
Suasana sekolah setelah liburan tampak nyata, bangku yang lebih dingin dari biasanya, deburan ombak yang masih terbayang di kepala, dan semangat sekolah yang memaksa untuk membawanya lebih banyak. Dunia Aileen seakan berubah, pasca pertengkarannya dengan Auris, mereka sama sekali tidak berbicara. Bahkan posisi duduk Auris yang semula bersebelahan dengan Aileen, kini menjadi lebih jauh. Auris seakan sengaja ingin menghapus sahabatnya itu dari hidupnya.
Aileen terdiam, ia berharap seseorang mengajaknya bicara kali ini. Namun semua tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Perubahan semakin terasa dalam hidup Aileen. Ara menjadi lebih dekat dengan Evin, mereka saling berbicara dan berbagi tawa tanpa melibatkan Aileen. Kei tampak berubah menjadi lebih tidak aktif dan seolah sedang tenggelam dengan masalahnya. Semua itu membuat Aileen berpikir untuk menjalani kehidupannya sendiri, tanpa bergantung pada orang lain.
Liam datang beberapa detik sebelum bel masuk berbunyi, ia berjalan penuh percaya diri dengan headband terikat di kepalanya. Ia melemparkan tas di atas bangku kosong di samping Aileen. Aileen menyadari keberadaan lelaki itu dan berusaha untuk tidak menghiraukannya. Namun lelaki itu berdiri di samping Aileen dan atensinya mengarah pada Aileen membuat gadis itu geram.
Aileen berdiri dan menatap Liam, “Apa yang kau lakukan?,” tanya Aileen dengan intonasi yang tinggi membuat perhatian murid lain tertuju pada mereka berdua.
Liam tidak menjawab pertanyaan gadis di hadapannya dan segera memberikan ikat rambut Aileen yang ia temukan terjatuh kepada pemiliknya. Menyadari itu, Aileen segera duduk dan menutup mukanya. Lelaki itu segera duduk setelah mendapati pak Bram memasuki ruang kelas.
Pelajaran matematika berlangsung, penyelesaian bilangan di sekolah cukup membosankan bagi Liam. Ia tidak berniat mengikuti pelajaran dan memutuskan untuk tidur selama penjelasan berlangsung. Mendapati itu, pak Bram melemparkan spidol pada Liam dan membuat lelaki itu terbangun. Pak Bram memintanya untuk menyelesaikan soal yang sudah tertera di papan tulis. Tidak ada satupun yang mau maju untuk menjawab soal itu, Liam menatap papan tulis dengan santai dan segera menulis jawabannya.
Diketahui f(1) \= 2, f'(1) \= -1, g(1) \= 0, dan g'(1) \= 1. Jika F(x) \= f(x) cos cos (g(x)), maka nilai dari F'(1) adalah
u \= f(x), u \= f (x)
v \= coscos (g(x)), v\= -sinsin (g(x)). g’(x)
F’(x) \= f’ (x) coscos (g(x)) + f(x) (-sinsin (g(x)) . g (x))
F’ (1) \= f’(1) coscos (g(1)) + f(1) (-sinsin (g(1)). g (1))
F’(1) \= -1 coscos (0) +2 (-sinsin (0). 1)
F’ (1) \= -1.1 + 2. 0 \= -1
Jawaban Liam membuat semua murid kagum, mereka bersorak seakan tim bola pihaknya menang telak, bahkan pak Bram tidak bisa berkata-kata dan mempersilahkan muridnya tersebut untuk kembali tidur. Aileen menatap bingung lelaki yang sedang menuju ke bangku di sampingnya. Ia menyelidiki, contekan jenis apa yang lelaki itu gunakan.
Liam Malikson, murid genius yang selalu tampak malas. Ia tidak pernah menggunakan waktunya di sekolah untuk belajar, namun ia selalu membaca buku dan melatih daya berpikirnya di rumah. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi mafia atau hacker. Menurutnya, jika berhasil, maka hidupnya akan dipenuhi tantangan, petualangan, dan kebebasan. Dia bekerja keras mengasah daya pikirnya untuk menjadi seorang mafia dan hacker hebat, ia bahkan menguasai trigonometri saat menduduki bangku sekolah dasar.
"Terpesona?" Aileen dibuat tersadar oleh ucapan Liam. Ia segera memalingkan wajahnya, merasa malu karena ketahuan tengah memerhatikan lelaki itu.
Disisi lain Auris yang melihat interaksi antara Aileen dan Liam merasa geram. Bahkan setelah dirinya memutuskan untuk menjauh dari Aileen, akan tetap ada orang yang menjaga dan memedulikan gadis itu.
Bel istirahat berbunyi. Setelah guru pamit untuk keluar, seluruh murid menghambur di koridor sekolah. Kebanyakan dari mereka pergi menuju kantin, namun ada beberapa yang hanya mengobrol dengan teman mereka atau tetap di dalam kelas.
Aileen menyesal menolak ajakan Ara untuk pergi ke kantin karena setelahnya ia merasakan perutnya lapar. Sebelumnya ia melihat Kei terlihat terburu-buru mengangkat sebuah panggilan telepon dan menghilang begitu saja dari kelas. Gadis itu melirik Liam yang tengah tertidur dibangkunya. Tidak ada yang bisa diharapkan dari lelaki itu, pikirnya.
Setelah memberanikan diri, ia memutuskan untuk pergi ke kantin.
Aileen tidak menyangka kantin hari ini cukup penuh. Bahkan ia perlu mengantri hanya untuk membeli sebungkus roti.
“Jadi itu yang namanya Aileen?”
“Tau nggak? sekarang dia dekat sama Liam. Selain kaya, untuk berteman dengannya harus berpenampilan menarik. Memangnya dia ini siapa?”
“Biasa aja kan. Tapi tingkahnya seakan dia orang yang spesial.”
"Bukankah sebelumnya dia dekat dengan Kei? Wah.. yang benar saja Liam dia dekati juga."
Aileen cukup terusik dengan murid-murid yang membicarakannya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku agar terlihat sibuk, berharap hal tersebut dapat menetralkan pikirannya. Namun sedetik kemudian ekspresi wajah Aileen berubah, matanya sedikit bergetar saat membaca sebuah pesan masuk. Gadis itu berbalik, menabrak seorang siswi yang berdiri di belakangnya.
“Aduh, punya mata gak sih!”
Aileen melirik siswi itu tajam dan segera berlari meninggalkan kantin, bahkan ia mengabaikan seorang penjaga kantin yang berteriak memanggilnya karena meninggalkan uang dan roti yang telah dibelinya.
Gadis itu berhenti di koridor yang sepi, ia kembali membaca sebuah pesan dari nomor asing untuk memastikan bahwa ia tidak salah membacanya. Ia menggenggam ponsel tersebut dengan erat, ia segera mengetik sebuah pesan balasan.
“Kau sedang apa?”
Aileen terkejut, ia menoleh; menatap Liam yang berdiri tepat di belakangnya sedang membaca pesan dari ponselnya. Gadis itu mengunci layar ponsel dan segera memasukkannya ke dalam saku rok. Ia memberi jarak antara dirinya dengan Liam.
“Apa kau tidak tahu sopan santun?” ucap Aileen dengan nada dingin.
“Kau diancam?” tanya Liam santai.
Aileen menatap Liam tidak percaya. Amarah gadis itu memuncak, oksigen di ruangan seakan habis. Ia memutuskan untuk berlari menuju rooftop sekolah untuk mencari lebih banyak udara.
“Leen?” Kei menatap gadis yang menabraknya, namun gadis itu tak menghiraukan dan terus berlari dengan kencang menjauhi Kei. Ia melihat Liam yang berada di ujung koridor, Kei dibuat penasaran apa yang dilakukan oleh lelaki itu hingga membuat seorang Aileen bertingkah tidak seperti biasanya.
Liam membalas tatapan Kei tajam hingga lelaki itu memilih untuk memutuskan kontak mata lebih dulu dan pergi mengejar Aileen. Liam menghela napas, ia menatap ponselnya yang sedari tadi bergetar menandakan sebuah panggilan masuk, dengan malas lelaki itu menggeser ikon hijau pada layar dan mendekatkan ponsel pada telinganya.
“Sudah kau pastikan ia menerima pesan itu?”
“Ya, dia sudah.”
“Kerja bagus. Bayaranmu akan di transfer nanti sore.”
Lelaki tersebut segera memutuskan sambungan tanpa berniat mengucapkan apapun lagi. Sedikit perasaan bersalah muncul dalam dirinya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Gadis itu berteriak, meluapkan semua amarahnya. Aileen benci saat air matanya mulai terjatuh, dan itu terjadi lagi. Ia semakin marah pada dirinya sendiri dan mencengkram kepalanya dengan kuat. Kei yang berada di belakangnya memeluk Aileen dan berusaha menenangkan gadis itu. Mengenali tangan yang memeluknya dari belakang, cengkraman pada kepalanya perlahan terlepas, gadis itu tersedu.
Dua remaja tersebut menghela nafas, sinar mentari siang itu menyorot dengan tajam. Badan sigap Kei seakan menghadang sinar itu menancap tubuh gadis yang sedang duduk di sampingnya.
“Sudah lebih baik?” tanya Kei.
Aileen mengangguk, namun ia terlalu malu dan takut untuk beranjak ke kelas. Berbagai spekulasi mungkin akan terus bermunculan. “Semakin dewasa, aku hanya ingin hidup sendiri,” ucap Aileen tanpa memandang lawan bicaranya.
Kei menatap gadis itu, “Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan tadi?” tanyanya diikuti dengan anggukan yakin dari gadis itu.
“Sejak kecil, aku selalu bersama kedua orang tuaku, sahabatku, dan orang-orang lain yang aku sayangi. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka pergi di saat aku sudah terbiasa akan kehadirannya.” Aileen mengatakan kalimatnya dengan intonasi yang semakin rendah.
“Bukankah waktu sedang mengajarimu sesuatu?” Pertanyaan Kei membuat Aileen bingung dan menatap polos lelaki di sampingnya.
Kei terkekeh melihat ekspresi Aileen dan membuat gadis itu kesal. “Apa maksudmu?” tanya Aileen.
Lelaki itu menghela nafasnya, “Sudah kuduga, kau tidak akan mengerti.” Ucapan Kei itu membuat Aileen geram dan segera beranjak dari duduknya untuk pergi. Namun Kei menahan tangan gadis itu dan memintanya untuk duduk kembali tanpa melepaskan genggaman tangannya. “Tetaplah seperti ini untuk sebentar saja,” ucap Kei.
Aileen menatap lelaki di sampingnya yang mulai memejamkan kedua matanya. Aileen bahkan berusaha menghalangi sinar mentari agar tidak menyentuh mata lelaki itu dengan tangan kecilnya.
Tepat kemarin pagi, Kei mendapat kabar bahwa ayahnya sakit. Lelaki itu segera berlari menerjang kemacetan dan riuh keramaian untuk menemui sang ayah. Sesampainya di rumah bergaya klasik mewah yang sudah lama tidak ia kunjungi, pria yang ia cari tidak ada. Bahkan orang disana seakan tutup mulut dengan keberadaan ayahnya itu. Amarah Kei mulai menjadi, hal itu tampak tidak adil baginya. Bagaimanapun, pria itu telah mengajarkan banyak hal pada Kei dan ia sangat menyayanginya.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Kei memanfaatkan energinya yang tersisa setelah mencari keberadaan ayahnya seharian. Ia menelusuri lorong menuju apartemennya dengan langkah kaki yang seakan terus melambat. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan menatap langit-langit kamar, dipikirannya sekarang hanyalah Ayahnya. Ia beberapa kali mencoba menghubungi asisten sang Ayah yang memberitahu bahwa pria itu sakit, namun hanya suara operator yang menyambutnya.
"Apa yang terjadi pada Ayah?" gumamnya sambil memejamkan mata. Kei sempat terbatuk sebelum memilih untuk beristirahat akibat pusing yang ia rasakan.
...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆ ...
Aileen menatap bangku Kei yang kosong. Jam pelajaran sudah berlangsung sejak beberapa menit lalu, namun lelaki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Pelajaran berlangsung seperti biasa. Namun kali ini Aileen merasa harinya semakin buruk, ia merasa benar-benar sendiri diantara teman-temannya. Bahkan ketika bel istirahat berbunyi, Aileen memilih untuk diam terlebih dulu hingga hampir seluruh teman kelasnya keluar.
Aileen menatap lekat bagaimana Auris bersenda gurau dengan orang lain, hal itu membuatnya benar-benar merasa sedih dan kecewa.
"Ada apa dengan gadis itu?"
Aileen menoleh ke arah Liam yang tengah menatapnya. Ia mengangkat sebelah alis menunjukkan bahwa ia tidak mengerti maksud ucapan Liam.
"Kau." Liam menunjuk Aileen. "Kau selalu memperhatikan gadis itu, kenapa?" tanyanya.
"Auris?" tanya Aileen memastikan. Liam hanya mengedikkan bahu karena ia memang tidak begitu mengingat nama teman-teman di kelasnya.
"Dia sahabatku. Tapi mungkin tidak lagi," jelas Aileen sendu. Liam masih setia menatap perubahan ekspresi Aileen yang tadinya datar menjadi sedih, dan itu terlihat dengan jelas.
"Cari saja teman baru." Aileen menatap Liam dingin. Untuk beberapa saat lelaki itu cukup terkejut mendapat respon tersebut dari Aileen. Namun ia kembali menetralkan pikirannya sembari tersenyum tipis. "Maksudku, lihat! Aku bisa menjadi temanmu."
"Aku bahkan tidak mempercayai setiap ucapanmu," balas Aileen sembari berdiri dan berjalan keluar kelas, meninggalkan Liam yang masih duduk menghadap bangkunya. Liam berniat untuk menyusul gadis itu sebelum sebuah panggilan masuk membuat ponselnya berdering.
Di sepanjang koridor, Aileen harus kembali mendengar orang-orang membicarakannya. Bahkan pembicaraan mereka semakin aneh dan tidak masuk akal.
Sebenarnya gosip apa yang tersebar di sekolah, batin Aileen. Saat hendak menuruni anak tangga, Aileen dihadang oleh beberapa siswi yang memiliki wajah tidak asing baginya. Gadis itu sempat berpikir beberapa detik sebelum menyadari siswi di hadapannya adalah ketua osis yang bertengkar dengan Ara saat liburan.
Ketua osis dan ketiga temannya itu mendekati Aileen hingga mengharuskan ia mundur beberapa langkah ke belakang. Ia sendiri tidak mengerti mengapa murid yang satu tingkat di atasnya itu senang sekali mengusik kehidupan sekolahnya. Aileen sebenarnya tidak takut dengan tatapan tajam para kakak kelas terhadapnya, ia hanya merasa risih dan tidak suka jika harus direpotkan dengan hal yang tidak penting.
“Modal tampang, otak kosong. Aileen Rameesha.”
Aileen menatap ketua osis tersebut, mengira-ngira cara apa yang kakak kelasnya lakukan untuk bisa menjadi seorang ketua dengan perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan murid teladan.
“Setidaknya aku memiliki tampang itu,” balas Aileen sambil tersenyum pongah.
“Bukankah ia mengatakan kau jelek?” ucap salah satu dari empat siswi kelas 11 itu. Sang ketua osis menyibak rambut panjangnya, merasa gerah dengan sikap Aileen yang diluar ekspektasinya. “Bisakah kau tidak bersikap angkuh disini? Itu membuatku muak!” bentaknya.
Aileen berdecih, ia menyadari dirinya yang terlihat dipojokkan oleh kakak kelas mengundang atensi murid lain yang kebetulan lewat atau bahkan berada di kelas yang dekat dengan tangga. Liam yang memang ingin menyusul Aileen terdiam di dekat sana, memilih untuk mengamati apa yang akan terjadi.
“Kau.. hanya gadis yatim piatu. Kau harusnya sadar untuk tidak bersikap sombong disini.” Aileen melebarkan mata mendengar ucapan yang keluar dari ketua osis tersebut. Maniknya bergetar menahan emosi melihat raut wajah angkuh gadis di hadapannya. “Bahkan kau selalu pergi sendirian, Aileen.”
“Apa kau tidak punya teman? Hahaha, aku kasihan melihatmu.”
Aileen cukup tertohok dengan perkataan yang dilontarkan oleh ketua osis itu. Namun ia tidak ingin kalah begitu saja dengan orang semacam gadis tersebut.
“Itu keterlaluan, apa yang dilakukan Kak Angel.”
“Ini mengerikan.”
“Aku tidak menyukai Aileen, tapi bukankah ini terlalu kejam?”
“Wah.. itu keterlaluan sekali.”
“Benar, terlebih dia ketua osis”