiam bahkan mematung ketika diancam untuk ikut bersama orang-orang itu.


Aileen berteriak dan memberontak ketika dirinya dibawa paksa oleh dua pria yang ia tidak kenal. Jantungnya berdegup kencang akibat rasa panik dan takut yang melanda dirinya sekarang. “Lepas!! Tolong!!” teriaknya. Maniknya mengedar di sekitar lorong apartemen, berharap seseorang dapat melihat dirinya sekarang.


Liam meneguk salivanya, ia bertatapan dengan Aileen. Ia dapat dengan jelas melihat sorot ketakutan di mata gadis itu. “Liam!!” teriak Aileen.


“Sebaiknya kau diam!” Salah satu dari mereka menarik kedua lengan Aileen ke belakang agar gadis itu berhenti memberontak. Namun hal tersebut tidak menyurutkan dirinya untuk tetap berteriak minta tolong, terutama pada Liam yang hanya terdiam di ujung lorong apartemen dengan tatapan yang bahkan tidak dapat Aileen mengerti.


Liam memejamkan matanya ketika tubuh Aileen perlahan ambruk akibat obat bius yang disuntikkan. “Biar aku yang membawanya!” ucap Liam saat salah satu dari pria itu akan menggendong Aileen. Ia segera menggendong Aileen menggunakan kedua tangannya.


“Aku akan ikut dengan kalian,” ucap Liam tegas. Kedua pria itu saling menatap terlebih dulu, entah apa yang dapat mereka dengar dari earpiece yang mereka pakai namun butuh beberapa detik sebelum mereka mengiyakan ucapan Liam.


“Baiklah.”


Liam membenarkan posisi Aileen dalam gendongannya lalu berjalan lebih dulu atas perintah dua pria itu. Ia menatap wajah Aileen, merapalkan kata maaf dalam hatinya karena merasa bersalah.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆  ...


"Celine?! Lepaskan adikku, sialan!" ucap Liam dengan otot terlihat dari lehernya dan tanpa niat menurunkan Aileen dari pangkuannya. 


Barack tersenyum licik dan bertepuk tangan rasa menang sambil berjalan mendekati Liam, "Liam Malikson, bocah SMA yang memiliki nyali besar."


Aileen terbangun dengan rasa perih dan pusing pada kepalanya.


"Liam?" lirih Aileen, bergetar.


Liam semakin mengeratkan pelukannya, namun adik perempuan yang ada di hadapannya diseret paksa dan ditodongkan pistol. 


"Kak Liam.." pekik Celine dengan linang air mata ketakutan.


Liam terdiam dan menutup mata sementara waktu sebelum membiarkan dua pria bertubuh besar menarik paksa Aileen dari pangkuannya. 


Cengkraman di tubuh mungil Celine perlahan terlepas sejalan dengan kepergian Aileen dari matanya. Dengan penuh penyesalan, Liam segera membawa Celine pergi dari tempat berbahaya itu. Di pertengahan jalan, Kei menghadang jalannya.


"Sialan!" teriak Kei sambil memukul Liam.


Tangan Kei seakan tidak kehabisan tenaga untuk memukuli Liam yang seolah tidak berdaya. Badan mungil Celine semakin bergetar karena ketakutan, dengan itu, Liam menghentikan tangan Kei. Ia mencengkram kerah baju yang Kei gunakan, menariknya agar lelaki itu menatap matanya. 


"Selamatkan Aileen, bodoh! Setelah itu, kau bisa membunuhku."


Liam mendorong badan Kei yang dipenuhi oleh rasa emosi dan menggendong Celine. Darah segar mengalir dari sudut bibir lelaki tampan tersebut. Lelaki itu berusaha keras untuk menenangkan adiknya dan menjauhi markas sementara Kei berlari menentang bahaya yang akan terjadi.


Langkah kaki Kei semakin memanjang dan semakin cepat saat mendengar teriakan gadis yang ia kenal dengan jelas. Namun, rombongan lelaki bertubuh kekar dengan senjata tajam menghadang lelaki itu. Dengan nafas yang masih terkendali oleh emosi, Kei mengepalkan tangannya. 


“Apa kau sudah menyediakan peti mati?!”


Seorang lelaki mendekati Kei dan menyodorkan pistol ke arahnya, membuat Kei dengan aksi spontannya tersenyum sinis.


“Apa yang membuat kalian masih mengikuti Barack?”


“BACOT!” seseorang dari rombongan anak buah Barack memukul wajah Kei dengan keras tanpa pembalasan dari Kei. 


Kei menyadari bahwa kondisinya di tengah-tengah lelaki berbadan kekar dengan masing-masing senjata api, bukan suatu hal yang menguntungkan baginya. Dengan kata lain, otot bukanlah hal yang patut diandalkan, ia perlahan menganalisa keadaan sekitar. Ia melirik salah satu pria yang berada paling dekat dengannya, tanpa lama ia melakukan tendangan berputar dan berhasil mengenai lengan sang pria hingga pistol di genggamannya terhempas.


Dengan cepat Kei merunduk, meraih pistol tersebut dan menodongkannya pada pasukan anak buah Barack. “Cih.” Kei tersenyum pongah meski kini jantungnya berdegup kencang karena menghadapi situasi berbahaya di hadapannya.


“Anak kecil sepertimu tidak seharusnya bermain dengan senjata berbahaya,” ucap salah satu pria disana diiringi tawa dari pria lainnya. Kei hanya terdiam dan mempertahankan posisinya.


Tidak lama, anak buah tante Nia datang dan tembakan serta perkelahian terjadi di tengah-tengah keheningan sudut kota. Kei berusaha memanfaatkan keadaan dengan perlahan mendekati tempat Aileen. Berbekal senjata api di sakunya, ia berhasil melenyapkan orang-orang yang menghalangi jalannya. Namun, rombongan itu terlalu kuat, Kei terkena tembakan pada lengannya.