HIAMOE

HIAMOE
STAR ANGLE



Kei terbangun dari tidurnya, suasana akhir minggu semakin terasa dengan mentari yang bersinar mengisi sudut kamarnya. Lelaki itu membuka gorden, membiarkan mentari menyapanya lebih dalam. Perpaduan kopi, roti dan omelet di pagi hari akan menambah suasana kedamaian, pikirnya. 


Lelaki dengan celana boxer itu membuka lemari pendingin, tidak ada satupun makanan disana. Ia menguap dan menghela nafas. Dengan setengah nyawanya terkumpul, lelaki itu mengenakan jaket dan pergi ke minimarket untuk membeli bahan makanan. Tanpa sadar, ia tidak menutup rapat pintu apartemennya dan membiarkannya sedikit membuka.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Pagi ini Aileen kebingungan mencari pakaian dalamnya, otaknya ia paksa untuk mengingat dimana terakhir kali menyimpan barang sakralnya itu. Di koper tidak ada, di lemari apalagi. Koper nya bahkan belum ia bereskan dari hari pertama sampai di apartemen ini. Jika memang tertinggal di rumah, rasanya berlebihan sekali harus bolak-balik hanya untuk mencari barang itu.


Akhirnya disinilah Aileen berada, toko pakaian dalam yang baru kali ini ia datangi. Sebelum dari sini ia sudah membeli beberapa bahan masakan yang akan ia coba nanti, ia akan mencoba beberapa resep yang sudah ia pelajari kemarin malam. Tanpa membuang waktu ia pun beralih ke section wanita yang terlihat mencolok karena warna nya yang sangat beragam. Tidak ada yang aneh, hanya saja dari semua pengunjung wanita, ada terselip satu lelaki yang termenung sendirian di depan sebuah maneken yang hanya dibalut pakaian dalam wanita.


Remaja lelaki itu tampak mencurigakan bagi Aileen, dari jaket yang ia kenakan, gadis itu yakin pernah melihat lelaki tersebut. Tanpa berpikir lebih lama dan tanpa alasan yang jelas, gadis itu mendekati lelaki itu dan berusaha mengikuti arah pandangnya yang tampak mencurigakan baginya.


Astaga yang benar saja..


Lelaki itu tidak berkedip sama sekali saat memperhatikan badan maneken yang hanya sebatas leher sampai perut, dan jika Aileen tidak salah prediksi remaja laki-laki itu sedang memperhatikan dada maneken yang sedang memakai bra motif macan tutul dengan renda berwarna pink.


Aileen tidak habis pikir, bagaimana bisa seseorang memiliki ketertarikan dengan sebuah patung wanita. Gadis itu mengusap-ngusap badannya geli. Tidak cukup disitu, Aileen kembali dikejutkan dengan seorang pelayan toko yang menyerahkan tas belanja berisi pakaian dalam wanita, pada laki-laki tersebut.


Aileen menganga dan menghela nafasnya berat, pikirannya menjadi tidak karuan saat ini. Jika boleh berpendapat, sebagai wanita ia sangat terganggu jika ada orang seperti itu di sekitarnya. Aileen segera memilih pakaian dalam dengan acak dan memasukannya ke dalam keranjang belanja tanpa mengalihkan pandang dari lelaki di hadapannya; khawatir lelaki tersebut akan macam-macam.


Pelayan toko pun mendekatinya, “Permisi, kak. Ada yang bisa dibantu?”


Aileen segera memberikan keranjang belanjaannya dan menyerahkan kartu debit. Pelayan itupun merasa heran karena gadis di sampingnya sama sekali tidak menoleh ke arahnya, namun pelayan itu tetap menjalankan tugasnya dengan baik. 


Disisi lain, Liam sedang menunggu ibunya yang tiba-tiba menghilang setelah membeli pakaian dalam. Ia pun berniat bertanya mengenai keberadaan ibunya pada pelayan yang sedang berada di samping Aileen; pelayan yang membantu ibu Liam untuk transaksi tadi. 


Aileen melangkah mundur seiring dengan mendekatnya langkah kaki Liam.


Untuk apa dia mendekat.


Ketika posisi mereka hanya hitungan beberapa meter, Aileen melempari lelaki di hadapannya dengan kain-kain pribadi yang berada di sekitarnya.


“MESUM!!” teriak Aileen sebelum berlari meninggalkan Liam; dengan tas belanja yang ia genggam dengan kuat.


Liam segera menyingkirkan kain yang menghalangi pandangannya dengan geli dan menatap punggung Aileen yang semakin menjauh. Rasa malu jelas terpancar dari pipi Liam yang memerah, namun ia hanya bisa menutupi kepalanya dengan kupluk jaket yang ia kenakan. 


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Aileen berlari dengan penuh ketakutan di lorong apartemennya. Ada seseorang mengejar gadis itu dengan kehati-hatian, menghindari setiap jenis keamanan yang ada di apartemen tersebut. Jelas, gadis itu sedang dalam bahaya. Gadis itu merogoh kartu apartemen di saku celananya, kantong belanja berisi penuh bahan makanan dan pakaian dalam yang baru ia beli tadi membuatnya semakin kesulitan.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat, keadaan pintu apartemen sebelahnya terbuka membuat ia tidak berpikir dua kali untuk masuk ke dalamnya.


“Permisi, kau tepat berada di depan pintu apartemenku,” ucap Kei kepada pria dewasa yang bergelagat aneh.


Lelaki itu menatap Kei dari ujung kaki hingga kepala dan segera pergi. Kei menghiraukan pria itu dan segera membuka pintu apartemennya. Ketika ia masuk, seorang gadis berteriak padanya. Kei yang terkejut ikut berteriak tidak kalah kencang. Gadis itu menutup mulut Kei dan segera mengunci pintunya. 


“Apa yang kau lakukan disini?” ucap Kei sambil menyingkirkan tangan Aileen dari mulutnya.


“Sttt!” bisik Aileen.


Gadis itu terdiam, tidak seperti biasanya. Dia tampak ketakutan dan berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Gadis itu ingin lari, namun ia takut bahaya yang terus mengintainya di luar sana. 


Kei berusaha memahami apa yang terjadi. 


“Baiklah, kau masuk ke apartemenku. Ada orang aneh di luar, dan ada orang aneh di da..” 


Aileen tidak bisa lagi menahan air mata ketakutan, tangis itu pecah. Sontak gadis itu memeluk Kei. 


“..lam,” sambung Kei yang kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan.


Ritme jantung mereka seakan sejalan, semakin lama semakin kencang. Aileen mendorong tubuh Kei dan meminta maaf. Suasana begitu canggung sampai perut gadis itu geram dan meluapkan kelaparannya dengan suara kencang hingga dapat didengar oleh Kei dan mampu membuat lelaki itu tersenyum. Alibi dari gadis itu bermunculan untuk menyembunyikan sumber suara itu, ia bahkan berusaha bersiul meskipun sama sekali tidak bisa.


“Apa kau bisa memasak?” tanya Kei.


“Mmm, mungkin.,” jawab Aileen ragu.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Kei menjeda video tutorial memasak yang sedang ia dan Aileen tonton.


“Kita mulai.”


“Mulai dari mana?” tanya Aileen.


Kei menatap datar Aileen yang mengacungkan pisau tepat di depan wajahnya, dengan hati-hati ia mendorong lengan gadis itu agar sedikit menjauhkan benda tajam itu dari wajahnya.


“Bisakah kau berhati-hati?”


Aileen menatap bingung Kei namun segera mengangguk dan meletakkan pisau tersebut di atas meja dapur.


“Aku akan membacakan tahapannya dan kau yang memasak,” perintah Kei. Aileen mengangguk sambil memperhatikan bahan-bahan yang sudah tersedia di hadapan mereka.


“Untuk memasak nasi goreng kimchi, pertama-tama siapkan kimchi kemasan, nasi--”


“Tidak ada kimchi disini,” sela Aileen. Kei mengalihkan pandangannya pada bahan-bahan makanan.


“Lewat saja,” ucapnya sambil kembali menatap layar ponsel. “Nasi, wortel, bumbu, kaldu ayam.. mmm, lengkap. Selanjutnya potong wortel berbentuk korek api, agak tipis agar mudah matang.”


Aileen dengan cepat mengambil satu buah wortel, mencuci, mengupas, dan memotong-motongnya. Namun baru beberapa potong kegiatannya sudah di hentikan oleh Kei.


“Kau bodoh atau tidak punya telinga? Kenapa memotong kotak berantakan seperti itu?!”


Aileen mengernyit kesal, “Memangnya kenapa? Disini yang bertugas memotong itu aku, jadi terserah aku dong!”


Kei merebut pisau yang ada digenggaman Aileen dan meminta gadis itu untuk bertukar peran. Kei dapat melakukannya lebih baik dibandingkan Aileen dan itu membuat Aileen berdecih melihat lelaki itu tersenyum penuh kemenangan untuk meremehkan dirinya.


Namun semua tidak berjalan semulus apa yang mereka bayangkan. Terjadi keributan di antara keduanya, entah mereka yang saling mengomentari hasil potongan masing-masing, menangis akibat irisan bawang, cipratan air pada minyak panas, dan banyak hal lainnya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


“Kau boleh memakannya duluan,” ucap Aileen sembari menyodorkan sepiring nasi goreng buatan mereka. Kei hanya diam sembari menatap tajam gadis yang duduk di hadapannya.


“Apa?!” ketus Aileen. “Lihatlah nasi goreng ini, bahkan bentuknya mengerikan..”


Nasi goreng tersebut terlihat hampa. Hanya berisikan nasi, kecap, dan telur yang sudah diaduk bersama dengan nasi.


“Berhenti membully makanan ini. Makanlah, kita sudah susah payah membuatnya.” Kei menyendok satu suapan nasi tersebut, menunggu gadis dihadapannya melakukan hal yang sama.


Merasa terintimidasi, Aileen mengalah dan ikut menyendokkan nasi tersebut ke dalam mulut. Keduanya saling bertatapan sebelum sama-sama memuntahkan makanan yang sama sekali tidak enak.


“Kurasa memesan makanan akan lebih baik,” ucap Aileen sambil menatap punggung Kei yang masih memuntahkan makanannya.


Dua remaja itu pada akhirnya memesan makanan secara online. Gadis bertubuh mungil itu bahkan memesan lebih dari satu jenis makanan berat dan beberapa makanan penutup untuk melupakan rasa makanan yang telah terlanjur mendarat di lidahnya itu. 


Tanpa rasa canggung, mereka menghabiskan makanan yang sudah tersedia di meja. Akhirnya perut yang kosong itu terisi penuh. Kei segera merapikan meja makan. Gadis yang ada di depannya mulai merasakan kram pada perutnya dan merasa perutnya akan meledak. 


Kebutuhan biologis itu datang diwaktu yang kurang tepat. Aileen berusaha sekuat tenaga untuk menahan gas itu, namun tidak bisa dan terdengar oleh lelaki yang ada di depannya. Kei tertawa puas melihat Aileen berlari terbirit-birit keluar dari apartemennya.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Aileen menatap sinar mentari pagi yang melintas melalui kaca ruangan kelas. Murid-murid tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing, beberapa siswi berkumpul di dekat jendela dengan pemandangan sekumpulan murid yang dihukum atas keterlambatannya.


“Bukankah biasanya Pak Bram yang bertugas memberikan hukuman di hari Senin?” tanya Aileen yang tiba-tiba sudah bergabung dengan siswi-siswi tersebut.


“Harusnya sih iya.” 


“Mungkin dia sibuk menyiapkan lelucon garing pagi ini,” timpal siswi lainnya. 


“Aku harap dia tidak mengajar hari ini.”


Mereka semua tertawa dengan apa yang mereka ucapkan. Bahkan tidak ada yang menyadari jika orang yang sedang dibicarakan tengah berdiri tepat di belakang mereka.


“Ekhm. Selamat pagi anak-anak.” ucap pak Bram sambil menyilangkan kedua tangannya.


“Sayang sekali bapak sudah hadir di sini,” sambungnya.


Menyadari keberadaan pak Bram, siswi-siswi tersebut segera berjalan cepat menuju bangkunya masing-masing. 


Pak bram berdiri dengan sigap di depan kelas, ia menghela nafas. Kabar gembira yang akan disampaikan berhasil membuat suasana hatinya berubah seketika. Guru itu tersenyum lebar sambil menyampaikan pengumuman bahwa minggu depan mereka akan pergi liburan dalam rangka perayaan Dies Natalis sekolah. Selain itu, mereka memiliki waktu 6 hari untuk mempersiapkan kebutuhan liburannya tanpa terikat jadwal sekolah.


Murid-murid bersorak gembira akan hal itu. Tidak terkecuali Aileen, meskipun ia berencana untuk tidak ikut liburan. Pak Bram sempat mengatakan ia hanya akan menyampaikan pengumuman tersebut, namun sepertinya seluruh murid tak mengacuhkan keberadaannya.


“Ini pasti akan menyenangkan!”


“Hei, kamu mau bawa apa saja?”


“Aku tidak menyukai pantai, menyebalkan.”


Pak Bram mengusap dada untuk menyabarkan dirinya. Guru tersebut memutuskan untuk segera meninggalkan kelas tersebut.


Ara yang duduk tepat di depan bangku Aileen dan Auris berbalik badan dan menopang dagu sambil menatap Aileen. “Leen, kamu ikut kan?”


Aileen menggeleng. Auris sempat melirik sahabatnya sebelum menyibukkan diri dengan membaca buku pelajaran.


Ara melirik Auris yang terlihat tidak tertarik dengan percakapan mereka. “Kamu serius? Ini bakalan seru loh,” rayu gadis dengan rambut sebahu itu. Lagi-lagi Aileen hanya menggeleng namun kali ini disertai dengan senyuman berusaha menolak ajakan temannya itu.


“Kamu yakin nggak mau liburan bareng kita?” Auris membuka suara begitu melihat Aileen memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, bersiap untuk pulang.


“Mungkin lain waktu, kalau tempat liburannya lebih dekat,” jawab Aileen dengan nada suara yang terkesan datar. Ara menatap punggung Aileen yang membelakanginya, ia juga saling pandang dengan Auris yang menunjukkan raut wajah tidak mengerti. Setidaknya itu yang Ara lihat dari siswi yang dikenal sebagai satu-satunya sahabat Aileen.


“Duluan ya,” Aileen menepuk bahu Auris dan melambaikan tangan pada Ara. Ia meninggalkan kelas begitu saja dan mengabaikan Ara yang masih memanggil namanya.


“Auris--”


“Aku duluan, Ra.” Auris sedikit terburu-buru merapikan barang-barangnya dan segera berlari menyusul Aileen.


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Aileen hendak menuruni anak tangga sebelum sebuah lengan merangkul pundaknya dan sedikit membuatnya terkejut, “Auris? Kamu nggak kumpul organisasi?”


“Ya ampun, Leen. Masa setiap hari harus kumpul?”


Auris tersenyum dan dibalas dengan senyum yang lebih lebar oleh Aileen. Keduanya berjalan menuruni anak tangga. Auris melirik sahabatnya sekilas sebelum memberanikan diri untuk bertanya.


“Kamu nggak ikut liburan bukan karena trauma itu kan?”


Aileen menghentikan langkahnya, ia menatap Auris dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Trauma?”


Auris tersenyum, ia menggenggam tangan Aileen dan menariknya untuk segera berjalan keluar dari sekolah. “Lupakan, lebih baik sekarang antar aku beli perlengkapan liburan!”


...⋆⁺₊⋆ ☾ ⋆⁺₊⋆...


Auris berhasil membawa Aileen menemaninya berbelanja di sebuah mall. Namun keduanya tak kunjung masuk ke dalam dan masih berdiri di dekat pintu masuk.


“Kamu nunggu seseorang?” tanya Aileen.


Auris mengangguk, matanya mengedar mencari orang yang sedang ia tunggu. Dari kejauhan terlihat seorang siswi dengan seragam sekolah yang sama tengah berlari ke arah mereka.


“Ara?” gumam Aileen. 


Auris tersenyum, “Iya, Ara. Dia langsung nyusul begitu tau kamu nemenin aku ke sini.”


Ara melambaikan tangannya pada Aileen. Tanpa berlama-lama mereka bertiga masuk ke dalam dan tertawa mendengar celotehan konyol Ara.


“Selamat datang, silahkan anggap rumah sendiri!”